"Kaito...."
Sebuah suara memanggil namaku dari arah belakang saat tanganku nyaris membuka pintu mobil. Dengan segera kepalaku menoleh ke belakang tepat disaat Gita berhenti di dekatku. Dalam hitungan detik, senyumku melebar saat gadis cantik itu kini berdiri tepat di depanku.
"Hai," balasku singkat tanpa mengurangi arti senyumanku.
"Kamu mau langsung pulang, ya?" tanya Gita tanpa basa-basi.
Sontak kepalaku langsung mengangguk kuat. Sebab tugasku memang telah selesai dan aku tidak berniat pergi kemanapun, kecuali jika Mami membutuhkan bantuanku.
"Kenapa? Kamu mau pulang juga, ya? Ayo, aku akan mengantarmu sampai ke rumah," sahutku.
Kulingkarkan tanganku di bahunya, lalu kemudian menariknya menuju sisi mobil yang lain dan membukakan pintu untuknya. Aku langsung menutup pintu ketika Gita sudah masuk ke dalam mobil, kemudian berlari pelan mengitari mobil dan masuk di kursi kemudi.
Tanpa membuang waktu, aku langsung menyalakan mesin mobil dan pergi dari tempat itu. Dengan kecepatan sedang, ku arahkan mobilku menuju komplek perumahan dimana Gita tinggal.
"Gimana hari ini? Apa semuanya lancar?" Pertanyaan dari Gita berhasil memecah keheningan di antara kami.
"Iya. Ternyata Dokter Kirana itu baik loh," jawabku. Aku menoleh sebentar padanya kemudian kembali fokus menatap aspal hitam yang membentang di depan kami.
Saat ini jalanan cukup padat sehingga aku harus lebih lebih fokus dan berhati-hati. Beberapa sepeda motor berusaha memotong kendaraan kami. Tampak terburu-buru seperti sedang mengejar sesuatu.
"Oh, ya? Aku pikir Dokter Kirana itu orangnya sombong, soalnya dia pendiam banget. Dia bahkan jarang bertegur sapa dengan dokter yang lain," ucap Gita dengan mimik keheranan. Gadis itu melipat tangan kirinya di depan da-da, sedangkan tangan kanannya terangkat menjepit dagu.
"Masa, sih? Tapi menurutku kalau dia itu baik dan ramah banget. Tau gak sih, senyumnya itu manis banget, loh."
Jawaban yang meluncur daru mulutku membuat Gita terbatuk-batuk karena terkejut. Entah itu bermaksud menyindirku, tapi tak lama kemudian Gita langsung tertawa lebar. Gerakan tangannya yang tiba-tiba memukul lenganku membuatku terkejut.
"Hahaha... jangan bilang kalau kamu jatuh cinta pada pandangan pertama. Because it's just bullshit, you know...," cicit Gita dengan raut wajah yang berubah serius.
Ku kibaskan tanganku di depannya, berusaha menyangkal tebakan Gita.
"Apaan, sih? Siapa juga yang jatuh cinta. Aku kan cuma bilang kalau senyumnya itu manis banget. Kenapa? Kamu cemburu, ya?" lontarku sambil berusaha menahan degup jantung yang tiba-tiba ikut berdetak kencang di tengah obrolan kami.
Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta secepat ini dengan orang yang baru pertama kali aku temui. Meskipun tak bisa aku pungkiri jika Dokter Kirana memang wanita yang cantik.
"Hah? Cemburu sama kamu? Please, deh... jangan bercanda." Gita yang sejak tadi menatapku langsung membalik wajahnya menatap lurus ke depan.
"Hahaha...." Aku tertawa lebar karena berhasil membalas ucapan Gita dengan telak. Ku lirik wajah gadis itu yang kini bersemu merah jambu karena malu.
Suasana kembali hening. Gita menatap lurus ke depan, sesekali wajahnya menoleh ke luar melalui jendela samping. Entah apa yang ada di dalam pikiran gadis itu saat ini.
"Gimana kabar Tante Diana?"
Sekali lagi pertanyaan Gita kembali memecah keheningan di antara kami.
"Baik," jawabku singkat tanpa menoleh.
"Kinara?" tanya Gita lagi.
Kali ini, aku melirik penuh ke arahnya setelah mobilku berhenti di lampu merah.
"Kinara baik," kataku lagi.
Gita mengalihkan tatapannya, ia menunduk sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kapan-kapan ajak aku ke butik Tante Diana, ya. Aku mau lihat-lihat barang baru, siapa tahu bisa dapat diskon gede dari Tante Diana," ucap Gita sesaat kemudian.
"Boleh. Emangnya kamu mau beli apaan?"
"Ya beli baju lah. Emangnya Tante Diana ada jual barang apa lagi?" balas Gita.
"Ya 'kan di butik Mami juga ada tas dan sepatu cewek. Gak banyak sih, tapi kan ada," jawabku menimpali.
"Tas? Aku mau deh, tapi kamu yang bayar, ya? Kamu kan janji mau traktir aku."
Gita memainkan alisnya seraya tersenyum penuh arti. Gadis itu seperti ingin memanfaatkan janji yang kuucapkan padanya kemarin saat aku memohon agar dia setuju untuk membantuku menyelesaikan persyaratan administrasi praktek kerjaku kala Mami memintaku untuk datang ke tempat arisan mereka.
"Kaito yang tampan, baik hati, dan tidak sombong... kamu ingat janjimu kemarin, kan?" sambung Gita lagi.
Aku langsung menelan ludah kala mendengar permintaan gadis itu. Hal itu karena barang yang diminta oleh Gita bukanlah barang murah. Kebanyakan produk yang dijual oleh Mami dipesan khusus dari rekannya di luar negeri. Dan sudah pasti harganya juga cukup mahal untuk kami yang masih dibiayai orangtua.
"Kalau itu, aku gak janji deh. Soalnya barang-barang di butik Mami mahal semua. Entar aku malah digetok sama Mami kalau tahu aku kasih barang gratisan. Tapi entar aku bujuk Mami deh buat kasih kamu diskon gede," kilahku beralasan sambil memaksa senyumku selebar mungkin. Memanfaatkan wajah tampanku dan mataku yang indah dipandang mata.
Meskipun aku tahu jika Mami mungkin akan memberikan dengan cuma-cuma jika tahu Gitalah yang telah membantuku saat membereskan dokumen praktek kerjaku di rumah sakit.
Tetapi, aku tidak bisa menjanjikan hal itu padanya sekarang. Aku takut memberikan harapan palsu pada gadis baik hati itu, takut mengecewakannya. Bisa-bisa Gita akan menolak untuk membantuku lagi saat aku membutuhkannya.
"Ya udah, deh. Kalau gitu, sabtu nanti kamu antar aku ke sana, ya."
"Sip."
***
Dering ponselku terdengar begitu nyaring. Buru-buru ku sambar ponsel di saku kemeja. Ku lirik ponselku. Ternyata Mami yang menelponku.
Aku sempat ragu untuk menerima panggilan itu karena sebentar lagi aku akan tiba di rumah. Namun, sesaat kemudian aku pikir itu akan percuma saja. Lebih baik aku menerima panggilan itu sebelum Nyonya besar mengamuk dan melengkingkan suara tujuh oktafnya di telingaku.
"Halo, Mi. Ada apa? Abang udah mau sampai di rumah ini," sahutku panjang lebar sebelum Mami sempat berbicara sepatah kata pun.
"Bang, kamu balik sama Kinara gak?" Suara Mami terdengar khawatir.
Alisku langsung berkerut. Rasanya aneh jika Mami menanyakan keberadaan Kinara. Anak itu seharusnya sudah berada di rumah saat ini.
"Gak ada, Mi. Abang tadi pulang bareng Gita. Emangnya Kinara gak ada di rumah?" tanya ku balik. Suara helaan napas Mami terdengar samar.
"Kinara belum pulang, Bang. Tadi pagi Kinara ada titip pesan gak sama Abang?" tanya Mami lagi.
"Gak ada, Mi. Udah jangan khawatir kayak gitu, Kinara pasti bisa jaga diri dengan baik kok. Lagian, siapa juga yang berani dekat-dekat sama bocah nakal itu. Mendingan Mami langsung telpon ke ponselnya aja," kataku memberi saran. Walaupun aku tahu jika Mami pasti akan langsung melakukannya tanpa menunggu komando dariku.
"Udah, Bang... tapi ponselnya gak aktif," sahut Mami cepat.
Aku memutar bola mataku, berusaha berpikir cepat mencari jawaban yang harus aku katakan. Aku mengerti jika Mami sangat mencemaskan gadis kecilnya itu.
"Mungkin Kinara ada les tambahan di sekolahnya. Mami jangan khawatir, ya... entar Abang susulin Kinara ke sekolahnya."
Aku akhiri panggilan itu. Ku putar arah mobilku kembali ke sekolah Kinara. Walaupun aku yakin bila Kinara baik-baik saja, aku masih tidak tenang karena gadis nakal itu selalu memberi kabar jika pulang terlambat.
Ku lajukan mobilku cepat menuju sekolah Kinara. Ku lupakan rasa lelah dan kantuk yang mulai mengusikku. Seharusnya saat ini aku sudah ada di rumah dan sedang berbaring nyaman di kasurku.
Tanganku segera meraih ponsel dan mulai menekan sebuah nomor di sana. Cepat-cepat kutempelkan ponselku di telinga saat panggilanku telah terhubung.
"Halo, Dara?" kataku saat gadis itu mulai bersuara, sementara mobil ku hentikan sejenak di bahu jalan.
"Ya, Bang Kaito. Ada apa, ya?"
"Dar, apa Kinara ada sama kamu?" tanyaku tanpa basa-basi. "Ini udah sore tapi Kinara masih belum pulang juga," sambungku lagi.
"Kinara? Masa, sih, belum pulang?"
Keningku mulai berkerut kebingunan saat gadis itu balik bertanya.
"Masa, sih, Abang bohong sama kamu? Soalnya Mami baru mengabari kalau Kinara belum sampai di rumah," jawabku mulai panik.
"Gak mungkin, Bang. Soalnya aku baru aja ngantar Kinara ke rumah."
Hah? Apa-apan ini? Apa mereka sedang mengerjaiku? Batinku tak habis pikir.
Cepat ku pacu kuda besiku kembali menuju rumah, demi memastikan perkataan Dara yang masih belum bisa kupercaya sepenuhnya.
Ponselku ku letakkan asal di dasbor mobil. Antara kesal, marah, khawatir, semuanya udah campur aduk di dalam kepalaku saat ini.