Sinar mentari pagi bersinar indah, dan perlahan menembus masuk ke dalam kamar tidur melalui celah tirai jemdela. Hari telah berganti baru, langit malam berubah cerah digantikan oleh sang surya yang menyilaukan mata.
Pagi ini, suasana rumah begitu tenang. Tak ada jeritan tujuh oktaf yang selalu mami gaungkan setiap pagi subuh. Bahkan suara celotehan mami pun tidak kedengaran seperti biasanya, tak perduli meskipun hari ini adalah hari minggu.
Tetapi, pagi ini suasana rumah kurasakan agak berbeda, begitu lengang. Aku bahkan tidak mendengar suara ketukan di pintu kamarku pagi ini.
Ku lirik jam yang menempel di dinding yang berada tepat di atas pintu kamarku seraya menguap lebar. Sudah pukul 9 pagi. Aku terbelalak kaget, seketika kantukku hilang. Hari sudah siang dan bahkan sekarang sudah melewati jam sarapan pagiku.
Aku langsung menarik selimut, lalu melompat turun dari tempat tidur kemudian berlari masuk ke kamar mandi. Kelepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhku dan menyimpannya ke dalam keranjang pakaian kotor.
Suara gemericik air shower mulai terdengar saat aku mulai membasuh tubuhku. Terasa begitu segar ketika air dingin mengalir membasahi kepalaku hingga seluruh tubuhku.
Tanganku menggosok seluruh permukaan kulitku yang putih bersih dengan sabun beraroma bunga yang menguar hingga menusuk indra penciumanku. Serta membersihkan rambut hitam alami milikku dengan shampo. Lima belas menit kemudian ku sudahi mandiku dan segera menyikat barisan pagar putih yang tertata rapi di dalam mulutku. Aroma mint yang begitu segar memenuhi ronggai mulutku.
Ku tarik handuk yang menggantung di pintu kamar mandi dan melilitkannya di pinggangku, sementara tubuh bagian atasku terpampang dengan sangat jelas. Dengan percaya diri aku melangkah keluar dari kamar mandi lalu berdiri di depan lemari pakaian. Kedua tanganku mulai bekerjasama, memilih pakaian yang akan aku kenakan hari ini. Sebuah kaos tanpa lengan berwarna merah serta celana pendek berbahan denim menjadi pilihanku untuk bersantai diakhir pekan.
Hari ini aku tidak berniat untuk keluar rumah, hanya bersantai seharian dan menonton film kesukaanku sambil menikmati camilan buatan Mbak Asih yang paling ku gemari sejak dia mulai bekerja di rumah kami beberapa tahun yang lalu.
Aku segera melangkah keluar dari kamar setelah menyisir rambutku serta membereskan tempat tidurku yang berantakan setelah kupakai sepanjang malam. Kulirik kamar Kinara yang masih tertutup rapat.
Apa Kinara juga masih tidur? Dasar gadis malas, batinku.
Ku langkahkan kakiku hingga di depan pintu kamarnya dan mulai mengetuk pelan.
"Kinara, ayo bangun!" teriakku mengiringi suara ketukanku di pintu kamarnya.
Aku menarik napas pelan, kemudian mulai mengetuk lagi sambil memanggil namanya berulang kali. Tetapi, setelah beberapa menit masih tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya aku berhenti dan memutuskan untuk turun ke bawah.
"Mbak Asih," teriakku saat kakiku telah berhasil mendarat di lantai bawah. Mataku berkeliling menyapu setiap sudut rumah yang terlihat bersih dan rapi, tapi tak menemukan siapapun termasuk orangtuaku.
Ku langkahkan kakiku menuju dapur, tapi Mbak Asih juga tidak kelihatan di sana.
"Mbak Asih," teriakku sekali lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Pasti asisten rumah tanggaku itu sedang keluyuran atau bergosip dengan tetangga sebelah.
Tak berselang lama, ku dengar suara langkah kaki yang berlari tergopoh-gopoh dari arah pintu samping.
"Mbak Asih dari mana aja, sih? Daritadi saya panggil kok gak menjawab," omelku pada Mbak Asih.
"Maaf, Mas Kaito. Tadi Mbak lagi ngerumput di belakang jadi gak kedengaran," sahut Mbak Asih sambil menunduk.
Aku menghela napas, kemudian mulai bertanya, "Mami dimana? Kenapa rumah sepi banget hari ini? Kinara juga gak kelihatan daritadi."
Mendengar pertanyaan dariku, Mbak Asih langsung mengulas senyum.
"Ooh... Ibu dan Kinara gak ada di rumah, Mas."
Keningku langsung berkerut. "Loh, mereka pergi ke mana pagi-pagi begini?" tanyaku bingung.
"Katanya Ibu mau belanja ke supermarket, mau beli kebutuhan bulanan," jelas Mbak Asih.
"Loh, bukannya itu tugas Mbak Asih, ya? Kenapa malah Mami yang belanja?" tanyaku lagi.
Aku masih bingung dan sedikit tidak percaya dengan ucapan Mbak Asih. Akan tetapi, kenyataannya Mami dan Kinara memang sedang tidak berada di rumah. Pantas saja aku tak mendengar suara ocehan Mami sejak tadi. Kinara juga tak menyahut ketika aku mengetuk pintu kamarnya.
"Biasanya memang tugasnya Mbak Asih. Tapi kata Ibu sekalian mau belanja keperluan lain," sahut Mbak Asih lagi.
Aku langsung manggut-manggut tanda mengerti. "Ooh... ya sudah, sekarang tolong buatkan sarapan untuk saya ya, Mbak. Perut saya udah lapar banget," pintaku.
Aku langsung mengambil posisi di meja makan saat Mbak Asih mulai membuatkan nasi goreng seafood lengkap dengan telor mata sapi setengah matang kesukaanku. Hanya lima belas menit, makanan sudah tersaji di depanku lengkap dengan segelas s**u putih hangat.
"Hari ini masak camilan apa, Mbak?" tanyaku sebelum Mbak Asih kembali keluar untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kayaknya Mbak Asih cuma buat stik kentang aja, Mas. Soalnya kerjaan Mbak Asih masih belum selesai," jawabnya ragu.
"Ooh... gak buat donat kentang sekalian, Mbak? Atau keripik kentang. Oh iya, buat perkedel kentangnya juga, Mbak," kataku lagi untuk menggoda Mbak Asih.
Mbak Asih langsung cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya. "Mas Kaito ini lapar apa doyan sih, Mas? Minta buatkan makanan sebanyak itu, apa bakalan habis? Emangnya Mas Kaito ini sudah gak makan berapa hari, toh?" tanya Mbak Asih bingung.
Aku langsung terkekeh melihat ekspresi lucu Mbak Asih. Perempuan yang terpaut tujuh tahun di atasku itu sampai geleng-geleng kepala saat mendengar permintaanku.
"Haha... Mbak Asih lucu banget, sih. Emangnya baru kali ini lihat aku seperti inii? Udah, buruan sana siapkan kerjaan di belakang. Setelah itu buatkan camilan yang banyak karena hari ini aku mau puas-puasin seharian di rumah," jelasku.
"Oke, Mas. Ditunggu sebentar, ya."
Mbak Asih langsung pergi meninggalkanku sendirian di meja makan. Perempuan itu melanjutkan kembali pekerjaannya di halaman belakang.
Setelah kepergian Mbak Asih, aku langsung melahap makanan di piringku hingga ludes tak bersisa, dan hanya menyisakan setengah gelas s**u putih yang mulai dingin.
Selesai sarapan, aku langsung mencuci piring dan gelas sendiri karena tak ingin merepotkan Mbak Asih yang tengah sibuk. Hanya sebuah piring dan gelas tidak terlalu sulit untukku.
Setelah itu, aku langsung menuju ruang tengah, bernain ponsel sambil berbaring santai di depan televisi. Rasanya aneh ketika aku sedang tidak bertugas, aku merasa kesepian di rumah. Biasanya, liburan akhir pekan seperti ini adalah saat-saat yang paling aku tunggu setelah seminggu penuh berkutat dengan tugas kampus yang berjubel dan tak kunjung selesai. Selalu saja ada pekerjaan rumah yang aku bawa pulang.
Sudah dua jam aku berselancar di media sosial, bahkan memainkan beberapa permainan di ponselku hingga mataku perih. Tetapi, aku tak kunjung mendengar kedatangan Mami dan Kinara yang pergi sejak tadi pagi untuk berbelanja kebutuhan di rumah.
Aku heran, apa sih yang membuat kaum perempuan betah berlama-lama di pusat perbelanjaan? Apa mereka tidak lelah berjalan berjam-jam? Apa sih yang sedang mereka cari sampai lupa untuk pulang? Mami bahkan sampai melupakan keberadaan anak lelaki paling tampan yang ada di rumah ini.
Ini sudah hampir waktunya makan siang, tapi aku masih belum melihat batang hidung mereka di rumah ini. Aku merasa kesal karena mereka tidak mengajakku juga.
Rasa bosan akhirnya membuatku mengantuk hingga tanpa sadar aku telah tertidur di sofa. Entah sudah berapa lama aku tidur sehingga aku tidak mengetahui ketika Mami dan Kinara pulang dengan menumpang taksi online.
Suara langkah kaki dua wanita itu terdengar samar ketika melewati ruang keluarga. Mereka sengaja berjalan pelan agar jangan sampai membuatku terbangun.
Kinara dan Mami kemudian meletakkan tiga bungkusan plastik berukuran besar ke atas meja makan dengan perlahan. Dan mulai mengeluarkan isinya dengan hati-hati. Keduanya bahkan berbicara cukup pelan seperti sedang berbisik-bisik.
Kinara mulai mengeluarkan satu oer satu barang dari dalam plastik dan meletakkannya di atas meja. Sementara Mami membantu untuk menyimpan kebutuhan rumah ke dalam lemari dapur, serta beberapa bahan makanan beku ke dalam lemari pendingin.
Aku terbangun ketika mendengar suara-suara asing dari arah dapur dan mulai melangkah pelan untuk memastikan siapa orang yang sedang berada di dapur saat ini.
"Mami, Kinara? Kapan kalian pulang?"
Kedua wanita itu menoleh bersamaan.