06

1550 Kata
Cavara sudah berada di kamar mandi hampir satu jam. Entah apa yang wanita itu lakukan di dalam, Albert tidak tahu dengan persis. Hanya alunan suara kecil Cavara tengah menyanyi yang didengarnya. Suara gemericik air shower juga beberapa kali tertangkap oleh kedua gendang telinganya secara jelas. Namun, coba diabaikan.  Jika membayangkan, maka tubuh Cavara tanpa sehelai pakaian akan muncul dalam kepala. Tidak baik untuk akal sehatnya. Justru hasrat yang coba ditahan tercipta kembali jika fantasi liar juga mulai menguasai pikiran. Lebih baik, tidak memenuhi benaknya dengan sosok Cavara Mikkler daripada melawan gelora gairahnya.  "Kenapa begitu lama? Apa yang terjadi di sana? Apa dia perlu menggunakan semua bahan kecantikan untuk tetap membuatnya tampak menarik?" Gumaman pelan yang didominasi nada kesal dialunkan Albert juga dengan penekanan dalam.  Menunggu lama lebih dari waktu telah dibatasi baginya bukan merupakan sesuatu menyenangkan. Albert tidak suka. Terlebih, memiliki sebuah tujuan yang belum memperoleh hasil yang jelas. Maka, kegelisahannya semakin bertambah.  "Jika sampai dua puluh menit lagi, dia tidak keluar. Aku akan menyusul ke dalam. Aku tidak peduli jika aku bernafsu melihatnya sedang mandi nanti. Aku haru—"  Albert tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena menangkap sosok Cavara. Ia tiba-tiba merasakan ketegangan menyaksikan rambut basah wanita itu dan juga bathrobe selutut digunakan. Kedua betis Cavara tampak mulut serta begitu putih. Albert berupaya mengenyahkan segala bentuk pemikiran kotornya yang memiliki kaitan dengan Cavara. Ia harus berfokus pada masalah ingin dibahasnya.  "Kau mandi begitu lama. Sampai aku bosan. Jadi, apa sekarang kau sudah selesai mandi, Miss Mikkler? Bisa kita membicarakan soal keinginan yang aku katakan?"  "Apa kau sudah memikirkan tawaran yang aku berikan tadi? Aku butuh jawaban kau sekarang. Aku tidak suka menunggu lama. Meskipun, hanya sampai besok saja."  Cavara pun seketika terlonjak kaget karena lontaran kata-kata diucapkan serius Albert Geovant. Sedangkan, ia baru saja keluar dari kamar mandi. Cavara jelas terkejut sebab ia menduga bahwa pria itu sudah pulang. Tak lagi di rumahnya.  "Kau masih ada di sini rupanya? Aku kira kau akan segera pergi setelah aku masuk ke kamar mandi. Jika tahu kau belum pulang, aku pasti akan sebentar mandi."  "Aku minta maaf membuatmu menunggu lama, Mr. Geovant," ucapnya serius.  Cavara spontan melangkah mundur, ketika Albert berjalan kian mendekat ke arahnya. Ia ingin menjaga jarak. Jika sampai tak ada batasan di antara mereka, maka Cavara bisa memastikan jika dirinya dan pria itu akan terlibat dalam gairah sama-sama membara saat tidak berhasil menjaga jarak agar tak terlalu dekat.  "Bagaimana? Kau setuju, Miss Mikkler? Kau tolong jangan membuatku menunggu terus. Aku hanya ingin bertanggungjawab saja. Aku harap kau bisa mengerti."  Cavara semakin mendongakkan kepala agar dapat menyaksikan lebih detail ekspresi di wajah Albert Geovant. Beserta arti tatapan pria itu. Walau, tak paham akan apa yang tengah ditanyakan kepada dirinya tadi. Tak menjadi masalah, ia bisa mengonfirmasi ulang. Memang harus demikian untuk mencegah kesalahpahaman menjawab. Cavara juga berencana meluruskan semua agar tidak menjadi masalah.  Sebelum benar-benar bertanya, Cavara pun memikirkan kembali kata-kata yang Albert Geovant ucapkan. Pasti memiliki kaitan akan apa yang telah mereka berdua alami. Cavara cukup yakin. Mengingat, pria itu sempat membahas juga. Namun, harus dikonfirmasi agar jelas. Bukan tebakan tak mendasar yang belum ada bukti.  "Apakah soal bercinta semalam?" tanya Cavara dalam nada suara yang santai, disengaja. "Kau membahas pertanggungjawaban berkaitan dengan kemarin?"  "Iya, kau benar. Soal semalam. Aku akan bertanggung jawab karena sudah meniduri kau, disaat dirimu sedang mabuk. Semua itu sudah melanggar prinsipku sendiri. Aku pun harus menerima konsekuensi akibat sudah tidak menuruti peraturan yang aku buat dengan cara bertanggung jawab. Begitulah cara menebus kesalahanku."  Kepala Cavara mendadak pusing. Bukan lagi karena pengaruh minuman beralkohol yang diminumnya. Tentu saja, akibat ucapan dari Albert Geovant. Semakin bingung untuknya menerjemahkan kata-kata pria itu. Maksud Albert Geovant tidak bisa dipahami benar. Kemampuan berpikir kritis tak mampu untuk diterapkan dalam kasus ini. Cavara pun belum menemukan antisipasi yang paling tepat.  "Tunggu sebentar, aku kurang bisa mengerti apa yang sedang kau bicarakan. Maaf, jika aku menyebalkan. Tapi, aku sungguh tidak paham. Dan, apa maksudmu tadi yang ingin bertanggung jawab?" tanya Cavara ulang dengan jujur sesuai dipikirkan.  "Aku tidak mungkin hamil. Minggu ini bukan masa suburku. Jika kau takut nantinya aku akan mengandung anakmu. Aku berani menjamin seratus persen."  Cavara belum memindahkan pandangan dari sosok Albert. Ingin melihat reaksi pria itu atas ucapannya. Dan tampak nyata kekagetan Albert. Kedua bola mata yang melebar. Cavara pun langsung menarik kesimpulan bahwa pria itu tak menyangka dirinya akan mengutarakan jawaban seperti itu. Tentu, ia semakin bingung.  "Kau tidak berpikiran jika bisa hamil karena kita bercinta, Mr. Geovant?"  Albert menggeleng spontan. "Tidak, Miss Mikkler. Aku sudah pakai pelindung tadi malam. Jadi, kemungkinan kecil akan menghasilkan seorang anak."  "Tapi, jika memang ditakdirkan begitu. Aku siap menikahimu sebagai bentuk dari pertanggungjawabanku kepada dirimu dan bayi yang adalah buah hatiku."  Tawa Cavara seketika lolos. Kepala digeleng-gelengkan. "Haha. Lupakan soal punya anak. Aku juga yakin tidak akan hamil selama tidak dilakukan di masa subur."  "Lalu, pertanggungjawaban apa yang kau maksudkan tadi, Mr. Geovant?"  "Kita menjalin kasih bagaimana? Aku sudah jujur kepadamu bahwa aku tidak akan mau hanya bercinta satu malam dengan seorang wanita demi menyalurkan gairahku. Tidak gentle saja jika aku bersikap seperti itu." Albert menjawab jujur.  "Tidur dengan seorang wanita bukanlah hal yang mudah aku lakukan. Aku hanya baru bercinta bersama kurang dari tiga wanita di dalam hidupku. Kau yang keempat bagiku."  Cavara yakin kedua pipinya bersemu merah kembali. Ditambah dengan usapan-usapan halus diberikan pria itu di bagian kepalanya. Tepat pada rambut pirangnya yang basah. Sungguh, cara menggoda begitu bagus. Pria itu berpengalaman dalam memperlakukan wanita dengan baik. Berhasil membuatnya merasakan getaran aneh di bagian d**a.  "Kau yang ketiga bagiku." Cavara menjawab secara refleks. Ingin mengungkapkan sesuai dengan fakta yang sudah pernah dialami. "Walau, mantanku cukup banyak."  "Benarkah? Wah, aku merasa senang. Kau setidaknya bukan termasuk wanita dengan mudah bisa tidur bersama pria. Aku suka dengan fakta ini, sungguh."  Cavara spontan menutup mata, saat pria itu menyatukan bibir mereka. Kemudian, ia rasakan cumbuan yang halus pada bagian bibir. Lumatan lembut dan memabukkan. Ia bahkan hanya mampu diam. Tak ada juga keinginan untuk membalas. Membiarkan saja pria itu mengendalikan ciuman mereka.  "Apakah mau bersedia menjadi kekasihku? Aku sangat berharap kau mau kali ini."  Cavara menggeleng cepat. "Maaf, aku tidak bisa. Hubungan kita hanya sebatas teman tidur semalam saja. Tidak akan lebih bagiku untuk sekarang, Mr. Geovant."  Albert mematung. Mata tak berkedip memandang Cavara yang memerlihatkan tatapan yang semakin kurang enak kepadanya. d**a terasa sesak. Albert yakin ia sedang tidak salah mendengar. Namun tetap saja, enggan menerima kenyataan.  Tentang penolakan diucapkan oleh Cavara untuk kedua kali, masih tak ingin dirinya percaya. Mengingat, apa yang sudah mereka lakukan terlalu intim. Memanglah menghabiskan satu malam dengan lawan jenis, tidak menjadi hal yang asing lagi bagi pria dan wanita di kota sekelas New York tanpa mempermasalahkan perasaan atau status di antara mereka. Namun, berbeda dengan prinsip yang dipegangnya.  "Aku harap kau menghargai keputusanku, Mr. Geovant. Tolong kau mengerti. Dan, tanpa harus menjadi kekasihmu, kita masih bisa tidur bersama untuk selanjutnya."  Albert seketika membelalakan mata. Tak menyangka dengan ucapan yang Cavara lontarkan dalam nada santai. Saat, kedua telapak tangan hangat milik wanita itu di masing-masing pipinya diusapkan, maka Albert merasakan sensasi yang berbeda.  "Kemarin bagiku sangat menyenangkan dan berkesan. Jadi, mungkin untuk tidur bersama denganmu masih ada kedepan. Aku tidak akan pernah menolaknya. Dan, kau sendiri bagaimana? Apakah masih berminat untuk tidur bersamaku lagi?"  Respons segera diberikan atas pertanyaan Cavara yang bernadakan penuh harap. Letupan bahagia tak bisa dimungkiri kian membesar di dalam dadanya. Dan, belum pernah dirasakan kegembiraan yang membuncah karena permintaan wanita itu untuk bercinta kembali. Padahal, sebelum bertemu Cavara, bahkan sudah ada beberapa wanita yang ingin menghabiskan malam panas dengan dirinya.  "Kau mau, Mr. Geovant? Kau serius kita akan mengulangi lagi?"  Untuk kedua kali, tanggapan sama diberikan. Mengangguk penuh keyakinan serta menunjukkan senyuman, walau tidak lebar. "Tentu, aku serius, Miss Mikkler."  "Aku tidak akan bisa menolak tawaranmu untuk bercinta," imbuhnya dengan suara yang lebih dalam guna menunjukkan secara jelas kadar dari kesungguhannya.  "Sayang jika aku melewatkan kesempatan emas tidur bersamamu. Kau spesial. Aku senang sudah bisa bercinta denganmu, Miss Mikkler. Aku berkata apa adanya."  Cavara mengangguk pelan sembari merekahkan kembali senyuman. "Sama. Bagiku juga menyenangkan bisa tidur bersamamu. Pengalaman sangat menakjubkan.  "Ah, aku juga ingin memujimu lagi. Tapi, kau jangan berpikir jika aku mengatakan nanti hanya untuk memuluskan keinginanku untuk bercinta denganmu kedepan."  Suasana hati sedang tak bagus, namun entah mengapa tawanya berhasil terpancing keluar karena kalimat-kalimat yang diucapkan lembut dan bernada polos oleh Cavara. Wanita itu semakin menarik saja, walau mereka belum bersama selama 24 jam. Ada magnet pada diri Cavara yang seakan memiliki kekuatan besar.  Kemudian, kepala digelengkan untuk menanggapi perkataan wanita itu. "Tidak."  "Aku tidak pernah berpikir kau memujiku karena ada maksud tertentu. Aku percaya kau adalah orang yang suka jujur mengatakan apa yang kau rasakan, Miss Mikkler. Terima kasih juga sudah memujiku. Jujur saja, aku merasa sangat tersanjung."  Setelah menyelesaikan ucapannya, Albert pun mengeratkan pelukan pada tubuh ramping Cavara. Dilanjutkan dengan mendaratkan ciuman pada kening wanita itu. Cukup lama, hampir satu menit. Kedua matanya pun dipejamkan dengan erat.  Perasaan yang aneh untuk dilogikakan atau dinalarkan, namun ia kian menikmati. Fakta bahwa baru kemarin malam mengenal Cavara, tetapi sudah merasa lama juga tidak masuk akal baginya. Penampikkan akan ketertarikan untuk wanita itu pun ingin dibantah menerus, tetapi ia tidak bisa. Justru semakin menyukai Cavara.  "Miss Mikkler...," ujarnya dengan suara pelan dan begitu lembut.  "Ya, ada apa, Mr. Geovant?"  "Bisakah kau memberikan aku kesempatan untuk memilikimu? Maksudku adalah mendapatkan hatimu. Aku rasa aku tidak melepaskanmu, aku tidak rela saja."  Selepas menuntaskan kalimatnya, tanpa menunggu jawaban Cavara, didaratkan ciuman dalam di bibir ranum wanita itu. Lumatan lembut diberikan seraya kedua mata indah Cavara dijadikan objek pandangan. Sedangkan, masing-masing tangan sudah menangkup pipi kanan dan kiri wanita itu kuat agar memalingkan wajah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN