Kaito.... ayo bangun! Buruaan!"
Pagi ini, suara teriakan Mami kembali terdengar nyaring dari balik pintu disertai dengan ketukan keras berulang di pintu kamarku.
Aku memaksa tubuhku untuk bangun meskipun mataku masih terlalu berat untuk dibuka karena masih mengantuk. Ini terjadi karena aku baru bisa tertidur saat jam menunjukkan pukul dua dini hari. Aku memikirkan ucapan Mbak Asih kemarin malam sehingga membuatlu tidak bisa memejamkan mata.
"Kaito... ayo buruan bangun! Entar kamu telat loh."
Suara Mami kembali terdengar saat aku membuka pintu kamarku. Dan hampir saja tangan Mami mendarat di wajahku saat Mami berniat untuk mengetuk pintu kamar saat aku muncul dari balik pintu.
"Mami mau ngapain?" ucapku spontan karena terkejut. Sama terkejutnya dengan Mami yang berdiri sambil melotot ke arahku.
"Ya ampun, Abang bikin Mami kaget loh..." jawab Mami sambil memegangi da-danya.
"Lagian Mami mau ketuk pintu tapi gak lihat-lihat dulu, untung aja hidung Abang gak jadi korban. Kalau penyet gimana?" sungutku sambil memegang hidung mancung yang hampir saja jadi korban pagi ini.
"Kalau penyet ya jadi peseklah..." balas Mami sambil terkekeh, kemudian melengos pergi dari depan kamarku.
"Iih... Mami suka ya kalau Abang jadi jelek?" protesku tak terima, walau aku tahu jika Mami hanya bercanda.
"Udah deh, gak usah drama. Buruan turun, kita senam pagi dulu sebentar biar badannya segar," ucap Mami saat mendahuluiku turun ke lantai bawah.
"Ohayō onīsan," sapa Kinara saat gadis itu keluar dari kamar sambil menguap lebar.
"Hai, selamat pagi juga. Pasti belum cuci muka, kan? Sana cuci mukamu dulu biar segar, biar bau naganya juga ikutan hilang. Lihat tuh matamu bengkak kayak gitu, pasti kamu begadang main game, kan?" ucapku asal hanya untuk menggodanya. Itu cara paling ampuh untuk menghilangkan kantuknya.
Kesal dengan ucapanku, tinju Kinara kembali mendarat di lenganku meski tidak sesakit sebelumnya.
"Auw... kamu tuh doyan banget ya, mukulin Abang kayak gitu. Entar kalau Abang pergi jauh baru tau rasa kamu. Entar Abang gak mau ketemu kamu lagi walaupun kamu bilang rindu sama Abang," ocehku sambil memegangi lenganku yang tak begitu sakit.
"Makanya jangan suka godain aku kayak gitu. Emangnya Abang mau kemana?" Kinara menekuk wajahnya kesal.
"Mau kawin lari," jawabku asal sambil berlari turun meninggalkannya sendirian.
"Abaang..."
Kinara ikut berlari mengejarku turun hingga ke halaman. Kantuknya langsung hilang seketika karena ulahku, begitu juga denganku.
***
"Hari ini kamu berangkat sama Abang apa sama Dara?" tanyaku saat kami sedang duduk bersama untuk sarapan.
Di depan kami sudah tersaji nasi goreng seafood paling enak buatan Mbak Asih, serta beberapa hidangan pelengkap kesukaan ku dan Kinara.
"Kayaknya bareng Dara. Kemarin dia udah bilang bakal jemput aku buat berangkat bareng," jawab Kinara. Mulutnya tampak penuh dengan makanan. Dia makan sangat lahap pagi ini seperti orang kelaparan.
"Makannya pelan-pelan aja, nanti kamu kesedak," ucap Mami memperingatkan. Mami sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya itu.
"Aku lagi buru-buru, Mi. Soalnya Dara sebentar lagi sampai," jawabnya menimpali.
"Kamu gimana, Bang? Hari ini masuk jam berapa?"
Pertanyaan Mami beralih padaku. Ia menatapku lama sambil mengunyah makanannya perlahan.
"Masuk jam 8, sih. Tapi harus kumpul beberapa menit sebelumnya," kataku.
Mami manggut-manggut, kemudian kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Pulangnya jam berapa?" tanya Mami lagi.
Aku menarik napas pelan, meraih gelasku lalu meneguk s**u di dalamnya hingga tersisa setengahnya.
"Abang gak bisa pastikan bakal pulang jam berapa. Itu tergantung banyak pasien hari ini, belum lagi kami harus buat laporan sebelum pulang," jawabku sekenanya, berharap Mami bisa mengerti kesibukanku saat ini.
"Kenapa, Mi?" tanya ku balik.
Mami tampak seperti sedang memikirkan sesuatu tapi ragu untuk mengatakannya padaku.
"Gak ada apa-apa. Pulang nanti Abang langsung ke butik aja, ya. Soalnya Mami mau minta tolong sama Abang," kata Mami kemudian.
"Mm... oke. Tapi Abang gak janji bisa pulang cepat, ya."
"Iya, gak masalah."
Mami kembali fokus menghabiskan sisa makanannya, lalu bangkit berdiri setelah menyelesaikan sarapannya. Aku sama sekali tidak memperhatikan kemana Mami pergi.
Beberapa menit kemudian, Kinara pun menyusul Mami pergi dari ruang makan ketika suara klakson mobil sahabatnya itu menjerit nyaring dari depan rumah.
Suara langkahnya terdengar gaduh saat menuruni anak tangga sambil membawa tasnya. Gadis itu langsung menghampiriku di meja makan untuk sekedar mencium pipiku saat berpamitan pergi.
Tak berselang lama, suara panggilan di ponselku memaksaku untuk segera mengakhiri sarapanku. Aku bergegas bangkit dan naik ke kamarku untuk mengambil tas lalu turun mencari Mami di seluruh penjuru rumah.
Aku harus teriak memanggilnya untuk memastikan keberadaannya, karena aku sudah mencari ke kamar dan hasilnya nihil. Mami tidak ada di sana.
"Mami... Mami ada dimana?" teriakku tak sabar. Aku harus buru-buru atau aku akan terlambat lagi.
"Mami..." Sekali lagi aku berteriak memanggilnya. Masih tak ada jawaban.
"Mbak Asih," panggilku kuat. Tak ada sahutan. Rumah tampak lengang, tak ada suara.
"Ya ampun, pada kemana sih, orang-orang di rumah ini?" gerutu ku kesal.
Ku sambar kunci mobil dari laci nakas. Tak ada waktu lagi karena Gita sudah menelponku beberapa kali. Segera ku nyalakan mesin mobil dan pergi dari rumah setelah membuka gerbang depan. Dan aku terpaksa harus menutupnya lagi karena tak melihat keberadaan Mbak Asih.
Mobilku melaju dengan cepat di jalanan yang padat merayap, berlomba dengan kendaraan lain agar bisa tiba tepat waktu. Ku biarkan ponselku bergerak-gerak di dasboard mobil karena efek getaran ponselku saat ada panggilan masuk. Aku bisa menebak jika itu adalah ulah Gita.
Gadis itu sangat perhatian padaku. Dia tidak ingin melihatku dihukum karena ketahuan telat saat brieving pagi dilakukan.
Dengan cepat ku arahkan mobilku menuju parkiran khusus di bagian depan rumah sakit, tidak jauh dari pintu masuk. Kemudian berlari menuju ruangan brieving dan masuk dengan perlahan agar jangan sampai ada yang menyadari kedatanganku. Atau aku akan menjadi bahan percontohan bagi mahasiswa kedokteran.
Ya, tentu saja jadi contoh yang buruk. Sekaligus jadi bahan candaan teman-teman yang lain.
Mau disembunyikan kemana wajah tampanku ini? Mereka pasti dengan mudah mengenaliku kemanapun aku pergi karena hanya aku mahasiswa kedokteran paling tampan yang bertugas di rumah sakit ini. Hanya aku yang memiliki wajah paling eksotik di antara teman-temanku.
Pasti sangat memalukan sekali, iya kan? Apalagi jika sampai dokter Kirana tahu jika anak magangnya membuat ulah saat brieving pagi.
Aku berusaha tetap tenang seraya mengatur napasku kembali karena sempat berlarian di koridor rumah sakit tadi.
"Sst... dari mana aja, sih? Kenapa baru sampai?" bisik Gita. Gadis itu sengaja menundukkan kepalanya agar tidak menjadi bahan perhatian.
"Biasa," balasku singkat setengah berbisik. Kemudian kembali diam hingga pengarahan pagi berakhir.
Semua orang kembali berbaur dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Begitupun dengan ku dan Gita.
Ku rangkul pundak Gita seperti biasa dan kami berjalan bersama keluar dari ruangan menuju ruangan poli masing-masing. Aku tidak perduli dengan ejekan teman seangkatan yang mengomentari kedekatan kami. Bagiku, Gita adalah teman spesial yang sangat baik yang selalu siap sedia kapanpun aku membutuhkan bantuannya.
"Jaga jarak, woy... ini rumah sakit," celetuk salah seorang teman kami.
"Iya, nih... Kaito main peluk-peluk anak orang aja," timpal teman kami yang lain.
Aku menanggapi santai ucapan mereka karena aku tahu jika mereka hanya bercanda denganku. Tanpa kusadari, wajah gadis yang melangkah di sisiku sudah semerah tomat karena merasa malu. Namun, Gita hanya diam dan menerima perlakuanku padanya.
Mungkin aku terlalu jahat karena selalu memanfaatkan perasaan sukanya padaku tanpa bisa membalasnya. Itu karena aku hanya menganggapnya sebagai teman baikku saja, tidak lebih. Apa aku salah? Bukannya cinta dan rasa suka itu tidak bisa dipaksakan?
"Udah, jangan diambil hati. Okey?" Aku menyenggol lengan Gita. Gadis itu termenung sesaat di depan pintu.
Gita tersenyum tipis seraya mengangguk pelan. "Iya, aku tahu, kok. Aku masuk dulu ya," katanya.
Aku menghela napas pelan saat menyadari perubahan di diri Gita pagi ini.
Apa dia sedang marah padaku? Tapi kenapa? Apa karena aku belum menepati janjiku kemarin? Atau, karena aku tidak menerima panggilan darinya tadi? Aku membatin.
Keningku ikut berkerut saat otakku berusaha menerka-nerka perubahan Gita yang sangat drastis. Gadis itu biasanya bawel padaku.
"Kenapa kamu melamun di sini? Apa kamu gak ada kerjaan?"
Sebuah tepukan pelan di bahuku langsung membuyarkan lamunan singkatku tentang Gita. Aku sangat terkejut ketika menoleh ke belakang dan mendapati dokter Kirana sedang menatapku serius.
"Eh, ada Dokter Kirana..." Aku tersenyum malu sambil mengusap tengkuk.
"Kamu ngapain masih di sini?" katanya lagi.
"Iya, Dok... ini saya baru mau ke ruangan," jawabku lalu pergi dengan terburu-buru. Ku tinggalkan dokter Kirana yang masih berdiri sambil geleng-geleng kepala melihat tingkahku.
"Mati aku," rutukku pelan.