Camilan

1104 Kata
"Abang sudah bangun, ya? Mari duduk sini! Mami mau tunjukkan sesuatu sama Abang," panggil Mami. Hari ini ku perhatikan wajah Mami terlihat lebih cerah berseri. Mami bahkan terlihat lebih bahagia dan lebih banyak tersenyum. Padahal kemarin kulit keriput Mami masih terlihat jelas walaupun aku melihatnya dari jarak lima meter. Belum lagi barang-barang yang mereka beli hampir menutupi seluruh permukaan meja makan. "Dari mana semua barang-barang ini?" tanyaku pura-pura tidak tahu. Terkadang ada baiknya jika aku tampil masa bodoh dan pura-pura tidak mengerti di hadapan Mami. "Ooh... Mami dan Kinara baru pulang belanja dari supermarket," sahut Mami sambil tersenyum manis padaku. Kinara yang berdiri di samping Mami ikut-ikutan melempar senyumnya. Hei, ya ampun... ada apa dengan mereka? Kenapa aku merasa aneh dengan sikap mereka berdua? Bersikap sok manis di depanku itu bukanlah kebiasaan Mami, apalagi Kinara. "Mam..." Mami menoleh padaku meski hanya sebentar saja, kemudian kembali menunduk. "Ya. Ada apa?" "Mm... apa Mami baru dari salon?" kataku menebak perubahan yang terjadi pada ibuku. "Iya. Emangnya kenapa, Bang?" Mami bertanya balik. "Mami tambah cantik," kataku tulus memuji. "Benarkah?" Aku langsung mengangguk kuat. "Tentu saja. Emangnya Abang pernah bohong sama Mami? Enggak, kan? Tapi... kok tumben sih, Mami perawatan ke salon? Biasanya Mami melakukan perawatan cukup di rumah aja," ungkapku panjang lebar. "Kenapa, Bang? Emangnya gak boleh, ya?" Wajah Mami yang tadi berseri berubah muram. "Tentu saja boleh. By the way, Mami belanja sampai sebanyak ini untuk apa? Lagian, biasanya 'kan Mbak Asih yang belanja?" tanyaku. Mami mengulum senyumnya. "Mami bosan makan yang itu-itu aja. Sekali-sekali ganti menu 'kan gak apa-apa, Bang. Udah, kamu tenang aja." Itu yang Mami katakan agar aku berhenti untuk protes. "Oiya, Mbak Asih mana?" tanyaku saat menyadari sejak tadi tidak melihat asisten rumah tangga kami. "Oh, lagi kerja di belakang. Kenapa?" "Tadi Mbak Asih bilang mau buat cemilan, tapi sampai sekarang masih belum kelihatan bentuknya," jawabku. "Udah, entar biar Mami aja yang buat cemilannya. Tapi sabar, ya, tunggu sampai kerjaan Mami beres dulu," sahut Mami. Okelah, sepertinya kali ini aku memang harus ekstra sabar hanya untuk mendapatkan makanan pengganjal perut. Padahal, sebentar lagi udah waktunya makan siang. Aku memutar tubuhku dan kembali menuju sofa empuk tempatku tadi bersemedi di alam mimpi. Bosan, itulah yang aku rasakan sekarang. Peetama kali dalam hidupku aku merasa bosan dihari libur yang paling aku tunggu-tunggu dalam satu minggu. Kenapa? Karena aku tidak bisa mendapatkan camilan kesukaanku seperti biasanya. Dan aku juga melewatkan film drama komedi yang selalu aku tonton setiap minggu hanya karena aku ketiduran. Dan sekarang, aku harus menghabiskan sisa hari ini dengan tidak melakukan apa-apa. Tetapi, setidaknya masih ada satu kabar baik yang bisa membuatku tersenyum. Yap! Saat Mami mengatakan bahwa Papi telah mengirimkan dana pendidikan untuk kami tadi pagi. Dan Mami baru memberitahuku saat aku akan kembali ke ruang tengah. Itu artinya, aku tidak harus mengirit lagi saat makan bersama eman-temanku. Dan mungkin... aku bisa membelikan tas mahal yang pernah aku lihat di butik Mami tempo hari pada seseorang. "Horee..." teriakku dalam diam. Saat mata sipitku menangkap jumlah angka yang cukup besar di layar ponselku. Kini aku mengerti mengapa Mami tiba-tiba berubah cantik hari ini, dan pergi berbelanja banyak barang bersama Kinara. Dan senyum ramah yang mereka tunjukkan padaku tadi, aku sudah tahu alasannya. *** "Bang, sepertinya aku dan Mami akan ikut liburan bersama Tante Merry. Lumayan bisa liburan gratis." Kinara tiba-tiba muncul di depanku sambil membawa satu mangkuk besar keripik kentang. "Serius? Bukannya Mami bilang kemarin masih pikir-pikir dulu, ya?" cecarku. Mata sipitku langsung melotot lebar pada Kinara. "Itu karena Mami lagi gak punya uang. Tapi sekarang 'kan beda, Mami udah punya uang pegangan buat jaga-jaga siapa tahu dibutuhkan," jelas Kinara santai. Tangannya terus mendorong keripik kentang masuk ke dalam mulut. Tak ingin kehabisan, aku langsung merebut mangkuk dari tangan Kinara dan memeluknya kuat-kuat. Gadis itu langsung berteriak protes dan merebut kembali mangkuk keripik kentang dari pelukanku. "Udah, kamu pergi liburan aja, sana! Biar keripiknya untuk Abang aja," kataku sambil berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Aku mengacuhkan suara teriakan Kinara. Tak berselang lama, suara-suara protes milik Kinara sudah tidak terdengar lagi. Aku yakin jika gadis bawel itu merengek pada Mami karena ulahku. Aku tertawa puas. Hari berlalu begitu cepat. Sudah seharian aku berada di dalam kamar demi menghindar dari Kinara. Matahari sore perlahan turun, meninggalkan semburat cahaya jingga yang perlahan memudar dan digantikan oleh kegelapan. Kini hari berganti malam, dihiasi benda-benda langit yang berkilau keperakan di atas langit. Suara perutku ikut meramaikan suasana malam, meneriakkan kalimat protes minta diisi oleh makanan padat bergizi yang dapat mengenyangkan lambungku hingga malam berganti pagi. Aku membuka pintu kamar dan beranjak turun menuju ruang makan sambil membawa mangkuk kosong di tanganku. Aku dapat mendengar dengan jelas suara Kinara yang sedang bercakap-cakap dengan Mami di ruang makan. Dua wanita beda generasi itu sedang bekerja sama menata meja makan dan dibantu oleh Mbak Asih. Kinara melotot sambil mendengus kesal ke arahku saat aku meletakkan mangkuk kosong yang aku bawa di dalam wastafel. Dia marah karena aku menghabiskan camilan miliknya. "Lihat tuh, Mi. Keripik kentang Kinara dihabiskan semua sama Abang." Kalimat protes itu kembali dilayangkan adikku saat mengadu pada Mami. " Idih... cuma keripik kentang doang. Entar Abang belikan keripik kentang yang banyak buat kamu, biar kamu bisa makan sampai kembung," celetukku sambil terkekeh. Tanganku menarik kursi kosong di samping Mami. "Gak usah! Aku juga bisa beli sendiri," balas Kinara tak mau kalah. Gadis itu membawa peralatan makannya dan duduk di seberangku. Aku terkekeh saat Kinara menekuk bibirnya karena cemberut. Rasanya aku ingin menarik bibir monyongnya itu lalu mengikatkan dengan karet gelang. "Udah, udah. Jangan ribut di meja makan, pantang." Mami membuka suara untuk meredakan kegaduhan di antara kami. "Kaito, Kinara... stop! Sekarang waktunya makan. Pegang piring kalian dan makan. Mami gak mau ada yang bersuara saat makan, mengerti!" omel Mami. Aku dan Kinara langsung diam. Aku mengambil piring dan mulai mengisinya dengan nasi, lauk, dan sayur. Begitu juga dengan Kinara. Tidak ada yang berani membuka mulut. Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang saling berlaga dengan piring keramik. Aku menyuapkan makananku hingga habis tanpa sisa, lalu menyeka bibirku dengan tisu setelah aku seleaai minum. Kemudian bangkit berdiri dan pergi dari meja makan, meninggalkan Mami bersama Kinara. Aku memilih untuk duduk di teras depan, menghirup udara segar malam hari sambil menatap langit. Aku sangat beruntung bisa tinggal di dalam perumahan yang jauh dari jalan raya. Sebab udara yang kami hirup setidaknya lebih bersih daripada udara yang dihirup oleh orang yang tinggal di tengah kota karena sudah tercemar oleh berbagai macam polusi udara yang sangat berbahaya bagi tubuh. Aku menarik napas dalam-dalam. Merasakan kesegaran udara malam yang bersih dan sejuk sambil tersenyum penuh rasa syukur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN