Malam berlalu begitu cepat. Rasanya aku baru saja meletakkan tubuh di ranjang, kini harus kembali bangun ketika suara ketukan di pintu kamarku semakin keras.
Aku menguap lebar sambil mengusap wajahku. Buru-buru bangkit saat Mami mulai berteriak.
"Kaito, ayo bangun! Nanti kamu telat, loh."
Aku langsung sadar sebelum teriakan Mami semakin kuat. Rasanya begitu malu jika tetangga ikut terbangun karena suara Mami yang tidak bisa direm.
Aku langsung menyahut supaya Mami tidak kembali memanggil. "Iya, Mi. Abang udah bangun."
"Ya sudah, buruan turun, Mami tunggu di bawah sekarang."
Aku menyeret tubuhku untuk turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka, lalu keluar dari kamar.
Entah ada angin apa, kali ini aku melihat Kinara sudah bangun lebih dulu dariku. Anak nakal itu bahkan sudah mendahului aku untuk turun ke bawah.
Aku sengaja menyenggol Kinara saat kami bertemu. "Dek, masih marah, ya? Maaf ya, soal semalam," kataku.
"Hmm."
"Kok gitu jawabnya? Yang bener, dong."
Kinara menatapku jengkel. "Iya, iya."
Aku tersenyum lega. Masa sih persaudaraan harus putus hanya karena keripik kentang? Kan gak lucu.
"Dek..."
"Apaan, sih?" Kirana menyahut sambil menggeram.
"Hari ini Abang gak bisa antar kamu ke sekolah, soalnya Abang buru-buru, takut telat kayak kemarin. Kamu gak apa-apa, kan?"
Kinara menarik napasnya, lalu menoleh ke arahku dengan wajah kesal. "Terserah Abang. Gak mau ngantar juga gak apa-apa. Masih banyak angkot," jawabnya ketus.
Setelah itu, Kinara tidak mengacuhkan aku lagi. Anak itu kembali melanjutkan gerakan senam paginya.
Begitu musik berakhir, aku langsung berlari naik ke lantai dua. Aku langsung mandi dan bersiap-siap menuju rumah sakit sebelum brieving pagi dilaksanakan.
Mami dan Kinara melihatku bergantian saat kami duduk di meja makan. Karena penasaran, aku langsung saja membuka mulutku walaupun aku tahu jika Mami paling tidak suka ada yang bicara saat sedang makan.
"Kenapa, Mi?" tanyaku sambil terus menyuapkan nasi ke mulutku dan mengunyahnya dengan cepat.
"Kamu kenapa, Bang? Lapar banget, ya?" Mami malah balik bertanya, wajahnya seperti orang kebingungan.
Aku menggeleng. "Enggak, kok. Cuma takut terlambat aja," kataku. Sementara mulutku penuh dengan makanan.
Kening Mami berkerut. Ia menoleh pada Kinara, tapi adikku membalasnya dengan gelengan kepala.
"Makan itu harus pelan-pelan, Bang. Nanti kamu kesedak, loh." Mami coba mengingatkanku karena takut bila sampai terjadi sesuatu padaku.
Aku mengangguk. "Iya, iya. Abang juga udah selesai, kok." Aku langsung menyeka mulutku dengan serbet dan menuang air minum ke mulutku.
Sebelum aku berdiri, aku mengambil ponsel yang kusimpan di dalam saku celana. Dering notifikasi yang berbunyi hingga beberapa kali itu memaksaku untuk segera membukanya.
Ada beberapa notifikasi pesan dari operator jaringan, dan juga sosial media yang aku ikuti. Mataku menajam saat aku melihat sebuah notifikasi pesan chat dari Gita dan langsung membacanya.
Seperti biasa, Gita mengingatkanku agar jangan sampai terlambat lagi atah aku bakal kena sanksi teguran.
Ku sempatkan untuk membalas pesannya sebelum aku pergi dari meja makan. Setepah itu kucium pipi Mami untuk berpamitan dengannya.
"Abang berangkat duluan ya, Dek."
"Iya, pergi sana." Kinara mendorong tubuhku untuk mengusirku pergi saat aku mengusap kepalanya.
"Oiya, Mi... sepertinya hari ini Abang bakal pulang lama. Mami hari ini gak kemana-mana, kan?" tanyaku sebelum meninggalkan meja makan.
Mami tampak sedang berpikir. Keningnya ikut berkerut saat matanya berputar-putar.
"Sepertinya gak bakalan kemana-mana, sih. Palingan cuma ke butik aja," jawab Mami akhirnya.
"Ya sudah, nanti Abang jemput Mami di butik, ya."
"Oke." Mami mengangkat jempolnya.
Setelah itu, aku langsung berlari keluar dari ruang makan. Ku sambar kunci mobil dari dalam laci nakas di ruang tengah, kemudian keluar menuju garasi.
"Asih... tolong bukakan pintu gerbang. Kaito mau berangkat sekarang."
Suara teriakan Mami terdengar sampai di teras depan. Tak lama kemudian ku lihat Mbak Asih berlari menuju gerbang untuk membukakan pintu.
"Makasih ya, Mbak," kataku sambil tersenyum padanya. Dan dibalas dengan anggukan darinya.
Pintu gerbang kembali ditutup setelah mobilku berhasil keluar. Dan aku langsung menekan pedal gas, melajukan mobilku keluar dari komplek perumahan.
Hari ini sudah dapat dipastikan kalau aku tidak akan terlambat lagi. Tidak perlu berlarian di koridor rumah sakit atau masuk dalam barisan sambil mengendap-endap seperti kemarin.
Saat itu aku benar-benar sial karena aku bangun kesiangan, dan harus mengantar Kinara ke sekolahnya lebih dulu. Dan untung saja aku tidak sampai dipermalukan di depan teman-teman seangkatanku karena terlambat.
Ketika mobilku baru setengah jalan, ponselku tiba-tiba berdering. Dengan sangat terpaksa aku harus menepi saat kulihat panggilan itu berasal dari Gita.
"Ya, Git? Aku masih di jalan. Ada apa?"
Suara Gita terdengar jelas di ujung telpon. "Kamu dimana sekarang?"
"Di jalan. Kenapa?"
"Bisa jemput aku gak? Hari ini ayahku gak bisa memgantarku magang, soalnya ada pekerjaan penting di kantornya," jelas Gita.
Aku menghela napas. Memutar otak, mengkali dan membagi. "Kalau aku jemput Gita, kita berdua pasti bakalan terlambat. Kalau gak dijemput, aku gak enak sama Gita. Jadi gimana, ya?"
Aku menggaruk kepalaku karena bingung. Karena tempat tujuanku ada di depan sana dan hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari posisiku sekarang. Kalau menjemputnya, itu artinya aku harus putar balik dan butuh hampir satu jam untuk sampai di rumah sakit.
Jujur saja, aku dilema. Hutang budiku padanya begitu banyak.
Akhirnya aku putuskan untuk langsung menuju ke rumah sakit setelah meminta Gita untuk memesan taksi online.
"Git, kayaknya aku gak bisa jemput kamu. Soalnya yang ada malah kita berdua bakalan terlambat karena aku harus putar balik ke rumah kamu lagi. Gimana kalau aku pesankan taksi online aja, gak apa-apa, kan? Nanti ongkosnya biar aku yang bayar, deh," kataku berusaha untuk membujuknya.
"Ooh, gitu ya? Ya udah gak apa-apa, biar aku pesan sendiri aja," jawab Gita. Setelah itu Gita memutuskan sambungan telponnya.
Dan aku langsung membawa mobilku menuju rumah sakit dan parkir di tempat biasa. Sayangnya, tempat itu sudah diisi oleh mobil lain sehingga aku harus mencari tempat lain.
Sudah 30 menit aku menunggu kedatangan Gita di depan pintu masuk. Namun, belum ada tanda-tanda kemunculan gadis itu sebab aku belum melihat ada taksi yang berhenti di depan rumah sakit.
"Lagi nunggu siapa, Mas?" tanya pak satpam saat melihatku. Mungkin dirinya bingung karena aku tidak beranjak dari situ.
"Oh, lagi nunggu teman, Pak." Aku menyahut sambil tersenyum.
"Mas ini dokter magang, ya?" Pak Satpam bertanya lagi. Dia melihatku dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Mungkin dia ragu jika aku berasal dari wilayah sini.
Tidak usah dikatakan, karena aku tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Kenapa, Pak?" tanyaku balik.
Pak Satpam langsung tersenyum salah tingkah. Seperti orang yang baru tertangkap basah melakukan sesuatu.
"Anu, Mas... Mas ini asli orang sini, ya?" tanyanya ragu-ragu.
Aku mengangguk. "Iya, Pak. Ada apa, ya?"
"Mas ini kayak orang Chinese, tapi logatnya beda banget," kata si Bapak.
"Masa sih, Pak? Tapi saya bukan Chinese loh, saya asli orang Medan," kataku meyakinkan Pak Satpam.
"Masnya gak bohong, kan? Saya lihatnya kok aneh, ya. Kulit Mas ini putih banget seperti cewek. Apa sering perawatan ya, Mas?"
Pertanyaan si Bapak semakin aneh. Aku langsung tertawa sehingga membuat si Bapak tersenyum malu.
"Ya, enggaklah, Pak. Kalau gitu, saya masuk duluan, ya."
"Iya, Mas. Silahkan," sahut Pak Satpam.