"Cantik..."

1581 Kata
Aku menunduk malu sepanjang bertugas menemani dokter Kirana selama pemeriksaan. Aku tidak berani membuka mulut atau sekadar mencuri pandang padanya. Aku baru bisa bernapas lega letika pasien terakhir keluar dari ruang pemeriksaan. Dengan begitu, aku bisa mencari celah untuk ikut keluar dari ruangan poli anak, demi menghindari tatapan dokter Kirana yang sangat menggemaskan bagiku. Jantungku rasanya hampir melompat keluar ketika wanita itu memanggil namaku disaat aku nyaris melewati pintu. "Kaito! Kamu mau pergi ke mana?" Suara dokter Kirana mengejutkanku. Aku langsung berbalik sambil tersenyum kikuk padanya. "Mau keluar, Dok. Sudah waktunya makan siang," kataku beralasan. Tanganku menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal, seraya menarik bibirku lebar hingga gigi geligi yang berbaris rapi terlihat seluruhnya. "Apa kamu sudah siapkan laporan untuk hari ini?" ujarnya lagi. Kali ini aku benar-benar mati kutu dan tidak bisa beralasan lagi. Mungkin dokter Kirana sudah mengetahui niatku yang ingin melarikan diri darinya. Aku melangkah maju dengan perlahan hingga berdiri tepat di depannya. Di antara kami hanya ada sebuah meja kerja yang terbuat dari kayu bercat hitam sebagai pemisah. "Maaf, Dok... saya belum kerjakan karena saya mau ke toilet sebentar," kataku beralasan. "Ya sudah, jangan lama-lama karena saya masih harus cek pasien di kamar," ucapnya. Dokter Kirana mulai merapikan mejanya dan bersiap untuk pergi karena tugasnya sudah selesai. Hari ini, pasien anak tidak sebanyak hari sebelumnya. "Dokter tidak makan siang dulu? Ini sudah hampir pukul 1 siang, nanti malah Dokter yang sakit," kataku mengingatkan. Aku merasa iba padanya karena terlalu sering merelakan waktu makan siangnya demi anak-anak yang tengah terbaring sakit di ranjang rumah sakit. Dokter Kirana menarik kedua sudut bibirnya. Ia tersenyum tipis mendengar ucapanku tadi. "Jangan banyak bicara kamu! Kerjakan saja tugasmu sekarang, buruan!" Dokter Kirana menyandarkan tubuhnya seraya melipat kedua tangannya bersedekap di depan da-da. Ia mengembuskan napasnya pelan. Tatapannya lurus menatapku hingga membuatku salah tingkah. Jika diperhatikan, dokter Kirana ternyata sangat cantik. Kulitnya putih bersih, rambut hitam panjang menjuntai di punggungnya. Apalagi jika dipandang sedekat ini, dokter Kirana sangat menggemaskan. Dia sudah menikah atau belum, ya? Ya ampun, kenapa jantungku malah berdebar-debar tidak karuan seperti ini? Dasar bodoh, perempuan secantik itu mustahil jika belum menikah. Paling tidak, dia pasti sudah memiliki kekasih. Tapi... aah, sudahlah. Kenapa aku jadi main tebak-tebakan begini? Ingat, Kaito! Kamu tidak boleh terpengaruh. Kamu harus tetap fokus supaya bisa berhasil. Mami sudah menunggu ini sejak lama. Mami pasti kecewa jika kamu sampai gagal. Ku hembuskan napasku kuat mengumpulkan semangat di dalam hatiku. Semoga saja dokter Kirana masih single, batinku penuh harap. Dengan segera ku selesaikan tugasku karena tak ingin membuat dokter Kirana terlalu lama menunggu. Laporan itu langsung aku serahkan padanya untuk ditanda tangani. "Sudah selesai?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk pelan seraya memperlihatkan senyumanku yang paling manis. "Sudah, Dokter," kataku. Dokter Kirana langsung bangkit berdiri setelah selesai memeriksa hasil pekerjaanku. "Kalau begitu saya pergi dulu. Sampai jumpa besok pagi, ya. Kamu jangan sampai terlambat lagi," ucapnya lembut. Tak ada raut wajah marah di sana. "Siap, Dok." Kutatapi tubuh dokter Kirana hingga bayangannya menghilang di balik pintu. Setelah itu, aku menyusul keluar dari ruangan pemeriksaan. Suara gaduh di dalam perutku membuat aku ingin cepat-cepat menuntaskan hasratku untuk segera memamah biak. "Hai, Git..." Tanganku melambai saat ku dapati Gita juga baru keluar dari ruangannya. Gadis itu langsung menoleh ke arahku saat mendengar namanya ku sebut. Senyum di bibirnya mengembang. Gita langsung membalas lambaianku. "Hai... sudah selesai?" tanya Gita berbasa-basi. "Sudah. Makan, yuk... perutku udah lapar banget, nih." Aku mengusap perutku. Perut ramping tanpa otot karena aku tidak terlalu suka olahraga. Hanya senam pagi, itu pun karena Mami yang memaksa. Jika aku bisa memilih, aku pasti lebih memilih untuk tidur sampai pagi. Persetan dengan istilah Mami yang terdengar ambigu di telingaku. "Makan di mana? Kantin?" tanya Gita saat kami melangkah keluar dari rumah sakit. "Makan di sana ajalah, makanan di sana katanya enak," sahutku. Telunjukku terangkat lurus setinggi da-da menunjuk lurus ke dapan, ke arah barisan tenda penjual makanan di pinggir jalan tak jauh dari rumah sakit. "Kamu yakin?" "Yakinlah. Kakak-kakak perawat juga banyak yang makan di situ," balasku. Ku langkahkan kakiku menuju barisan tenda pinggir jalan sambil melihat-lihat daftar menu yang mereka tampilkan di depan. "Makan di sifu aja. Aku lagi pengen makan pangsit ayam," kataku saat melihat penjual mi ayam. "Tapi di situ ramai banget, mau duduk di mana? Gak ada bangku kosongnya," celetuk Gita. Benar saja. Tempat itu sudah penuh oleh keluarga pasien dan juga para petugas medis yang sedang istirahat untuk makan siang. Aku mengembuskan napas gusar. Perutku sudah melilit tidak bisa diajak kompromi lagi. Mataku mulai menyisir tempat itu sekali lagi, memcari tempat yang sedikit lega untuk kami duduki. "Ayo, sini." Tiba-tiba Gita menarik tanganku ke salah satu meja yang masih kosong. "Kita duduk di sini aja. Semua makanan sama aja, yang penting kenyang. Benar, kan? Kamu tunggu di sini dulu biar aku yang pesan," ujar Gita lalu pergi memesan makanan untuk kami. Setengah jam kemudian, dia kembali bersama seorang pria di belakangnya sambil membawa nampan berisi dua mangkuk mi ayam dan dua gelas jus jeruk. "Letakkan di meja ini aja, Bang," kata Gita para pria itu. Aku membelalak kaget karena Gita membawa makanan dan minuman dari gerai lain ke meja kami. Jujur saja, aku khawatir jika si pemilik tempat akan marah pada kami karena memesan dari tempat lain. Keningku mengkerut sempurna saat melihat Gita mulai mengunyah makanannya dengan santai. Tak ingin membuang waktu, langsung ku lahap mi ayam pesanan Gita dengan rakus. Aku tidak ingin jika pemilik tempat sampai mengusir kami sementara makananku masih belum habis. Itu namanya mubazir makanan. Sesekali daguku terangkat, waspada pada keadaan. Ku lirik penjual makanan itu masih santai melayani pembeli di depan. Segera ku akhiri makanku saat mangkuk di depanku hanya menyisakan kuah mi berwarna kecoklatan. Terakhir, ku seruput jus jerukku kandas hingga ke dasar gelas dan diakhiri dengan suara sendawa keras dari mulutku hingga membuat Gita melotot karena terkejut. "Kamu gila, ya?" celetuk Gita. Gadis itu geleng-geleng kepala karena ulahku tadi. "Hahaha... udah, deh. Lagian gak bagus menahan angin yang seharusnya dikeluarkan. Apa kamu mau kalau anginnya masuk lagi ke perut dan keluar dari bawah?" cicitku sambil tertawa geli. "Bau, dong." Gita mencebik padaku. "Nah, itu kamu tau. Udah buruan makannya, aku mau ngajak kamu ke butik Mami hari ini," kataku kemudian. Mendengar hal itu, Gita mempercepat makannya lalu menyeruput es jeruknya hingga kandas sambil mengusap perutnya karena kekenyangan. "Apa kamu udah kasih tau kalau kita mau pergi ke sana hari ini?" tanya Gita memastikan. Tangannya tampak mulai merogoh dompet dari dalam tas untuk membayar pesanan kami. "Udah, makanannya biar aku yang bayar," kataku cepat. Tanganku menahan gerakan tangan Gita yang bersiap mengambil uang dari dalam dompet. "Lagian aku udah janji mau traktir kamu makan, kan?" ucapku meyakinkan dirinya. "Gak usah, entar aku malah gak dapat diskon dari mami kamu.' "Masalah diskon, tenang ajalah." Aku mengibaskan tangan ke udara. "Ayo, pergi." Aku menarik tangan Gita keluar dari tempat itu setelah membayar makanan kami. *** "Kaito? Kamu untuk apa datang ke butik? Mami kan tidak ada meminta kamu datang hari ini?" cecar Mami saat melihat aku masuk ke dalam butik bersama Gita. "Ini teman kuliah kamu ya, Bang?" tanya Mami dengan ekspresi bingung ketika melihat sosok Gita yang berdiri di sampingku. "Iya, Mi. Ini Gita, teman kuliah Abang. Apa Mami lupa?" Aku langsung menghempaskan tubuh lelahku di atas sofa panjang di tengah ruangan. "Gita?" Kening Mami berkerut saat berusaha untuk mengingat. "Iya, Tante. Saya Gita, teman sekelas Kaito," sahut Gita seraya tersenyum manis. "Gita? Gita yang pernah belanja di butik Tante tempo hari, ya? Aduh, maaf ya, Sayang... Tante lupa," terang Mami sambil menepuk pelipisnya dengan pelan. "Tuh, Mami ingatkan? Dia ini mahasiswa kedokteran paling pintar di kampus, loh. Dia juga yang udah bantu Abang waktu Mami minta dijemput kemarin," jelasku. "Oh, ya? Kamu baik banget mau bantu Kaito. Makasih ya, Sayang. Jadi kalian datang ke sini untuk apa nih? Apa ada yang bisa Mami bantu?" ujar Mami antusias. "Iya, si Gita minta diantar ke sini, soalnya mau belanja baju di butik Mami, katanya." Aku langsung menjelaskan tujuan awal kedatangan kami pada Mami. "Oh, ya? Ya udah, kalau gitu kamu lihat-lihat aja dulu. Pokoknya nanti Tante kasih diskon deh buat kamu. Soalnya kamu udah baik banget sama Kaito. Lagian dia juga gak pernah bawa teman-teman ceweknya buat belanja di sini," terang Mami sambil menepuk pahaku. "Benaran, Tante? Terima kasih ya, Tante." Senyum Gita langsung melebar kegirangan. Dasar wanita! Senang banget kalau dengar begituan. "Iya, sama-sama. Lain kali ajak Mama sama teman-teman kamu juga, ya, untuk belanja di butik Tante. Biar ramai," ucap Mami lembut sambil tersenyum penuh arti. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala melihat interaksi di antara kedua wanita beda generasi di depanku. "Sip. Entar butik Tante aku promosikan sama teman-temanku yang lain," balas Gita. Jempolnya ikut terangkat ke udara. Setelah itu, Gita bangkit berdiri meninggalkanku bersama Mami dan mulai beraksi. Gadis itu mulai melirik satu per satu barang di rak gantung serta rak pajangan sambil memilih barang yang dia sukai. Sesekali Gita terlihat meminta pendapat dari Mami. Kemudian kembali melihat-lihat barang yang lain. Setelah satu jam lebih berkeliling sambil memilih, Gita akhirnya berhasil menemukan barang yang cocok untuknya. Gadis itu membawa beberapa helai pakaian ke meja kasir. Sementara itu, aku berkeliling butik sendirian. Sambil menunggu Gita, aku mulai berburu tas untuknya seperti janjiku kemarin sebagai ucapan terima kasih karena gadis itu selalu bersedia membantuku. Langkahku berhenti saat mataku tertumbuk pada sebuah branded handbag yang tidak terlalu besar berwarna coklat gradasi gold yang terpajang di etalase rak jauh dari meja kasir. "Cantik," kataku membatin. "Tasnya bagus. Apa kamu berniat untuk memberikannya padaku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN