Bab 1 — Mati Karena Galon, Hidup Kembali Sebagai Pahlawan Cadangan
Banyak orang yang mengatakan, bahwa kematian datang di saat kita paling tidak siap. Tapi tidak ada yang bilang kematian bisa datang karena... galon air, ya galon air, sangat lucu bukan.
Damar Arkanata, seorang pegawai administrasi berusia 25 tahun, yang hidupnya monoton seperti excel templat yang bekerja di sebuah perusahaan. Kantor belum mengganti lantainya sejak zaman Orde Baru.
Dan ya, seperti cerita buruk yang ditulis tergesa-gesa. Satu langkah terlalu lebar, satu detik terlalu ceroboh. Dia tersandung saat ingin mengganti galon air, kepalanya menghantam pojok meja, dan dunia pun gelap.
Begitulah, aku mati. Konyol? Ya, itu sangat konyol. Tragis? Mungkin tidak. Layak masuk berita? Paling banter jadi meme di grup kantor.
Saat kesadaran Damar kembali, yang pertama kali ia rasakan bukanlah sakit, melainkan dingin. Dia terbaring di atas sesuatu yang keras dan dia mendengar gumaman di sekitarku. Bahasany asing tapi aku memahami nya.
“Ritual selesai. Jiwa telah dipanggil.” ucap orang-orang di sekitarku.
Damar membuka kedua matanku dengan perlahan-lahan. Dia di kelilingi oleh sekelompok orang berjubah yang berdiri melingkar, menatapnya seolah dia adalah potongan daging yang baru dikeluarkan dari freezer suci.
“Pahlawan Cadangan telah bangkit,” ucap salah satu dari mereka. Suaranya bergema, berat dan dramatis.
Lalu damar bangkit dan duduk, dan sambil berkata. “Maaf, pahlawan apa?”
Seorang wanita, rambut biru terikat rapi, membawa gulungan perkamen, mendekati nya. Wajahnya terlalu serius untuk dunia yang seabsurd ini.
“Anda adalah Damar Arkanata, Reinkarnasi Pahlawan Cadangan ke-7,” ucap wanita itu.
Damar menatap wanita tersebut. Lalu menatap sekeliling. Lalu menatap jubah yang ku kenakan sendiri yang putih, panjang, dan sedikit gatal.
“Maaf ya, tapi sepertinya kalian salah orang. Aku cuma pegawai biasa. Matinya aja bukan heroik, tapi karena galon.” utara nya.
Wanita itu membaca gulungan. “Sistem Reinkarnasi mencatat Anda sebagai kandidat darurat karena Pahlawan Utama... masih tertunda aktivasi.”
“Tertunda? Ini reinkarnasi atau preorder game?” ucap nya dengan perasaan bingung.
Belum sempat protes lebih lanjut, suara asing menggema di dalam kepalanya. Bukan suara manusia. Lebih seperti... notifikasi yang kebanyakan gaya.
> [Selamat datang di dunia Dongsel!]
[Status Anda: Pahlawan Cadangan (Aktif)]
[Skill Awal: Mata Penilai Jiwa – Anda dapat melihat potensi dan statistik makhluk lain dengan tatapan.]
[Catatan: Statistik pribadi Anda dikunci hingga waktu yang belum ditentukan.]
Dia memijit pelipis nya dan berkata. “Oke. Jadi aku HRD di dunia fantasi?”
Beberapa saat kemudian, dia berdiri di luar altar batu, mengenakan jubah yang kebesaran dan sepatu yang tidak nyaman. Di sampingnya, gadis tadi yang memperkenalkan diri sebagai Leva masih tampak tegas dan kaku.
“Ini pendamping Anda,” katanya sambil menunjuk ke pundaknya.
Seekor slime kecil berwarna biru muda melompat ke arah nya. Dia punya wajah. Dia tersenyum. Dan... dia bisa bicara.
“Halo! Aku Tektok! Slime pemandu! Tapi jangan anggap remeh, Aku pernah mengalahkan kelinci liar level 3 sendirian!” ucap slime tersebut.
Damar terdiam sejenak, lalu ia bertanya kepada slime tersebut. “Kenapa namamu Tektok?”
“Karena dulu para Dewa iseng, terus trending. Jadi keterusan deh!” utara tektok sambil menjelaskan.
Lalu dia menatap langit. Langitnya bewarna ungu. Burungnya bersinar. Dia merasa seperti karakter figuran yang diseret ke tengah panggung pementasan yang bukan untuk nya.
“Jadi... apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku kepada Leva.
Leva mengeluarkan gulungan kedua. “Untuk saat ini, bantu desa Virelle. Desa kecil di pinggiran hutan. Misi awal yang sederhana.” jawab Leva.
Tektok melompat ke pundak ku. “Santai aja! Dunia ini nggak bakal langsung kiamat... kayaknya.” ucap Tektok dengan santai.
Damar menarik napas yang panjang dan dalam. "Dunia baru, tubuh baru, slime cerewet, dan takdir sebagai pahlawan cadangan." Utara nya dengan penuh semangat.
"Semoga kali ini aku bisa bertahan lebih lama dari dispenser." ucap nya dalam hati
"Petualang ku pun dimulai dari sini, dan aku akan berusaha semaksimal mungkin agar menjadi lebih baik." Ucap nya dengan penuh semangat dan tegas.
"Sebelum nya aku harus mencari tau tentang dunia ini kepada yang lain, supaya aku bisa berlatih dan dapat penghasilan." Utara damar.
Lalu dia pergi ke sebuah perpustakaan untuk membaca buku tentang kota itu, sejarah dunia ini, dan tingkatan kekuatan dalam dunia ini. Di perpustakaan dia membaca beberapa buku, lalu ia mendapati bahwa dunia yang ia berada saat ini bernama dunia dongsel, dan negara yang ia tinggali bernama gustian, dan ia juga menemukan buku yang menunjukan beberapa ilmu sihir kuno.
Kemudian ia keluar untuk mencari penginapan,
di penginapan Damar mempelajari teknik sihir kuno yang ia pelajari dari buku yang di dapat di peepustakaan tadi, dan dia memahami gerakan pertama dari teknik kuno itu, yaitu pembakaran, dengan teknik itu dia dapat memurnikan pill, dan membuat cairan yang bisa meningkat kan kekuatan.
"Baiklah, dengan teknik ini aku busa membuat pill dan cairan yang dapat memperkuat tubuh dan kekuatan ku." ucap damar penuh semangat.
"Aku butuh beberapa bahan untuk membuat sebuah pill, hari juga sudah larut, aku akan pergi mencari bahan-bahan itu besok pagi saja." kata nya sambil bersiap-siap untuk istirahat.
Malam pun berlalu dengan tenang, di keesokan harinya, Damar pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa bahan, seperti tanaman bunga zamrud, buah naga hijau, biji tunas kelapa, dan inti monster tingkat 2.
Saat ia memasuki toko tersebut ia langsung mencari bahan-bahan yang di butuhkan."Aku harus mendapat kan bahan-bahan itu agar dapat membuat pill revining qondentien, dan dapat meningkatkan kekuatan ku." dalam hati damar.
Lalu ia di sambut oleh penjaga toko."Oh.. hai tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap penjaga toko.
"Tolong carikan saya behan-bahan yang ada di catatan ini." kata Damar sambil memberikan kertas berisi nama-nama bahan yang di butuh kan.
Penjaga toko pun pergi mencari bahan-bahan yang di perlukan oleh Damar, dan meminta Damar untuk menunggu nya sambil melihat-lihat barang sekitar.
Beberapa menit kemudian, sang penjaga toko tersebut kembali menghampiri Damar dan memberikan bahan-bahan yang di cari Damar."Tuan, ini bahan-bahan yang anda cari, total nya 5.000 teals." ucap penjaga toko sambil memberikan cincin penyimpanan yang berisi bahan-bahan tersebut.
(teals mata uang yang di gunakan di novel ini)
"Ooh..., baiklah, terima kasih banyak." kata Damar.
"(Untung saja aku mendapat kan 50.000 teals dari wanita berambut biru itu)." ucap Damar dalam hati.
Lalu Damar pergi ke toko lain untuk mencari sebuah tungku untuk memurnikan sebuah pill, tak lama dia mendapatkan tungku yang ia butuh kan seharga 500 teals, dan dia pun pergi kembali ke penginapan nya untuk memurnikan sebuah pill.
"Baiklah, semua bahan yang di butuh kan sudah terkumpul, dan aku juga sudah mendapat kan tungku, waktunya memurnikan pill revining qondentien, dan meningkat kan kekuatan ku." ucap damar dengan penuh semangat.