"Kalian sedang mengerjaiku, ya?"
Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa dengan wajah kesal. Bagaimana aku tidak kesal? Saat aku tiba di rumah, Mami dan Kinara malah asyik-asyikan ngobrol sambil tertawa di ruang tengah.
Bahkan Mbak Asih juga ikut-ikutan nimbrung meski harus duduk melantai dengan gayanya yang berhasil membuatku geleng-geleng kepala.
"Abang kenapa, sih? Sampai di rumah bukannya ngucap salam malah marah-marah gak jelas gitu," celetuk Kinara mengkritik aksiku.
Dua wanita berbeda usia itu tampak begitu akur sore ini, sedang duduk memandangiku dengan wajah heran.
"Kamu kemana aja, sih? Kenapa sore begini baru pulang ke rumah? Kamu tau gak kalau Abang sama Mami panik banget karena kamu belum sampai di rumah? Seharusnya kamu sudah ada di rumah sejak dua jam yang lalu," debatku panjang lebar.
Kinara mendengus kesal karena harus menerima omelan dariku. Jujur saja, meskipun dia itu seorang jagoan karate, tetap saja Kinara adalah wanita yang biasa. Jadi wajar bila aku sebagai seorang kakak begitu takut jika sampai terjadi sesuatu padanya.
Apalagi jika ada orang asing teritama makhluk yang bernama laki-laki yang berusaha untuk melukainya karena parasnya yang cantik.
Aku merapatkan gigi geligiku, menahan emosiku yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Adikku benar-benar sedang menguji kesabaranku.
"Udah, jangan marah-marah lagi. Entar gantengnya hilang," ledek Kinara santai.
"Iya, Bang. Yang penting Kinara udah sampai di rumah dengan selamat," ujar Mami penuh pembelaan. Tangannya mengusap punggung Kinara penuh kasih sayang.
Aku akui, Mami memang tidak pernah memarahi ku ataupun Kinara sejak kami kecil. Mami sangat sabar terhadap kami, berusaha memberikan pengertian dengan caranya sendiri. Meski terkadang Mami juga akan sangat menjengkelkan jika sudah mengeluarkan suaranya yang berhasil membuat kehebohan di penjuru rumah bahkan hingga ke rumah tetangga.
"Tapi, Mi --"
Perkataanku terhenti saat Mami mengangkat tangannya. Itu artinya, Mami tidak sedang ingin berdebat saat ini.
Ku urungkan niatku untuk meluapkan kekesalanku pada Kinara. Ku buang napasku kuat ke udara, dan menelan kekesalanku ke dalam perut.
"Sudah, sudah. Gimana tugas praktek kamu hari ini? Apa semuanya lancar? Dokternya baik 'kan sama kamu? Kalau gak salah, kamu juga bareng sama Gita, kan? Ayo cerita sama Mami." Mami bertanya penuh antusias.
Ia dengan mudah mengalihkan pembicaraan. Mami bangkit dari duduknya, lantas mengitari meja agar bisa duduk di sampingku.
"Biasa aja, Mi. Gak ada yang spesial," jawabku malas.
Kening Mami berkerut. "Masa, sih? Mami gak percaya. Emangnya Abang ngapain aja di sana?" cecar Mami lagi.
"Ih, Mami... ya kerjalah. Bantu Dokter buat periksa pasien, udah itu aja." Aku menjawab sekenanya.
Dari raut wajahnya, Mami jelas tidak puas dengan jawabanku. Bibirnya ditekuk seraya menghela napasnya.
"Mami cuma mau ingatkan supaya kamu jangan main-main kalau bekerja, harus serius biar cepat lulus. Kamu itu harus bisa jadi Dokter, ingat? Abang harus bisa buat Mami bangga sama Abang," ujar Mami memberi nasehat padaku. Meski berkata dengan lembut, tetap saja ucapan Mami terdengar seperti sebuah tuntutan bagiku.
"Udah, mandi dulu sana! Kamu bau asem. Malam ini kita makan di luar, jadi siap-siap aja, ya."
Usai bicara, Mami langsung bangkit berdiri dan pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi.
Kinara mengedikkan bahunya saat mataku menajam ke arahnya. Adikku lalu ikut berdiri dan pergi menuju kamarnya di lantai atas. Entah kenapa aku merasa jika dua wanita itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Benar-bemar mencurigakan!
***
"Bang... udah siap, belum? Ayo, buruan!"
Suara teriakan Mami terdengar menggelegar dari bawah tangga. Tetapi, bukannya bergegas, aku malah lebih senang berleha-leha hanya untuk menggoda Mami.
Bibirku terbuka lebar, tersenyum manis ke arah Mami yang berdiri menungguku di anak tangga paling bawah dengan pakaian rapi. Di sampingnya, Kinara berdiri sambil bergantungan di lengan Mami.
"Lama banget sih, Bang? Ayo dong, buruan! Dah laper nih." Kinara mengusap perut tipisnya.
"Emangnya mau makan dimana, sih? Perasaan hari ini bukan hari ulang tahun Mami, apalagi ulang tahun Kinara," kataku saat sampai di lantai bawah.
Bukannya menyahut, Mami malah memutar tubuhnya dan pergi menuju pintu depan. Jika dilihat-lihat, Mami seperti sedang ingin pergi ke suatu tempat tapi sengaja merahasiakannya dari kami.
Aku berpikir seperti itu karena malam ini Mami terlihat sangat cantik dan begitu rapi padahal kami hanya pergi untuk makan malam. Bayangkan saja, Mami memakai gaun berwana navy setinggi lutut dengan high heels dan clutch berwarna senada dengan pakaiannya.
Ya, sebenarnya Mami memang selalu tampil cantik dan anggun walaupun sedang berada di rumah. Tetapi, firasat seorang anak pada orang yang disayangi itu tidak bisa dibohongi.
Ya, sudahlah!
Aku berjalan dengan setengah berlari, mengejar Mami yang kini sudah berdiri menunggu kami di samping mobil. Segera aku membuka pintu mobil bagian depan untuk Mami, kemudian berputar mengitari mobil dan masuk di kursi kemudi. Sementara Kinara duduk di bangku belakang.
Mobilku mulai melaju keluar melewati pintu gerbang, dan meninggalkan Mbak Asih yang kini sibuk menarik pintu gerbang hingga tertutup sempurna.
Dan saat ini aku mengarahkan mobilku menuju salah satu restoran langganan keluarga kami yang terletak di tengah kota Medan. Aku sengaja mempercepat laju mobilku agar dapat segera sampai di sana karena perutku mulai meronta minta segera diisi.
"Mami mau turun duluan atau bareng sama Abang? Soalnya Abang mau cari parkiran dulu," ucapku saat kendaraan kami memasuki area restoran.
"Mami masuk bareng kalian aja, deh. Gak enak kalau jalan sendirian. Gimana kalau ada orang yang iseng ganggu Mami?"
What? Apaan, sih?
Memangnya siapa yang berani mengganggu Mami?
Apa mereka mau cari mati?
Bisa-bisa Kinara bakal mengeluarkan jurus karatenya untuk membasmi lelaki iseng demi membela Mami, pikirku.
"Okelah. Bentar, ya..." sahutku.
Kepalaku langsung berputar mencari posisi kosong untuk kami tempati. Dan aku harus bergerak cepat agar tidak didahului oleh pengunjung lain.
Tak butuh waktu lama hingga kami mendapatkan lokasi parkir tak jauh dari pintu masuk, tepat disaat sebuah mobil lain hendak keluar meninggalkan area restoran.
Kami bertiga berjalan bersama saat masuk ke dalam restoran. Dan bukan kali pertama bagiku ketika ada tamu lain yang menatapku serta dua wanita yang berdiri mengapitku dengan tatapan tajam.
Entah merasa jijik karena kedua wanita beda usia itu bergelayut di kedua lenganku atau merasa kagum karena cowok setampan aku dijaga oleh dua makhluk cantik di kedua sisiku.
Dan selalu saja seperti ini, walaupun aku datang hanya dengan memakai kaos lengan pendek serta celana levis setinggi lutut. Bahkan aku hanya memakai sendal rumahan seperti biasanya.
Tanpa banyak komentar, aku dan adikku hanya menurut saja ketika Mami mengajak kami duduk di salah satu meja yang terletak agak jauh dari pintu masuk. Dan hal yang membuatku bingung adalah ketika meja yang dipilih oleh Mami sudah ditempati oleh orang lain. Padahal, masih ada meja lain yang masih kosong.
Siluet seorang wanita yang tampak tidak asing bagiku, tengah duduk sendirian dengan membelakangi pintu masuk. Aku dan Kinara saling pandang.
"Hai, Jeng Merry... sudah lama?" lontar Mami saat kami berdiri mengellilingi meja.
"Jeng Diana? Mari, mari... duduk di sini." Wanita itu langsung mempersilahkan kami duduk.
"Eh, ada Kaito dan Kinara juga," sambung Tante Merry. Wanita paruh baya itu lantas tersenyum genit ke arahku.
"Eh, ternyata Tante Merry. Dara mana, Tante? Apa dia gak ikut?" sambar Kinara saat mengetahui jika wanita di meja itu adalah ibu dari sahabat baiknya.
"Ada, kok. Dara tadi permisi ke toilet, sebentar lagi juga kalian ketemu."
Mendengar jawaban Tante Merry, Kinara langsung tersenyum lebar karena kegirangan. Bisa kutebak apa yang ada dipikiran adikku sekarang.
"Oiya, gimana praktek Dokternya? Bisa?" tanya Tante Merry seketika saat pantatku baru saja mendarat di kursi.
"Iya, Tante. Gampang banget karena cuma menangani anak-anak aja," jawabku santai tanpa banyak berpikir.
"Wah... berarti sekarang udah bisa dong main dokter-dokteran sama Tante?" Tante Merry berkata manja untuk menggodaku.
"Apaan sih, Jeng Merry ini? Kaito kan baru aja jadi asisten dokter anak, bukan orangtua seperti kita."
Mami langsung bersuara, entah untuk membelaku atau malah untuk memamerkanku pada temannya lagi.
Aku hanya bisa tersenyum melihat kedua ibu di depanku saat ini.
"Iya, Tante. Kaito kan calon dokter anak. Cuma bisa mengobati penyakit anak-anak aja," kataku meninpali ucapan Mami.
"Gimana, Jeng Merry udah pesan makanannya?"
"Udah, tenang aja. Kaito kan suka makan, jadi saya udah pesan beberapa jenis makanan yang dia suka. Tenang aja, hari ini saya yang bayar semuanya," jawab Tante Merry sambil mengibaskan tangannya pelan ke udara. Senyuman di bibirnya mengembang ketika teman Mami yang genit itu melirik ke arahku.
"Oiya, saya juga mau kasihtau sesuatu. Bulan depan saya dan Dara berencana untuk liburan ke luar negeri. Jadi saya mau ngajak keluarga Jeng Diana juga, gimana Jeng? Kan bulan depan anak-anak liburan akhir semeater," ajak Tante Merry.
"Hah? Beneran, Tante? Kinara ikut. Boleh ya, Mi? Kita udah lama banget gak liburan ke luar negeri," celetuk Kinara cepat saat mendengar tawaran Tante Merry.
Gadis itu tidak perduli meski Mami melotot ke arahnya. Dengan wajah polos memohon agar Mami bersedia menerima tawaran paling menguntungkan dalam hidupnya itu. Kapan lagi bisa libura gratis, pasti itu yang ada di pikiran Kinara.
"Kamu juga ikut ya, Kaito. Pasti ramai kalau ada kamu, biar ada yang jagain kita semua. Iya kan, Jeng? Tante Merry tersenyum penuh arti pada Mami.
Ya, ya... aku paham. Karena hanya aku pria yang ikut dalam perjalanan kali ini. Tentu saja aku harus menjadi penjaga dari dua orang ibu dan juga dua orang adik sekaligus.
"Kayaknya Kaito gak bisa ikut deh, Jeng. Soalnya dia masih harus tugas di rumah sakit selama beberapa bulan ini. Iya kan, Bang?"
Mami menatapku serius. Orangtuaku ini hanya mengkhawatirkan pendidikanku yang bakal terganggu hanya karena rencana liburan bersama. Dan aku sangat mengerti akan hal itu.
"Emangnya kita mau liburan kemana nih?" tanya ku sekadar ingin tahu.
Tante Merry tampak sedang berpikir, matanya berputar ke segala arah diikuti dengan kerutan kecil di antara kedua alisnya.
"Kemana, ya? Emangnya kalian mau liburan kemana?" tanya Tante Merry.
Pendengar pertanyaan itu, Kinara langsung menyahut tanpa berpikir. "Korea, Tante. Terus kita ke Jepang."