05

1538 Kata
"Selamat tidur yang nyenyak, Miss Mikkler." Sapaan lembut di bagian telinga kanan didengar jelas oleh Cavara. Begitu juga dengan kecupan pada kening yang bisa dirasakan nyata. Namun, kelopak mata kiri dan kanan masih tertutup rapat. Walau, ia sudah terbangun dari tidurnya. "Terima kasih untuk semalam. Maaf, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Tapi, aku akan siap bertanggung jawab jika terjadi sesuatu hal yang buruk padamu." Cavara terenyuh oleh kata demi kata ditujukan untuknya. Ada kesungguhan besar di dalam kalimat-kalimat diucapkan. Cavara ingin sekali segera memberi respons. Namun, kepalanya terasa begitu berat. Efek dari minum beralkohol semalam. "Kenapa pusing sekali?" Cavara bergumam dengan nada yang sangatlah pelan. Kedua mata berupaya untuk dibuka, tetapi masih terasa berat masing-masing kelopak yang setengah tertutup. Walaupun demikian, Cavara tidak akan menyerah. Bagaimanapun ia harus bangun karena kewajiban tengah menunggunya. Tak hanya kepala yang berputar. Namun, tubuh juga terasa sakit serta juga pegal-pegal. Penyebabnya sudah Cavara ketahui. Apa pun yang terjadi semalam, ia masih mampu mengingat semua. Mulai dari minum vodka melebihi batas kemampuan. Kemudian, ia berjumpa dengan seorang pria. Memintanya untuk mengantar ke rumah. Dan berakhir, tidur bersama. Menghabiskan malam yang panas. Belum dapat dilupakan hingga kini. Setiap sentuhan dilakukan pria itu memabukkan. "Selamat pagi, Miss Mikkler. Maaf, aku menyapa kembali. Aku ingin saja." Mendengar suara milik seseorang yang bagi dirinya cukup familier, Cavara memaksa dua matanya terbuka. Posisinya sudah duduk di atas kasur. Kaki-kaki jenjang disilangkan. Arah pandang difokuskan lurus ke depan. Tepat pada sosok Albert. Cavara menduga bahwa pria itu sedang ada di sofa. Namun, tidak didapatkan siapa pun. Kemudian, ia menolehkan kepalanya ke sisi kanan. Dalam hitungan dua detik, sesosok pria bertelanjang d**a dengan dilengkapi otot-otot perut yang berbentuk bagus. Sungguh, pemandangan sensual dan menarik juga untuk dirinya. "Selamat pagi juga, Mr. Geovant." Cavara menyapa dengan ramah. Suaranya ceria. "Bagaimana tidurmu? Apa kau bisa nyenyak di kasurku yang empuk?" candanya. "Cukup nyenyak. Kau benar tentang kasurmu yang empuk. Aku suka." Cavara meloloskan tawanya, walau bervolume kecil. "Tentu aku jujur. Harga dari kasurku ini mahal. Aku membelinya di Eropa secara khusus agar aku bisa tertidur nyenyak, setelah seharian aku lelah bekerja," jawabnya dengan gurauan. "Iya. Sebagai pebisnis. Kau harus punya waktu istirahat yang efisien. Dan, tentang kemarin, apakah yang kau rasakan? Apakah kau baik-baik saja, Miss Mikkler?" Cavara menaikkan alis bagian kanan. "Yang aku rasakan, ya?" tanyanya ulang. "Iya, benar. Tadi aku dengar kau sempat mengatakan kepalamu pusing. Apakah kau benar tidak kenapa? Aku tidak ingin terjadi hal yang buruk kepadamu." Cavara mengangguk cepat. Tarikan napas panjang lalu dilakukan. Sudah ditatap pria itu lekat, walau ada perasaan malu timbul. Bagaimana pun juga mereka tetap berbeda gender, berada dalam ranjang yang sama. Bahkan, bercinta bersama. "Aku tidak apa-apa. Aku sehat. Aku juga segar bangun tadi, walau kepalaku belum bisa hilang sakitnya. Wajar, karena aku minum yang cukup banyak kemarin." Cavara pun diingatkan dengan sebuah fakta bahwa dirinya hampir dua tahun tak pernah tidur lagi bersama seorang pria. Menikmati malam panas dan menyalurkan gairah yang membara. Sungguh, peristiwa semalam tak bisa dilupakan begitu saja. Membekas dalam benaknya. Pengalaman yang menakjubkan setelah sekian tahun tidur dengan beberapa pria notabene menjadi kekasih hatinya. Namun, dengan Albert, tak dimiliki hubungan spesial. Hanya teman berkencan satu malam. "Wajar jika aku pusing karena aku minum wine melebihi yang aku bisa. Hmm, kau jangan khawatir. Nanti saja akan hilang, setelah aku mandi dan minum susu." "Kau yakin kau tidak akan kenapa-kenapa? Jika ada masalah beri tahu aku." "Iya. Aku yakin aku baik-baik saja." Cavara melembutkan nada suaranya sembari kepala dianggukkan. "Aku sudah cukup sering minum. Jangan cemaskan aku." "Tadi, aku pikir kau pusing karena kita yang bercinta saat kau mabuk." Cavara merespons segera dengan gelengan. Tawa diloloskannya juga. "Bukan, Mr. Geovant. Tidak ada pengaruhnya bercinta terhadap rasa pusing kepalaku." "Baiklah. Aku akan memercayai apa pun yang sudah kau katakan kepadaku." Cavara mengangguk cepat dengan gerakan pelan. Senyum dilebarkannya bersama tawa yang juga dikeluarkan, walau tak kencang. Ia yakin pula rona merah di kedua pipinya jadi semakin terlihat. Tak ada pilihan yang bisa diambil, selain membiarkan pria itu melihat. Cavara hanya menjaga ekspresi pada wajah supaya tak tambah membuatnya malu. Tentu, dipikirkan topik sekiranya bagus diperbincangkan. "Ah, aku masih sedikit lupa nama lengkapmu. Tapi, benarkah Albert Geovant? Kau tidak memiliki nama tengah bukan? Kau tidak menyebutkan semalam." Cavara pun melontarkan pertanyaan bertubi untuk memulai pembahasan ingin diketahui. "Benar. Namaku hanya Albert Geovant. Tidak ada nama tengah." "Oh, begitu, ya? Lalu, berapakah usiamu? Itu pun jika aku boleh tahu. Karena aku tahu tidak setiap orang suka untuk membeberkan usianya." Cavara berkata ringan. "Bukan masalah bagiku memberitahukan usia. Tahun ini, aku akan 29 tahun." Cavara melebarkan senyuman. "Usia kita sama. Aku lahir bulan Agustus. Bagaimana dengan kau?" tanyanya basa-basi saja. Melanjutkan topik agar tak melenceng. "Aku bulan Mei. Lebih tua tiga bulan darimu ternyata. Tidak masalah, aku bukanlah pria yang menjadikan usia ukuran untuk tidur dengan seorang wanita. Asalkan punya keinginan yang sama. Sudah cukup. Kau sendiri bagaimana?" Cavara segera mengangguk. Dalam gerakan pelan saja. "Iya, aku paham. Aku juga sama. Prinsipmu dan aku sejalan. Maka dari itu, kita sepakat tidur bersama." "Iya. Aku tidak akan mau tidur dengan wanita jika dia tidak mau. Prinsip yang aku pegang selalu. Begitu pun jika aku tidak ingin, wanita itu tidak akan bisa memaksa diriku." Albert berujar dengan nada yang serius dan juga tegas. "Terima kasih untuk yang semalam. Senang bisa bersamamu. Kau hebat," ucapnya tanpa bermaksud memuji secara berlebihan. Mengatakan apa adanya saja. "Kau menakjubkan. Kau tidak hanya mementingkan dirimu. Tapi, kau juga selalu mencari cara agar aku nyaman bercinta denganmu. Terima kasih, Mr. Geovant." "Kenapa kau berterima kasih kepadaku? Aku justru ingin meminta maaf untuk yang semalam. Soal, tidur bersama. Aku merasa bersalah yang besar terhadapmu." Cavara mengerutkan keningnya. "Kau mau meminta maaf? Kenapa kau melakukan itu? Kau dan juga aku menikmatinya semalam. Aku tidak merasa terpaksa tidur denganmu. Walau, mungkin aku dalam pengaruh minuman beralkohol." "Iya, aku tahu. Tapi, tetap saja aku merasa bersalah. Aku seperti memanfaatkanmu yang sedang mabuk. Aku hanya memikirkan tentang nafsuku saja semalam bercinta. Maaf, jika aku baru bisa berpikir jernih pagi ini. Memang terkesan terla—" "Aku tidak apa-apa. Kau jangan merasa tidak enak denganku," potong Cavara cepat sembari menggeleng-gelengkan kepala. Begitu juga tangan kanan yang dikibaskan. Senyuman masih mengembang lebar. Sedangkan, jarak memisahkannya dengan Albert coba untuk dipangkas. Sebab, ia merasa perlu melakukan sentuhan fisik untuk menenangkan dan memberikan kenyamanan kembali kepada pria itu. Tak bisa hanya dengan kata-kata, walau sudah diucapkan jujur dan bernada lembut. Tak sampai satu menit, tangan Cavara sudah berada di lengan kanan atas Albert. Diusap-usap pelan seraya tidak melepaskan tatapan dari kedua mata pria itu. Ia ingin meyakinkan. Tentu, apa tengah diperlihatkan berharap akan dipercayai. "Aku sedang mabuk atau tidak, bukan masalah. Aku menginginkanmu dengan kesadaran yang masih ada, tidak karena paksaan darimu." Cavara menjelaskan lagi agar bisa segera memperoleh tanggapan sebab Albert belum mengatakan apa-apa. "Bagaimana? Kau jangan merasa bersalah kepadaku, ya? Yang kita lakukan kemarin lakukan karena kesepakatan bersama, jangan dipikirkan," pinta Cavara lembut. "Percayalah aku tidak apa-apa. Kemarin kesadaranku masih ada, saat kita bercinta. Ah, mengingatnya membuat aku malu saja," imbuh wanita itu dalam nada lirih. Kemudian, wajahnya ditutup menggunakan kedua tangan. Dengan tujuan agar tak sampai diketahui bahkan dikentai kedua pipi yang memerah. Kontras akan kepala memutar memori-memori dalam percintaan panas mereka lakukan semalam. "Kau kenapa, Miss Mikkler? Ada apa?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah Cavara duga akan dilontarkan oleh Albert atas sikap yang tengah ditunjukkan. Ia tentu merasa harus segera menanggapi. Kepala digeleng-gelengkan dalam gerakan ringan. Tak dikatakan apa-apa. Wajah pun masih ditutup. Jawaban telah mulai dipikirkan, beberapa menit lagi baru akan dilontarkan. Ia tidak siap memerlihatkan rona merah pada kedua pipinya. "Miss Mikkler, kenapa kau hanya diam saja? Kenapa tidak membalas? Kau benar baik-baik saja? Kau membuatku cemas. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa Mi—" Cavara sedikit bingung Albert berhenti berbicara tiba-tiba, tepat selepas kedua tangan dijauhkan dari wajah. Kini, mereka berdua sudah saling bersitatap. Mata Albert menunjukkan pelebaran, ia dapat menyadari dengan begitu jelas. Dan cepat ditarik kesimpulan penyebab reaksi pria itu yang demikian terhadapnya. Ya, warna merah pada wajah menjadi faktor utama, Cavara yakin tidak salah menebak. Tetapi, ia enggan untuk menanyakan hal tersebut pada Albert. Pura-pura tak tahu saja. "Aku tidak apa-apa. Sungguh." Cavara berujar dengan penuh keseriusan dan juga tegas, namun kata-katanya teralun masih dalam suara yang cukup lembut. Belum ada tanggapan juga dari Albert. Pria itu tak menunjukkan reaksi ataupun perubahan ekspresi. Dan, hal tersebut membuat Cavara belum merasa tenang. Ia justru kian dilanda curiga. Mengingat, Albert terus memandangi lekat dirinya. Lalu, dirangkai kalimat tanya secara cepat di dalam kepala guna mengonfirmasi apa penyebab pria itu menatapnya dengan intens, tanpa berkedip. Kurang dari satu menit saja, sudah berhasil disusun. Tinggal dilontarkan. Namun, terlebih dahulu, ia mengembuskan napas. Perasaan gugup pun secara mendadak menyelimuti dirinya. "Kau yakin? Aku tetap merasa cemas dan takut." Cavara menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku hanya malu teringat yang semalam. Tapi, percayalah jika kau sangat hebat kemarin. Aku merasa puas." "Terima kasih, Miss Mikkler. Aku kembali tersinggung. Dan, bolehkan aku meminta suatu hal kepadamu? Sebagai rasa tanggungjawabku karena kita sudah bercinta." Cavara mengerutkan kening, tak paham akan apa disampaikan. Memang, belum diutarakan secara gamblang oleh pria itu. Dan, ia tidak bisa menerka-nerka. Lebih baik dan bagus untuk bertanya ulang supaya mendapatkan jelasan, tentu saja. "Apa yang kau inginkan dariku, Mr. Geovant?" ujarnya dengan lembut serta sopan. "Aku ingin kita menjalin hubungan. Maksudku adalah mari kita menjadi pasangan kekasih. Alasan utamanya karena aku menyukaimu. Dan, yang kedua adalah karena aku tidak bisa tidur dengan wanita yang tidak memiliki hubungan denganku." Selepas pria itu menyelesaikan ucapan, maka ia langsung menggeleng. "Maaf, aku tidak bisa menjadi kekasihmu, Mr. Geovant. Karena, terlalu mendadak bagiku." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN