Baru saja kurang dari satu jam, berada di dalam ruang tunggu bersama dengan Cavara Mikkler. Namun, hasrat Albert sudah mulai tumbuh. Bahkan, semakin bergejolak ketika memerhatikan wanita itu. Tepatnya pakaian yang dikenakan. Menambah kesan Cavara Mikkler sebagai wanita seksi dan juga berkelas.
Atasan hingga rok selutut tengah digunakan Cavara Mikkler merupakan barang-barang dari brand internasional yang terkenal. Ia pun memiliki beberapa sebagai koleksi. Tak banyak karena memang Albert membatasi dirinya dan lebih suka menginvestasikan uang ke bisnis atau perusahaan agar mendapat keuntungan. Cara tercepat untuk menambahkan kekayaannya tanpa menghabiskan pikiran juga untuk mengembangkan dengan trik-trik tertentu.
"Mr. Geovant. Kapan kau akan berkunjung ke rumahku lagi?"
Albert seketika mengalihkan pandangan dari sosok Cavara karena wanita itu yang secara tiba-tiba melontarkan pertanyaan, disaat dirinya masih menatap. Tentu saja, Albert tak ingin sampai ketahuan sedang memandang sebab akan malu. Namun, ia hanya sebentar saja melakukan. Lalu, sudah dipusatkan atensi ke Cavara lagi.
"Aku belum tahu kapan akan datang ke rumahmu. Apa kau mengundangku atau bagaimana?" Albert bertanya apa adanya. Sesuai isi pemikiran, saat ini.
Diucapkannya untuk mengetahui juga maksud dari Cavara. Ia merasa jika di dalam kalimat-kalimat wanita itu mengandung makna tersembunyi. Bukanlah begitu saja ditanyakan. Sebuah pancingan untuk memperoleh kepastiannya, seperti itu.
"Iya. Aku mengundangmu. Jadi, kapan kau akan menentukan hari untuk ke rumah? Kau tidak ingin bertemu denganku? Hmm, maksudku lebih ke kita bercinta lagi."
Albert mendadak merasakan ketegangan pada tubuh. Tidak menyangka jika Cavara akan mengutarakan apa yang diinginkan secara gamblang. Dan entah mengapa, ia menjadi senang. Namun, tidak ditunjukkan dengan nyata. Masih dipamerkan raut wajah yang serius. Ditambah pula tatapan semakin lekat pada sosok Cavara.
"Aku belum tahu persis kapan akan berkunjung ke rumahmu lagi. Tapi, kapan pun aku datang. Aku harap kau akan sudah selalu siap bercinta bersamaku," ujar Albert dalam peringaian yang sungguh-sungguh. Ia memang tak ingin bermain-main.
"Tentu saja. Kapan pun kau datang aku pasti selalu siap, Mr. Geovant."
"Kau sudah seberapa mengenal Amanda? Apa kalian dekat?" Albert bertanya serius kali ini. Tidak memiliki niatan untuk mengalihkan topik bahasan semata-mata.
Bukan sekadar ingin memulai obrolan bermanfaat dengan Cavara, Albert juga sangat ingin tahu sejauh apa hubungan di antara wanita dengan saudarinya. Pertemuan yang tak pernah terpikirkan akan terjadi. Albert juga tidak menyangka bahwa Amanda akan memenuhi permintaannya secara cepat.
Mengingat, baru dua hari lagi lalu saudari kembarnya itu menerima keinginan yang ia syaratkan supaya investasi tetap berjalan baik. Rasanya Albert ingin segera menghubungi Amanda. Setidaknya harus berterima kasih. Bukan sekadar ucapan saja. Melainkan memberikan dana investasi tambahan dan mentraktir makan
"Kami dulu satu sekolah. Beberapa tahun lalu baru bertemu kembali dalam reuni yang diadakan oleh kelas kami. Aku dan Amanda cukup dekat saat kami sekolah."
Albert mengangguk. Tanda mengerti dengan penjelasan yang diutarakan Cavara. Ia memandang lekat mata wanita itu. Tidak tampak ada kebohongan terpancar. Jadi, Albert yakin bahwa Cavara memberitahukan cerita kepadanya secara jujur. Tak bisa dimungkiri ia sedikit terkejut dengan fakta yang baru diketahuinya dari wanita itu.
Amanda tidak mengatakan apa-apa tentang hubungan di antara sang kembaran dan Cavara. Entah disengaja tak dikatakan atau bagaimana, ia belum bisa untuk menebak. Lebih baik tidak mengira-ngira. Menanyakan langsung pada saudarinya.
"Aku juga baru sadar jika nama belakangmu dan Amanda sama. Jadi, kalian adalah saudara kembar? Amanda pernag bercerita punya saudara kembar laki-laki dulu. Tapi, aku sudah lupa nama yang dia sebutkan karena hanya sekali saja dibahas."
Albert segera menanggapi dengan anggukan. "Iya, benar. Kami adalah saudara kembar. Aku masih tidak menyangka kau dan Amanda berteman dari dulu."
"Jadi, apa tujuanmu datang kemari? Apa dalam rangka reuni dengan Amanda?"
"Hahaha. Iya. Reuni sekaligus membicarakan tawaran Amanda. Kemarin malam Amanda meneleponku. Dia menawarkan jasa dari perusahaannya. Aku merasa tertarik. Dia memintaku untuk datang supaya bisa menjelaskan lebih lanjut lagi."
Cavara memperlebar senyuman. "Aku kira dia sedang tidak ada rapat. Jika tahu, aku pasti akan kemari saja besok atau kapan pun selama dia tidak sibuk."
"Tidak ada hari dia tidak sibuk. Amanda adalah pebisnis dengan beragam kegiatan. Dia jauh lebih produktif. Tapi, uangku masih banyak dibanding dia," canda Albert.
"Haha. Kau sudah terlihat seperti pria kaya. Walau, kau tampil sederhana."
Albert jelas tersanjung akan pujian Cavara. Namun, letupan rasa senang hanyalah diperlihatkan lewat senyuman ramah dan anggukan. Ia tentu segera berupaya merangkai kalimat di dalam kepala agar bisa membahas topik baru. Masih ada sangkut paut dengan rencananya serta juga Amanda susun untuk Cavara.
"Terima kasih untuk pujianmu, Miss Mikkler. Sebagai balasan, aku akan mengajak kau makan malam. Bagaimana? Kau mau pergi ke restoran mewah denganku?"
Cavara tak butuh waktu lama mengangguk. "Boleh. Aku tidak akan mungkin dapat menolak ajakan yang bagus. Aku juga suka makan," jawabnya dalam nada riang.
"Atur saja dulu waktu dan harinya. Aku akan menyesuaikan dengan pekerjaanku. Mungkin bisa kau mengajakku makan malam, setelah aku menerimawa tawaran jasa dari Amanda. Jadi, tugasku di kantor akan ada membantu menyelesaikan."
Albert menaikkan alis kanan secara sengaja. Ia ingin menunjukkan jika tak paham akan jawaban Cavara. Justru, Albert sudah tahu apa yang dibahas oleh wanita itu. Namun, tidak mungkin ditunjukkan gamblang. Ia harus mendapatkan jawaban lebih detail kembali. Dari sudut pandang Cavara Mikkler, terkhususnya.
"Tawaran jasa apa? Jika kau percaya kepada diriku. Bisakah kau mengatakannya? Tidak semua juga tidak apa-apa. Aku penasaran dan ingin tahu." Albert berujar jujur.
"Jasa staf yang cerdas. Bisa membantu dalam memenangkan proyek-proyek besar. Begitu Amanda mengatakannya kepadaku. Secara garis besar. Nanti staf yang akan aku pilih bekerja selama enam bulan di perusahaanku sesuai dengan kontrak."
Albert spontan menaikkan kedua alis tanda bahwa senang mendengar jawaban Cavara. Sangat sesuai dengan rencana yang sudah dijelaskan secara garis besar oleh Amanda kepada dirinya. Albert semakin yakin bahwa semua akan berjalan lancar. Amanda tak salah untuk ia handalkan. Saudarinya punya bakat meyakinkan orang.
"Hahaahaha."
Albert refleks mengerutkan kening mendengar tawa renyah Cavara Mikkler yang cukup kencang. Ia tak tahu penyebab wanita itu tergelak. Terlebih, mereka berdua sedang tidak dalam obrolan yang lucu. Jadi, wajar jika dirinya merasa terkejut.
"Ada apa, Miss Mikkler? Kenapa kau tertawa?" tanya Albert penasaran. Ditatap kian lekat sosok Cavara yang masih belum menghentikan gelakannya.
"Haha. Aku tidak apa-apa. Hanya geli saja jika mengingat ucapan Amanda."
Kening Albert semakin mengerut. "Memang apa saja yang dia katakan? Apakah dia membicarakan tentangku kepadamu?" tanyanya dengan rasa curiga.
"Dia mengatakan tentang kekurangan, keburukkan, dan kebiasaan anehku, ya? Aku yang bernilai jelek di matanya? Benar bukan?" Albert meluncurkan dugaan negatif di dalam kepala dalam bentuk kalimat-kalimat tanya bertubi dan tak santai.
"Haha. Bukan, Mr. Geovant. Amanda tidak menjelek-jelekkanmu. Tapi, kenapa kau berpikiran seperti itu kepadanya? Kalian berdua pasti sering bertengkar? Saudara memang begitu, ya? Apalagi, kalian adalah saudara kembar. Tapi, aku juga yakin jika kalian menyayangi satu sama lain. Pertengkaran hanya bumbu pemanis saja."
Albert mengangguk segera. Tak mungkin merespons lama. "Mungkin bisa dikatakan begitu. Entahlah, aku tidak tahu secara pasti apakah dia menyayangiku karena kami memang sering berselisih paham. Tidak satu pemikiran," balasnya jujur saja.
"Kadang dia menjahiliku. Dan, aku akan membalas. Seterusnya begitu di antara kami. Tapi, aku tidak pernah membenci Amanda. Hanya dia yang aku miliki sebagai saudara." Albert mengutarakan lebih jelas apa tengah dipikirkan tentang Amanda.
"Iya. Kalian tidak boleh saling membenci. Kalian adalah keluarga. Hmm, kau mau tahu apa yang dikatakan oleh Amanda tentangmu? Membuatku semakin kagum dan menganggapmu sebagai pria yang baik. Ternyata, penilaianku tidak salah sejak pertama kali kita bertemu. Aku senang saja bisa kenal dengan pria sepertimu."
"Memang apa saja yang disampaikan Amanda kepadamu?" Albert penasaran.
Kembali muncul praduga negatif di dalam kepalanya. Wajar karena sang kembaran yang tidak terlalu suka membangga-banggakan dirinya atau memuji dengan hal-hal positif menyangkut kepribadian serta sikapnya di hadapan orang lain. Jadi, pantas jika kecurigaannya tidak dapat begitu saja diabaikan atau dihilangkan cepat.
"Yang disampaikan Amanda? Cukup banyak. Tapi, aku lupa. Hanya beberapa saja yang masih aku ingat. Terutama tentang kebaikan dan kepintaranmu, Mr. Geovant."
Kedua bola mata Albert semakin membulat. "Apa yang kau bilang, Amanda sempat membahas kebaikanku? Kau serius? Kau yakin tidak salah mendengar bukan?"
"Haha. Aku serius. Dan aku sangat yakin tidak akan salah mendengar semua cerita Amanda tentang kebaikanmu, Mr. Geovant. Tapi, kenapa kau begitu tampak ragu?"
Gelengan pelan dilakukan Albert sebanyak satu kali. "Iya, aku ragu. Dan, sudah aku bilang tadi bukan jika aku dan Amanda sering bertengkar. Senang beragumen karena suka berbeda pendapat. Jadi, sebuah keajaiban dia mau memujiku di depanmu."
"Aku tentu senang kebaikanku dibahas. Tapi, tetap sebagai sebuah kelangkaan bagiku. Aku tidak bohong, Miss Mikkler. Amanda jarang memujiku dengan tulus. Jika pun dia lakukan pasti karena ada sesuatu yang diinginkan dariku. Misalkan sa—"
"Kau itu banyak sekali omong, My Twin. Menyebalkan! Kau tidak bisa percaya sama sekali jika aku sudah memujimu di depan Cavara. Aku membantumu agar imej kau bagus di mata temanku. Kau malah menjelekkanku. Cihh. Aku malas denganmu."
Albert langsung memerlihatkan cengiran kepada saudarinya yang baru masuk ke dalam ruangan. Ia masih bertanya-tanya pada diri sendiri kenapa Amanda mampu mendengar semua pembicaraan dilakukannya bersama Cavara. Satu penarikan kesimpulan pun secara cepat dipikirkan. Ya, sang kembaran menguping di luar.
Albert kemudian bangun dari sofa, menghampiri cepat Amanda guna memberikan pelukan. Dan, dalam kurun beberapa detik sudah bisa dilakukan. Tak hanya sekadar ingin mendekap. Ada beberapa hal ingin disampaikan kepada sang kembaran.
"Terima kasih, My Twin. Aku senang kau memujiku di depan wanita yang aku suka. Jadi, aku akan hadiahkan kau sesuatu. Kau menginginkan apa dariku? Ayo katakan saja apa maumu. Aku akan mengabulkannya untukmu, My Twin," ujar Albert santai.
"Hmm, bagaimana jika kau memberikan sahammu sedikit saja untukku? Sepuluh persen cukup. Bagaimana? Kau pasti mau mengabulkan permintaanku, 'kan?"