Waktu bergulir begitu lambat, setidaknya itu yang Devan rasakan sekarang. Kegiatannya hanya itu-itu saja, membosankan dan kadang membuat frustasi. Melihat beberapa orang sedang bersenda gurau dengan anak dan istri di dekat danau dimana dia sering berlari sore atau pagi hari, membuat perasaannya jadi tambah kacau. Tiba-tiba saja dia rindu sesuatu. Namun, lelaki itu berusaha menepisnya, biarlah menduda hingga tua. Malas mau mencari perempuan lagi. Hatinya seolah mati rasa, terkunci rapat dan seolah sedang dibawa pergi jauh sekali. Nama Kia masih terpatri dalam otaknya, sesekali ketika ditikam sebuah rasa yang minta dituntaskan, hanya potret Kia yang tersenyum tipis dengan latar belakang biru yang bisa dia pandang. Orang-orang sering menyebutnya dengan satu kata: rindu. Tapi lagi-lagi Dev

