08

1552 Kata
Penolakan Amanda jelas saja membuatnya menjadi geram sekaligus juga merasa kesal, disaat ia sangat membutuhkan bantuan saudarinya itu. Albert tak bisa untuk menyerah begitu saja. Keinginannya harus terlaksana seperti sudah direncanakan. Amanda adalah pihak yang paling mampu memberikan pertolongan. Ia tidak akan meragukan usaha dapat dilakukan saudarinya untuk bisa meraih keinginan begitu besar mendapatkan Cavara Mikkler. Amanda punya kecerdasan di atas dirinya. "Aku akan bertanya sekali lagi. Kau mau atau tidak? Jangan diam saja." Albert pun bersuara kembali guna memecahkan keheningan di antara mereka sejak tadi. "Kau mendengarkan perkataanku bukan? Jadi, saat kau pura-pura tuli, aku akan dapat mengetahuinya." Albert memperingatkan dengan intonasi yang kian dibuat mengeras. Disengaja agar kedua telinga Amanda dapat menangkap secara jelas. Terus dipandangnya sang saudari kembar. Memastikan bahwa Amanda memang telah mendengar semua yang diucapkannya. Walaupun, belum memberi perhatian secara langsung dan masih dengan terencana untuk mengabaikannya. "Amanda...," Albert memanggil nama saudarinya dengan penekanan dalam. "Jadi, kau tidak mau menolongku?" Albert bertanya ulang. Hendak mendapatkan jawaban sang kembaran sekali ini. Tak ingin ditolak lagi tanpa kejelasan, tentu saja. Albert menajamkan tatapan memandang ke arah Amanda Geovant yang asyik memakan salad. Dengan begitu lahap. Memang sengaja dilakukan oleh saudarinya itu, menghindari persetujuan atas permintaan yang sudah diutarakannya berulang kali. Balasan sama sekali tidak dilontarkan oleh saudari kembarnya itu. Albert jelas kian kesal akan sikap tidak acuh dari Amanda Geovant, kala dirinya benar-benar membutuhkan bantuan wanita itu. Albert seakan dianggap sedang bermain belaka dan tak serius. Padahal, ia sungguh-sungguh dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Pikiran pun masih saja dikuasai oleh sosok Cavara. "Kau juga akan tetap diam? Mengabaikanku, ya? Okay, aku akan memberikan peringatanku juga." Albert berujar dengan suara dalam. Setiap kata diberikan penekanan yang masih sangatlah jelas dan menunjukkan rasa amarahnya juga. "Aku akan menarik semua uang investasiku di perusahaanmu, Amanda. Aku minta kau kirimkan sepuluh juta dollarku besok. Kau jangan memiliki alasan apa pun lagi untuk menunda pengembalian danaku." Albert mengeluarkan ancaman serius. "Jika sampai kau lakukan. Aku akan menghubungi pengacaraku menyelesaikan secara hukum. Aku tidak peduli jika kau saudaraku atau bukan. Masalah bisnis dan investasi harus diselesaikan dengan benar. Semua sudah ada aturannya." Albert tertawa sinis. "Baiklah. Jika kau ingin bermain hukum. Aku akan terima. Aku juga punya pengacara. Tidak hanya kau saja," jawabnya terkesan menantang. "Kau lupa? Disamping berinvestasi. Kau juga meminta uang dariku. Kau belum membayarnya sama sekali, Amanda. Apa perlu aku adukan juga ke pengacara?" Amanda membelalakan mata. Jelas terkejut karena sang kembaran membahas soal pinjamannya dua tahun lalu yang memang belum dilunasi. Amanda tahu dirinya salah. Dan, Albert menggunakan untuk mengancamnya. Sungguh ide yang dimiliki oleh pria itu brilian supaya ia menuruti apa yang sejak tadi diinginkan. "Kau sangat menyebalkan!" Amanda berseru dengan begitu kesal. Intonasi suara cukup tinggi dan kencang. Begitu juga kedua matanya memelotot ke arah Albert. "Kaulah yang sudah membuatku jengkel. Wajar jika aku mengancammu. Kau tidak mau kesalahanmu aku laporkan bukan? Lebih baik kau memenuhi permintaanku." Albert masih serius memandang kembarannya. "Bagaimana? Kau mau atau tidak? Aku mau kau menjawab cepat. Sekarang juga kau harus memutuskannya." "Keinginanmu tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku memenuhinya. Kau yang konyol, Saudaraku. Aku bukan bawahanmu. Kita sudah membuat kesepakatan tentang dana investasimu. Kau tidak boleh melanggar. Kau juga jangan mengaitkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Keduanya adalah hal yang berbeda.* Albert lekas bereaksi. Digelengkan kepala dalam gerakan yang kuat. "Aku akan tetap melanggar. Uangku tetaplah uangku. Apalagi, kau meminta sejumlah uang dengan dalih modal perusahaan. Sebelum aku melakukan investasi yang kedua." "Kau saja tidak mau membantuku. Kenapa aku harus bersikap tolerir terhadap bisnis dan investasi." Albert menyahut sinis kembali. Semakin kesal karena sang kembaran yang tidak memberikan keputusan yang sudah ditunggu-tunggunya. "Di dalam perjanjian, sudah ada kesepakatan di mana aku boleh mengambil uangku tanpa mengingat batasan waktu. Kau lupa?" Albert kembali memancing dengan kalimat-kalimat dilontarkannya dalam nada kian meninggi. "Kau sangat menyebalkan! Aku malas punya saudara sepertimu!" Albert pun memeletkan lidah. Sudah tak dapat dipertahankan lebih lagi lama sandiwaranya dalam menunjukkan ekspresi serius. Jika Amanda sudah kesal. Maka, perlulah untuk segera dihentikan aktingnya. Namun, tidak berarti permintaannya akan dibatalkan. Benar, sikap dingin dan sinis yang ditunjukkan sejak tadi tak murni. "Kau jangan berani mempermainkanku! Kau menyebalkan, Albert!" "Aku akan menyebalkan, saat kau tidak mau mengabulkan mauku. Jadi, kau hanya punya satu jalan. Yakni, menerima keinginanku. Harus berapa kali aku mengatakan kepadamu? Kau sama sekali tidak pernah bisa mengerti mauku, Amanda." Albert menyeringai. "Jika kau tetap tidak mau, aku akan bertindak tegas sesuai apa yang sudah aku katakan tadi kepadamu. Kau mau suka atau tidak. Bukan masalah bagiku. Kau saja tidak mau peduli kepadaku," jawabnya dengan lebih santai. "Aku setuju. Kau puas?" Seringaian pada wajah ditambah lebar kembali oleh Albert. Ekspresi kemenangan pun ditampakkan secara nyata. Tepat di hadapan sang kembaran. Tentu, memiliki tujuan agar Amanda semakin jengkel. Menyenangkan mengerjai saudarinya. "Apa yang kau bilang tadi? Kau akan mengabulkan permintaanku? Serius?" Albert menajamkan tatapan. "Kau serius atau bagaimana? Kau kemarin berbohong akan menolongku. Lalu, kau menolak. Aku juga tidak suka kau permainkan." "Aku serius. Tapi dengan kesepakatan yang aku inginkan. Bagaimana? Kau bersedia mengabulkan atau tidak? Cepat putuskan. Maka, aku akan bisa menolongmu." Albert belum memindahkan atensi dari sosok sang kembaran yang memerlihatkan ekspresi menantang. Membuatnya menjadi curiga. Namun, tak ada pilihan lain lagi. Ia harus menerima syarat dari Amanda yang belum dikatakan secara gamblang atau batal memperoleh bantuan saudarinya itu. Tentu, Albert memilih opsi pertama. "Kesepakatan apa yang kau mau? Katakan terlebih dahulu. Walau, aku butuh kau. Jika kesepakatan hanya merugikanku saja. Tidak akan mungkin aku lakukan. Aku tetap akan realistis dan tidak ingin kau manfaatkan." Albert menjawab tegas. "Kesepakatan yang tidak akan sulit. Kau cukup melunasi hutang yang aku miliki padamu. Maksudku, kau tidak boleh menangis uangmu kembali. Kau setuju?" Albert mengangguk kecil. "Okay. Bukan masalah besar merelakan uangku." "Lalu, apa ada syarat lain yang kau mau? Ingat, jangan menyangkut hal konyol dan tidak masuk akan. Aku tidak mau memenuhinya." Albert memeringatkan kembali. "Hahaha. Tidak akan konyol. Aku ini suka kesepakatan yang berkaitan dengan uang dan memberikan keuntungan kepadaku secara finansial. Aku juga realistis sama seperti kau. Kita berdua tumbuh, lalu lahir dari rahim yang sama, My Twin." Albert menganggukkan kepala santai, tanda mengerti. "Uang? Baiklah, tidak akan masalah. Jadi, berapa banyak aku harus berinvestasi lagi di sini? Apa satu juta?" "Aku rasa akan cukup. Bisnismu juga belum terlalu memberikan keuntungan bulan lalu kepadaku. Atau kau memang sengaja hanya sedikit mengeluarkannya?" Amanda langsung tersinggung, diperlihatkan dengan ekspresi serius dan tatapan semakin sinis kepada saudaranya. Sindiran Albert sudah diketahuinya mempunyai makna seperti apa serta mengarah pada topik pembicaraan yang bagaimana. Amanda menegakkan punggung agar sikap duduk tegap dapat diterapkan. d**a dibusungkan dan kepala lurus. Atensi tertuju ke arah saudaranya. Amanda pun yakin sorot kedua mata sudah semakin tajam saat beradu pandang dengan Albert. Ia akan memerlihatkan perlawanan atas tuduhan pria itu kepadanya yang tidak mendasar. Harha diri Amanda merasa tercoreng sebab ia tak melakukan. "Kau mau menuduhku korupsi? Walau, aku menyukai uang dan menambah juga kekayaan. Tapi, aku tidak akan menggunakan cara yang rendahan atau kotor. Kau sudah aku berikan keuntungan sesuai dengan kesepakatan di dalam kontrak." Amanda mengembuskan napas panjang untuk mengurangi emosinya. Tidak ingin kian dikuasai amarah untuk pembicaraan yang sebenarnya sepele. Ia hanya perlu memberikan penjelasan dengan bukti kuat. Ya, akan diperlihatkannya dokumen perjanjian jika memang dibutuhkan, seandai nanti Albert masih tidak terima. "Aku tidak bermaksud menuduhmu korupsi, My Twin. Baiklah, kau anggap ucapan yang aku katakan tadi tidak ada. Lupakan bagaimana? Jangan dimasukkan hati." Albert memusatkan pandangan pada sosok sanh kembaran yang belum mengubah ekspresi di wajah. Masih sangat tampak kekesalan. Memang, perkataannya tak akan bisa dengan mudah membuat Amanda mau menurut. Harus ada cara lainnya. Jika tidak dilakukan, maka akan mempertaruhkan rencana yang sudah disiapkan. "Aku mengaku salah, My Twin. Aku minta maaf, ya? Kau pasti mau bukan memberi pengampunan padaku? Akan aku tambahkan uang investasiku besok. Kau setuju?" Amanda langsung menerima jabatan tangan saudaranya untuk menandakan jika mereka telah sah menyepakati apa dijanjikan oleh Albert. "Kau investasi berapa?" "Lima ratus ribu dollar dulu. Akan menyusul dua juta jika kau mau mengabulkan permintaanku. Bagaimana? Perjanjian yang sudah adil bukan? Kau mau setuju?" Tak butuh waktu lama bagi Amanda mengangguk. Menunjukkan penerimaan akan kesepakatan yang diinginkan sang kembaran. Sudah sesuai juga akan kehendaknya dan tentu menguntungkan. Maka dari itu, kesempatan yang ada sangatlah wajib untuk dimanfaatkan. Terlebih berkaitan dengan uang demi perusahaannya. "Aku sangat setuju. Aku tunggu lima ratus ribu dollar sampai nanti malam. Okay?" Albert mengangguk ringan. Sekali saja. "Iya, My Twin. Kau akan menerima uangku nanti malam. Kau jangan melupakan apa yang kau janjikan kepadaku. Lakukan yang cepat. Aku beri kau waktu satu minggu saja. Jika kau tidak berhasil. Ma—" "Jadi, aku harus melakukan rencana yang kau katakan bukan? Baiklah, aku segera lakukan. Dan, kau jangan tercengang akan hasil cepat yang bisa aku berikan. Kau tidak perlu menunggu sampai satu minggu. Sekarang pun dapat kau terima." Albert yang sempat meragukan ucapan sang kembaran awalnya, menjadi sedikit kaget saat Amanda menelepon seseorang. Di layar handphone saudarinya itu pun dengan jelas tertulis nama Cavara Mikkler. Wanita yang telah tidur bersamanya. "Selamat pagi, Temanku. Apakah aku mengganggu? Ah, aku ingin kita bisa segera bertemu untuk membicarakan soal kerja sama. Kapan kau bisa pergi ke kantorku, Miss Cavara? Katakan kapan kita bisa bertemu, aku akan mengatur jadwalku." "Aku lihat dulu kapan aku tidak sibuk, Amanda. Aku akan meneleponmu kembali. Dan, aku benar-benar minta maaf harus mengakhiri pembicaraan kita ini, aku ada rapat. Tiga menit lagi akan dimulai, aku harap kau mengerti. Maafkan aku." "Hahah. Tidak apa-apa, Miss Cavara. Aku mengerti. Jangan merasa sungkan. Akan aku tutup teleponnya sekarang. Sampai jumpa nanti. Selamat bekerja." Setelah memutuskan sambungan telepon, Amanda langsung memusatkan atensi ke arah sang kembaran yang memerlihatkan ekspresi begitu terkejut. Ia pun segera memamerkan seringaian puas dan tertawa. "Haha. Ada apa denganmu, My Twin?"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN