Setelah memasuki areal dalam rumah dari Cavara Mikkler, tepatnya selepas melewati pintu utama kediaman megah wanita itu. Albert lebih waspada dan membuat sebuah antisipasi, saat nanti bisa saja bertemu dengan orang lain.
Apa yang dipikirkannya tak terjadi. Hanya suasana sepi menyambut, ketika dirinya menggendong Cavara Mikkler menuju ke ruang tamu. Albert seketika baru kembali ingat jika wanita itu sempat berkata hanya tinggal sendiri. Pantas memang, tak tampak seorang pun yang menyapa mereka berdua. Begitu sunyi dengan lampu-lampu yang menyala terang. Tak mengesankan keadaan horor atau menyeramkan.
"Aku akan menaruhmu di sofa. Aku tidak tahu kamarmu di mana," bisik Albert di bagian telinga kanan Cavara Mikkler dengan suara sangat pelan dan lembut.
Tarikan pada ujung-ujung bibir membentuk senyuman cukup lebar, manakala menatap sosok Cavara yang masih tertidur nyenyak. Sudah tiga kali pemandangan wanita itu terlelap berhasil diabadikan dengan kedua matanya langsung. Tak ada rasa bosan. Justru sangat menikmati wajah menawan wanita itu yang damai.
"Jangan ajak aku ke sanaaa! Aku tidak mau ke sanaaa!"
Albert seketika terkejut mendengar seruan dilontarkan kencang oleh Cavara Mikkler dalam nada sedikit memerintah juga. Ia tak tersinggung. Hanya sebatas kaget saja. Dan, untung tidak sampai dilepaskannya tubuh wanita itu dari dekapan karena telah erat dipegang. Mustahil akan bisa jatuh dengan kedua tangan kekar menjaga.
Lalu, dibalas tatapan lekat Cavara Mikkler kembali. Mata wanita itu benar-benar tampak semakin cantik saja. Memandang dirinya dengan tatapan hangat sehingga menimbulkan sensasi yang aneh kembali. Albert tak bisa menghindari.
"Kau tidak mau aku taruh di sofa?" Albert bertanya ulang guna memastikan.
"Iya, kau benar. Aku tidak mau. Jika di sana, tubuhku akan sakit besok. Padahal, aku membeli sofa yang mahal agar aku nyaman. Tapi, badanku pegal-pegal."
Albert tak kuasa menahan tawa karena jawaban dilontarkan Cavara dan ekspresi polos diperlihatkan wanita itu lucu baginya. Terlebih lagi, sorot kedua mata Cavara yang memancarkan kekesalan karena bahasan tengah mereka obrolkan.
"Kadang harga masih belum sesuai dengan kualitas," tanggap Albert santai.
"Bisakah kau jangan menidurkanku di sofa? Aku mau di kamar saja. Di kasurku yang empuk. Lebih nyaman tidur di sana. Bisa kau tolong mengantarkan aku?"
Albert segera saja mengangguk. Tanpa berpikir panjang lagi. Karena, memang kemampuannya dalam menganalisis permintaan yang baru lima detik selesai dilontarkan oleh Cavara Mikkler. Wanita itu mengatakan apa adanya, tidak ada maksud yang tersembunyi, begitu logika Albert meyakinkan dirinya sendiri.
"Baiklah. Akan aku antarkan. Tidak mungkin aku membiarkan kau berjalan, disaat rasa pusingmu bertambah. Nanti kau bisa jatuh. Jadi, di mana kamarmu?"
"Kamarku di sana. Di dekat TV. Kau lihat?"
Albert pun mengikuti jari telunjuk dari Cavara Mikkler yang mengarah ke sebuah ruangan dengan pintu cukup besar, terletak sekitar empat meter di depannya. Albert pun lantas mengangguk, menunjukkan ia telah paham. "Aku sudah lihat."
Tidak ingin membuang lebih banyak waktu lagi. Albert lanjut berjalan. Kedua kaki yang dilangkahkan dengan laju semakin cepat. Ia melakukan untuk mengalihkan perhatian dari Cavara Mikkler yang terus menatapnya. Melakukan kontak mata kian lama sama artinya rasa terpesona terhadap wanita itu akan bertambah.
"Apakah kamarmu dikunci? Menggunakan password?" tanya Albert sedikit gugup. Perasaan yang muncul karena pikiran mulai tidak dikuasai hal-hal kotor.
"Tidak memakai sandi. Kita hanya tinggal masuk. Pintunya harus dibuka dulu. Baru kau dan aku bisa ke dalam. Kau sudah mengerti dengan penjelasanku?"
Albert menanggapi dengan anggukan singkat saja. Kemudian, melakukan instruksi diberikan oleh Cavara Mikkler yang masih berada dalam gendongannya. Masih terjaga. Memandang dirinya semakin lekat tanpa mengurangkan senyuman manis di wajah. Wanita itu benar-benar akan semakin mengikat hatinya.
Albert yang memainkan kontak mata. Tak terus dibalas tatapan wanita itu. Diputusnya sejenak. Kemudian, kembali bersitatap. Ia telah melakukannya berulang kali seraya masih berjalan menuju ke ranjang milik Cavara Mikkler.
Menyisakan jarang kurang dari satu meter. Sebentar lagi akan sampai.
"Mr. Charming...,"
Senyuman dilebarkan oleh Albert. "Iya. Ada apa? Kau punya sesuatu mau ditanya kepadaku? Silakan. Aku akan menjawabnya dengan jujur semua kau ingin tahu."
"Kau sudah memikirkannya? Jangan kau berikan aku penolakan. Aku tidak suka."
Albert masih memandang ke sosok Cavara Mikkler yang sudah ditempatkannya di atas kasur. Pertanyaan wanita itu tidak mampu untuk dimengerti. Kemampuan dalam berpikir dan juga menganalisis ucapan terus memburuk saja.
"Penolakan apa yang kau bicarakan? Aku kurang mengerti maksudmu, Miss Mikkler. Tolong berikan aku waktu untuk menjawab. Aku perlu memikirkan ulang lag—"
"Bercinta. Maksudku adalah mengajak kau tidur denganku. Kau bernafsu padaku. Jadi, lebih baik kita salurkan bersama. Kau juga membuatku ingin menyerahkan tubuhku kepadamu. Jangan tanyakan alasan spesifik. Aku murni tertarik."
Cavara memerlihatkan tatapan yang kian serius. "Entah kenapa, aku merasa bahwa kau berbeda. Kau bukan pria berengsek dan mengutamakan nafsu saja. Hmm, apa alasan ini bisa kau terima? Aku tidak yakin ucapanku tidak akan berlebihan."
"Hmm, yang paling realistis alasanku adalah ingin tahu seberapa hebat kau dapat bercinta dan bermain denganku di ranjang. Bagaimana? Sudah bisa diterima?"
Albert mematung seketika. Berdiri dengan tubuh yang menegang. Begitu pula akan kedua kakinya tak bisa digerakkan. Tangan kanan dan kanan juga mengalami hal yang sama. Bahkan, saat dipegang oleh Cavara, ia tak bisa merespons secara cepat. Masih diam saja. Menanggapi sebagaimana semestinya tidak dapat diberikan.
"Bukankah tadi saat di mobil aku sudah mengatakan aku ingin bercinta denganmu? Apakah kau melupakannya? Baiklah, aku mengerti kau mungkin tidak ing—"
"Hahaha. Aku pastinya ingat. Hmm, aku hanya ingin mengetes kau saja. Aku pikir apa yang kau katakan di mobil bercanda dan tidak serius. Aku senang kau memang benar mau melewatkan malam bersamaku dengan bercinta. Aku tidak sabar."
"Aku menginginkanmu. Mari kita bercinta. Aku adalah milikmu untuk malam ini. Kau bebas melakukan apa pun kepadaku. Asalkan kau bisa memuaskanku juga. Jika aku suka. Akan ada malam-malam panas yang ingin aku lewatkan bersamamu."
Albert pun hanya masih bisa diam saja, saat Cavara memeluknya. Dekapan yang sukses membuat aliran darahnya berdesir dan juga degupan jantung jadi semakin kencang. Reaksi dari tubuh yang tidak disangka-sangka akan terjadi. Belum lagi hasrat mulai muncul ke permukaan. Ditambah produksi keringat mulai banyak.
Ketika, wanita itu menciumnya. Baru Albert bereaksi. Ia membalas dengan lumatan yang tak sabar. Sarat akan gairah juga. Tidak akan disia-siakan tawaran Cavara tadi. Dirinya bersedia menghabiskan malam yang menggelora nan panas bersama wanita itu. Menyalurkan gairah membara. Tak ada pilihan selain bercinta.
"Okay. Aku bersedia." Albert berucap dengan mantap dalam suara serak. Kedua tangan sudah memegang masing-masing pipi Cavara. "Aku juga menginginkanmu seperti yang sudah aku katakan di dalam mobil tadi. Belum berubah sedikitpun."
Sebuah ciuman mesra didaratkan pada kening wanita itu. Sebentar saja. Kurang dari lima detik. Lalu, semakin ditatap lekat Cavar. "Aku bodoh sampai aku menolak tawaran menarik untuk tidur denganmu. Kau terlalu sayang untuk diabaikan."
"Kau serius?" Cavara bukan ingin memastikan. Akan tetapi, berupaya menunjukkan godaannya lewat lontaran kalimat tanya pendek bernada yang cukup mesra.
"Iya. Aku serius. Kau menanyaiku tidak hanya sekarang saja. Tapi, tadi, saat kita di mobilku, kau juga sudah mengatakan jika kau ingin bercinta denganku. Dan, sudah aku berikan jawabanku. Tidak akan berubah tentang keputusanku, Miss Mikkler."
Cavara melebarkan senyuman sembari meraih tangan Albert yang sudah terulur ke arahnya. Dilakukan tarikan pelan. Tetapi, bisa membuat pria itu langsung duduk di tepian kasur. Tepat di sebelahnya. Kemudian, kepala dianggukkan dan dikeluarkan tawa renyah. Suasana hati semakin bagus, walau rasa gugup mulai melandanya.
"Hahaha. Aku suka kata-katamu yang jujur, Mr. Charming. Jadi, kita bisa mulai? Hm, kau yang memimpin permainan kita saja bagaimana? Aku sebagai wanita menerima semua kau lakukan." Cavara masih menjaga suaranya agar terdengar seksi.
"Aku siap memimpin. Kau akan senang dengan sentuhan-sentuhan aku berikan. Dan, kau ingin aku memulai dengan cara bagaimana? Pelan-pelan atau cepat?"
Cavara tidak kuasa menahan tawa. Namun, di dalam d**a ia sangat senang akan reaksi pria itu. Terutama suara yang seksi nan berat. Tak ketinggalan pula kedua mata memancarkan hasrat semakin besar. Membuat dirinya juga tambah b*******h. Malam ini, akan dihabiskan dengan pergumulan nafsu masing-masing.
"Benarkah begitu? Bisakah kau buktikan secepatnya juga? Aku tidak sabar. Tapi, aku yakin kau akan membuktikan kepadaku. Kau pria yang memegang kata-kata kau ucapkan. Sangat beruntung aku bisa kenal dan bertemu denganmu."
Albert hanya bisa memperlebar senyum, ditunjukkan semaksimal mungkin. Kedua ujung bibir dinaikkan setinggi yang bisa dilakukan, ingin menyamai Cavara. Entah mengapa, ia juga turut bahagia melihat bagaimana wanita itu mengekspresikan rasa senang dan keriangan akan rencana mereka bercinta lewat rekahan senyum.
"Kau kenapa diam saja? Kau jangan-jangan mau mengubah keputusanmu, ya?"
Albert segera menggeleng. Ia telah tahu maksud pertanyaan wanita itu mengarah ke mana. "Kenapa aku diam? Karena aku suka dengan senyumanmu, Sayang."
"Dan, aku tidak akan mengubah pikiranku. Besar keinginanku bercinta denganmu. Jika aku sudah bernafsu, maka tidak ada yang bisa menghentikan niatanku."
Ucapan baru disampaikannya langsung mendapatkan tanggapan berupa anggukan mantap. Ditambah dengan bertambahnya senyuman yang dikembangkan. Lantas, ia dilanda keterkejutan karena Cavara melingkarkan kedua tangan di lehernya.
Tetapi, hanya seperkian detik saja. Karena, sesegera mungkin dihilangkan. Dan, tak perlu usaha berat mengganti dengan kobaran gairah. Ingin segera beraksi serta merealisasikan fantasi liarnya yang sudah berputar bak film di dalam kepala.
Dimai dengan ciuman di bibir ranum Cavara. Cumbuan berbeda dari sebelumnya telah mereka lakukan. Lebih cepat, menuntut, dan tidak sabaran. Gairah bertambah dalam kurun waktu beberapa detik saja, tepat setelah Cavara membalas dengan pagutan lembut. Tubuhnya seperti sedang tersengat listrik dan membangkitkan hasratnya. Malam ini, ia tak akan yakin bisa mengontrol diri dalam bercinta.
"Ahhh."
Erangan Cavara bak melodi indah baginya. Gerakan tangan pada salah satu buah d**a wanita itu diganti dengan remasan. Sedangkan, bibirnya telah beralih ke leher Cavara, memberikan cecapan-cecapan halus. Ia menyukai kulit putih wanita itu yang lembut. Nafsu terus membesar, saat hidung menghirup aroma parfum Cavara.
"Malam ini lakukan apa maumu, Mr. Charming. Aku milikmu. Tolonglah berikan aku kepuasaan yang maksimal. Kau yakin kau bisa melakukannya kepadaku."
Albert langsung mengangguk dan tersenyum lebar sembari menatap wajah cantik Cavara. Binaran mata wanita itu sangat indah. "Dengan senang hati aku akan mau memberikan kau kepuasaan sampai kau benar-benar mendapat kenikmatan."