Penyesalan Kinara

1261 Kata
"Kinara mau liburan ke Korea, terus ke Jepang, Tante. Boleh, kan?" Mendengar ucapan Kinara, sontak Mami membulatkan matanya serta menatap jengah pada adikku. Pun denganku, otakku masih berusaha mencerna kalimat yang meluncur mulus dari bibir tipis Kinara. "Kamu apa-apaan sih, Dek? Permintaan kamu itu merepotkan orang, tau gak? Please, jangan buat malu Mami deh," lontar Mami masih dengan ekspresi wajah yang sama. Rasa terkejutnya masih belum sepenuhnya hilang. "Gak apa-apa kok, Tante. Iya kan, Ma? Aku juga pengen banget ke Seoul," cicit Dara yang baru saja bergabung di meja kami. Sahabat Kinara itu langsung bergelayut manja di lengan mamanya. "Gak usah, deh... lagian Kaito juga belum bisa ikut liburan. Tante kasihan kalau Kaito harus ditinggal sendirian di rumah," timpal Mami sebelum Kinara kembali membuka mulutnya lagi. "Tapi, Mi ... di rumah kan ada Mbak Asih. Abang juga udah gede jadi gak perlu dijagain kayak gitu. Iya kan, Bang?" protes Kinara sambil menekuk bibirnya. Aku tahu jika ini adalah impian Kinara untuk bisa liburan ke Jepang. Adik kecilku itu pasti merindukan sosok Papi yang telah lama tidak dijumpainya. Apalagi sejak Papi menikah lagi, Papi sudah jarang berkomunikasi dengan kami. Aku tidak bisa membantah jika di dalam hatiku aku juga merindukan sosoknya setelah hampir tujuh tahun kami terpisah. Ya, sejak Papi dan Mami memilih untuk bercerai secara baik-baik lalu tinggal di negara masing-masing dengan kehidupan baru mereka. "Terserah kamu, deh. Kalau kamu mau pergi ya pergi aja! Mami mau temani Abang di sini," putus Mami akhirnya. Karena perdebatan kecil itu, suasana makan malam bersama berubah dingin dan kaku. Dan aku kesal karena dalam situasi ini harus memilih antara ibu dan adikku. Aku mengerti jika Kinara sangat ingin bertemu dengan Papi. Tetapi, di sisi lain, Mami masih belum siap untuk bertemu mantan suaminya yang kini hidup bahagia dengan keluarga barunya sementara Mami hanya berjuang sendirian bersama kedua buah hati mereka. Aku menghela napas, berusaha berpikir jernih, berharap sebuah kalimat bisa meluncur mulus dari bibir ini untuk meredakan ketegangan di meja makan. Ya, suasananya terlalu tegang. Seperti sedang di hadapkan pada sebuah senjata yang siap meletus kapan saja sementara kamu sedang menikmati makan malam terakhirmu dan rasanya sangat sulit untuk ditelan karena rongga lehermu terasa membengkak sehingga makananmu tertahan di sana dan tak bisa meluncur turun ke dalam perut. Rasanya mendebarkan sekaligus menyakitkan. "Udah deh, kita ini lagi makan malam loh. Habisin dulu makanannya, masalah liburan nanti kita bahas lagi," kataku menengahi. Rasanya sayang kalau makanan seenak ini dibiarkan hingga dingin karena rasanya pasti tidak akan selezat ketika masih hangat saat baru disajikan. "Iya, Jeng... nanti aja kita bahas lagi. Mending kita makan aja dulu," timpal Tante Merry dengan senyum yang tampak agak dipaksakan. Aku yakin bila saat ini Tante Merry merasa tidak enak hati pada Mami. Ku tepuk pundak Kinara pelan agar gadis itu mengerti. Kemudian ku usap punggung Mami dengan lembut seraya tersenyum manis padanya sambil mengerjapkan mata indahku beberapa kali agar emosinya karena perdebatan kecil tadi segera mereda. Ku ulurkan tanganku mengambil makanan yang telah disajikan di atas meja dan meletakkannya di atas piring, diikuti oleh Tante Merry dan Dara, putri tunggalnya. *** "Mi..." "Emm?" "Maaf, ya..." "Soal apa?" "Yang tadi. Aku minta maaf, seharusnya aku gak bilang seperti itu tadi." "Emangnya kamu bilang apa?" Seketika aku menoleh meski untuk sesaat, sebab aku harus tetap fokus untuk mengemudi. Pembicaraan antara Mami dan Kinara kali ini sungguh menarik perhatianku. Ku perhatikan raut wajah datar yang Mami tunjukkan, seakan ia telah melupakan apa yang telah terjadi tadi. Kali ini ku alihkan pandanganku pada Kinara. Ku lirik wajah penuh penyesalan Kinara melalui spion depan mobil. Rasanya aku ingin langsung memeluk kedua wanita itu saat ini juga. "Maaf ya, Mi. Gak seharusnya aku nuntut untuk pergi ke Jepang. Aku tahu kalau Mami gak suka kalau aku membahas tentang Papi lagi, tapi... i really miss him so much." Kali ini ku lihat Kinara menundukkan wajahnya. Nada suaranya juga terdengar bergetar. "Gomen ne mama, Kinara..." ucap Mami dengan suara rendah. "Mami gak mau kalau kamu sampai kecewa saat tiba di sana." Sungguh, mendengar hal itu membuatku ikut merasa haru. Aku tidak menyangka bila Mami berpikir sampai sejauh itu demi kebaikanku dan Kinara. "Mōshiwakearimasen, Mami." Tiba-tiba Kinara memeluk tubuh Mami. Adikku terisak pelan di bahu Mami. "Jangan bicarakan hal ini lagi, Mami cuma gak mau kalau kalian sampai terluka," ujar Mami penuh kasih sayang. "Tapi kalau kamu masih mau ikut liburan bersama Tante Merry, silahkan saja. Mami gak akan melarang kamu karena Mami tau kok kalau Kinara juga butuh refreshing otak setelah pusing dengan ujian semester tahun ini," lanjut Mami lagi. "Emangnya masih boleh ya, Mi?" "Tentu saja boleh." "Terus... Abang gimana?" Mami dan Kinara langsung mengalihkan pandangan mereka padaku. Aku yang ditatapi seintens itu tentu saja jadi salah tingkah. "Gimana, Bang?" lontar Kinara. "Apaan?" sahutku bingung. Jujur saja, aku belum menyiapkan jawaban ampuh untuk pertanyaan itu. Aku belum siap mental. "Abang ikut liburan bareng kita juga, kan?" balas Kinara. "Oh, itu... kayaknya gak bisa, Dek. Abang 'kan lagi praktek di rumah sakit, jadi mana bisa ambil cuti sesuka hati. Kamu mau kalau Abang sampai gagal tahun ini?" jawabku asal. Hanya itu jawaban praktis yang terlintas di otakku saat ini. Setelahnya, aku langsung memutar otak untuk mencari kalimat lain sebagai pendukung jawabanku tadi. "Udah deh, kalian aja yang pergi. Abang bisa kok tinggal sendirian di rumah. Lagian ada Mbak Asih juga," lanjutku kemudian. "Jadi gimana, Mi?" Kulihat kening Mami berkerut, menimbang-nimbang tawaran dari teman arisannya tadi. "Ya sudah, Mami ikut asalkan bukan ke Jepang." "Sip." Kinara mengangkat dua jempolnya ke udara. *** Setelah menempuh waktu lebih dari setengah jam, mobil yang kami kendarai akhirnya tiba di rumah. Ku tekan klakson mobil beberapa kali hingga Mbak Asih terlihat keluar dari pintu depan. Mbak Asih berlari pelan menuju gerbang. Dengan cekatan ia membuka kunci dan mendorong pintu gerbang setinggi dua meter tersebut hingga terbuka. Dengan setia Mbak Asih menunggui mobilku hingga berhenti di depan garasi, kemudian kembali menutup pintu gerbang dan berlari mengejar kami sampai teras depan. "Mbak, tadi ada tamu yang datang gak?" tanya Mami padanya. "Gak ada, Bu." "Gak ada yang telpon ke rumah juga?" "Gak ada juga, Bu." Mbak Asih geleng-geleng kepala. "Kamu yakin? Bukannya tadi kamu lagi tidur, ya? Buka pagar aja lama banget," ujar Mami sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Hehehe... kok Ibu tau, sih?" Mbak Asih garuk-garuk kepala. "Ya tau lah. Kamu itu sama aja kayak mereka, tukang tidur. Ya sudah, sana tidur lagi. Besok kamu harus bangun cepat karena besok pagi Abang harus ke rumah sakit," ucap Mami saat tiba di ruang tengah. "Siap, Bu." Selesai berbicara, Mami langsung menuju ke kamarnya. Begitu juga dengan ku dan Kinara. Tetapi, belum sempat kaki ku menjejak anak tangga, Mbak Asih tiba-tiba memanggilku. Aku langsung berhenti dan memutar tubuhku untuk melihat sosok Mbak Asih yang mengejar keberadaanku. "Kenapa, Mbak?" cecarku penasaran. "Tadi ada cewek yang telpon ke rumah nyariin," sahut Mbak Asih dengan suara pelan seakan takut ada yang dengar. Aku mengerutkan kening karena merasa agak aneh ketika melihat gelagat asisten rumah tangga kami yang satu ini. Untuk apa Mbak Asih berbisik seperti itu? Dasar tukang gosip! Pikirku. "Oh ya? Siapa, Mbak?" Aku mulai penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Bukannya menyahut, Mbak Asih malah garuk-garuk kepala. "Mbak! Ditanya kok malah diam, sih?" ucapku mulai kesal. Masalahnya aku sudah sangat lelah dan mengantuk, ingin segera berbaring di kasur empuk di kamarku. "Maaf, soalnya Mbak Asih lupa namanya. Siapa ya tadi?" jawabnya bingung. Keningku langsung berkerut, berusaha menebak-nebak. "Tadi kata Mbaknya, teman dokter. Tapi Mbak Asih lupa siapa namanya," sahutnya. "Teman dokter? Cewek?" Mbak Asih manggut-manggut membuat kantukku hilang. Siapa? Apa maksudnya Gita? Aku membatin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN