Setelah mendapatkan penolakan mentah-mentah dari Cavara dengan alasan yang tetap sama saja. Maka, Albert memilih untuk tidak memperoleh jawaban wanita itu segera. Ia akan memberikan waktu. Namun, tak lama. Mungkin hanya maksimal satu minggu saja. Sebab, Albert bukanlah tipe yang suka menunggu hal tidak pasti.
Disaat, dirinya begitu menginginkan wanita itu. Jadi, perjalanan waktu pasti terasa lamban setiap hari jika apa yang dikehendaki masih belum dapat dicapai. Albert tentu saja optimis. Bahkan, tanpa keraguan sama sekali niatannya akan gagal.
"Wow, apa yang membawa kau kemari pagi-pagi? Kau terakhir ke sini, dua bulan lalu. Dan, tepat pukul sembilan kau sudah ada di kantorku. Wow, mengejutkan."
"Amanda...," Albert memanggil pelan. Dengan intonasi suara datar saja.
"Ada apa? Kau membutuhkan bantuanku? Sudah aku mampu tebak. Walau, kau belum mengatakan apa-apa kepadaku. Dan, hmm. Aku merasa ada yang salah pada dirimu. Hmm, aku belum bisa memastikan. Tunggu beberapa detik lagi."
Albert langsung menciptakan kerutan di dahi. Ketidakpahaman akan ucapan yang baru didengarnya. "Ada yang salah denganku? Kau sadar? Memang apa itu?"
"Keringatmu! Tidak enak aku cium sama sekali. Badanmu sangat bau. Aku jamin kau tidak menggunakan parfum. Dan, aku mengenali baju yang kau pakai dari kemarin."
"Kau belum berganti sejak semalam? Mukamu juga lusuh. Kau belum mandi?"
Albert segera mengangguk. "Iya. Aku belum mandi."
"Aku dan seorang wanita bercinta kemarin yang panas. Aku banyak mengeluarkan keringat. Tubuhku jadi lengket. Aku belum membersihkan dari kemarin."
"Kau sangat menjijikkan!"
Albert hanya menarik napas panjang saja, ia tidak akan membalas sindiran dari Amanda Geovant. Albert sedang malas berdebat. Dan, lebih baik membungkam mulut, dibanding mengeluarkan kalimat-kalimat balasan yang pedas. Ia tidak akan pernah bisa menang melawan saudari kembarnya. Bagaimana pun Amanda adalah perempuan. Akan memiliki banyak balasan untuk membuatnya kalah.
"Bagaimana kau dapat langsung kemari, saat kau tidak mandi? Aku masih bisa menerima jika kau absen membersihkan diri setelah bangun tidur, tapi kau habis bercinta. Keringatmu pasti akan keluar banyak. Astaga, kau benar-benar jorok."
"Aku malas mandi di tempat dia." Albert pun mengutarakan alasan sebenarnya jujur. Tak ada nada keraguan dalam suara beratnya. "Aku malas menumpang."
"Harga dirimu tercabik jika kau menumpang di rumah wanita yang kau tiduri? Apa begitu maksudmu? Tapi, kau tetap bersedia bercinta dengan wanita itu bukan?"
Albert jelas tersinggung akan sindiran sang kembaran. Namun, masih enggan untuk menanggapi. Dilakukan penarikan napas panjang. Lalu, diembuskan secara cepat. Beberapa kali diulangi agar kekesalan di dalam d**a dapat segera diredakan.
"Lebih baik kau pulang dulu. Bersihkan tubuhmu semua. Jangan lupa kau pakaikan parfum banyak agar kau kembali wangi dan bisa memikat wanita-wanita."
Albert mendelikkan mata kali ini. "Bisakah kau berhenti mengejekku? Kau memang tidak peka jika aku sedang ada masalah. Kau malah menyuruhku pulang."
"Hahaha. Kau ada masalah? Apa itu, My Twin? Ayo ceritakan kepadaku. Atau aku boleh menebak masalah apa yang sedang mengganggu pikiranmu sekarang?"
Alis kanan Albert spontan terangkat naik. "Kau tahu masalahku apa?"
"Iya. Aku tahu. Pasti ada hubungan dengan wanita yang kau ajak tidur bukan? Dia tidak mau kau ajak bercinta lagi? Jadi, kau dan dia terlibat pertengkaran? Benar? Tidak mungkin tebakanku akan salah. Semua pasangan akan mengalaminya."
"Hubungan kami tidak sedekat yang sudah kau pikirkan. Kami bukan pasangan. Kami baru bertemu semalam dan langsung bercinta dengan begitu saja. Saat tadi di rumahnya, kami canggung karena ada masalah," jelas Albert secara jujur sesuai apa yang terjadi. Tidak akan bisa berbohong atau menyembunyikan suatu hal.
"Hahahaha. Kau konyol, Saudaraku. Harus memang seperti itu, 'kan? Kalian berdua bertemu di suatu tempat. Lantas, merasa tertarik satu sama lain. Berlanjut karena kesepakatan juga, kalian akhirnya setuju bercinta satu malam kemarin?"
Albert spontan menganggukkan kepalanya. Memang apa yang dikatakan Amanda benar di antaranya dan Cavara Mikkler. Kegiatan panas mereka pun masih sangat membekas di kepala. Sulit baginya untuk dihilangkan. Walau, sudah berusaha tidak diingat atau dipikirkan menerus. Namun, tetap gagal. Terus terbayangi Cavara.
"Aku bisa menebak juga jika kau terlalu terbawa oleh perasaan. Kau dan dia punya hubungan yang tidak baikkah? Kalian ada masalah? Apa yang melatarbelakangi? Aku masih belum bisa mengerti. Apakah kau mau menjelaskannya kepadaku?"
Albert menggangguk cepat. "Okay. Akan aku ceritakan semua. Tapi, apakah kau bisa membantuku? Kau pasti mampu. Kau paling ahli jika menyangkut soal asmara."
"Jadi kau benar akan meminta bantuanku? Yang seperti apa dulu? Jika sulit, aku tidak akan bisa menolongmu. Aku tidak suka mencari masalah yang besar."
Kepala kembali dianggukkan oleh Albert. Ia tak mau menyembunyikan untuk masalah kali ini. Albert yakin saja bahwa Amanda akan bisa memberikan solusi. Saudarinya itu cukup mampu untuk dihandalkan. Albert hanya sedikit ragu Amanda bersedia dalam membantu dirinya tanpa ada iming-iming yang membuat wanita itu menjadi tertarik. Saudarinya merupakan tipikal pebisnis penyuka kesepakatan yang bagus. Jika tak berhasil dengan uang, ia akan mengeluarkan ancaman handalan.
"Memang ada masalah cukup rumit bagiku" Albert pun kembali menegaskan lewat kalimat singkatnya. Tetapi, belum mengungkapkan semua secara detail.
"Cepat ceritakan. Kau pasti akan memberi tahu. Benar bukan? Kau butuh solusi?"
"Kau tahu bukan jika aku tidak suka hanya tidur semalam saja dengan wanita? Berlaku juga untuk dia." Albert mulai buka suara. Tarikan napas panjang dilakukan.
Kemudian, dibuang dengan cepat. Jeda diberlakukan beberapa detik seraya terus merangkai kata demi kata di dalam kepala yang sekiranya bisa menjelaskan nanti kepada Amanda dengan mudah tanpa menimbulkan penafsiran berbeda ataupun kesalahpahaman. Albert enggan menimbulkan perkara yang tidak penting lagi.
"Iya. Aku tahu. Teman-temanku makanya mengagumimu. Mereka menyukaimu juga. Tapi, kau tidak memberikan respons atau membalas perasaan mereka. Kau itu sangat pemilih. Padahal, mereka semua merupakan wanita-wanita cantik."
Albert menggeleng pelan. "Iya. Mereka memang cantik-cantik. Tapi, aku tidak hanya melihat dari segi fisik yang seksi dan rupawan saja. Masalah hati juga penting."
"Hahaha. Okay. Baiklah. Terserah kau mau bagaimana. Aku tidak akan ikut campur. Kau yang menentukan. Lebih baik kau jelaskan saja masalahmu kepadaku."
Kepala dianggukkan pelan oleh Albert. "Tunggu sebentar. Aku butuh waktu un—"
"Cepat jelaskan semua. Kau suka sekali ya membuatku menjadi penasaran, My Twin. Kau tahu jika aku ini sedang sibuk? Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni dirimu. Kau bilang ada masalah. Maka, aku akan berusaha membantu jika aku bisa."
Albert menaikkan salah satu alis. Menandakan ketidakpercayaan dengan apa yang baru didengarnya. "Wow, kau yakin akan membantuku? Dari tadi seharusnya kau setuju. Jadi, aku tidak akan ragu untuk menceritakan masalahku padamu."
"Kenapa aku menjadi curiga, ya? Ekspresimu benar-benar seperti penagih utang. Bukan menyeramkan. Tapi, membuatku bergidik saja. Kau tahu maksudku."
Albert menggelengkan kepala pelan. Ingin menunjukkan bahwa ia telah mengerti dengan jawaban diutarakan saudari kembarnya. Namun, tak dilontarkan balasan sebab menghindari lanjutan dari topik pembicaraan tersebut yang baginya tidak penting dibahas kembali. Ia harus ingat akan tujuan awal, belum terselesaikan.
"Ceritakanlah. Kau suka sekali menunda-nunda. Waktuku akan habis. Kau tahu jika aku sibuk. Tidak hanya untuk meladenimu saja. Cobanya memahami, My Twin."
Respons diberikan oleh Albert berupa anggukan kecil saja. Namun, perintah saudari kembarnya tak dilakukan. Ya, memberitahukan masalahnya. Bukan dengan alasan ingin menyembunyikan. Albert masih merangkai-rangkai kalimat yang sekiranya akan mampu mewakili, tanpa harus diceritakan panjang dan mendetail. Ia hendak memberikan inti prakara supaya Amanda dapat menemukan solusi terbaik.
"Begini," ujar Albert pelan. Diembuskan napas cepat. Bukan karena gugup, namun menahan malu. Firasat memberi tahu bahwa Amanda akan menertawakannya.
"Jangan lama! Kau tidak peringatanku tadi?"
"Okay." Albert membalas dua detik kemudian, cukup keras. "Aku tidak mau hanya sekadar tidur bersama saja dengan Cavara. Not only having s*x for one night. Aku ingin memiliki status yang jelas bersama dia. Aku meminta Cavara untuk menjadi kekasihku. Tapi, dia tidak mau. Aku ditolaknya sebanyak dua kali tadi, satu jam."
"Hahahaha."
Albert sudah menduga bahwa sang kembaran akan menunjukkan reaksi demikian atas cerita yang baru diberitahukannya. Namun, mendengar bagaimana Amanda tertawa dengan begitu keras secara sengaja, membuatnya tetap kesal. Terlebih, ia sedang serius menerangkan kejadian pahit baginya yang sudah dialami.
"Kau benar-benar menyedihkan, My Twin. Wajahmu masam. Hahaha. Aku tahu kau pasti sangat kecewa dengan penolakan yang kau dapatkan. Haha. Sabarlah."
Albert merasakan dadanya kian panas. Tentu, kejengkelan juga bertambah akibat jawaban dilontarkan Amanda. Untuknya sebagai ejekan belaka. Sang kembaran pasti dengan penuh kesengajaan menunjukkan reaksi menyebalkan. Andai saja, suasana hati sedang bagus, maka ia akan melawan, enggan mengalah. Namun kali ini berbeda, lebih baik diam saja. Membiarkan Amanda tetap tergelak senang.
"Oh, ya. Sudah berapa kali kau ditolak oleh wanita yang kau sukai? Aku sangat lupa. Padahal, kau sering bercerita kepadaku dengan tampang sedihmu. Haha. Ak—"
"Sudahlah, Amanda! Berhenti menyindiri dan mengejekku!" seru Albert dengan cukup kencang. Pelototan mata pun ditambah. "Kau jangan membuatku kesal."
"Seharusnya kau bisa berempati dengan keadaanku. Kau malah mengejekku! Kau malas aku anggap sebagai saudara, kau bahkan tidak pernah peduli kepadaku."
Napas yang sempat menderu berupaya dinetralkannya dengan menarik dan juga mengeluarkan udara beberapa kali secara cepat. Jika dipikirkan menggunakan akal sehat dan logika, apalagi gender sebagai pria. Reaksinya terbilang berlebihan. Harus bisa dikendalikan kejengkelan. Namun, dalam penerapan sulit dilakukannya. Ia benar-benar dikuasai oleh rasa kesal. Kontrol emosi sama sekali gagal.
"Aku tidak peduli? Kau yang benar saja menuduhku seperti itu, My Twin. Aku bahkan sudah sering membantumu, kenapa kau menjadi lupa? Apa aku perlu ingatka—"
"Jangan diperpanjang lagi. Aku tidak butuh ejekanmu. Aku perlu kau menolongku saja. Kau tidak boleh menolak. Jika kau begitu, aku akan menarik investasi." Albert memotong cepat dan mengutarakan maksudnya, enggan lama lagi berbasa-basi.
"Cih, baru saja kau bilang aku tidak peduli denganmu, tapi kau malah meminta bantuanku dengan ancaman pula. Kau benar-benar menyebalkan, My Twin. Tapi, baiklah aku akan mempertimbangkan kembali. Bukan berarti aku sudah mau, ya."