09

1537 Kata
Albert melenggang dengan langkah kaki santai keluar dari lift. Ia memfokuskan pandangan hanya ke depan dan memasang ekspresi serius, tanpa terpamernya senyuman di wajah. Pikiran sedang kacau sangat menjadi faktor utama. Sejak pagi sudah dibayangi-bayangi kepalanya oleh semua hal berkaitan dengan wanita itu. Permasalahan yang masih memiliki kaitan dengan Cavara Mikkler. Ia tidak bisa untuk menyelesaikan sendiri. Dengan terpaksa meminta bantuan dari saudarinya segera, Amanda Geovant. Wanita itu pasti mampu memberikan solusi terbaik dalam jangka waktu yang cepat. Tidak akan dirinya ragukan kemahiran sang kembaran menolong menggunakan ide-ide yang brilian. Bahkan, tak terpikirkan olehnya. "Tuan!" Mendengar seruan dari seseorang membuat langkah kaki Albert menjadi seketika terhenti. Ditengokkan kepala ke arah samping, tempat di mana sumber suara yang tertangkap nyata oleh kedua gendang telinganya. Albert pun sangat meyakini jika panggilan wanita itu memang sedang ditujukan kepada dirinya. Tak akan salah. "Miss Jasmine?" Albert melontarkan nama dari pemilik suara dalan nada yang pelan namun lembut. Kesopanan dalam berintonasi pun diberlakukannya. "Selamat pagi, Mr. Geovant. Anda sudah ada janji bertemu dengan Miss Geovant?" Albert pun langsung lanjut berjalan, setelah mendengar suara lembut Jasmine melontarkan pertanyaan. Wanita itu adalah salah satu sekretaris handal yang dimiliki saudarinya. Ia tak akrab memang, namun cukup mengenal dengan baik. "Selamat pagi juga," balasnya masih dalam nada suara dan senyuman yang sopan. Albert kemudian melanjutkan langkah kaki, terarah ke meja ditempati wanita itu. Tidak lupa sikap ramahnya juga ditunjukkan lewat senyuman yang kian lebar. Walau, tengah dalam suasana hati tak baik. Ia harus tetap memerlihatkan keadaan yang kontras. Imej bagus tanpa menunjukkan kegundahan harus diutamakannya di hadapan orang lain agar tidak sampai diketahui jika dirinya sedang ada masalah. "Belum memiliki janji. Dan apakah jika tidak membuat janji bertemu dengan dia. Aku ini tidak boleh masuk ke dalam ruangannya?" Albert bertanya dalam nada yang bisa kurang santai, kali ini. Keseriusannya pun semakin terdengar jelas. "Jadi, aku harus melakukan perizinan dulu untuk bisa masuk?" Albert memperjelas kembali kalimatnya. Menghindari jawaban yang melenceng dari dipikirkannya. "Benar, Mr. Geovant. Aku sangat minta maaf kau tidak akan diizinkan masuk ke ruangan Miss Geovant jika belum memiliki janji. Dia sangat sibuk. Pengaturan waktu sangatlah diperlukan. Kira-kira begitu alasannya. Aku harap kau memaklumi." Albert hanya dapat mengangguk, memberi tanggapan atas jawaban Jasmine. "Jadi, apa yang harus aku lakukan agar bisa bertemu dengan saudariku itu? Katakan saja. Aku akan menuruti semua prosedur asalkan aku bisa masuk ke dalam ruangan." "Benar, Mr. Geovant. Kau harus mengikuti prosedur sebagaimana mestinya. "Aku akan memberi tahu Miss Geovant jika kau datang dan ingin menemuinya. Nanti saat Miss Geovant bersedia, baru aku akan mengizinkan kau untuk masuk ke dalam. Aku harap kau bisa mengerti prosedur di perusahaan ini yang berlaku, Mr. Geovant." Albert cepat merespons dengan anggukan. Ia memilih mengikuti saja. "Baiklah. Okay. Beri tahu dia segera jika aku sedang di sini mau bertemu dengan dia," sahutnya pasrah. Walaupun, kekesalan di dalam hatinya semakin bertambah. "Anggap aku tamu spesial. Jangan membuatku menunggu lama," tambah Albert. Intonasi lebih meninggi dari sebelumnya. Begitu juga tatapan yang serius. "Akan disampaikan segera kepada Miss G--" "Jika dia tidak mau bertemu. Aku akan tetap masuk ke dalam. Jadi, dia harus menerima kedatanganku." Albert memotong segera. Suaranya semakin tegas. "Tidak bisa, Mr. Geovant! Sebelum ada perintah dari Miss Geovant. Kau ataupun tamu yang lain tidak boleh masuk. Tolong kau hargai aturan yang ada di sini." Albert langsung memundurkan langkah kaki karena Jasmine berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan mengerikan. Kedua mata memelotot. Kesan galak yang sangat jelas tampak. Albert tentu saja merasa ngeri. Bahkan, membuat tubuhnya tegang. Tidak menyangka respons dari Jasmine yang terbiasa berperingai sopan dan CBN bisa menunjukan ekspresi mengerikan, saat sedang dilanda amarah. "Kau tetap akan masuk atau tinggal di sini, Mr Geovant?" Albert spontan menggeleng sembari menelan ludah yang cukup sulit dilakukannya. Kepala digerakkan ke samping kiri dan kanan beberapa kali. "Okay, aku akan di sini saja. Aku tidak masuk, sebelum diizinkan oleh Amanda ke dalam. Bagaimana?" "Bagus, Mr. Geovant. Akhirnya, kau tahu juga pentingnya mematuhi aturan." Albert kembali mengangguk. Dengan refleks dilakukan sebagai responsnya atas balasan ucapan Jasmine yang dialunkan dengan sopan. Ekspresi sekretaris pribadi saudari kembarnya itu juga sudah seperti semula lagi. Dihiasi oleh senyuman dan sorot mata bersahabat. Tak ada raut galak atau amarah seperti beberapa detik lalu. "Kau tunggu sebentar. Aku tidak akan lama menemui Miss Geovant." "Iya. Akan aku tunggu. Tolong cepat meminta izin darinya. Aku tidak bisa menu—" Albert tidak bisa melanjutkan katanya hendak diucap karena menyaksikan sosok saudari yang ingin ditemui, keluar dari dalam ruangan kerja. Albert langsung saja menunjukkan raut wajah kesal karena dipamerkan ekspresi mengejek dilengkapi senyuman angkuh oleh Amanda. Bahkan, sang kembaran memeletkan lidah. Ia tak bisa memprotes aksi saudarinya. Sebab tahu Amanda ingin membalas dendam atas aksinya yang kemarin sempat mengerjai. Ia pun harus dapat menerima. "Miss Geovant, Anda mau ke mana? Mr. Geovant ingin bicara dengan Anda." Amanda menambah seringaian pada wajah sembari memandang ke arah sekretaris pribadinya. "Aku ada rapat sebentar dengan dua stafku," jawabnya ramah. "Aku rasa aku tidak bisa berbicara bersama kembaranku yang tampan sekarang. Aku harus mengutamakan rapat karena sudah ditunggu dua stafku," imbuhnya. "Apa kau bilang? Aku harus menunggu lagi? Yang benar saja!" Amanda berupaya keras untuk tidak mengeluarkan tawa akibat ekspresi begitu kesal dan delikan kedua mata kembarannya. Di dalam hati, jelas aja Amanda juga merasa senang sudah berhasil menyebabkan Albert emosi atas jawabannya. Tetapi, ia tidak bisa. Masih dipertontonkan seringaian yang tampak nyata mengejek. "Benar, Mr. Geovant. Seperti Anda sudah dengar langsung dari Miss Geovant, Anda dan atasanku akan berbicara nanti setelah rapat selesai. Anda mau menunggu di dalam ruangan Miss Geovant atau di room khusus tamu? Akan saya siapkan se—" "Aku tidak akan menunggu di mana pun." Albert pun kembali memotong dengan nada tegas ucapan Jasmine, tanpa memandang sosok sekretaris saudarinya itu. Albert masih memusatkan pandangan pada Amanda. Kemudian, kedua kakinya dilangkahkan cepat ke depan, di mana sang kembaran berdiri dengan senyuman yang angkuh. Kesabarannya sudah tidak bisa diberlakukan kembali. Amanda telah banyak menguji dan mengerjainya. Albert tak suka. Terlebih, ia sedang serius. "Aku mau bicara denganmu sekarang. Tunda saja rapatmu dulu." Amanda menggeleng. Tentu, menunjukka keengganan menurut. Walau, dirinya memiliki kekuasaan untuk menunda kegiatan yang memiliki hubungan dengan perusahaan dan bisnisnya, termasuk rapat. Tetapi, tidak akan dilakukan. Amanda malas menerima perintah dari saudaranya, terlebih demi kepentingan pribadi. "Aku tidak bisa, My Twin. Meeting sangat penting. Aku harus tetap pergi." Amanda menjawab dengan santai sembari memerlihatkan seringaian di wajahnya. Ekspresi demikian untuk menyebabkan sang kembaran menjadi emosi serta juga kesal, tentu saja. Dan apa dilakukannya memang sebagai upaya untuk mengerjai dan menggurau Albert. Tentang hasilnya, Amanda tidak cukup yakin jika saudara laki-lakinya menganggap candaan belaka. Albert pasti akan menjadi kian jengkel. Mengguyoni saudaranya disaat sedang memiliki masalah adalah satu satu momen terbaik. Ia harus membalaskan dendam atas kejahilan-kejahilan yang telah Albert lakukan kepadanya selama ini dan membuatnya begitu kesal. Amanda pun masih mengingat jelas. Akan dibayarnya menyicil, satu demi satu, perlahan tetapi pasti. "Aku tidak akan lama. Kau menunggu sebentar bagaimana?" ujar Amanda dengan suara santai sembari mulai melangkahkan kedua kaki ke arah saudaranya. "Tidak mau! Kita bicara sekarang! Aku tidak akan lama." Amanda sempat terkejut dengan nada tinggi dan seruan kencang yang diucapkan oleh Albert kepadanya. Namun, tak berarti ia akan takut. Walau, mendapatkan bentakan dari saudaranya. Tidak ingin dituruti keinginan Albert begitu saja. Justru harus diberikan balasan yang setimpal. Sebab, ia menjaga harga dirinya. "Sudah aku bilang aku ada rapat dengan klien. Kenapa kau egois? Kau tahu berapa nilai kontrak yang ditandatangani klien baruku? Lima ratus ribu dollar. Jika kerja sama ini berhasil, kau juga akan menerima keuntungan sebagai investor." Amanda mengeluarkan seringaian sembari melangkah semakin dekat ke arah sang kembaran. Kalimat lanjutan masih ada akan dilontarkan. Sudah tersusun di dalam kepala. Tinggal diluncurkan dalam nada dapat membuat saudaranya tercengang. "Aku tidak peduli dengan keuntungan. Bagiku, rencana yang kau sanggupi ke—" "Kau yakin tidak peduli? Okay, jika keuntungan perusahaan tidak penting bagi kau karena uangmu banyak. Tapi, bagaimana dengan nama klien baruku?" Amanda memperlebar kembali seringaian di wajah. "Kau pasti akan kaget saat aku beri tahu siapa tahu klienku. Tapi, semoga saja kau tidak sampai serangan jantung." "Apa maksudmu? Jangan mengajakku bercanda, My Twin. Aku sedang malas un—" "Hai, Miss Cavara. Akhirnya kau sampai juga. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Baru saja aku ingin menelepon. Tapi, kau sudah muncul. Selama datang, ya." Bersamaan dengan sang kembaran yang berlalu dari hadapannya, maka Albert pun segera juga membalikkan badan. Ingin memastikan sendiri orang yang baru disapa dan hendak dihampiri oleh Amanda memanglah benar adalah Cavara Mikkler. Bola mata pun langsung membulat saat menangkap sosok wanita cantik yang telah melewatkan satu malam b*******h bersamanya beberapa hari lalu. Cavara tampak semakin menawan dengan mini dress putih tengah dikenakan. Kedua kaki wanita itu yang jenjang dan putih menjadi salah satu pusat perhatiannya, disamping paras memesona dimiliki wanita itu. Memberikan pada jantung, berpacu kencang. "Maaf jika aku terlambat, Amanda. Ada saja tugas baru yang dibawa stafku dan aku pun harus segera memeriksa. Jadi, aku tidak datang tepat waktu. Ah, wala—" "Mr. Geovant, kau ada di sini juga? Hai, senang berjumpa denganmu." Sapaan Cavara sukses membuat Albert merasakan sensasi aneh dari ujung kepala hingga kedua kakinya. Bahkan, tubuh juga ikut menegang. Terlebih, dipamerkan senyuman hangat dan tatapan teduh wanita itu. Ia pun benar-benar terhipnotis. Kemudian, keterkejutan melanda Albert karena menerima pelukan dari Cavara. Ia kian kaku berdiri. Dan, walau dekapan hanya sesaat saja, akan tetapi Albert tetap senang menerimanya. Perut bagai diterbangi kupu-kupu. Ia merasa melayang juga. "Aku senang bertemu kau di sini, Mr. Geovant. Aku merindukanmu." Bisikan lembut Cavara di bagian telinga kanannya, menimbulkan sensasi yang tak biasa kembali untuk tubuhnya. Rasa bahagia semakin membuncah di dalam d**a. Hanya senyuman yang dapat ditunjukkan, tak terpikirkan balasan yang tepat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN