“Langsung saja pada pokok permasalahan yang akan kita bicarakan. Saya tidak suka berbasa-basi, tepatnya tidak ingin. Kamu pasti tahu ke mana arah pembicaraan yang saya maksud.” Setelah keduanya masing-masing menduduki sofa di ruangan Titha, Vanya mulai mengeluarkan suaranya yang tegas.
Tenggorokan Titha seperti terganjal sesuatu, sehingga membuatnya hanya mengangguk karena tidak mampu mengeluarkan suaranya, walau sekadar untuk mempersilakan Vanya melanjutkan ucapannya.
“Benar kamu menolak tanggung jawab yang Davendra tawarkan? Jika benar, apa alasanmu menolak tawaran yang biasanya sangat diharapkan oleh perempuan yang hamil di luar nikah sepertimu?” Vanya memastikan perkataan yang anaknya sampaikan.
Mendengar pertanyaan Vanya semakin membuat rongga d**a Titha menyempit. Lidahnya kelu saat ingin menyuarakan jawabannya. Spontan Titha menunduk, dia tidak kuat beradu pandang dengan Vanya yang menatapnya penuh selidik dan mengintimidasi.
“Oh ya, saya juga dengar dari mulut Dave bahwa dia memerkosamu, apakah itu benar? Takutnya apa yang Dave katakan pada saya hanya sebuah pembelaan untuk melindungimu agar tidak dipersalahkan.” Vanya terus saja menyerang Titha dengan pertanyaan-pertanyaan frontalnya.
Titha yang sudah tidak kuasa menahan rasa sesaknya pun berdiri, kemudian meluruh di depan Vanya. “Maafkan saya, Tante. Yang dikatakan Dave semua benar. Saya memang menolak tawaran pertanggungjawaban itu karena dia meragukan janin ini. Saya memang diperkosa olehnya,” ucap Titha sambil terisak. Tanpa diminta, akhirnya Titha menceritakan semua kronologi malam petaka itu kepada Vanya.
Vanya menatap nanar kepala Titha yang ditumpukan pada lututnya, setelah perempuan tersebut selesai bercerita dengan susah payah karena isak tangisnya. Vanya sudah mengenal Titha dari dulu, dia juga mengetahui bahwa anaknya dan perempuan di hadapannya bersahabat akrab. Bahkan, sewaktu Vanya sekeluarga masih tinggal di Singaraja. Dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap perilaku sepasang sahabat ini yang kini membawa masalah fatal.
Vanya mengembuskan napas sebelum menanggapi penuturan Titha. Setelah otaknya sedikit terlepas dari ketegangan akibat kenyataan yang baru Titha tuturkan, Vanya menyuruh perempuan tersebut berdiri.
“Bangunlah. Kamu harus ikut ke rumah saya sekarang juga. Masalah ini harus segera dibicarakan sebelum terjadi sesuatu yang tidak terduga di kemudian hari,” perintah Vanya tanpa basa-basi dan tidak ingin dibantah.
“Bersihkan dulu wajahmu. Saya tidak mau para pegawaimu bertanya-tanya setelah melihat keadaanmu ini.” Vanya mengambil tissue basah dari dalam clutch yang dibawanya, kemudian menyerahkannya kepada Titha.
“Saya akan keluar lebih dulu dari ruangan ini dan pergi. Namun, saya akan menunggumu sebelum traffic light menuju Art Center. Jangan berpikiran ingin mengelabui saya atau kabur,” tegas Vanya setelah Titha menerima tissue basah pemberiannya dan dia pun berdiri dari duduknya.
Seperti orang linglung, sedikit pun Titha tidak membantah titah Vanya yang tegas dan datar. Pikirannya penuh–tidak jelas. Yang tergambar hanyalah tatapan mata datar dan sangat mengintimidasi dari seorang Vanya Sakera—wanita yang dia ketahui bertangan dingin di bidang pengembang resort. Dirinya seperti tenggelam dalam sorot mata dingin tersebut.
***
Lima menit Titha menyusut air matanya. Dia tidak ingin para pegawainya mencurigainya, sebab membiarkan langganan mereka menunggu lama. Untung saja saat datang kembali ke florist wajah Titha memang pucat, jadi hal itu tidak terlalu mengundang tanya dalam benak pegawainya.
“Mbak, muntah lagi? Mbak, sebaiknya pulang saja daripada memengaruhi kondisi kesehatan Mbak dan janin,” saran Dian yang melihat wajah Titha sedikit sembap.
“Iya, sebentar lagi aku pulang. Oh ya, Mbak Vivian sudah pulang?” tanya Titha pura-pura.
“Belum. Ibu Vanya sedang memesan rangkaian bunga untuk diambilnya besok,” beri tahu Dian. “Mbak, Bu Vanya itu juga salah satu pelanggan setia florist ini,” Dian menambahkan.
Kepala Titha bertambah berat saat menyadari bahwa pelanggannya masih berhubungan dekat dengan Dave. Bahkan, sangat dekat. ”Jalan apa yang akan aku lalui ke depannya nanti?” batinnya.
“Run, saya akan mengambil pesanan saya besok tepat jam sepuluh pagi.” Suara tegas Vanya mengembalikan pikiran Titha yang mempertanyakan jalan hidupnya.
“Kami pamit dulu, Tha,” ujar Vivian sambil menggendong anaknya yang telah tidur. Dia memerhatikan wajah sembap Titha.
“Iya, Mbak, Tante. Hati-hati,” Titha membalas ucapan Vivian dengan sudah payah agar suaranya terdengar biasa.
Baik Vivian maupun Vanya hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
“Runa, Dian, aku juga mau pulang sekarang,” beri tahu Titha setelah memastikan mobil yang membawa Vivian dan Vanya tidak terlihat.
“Baiklah, Mbak, hati-hati.” Dian melambaikan tangan pada Titha diikuti Runa.
***
Sesuai titahnya tadi pada Titha, kini Vanya tengah berdiri di samping mobilnya untuk menunggu kedatangan perempuan yang sedang mengandung calon cucunya.
Titha menyalakan sein kiri saat melihat Vanya berada di luar mobil. ”Ternyata Tante Vanya sangat menakutkan. Apa yang akan dia lakukan padaku setelah sampai di rumahnya?” batinnya bertanya-tanya.
“Masuklah!” titah Vanya setelah melihat Titha mematikan mesin motornya. “Pak Agus, bawa motor Titha pulang karena dia akan ikut di mobil. Biar saya sendiri yang menyetir,” perintahnya pada sopir keluarganya.
Sebelum Titha masuk memasuki mobil, dia memberikan helm dan kunci motornya kepada Pak Agus. Saat ingin membuka pintu penumpang belakang, teguran Vanya membuat niatnya urung, “Duduk di depan, agar tidur Lyra tidak terganggu.”
Setelah memastikan Titha masuk, Vanya beralih ke belakang kemudi dan mulai menjalankan mobilnya. Titha sangat tegang pada posisinya, sebab dia merasa Vivian yang duduk sambil memangku anaknya di belakang tengah menatapnya intens. Titha merasa laju mobil seperti siput yang jalannya sangat lambat.
“Berapa usia kandunganmu?” celetuk Vivian dengan nada datar.
Titha merasa suaranya diambil tiba-tiba saat mendengar celetukan penuh selidik Vivian. Susah payah dia menelan ludahnya agar bisa menjawab pertanyaan itu, sebelum Vanya yang duduk di sampingnya ikut menimpali. “Enam minggu, Mbak,” beri tahunya mencicit.
Setelah Titha menjawab, keadaan di dalam mobil kembali hening. Titha mengalihkan penglihatannya ke luar jendela yang dirasa lebih menarik. Laju mobil semakin memelan saat lampu merah menyala. Begitu terganti dengan lampu hijau, Titha bingung karena arah mobil tidak berbelok, melainkan melaju lurus. ”Akan dibawa ke mana aku?” batinnya kembali bertanya.
Vanya yang menangkap gelagat Titha pun akhirnya memberitahukan tanpa diminta, “Kita antar Vivian dan anaknya dulu.”
Walau tidak menjawab karena kesusahan mengeluarkan suara, tapi Titha menggantinya dengan anggukan kepala pelan.
***
Sejak Vivian turun dari mobil, Titha semakin gelisah dalam duduknya. Terlebih kini setelah mobil memasuki lingkungan elite tempat tinggal wanita di sampingnya yang masih terlihat sangat cantik, walau usianya sudah tidak muda lagi.
“Turunlah,” pinta Vanya setelah mesin mobil benar-benar mati.
Titha menurut disertai pertanyaan bertubi-tubi dalam hatinya, ”Apakah Dave sedang ada di rumah?”
Titha mengekori langkah gesit Vanya saat memasuki rumah yang didominasi warna putih, sehingga kesan elegan dan megahnya sangat terlihat jelas.
“Duduklah,” Vanya mempersilkan dengan nada tegas pada Titha yang masih berdiri. “Bi, panggil Dave ke sini,” pinta Vanya kepada Bi Rani yang bingung melihat keberadaan Titha.
“Tuan sedang tidak ada di rumah, Bu. Tuan tadi ke luar, tapi tidak memberitahukan kepada saya sedang pergi ke mana tepatnya,” beri tahu Bi Rani dengan jujur.
Vanya mengangguk. “Bawakan dua gelas minuman dingin ke sini, Bi.”
“Maaf, Tante, saya tidak minum minuman dingin. Air putih saja kalau boleh,” tolak Titha malu.
“Bawakan segelas jus jeruk dan lemon hangat, Bi,” ralat Vanya setelah Titha menyetujuinya.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang terhadap janin Dave di dalam rahimmu?” Vanya tidak melepaskan tatapannya pada Titha yang hanya menunduk.
“Maksud, Tante?” cicit Titha kurang mencerna pertanyaan Vanya.
“Apakah kamu akan menggugurkannya?” Vanya tidak menggubris pertanyaan Titha.
Air mata Titha berderai begitu saja saat menyimpulkan pertanyaan Vanya. “Saya mohon, Tante, jangan suruh saya menggugurkan janin tidak bersalah ini,” pinta Titha memelas. Kini dia sudah berlutut dan memohon di depan kaki Vanya.
“Lalu?” Vanya membiarkan saja tindakan Titha.
Belum sempat Titha menjawab, seruan terkejut seseorang menginterupsi sehingga membuat Vanya mendengkus.