Tubuh dan pikiran yang begitu lelah ternyata tidak membuat Titha lebih mudah beristirahat. Setelah pertengkarannya bersama Dave, Titha menjernihkan pikirannya dengan mengguyur tubuhnya di dalam kamar mandi. Dia berharap tindakannya tersebut mampu menghilangkan sedikit saja rasa lelah yang mendera pikiran dan tubuhnya. Namun ternyata, yang diharapkan tidak sesuai dengan keinginannya. Tubuhnya memang lebih segar dan rileks, tapi tidak dengan pikirannya. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah berganti pakaian. Dia juga memaksa matanya untuk terpejam, meski hanya sebentar saja.
Lelah berulang kali mengubah posisi dan usaha memejamkan matanya gagal, akhirnya Titha memilih bangun. Dia ingin menyibukkan diri dengan membersihkan kontrakannya. ”Mungkin dengan melakukan kegiatan, fokus pikiran ini bisa teralih dari pertengkaran tadi,” pikirnya.
***
Tidak terasa sudah satu setengah jam Titha membersihkan kontrakannya sebagai bentuk pelarian pikirannya. Kini dia merasa suntuk dan memutuskan ingin kembali ke florist untuk melepas kepenatan. “Siapa tahu di sana banyak pengunjung seperti tadi, sehingga pikiranku bisa teralih dari bayang-bayang pertengkaran bersama Dave yang masih saja berkelebat,” gumamnya sendiri.
Tanpa membuang waktu, Titha pun segera bersiap sebelum jarum jam semakin cepat berputar.
***
“Bi, Mama belum pulang?” Suara Dave membuat Bi Rani terkejut.
“Belum, Tuan.” Bi Rani mengernyit ketika melihat penampilan kusut anak majikannya.
“Apakah tadi Mama bilang mau pergi ke mana?” Dave dengan malas menuangkan air dingin ke dalam gelas.
“Tidak, Tuan,” Bi Rani menjawab pertanyaan Dave seperlunya. Dia masih terkejut akibat bentakan Dave tadi.
“Mama pergi ditemani sopir?” Dave kembali bertanya setelah meneguk air yang tadi dituangkannya.
Bi Rani mengangguk sebagai jawabannya. “Tuan, ada yang mau ditanyakan lagi? Jika tidak, Bibi mau melanjutkan menyiram tanaman milik Ibu,” ujar Bi Rani hati-hati.
“Tidak. Lanjutkan saja pekerjaan Bibi. Oh ya, saat Mama datang nanti dan menanyakanku, katakan saja aku keluar, Bi,” pinta Dave sebelum Bi Rani bergeser dari posisinya.
“Baik, Tuan. Bibi permisi,” pamit Bi Rani sopan.
“Pergi ke mana Mama? Tidak mungkin ke bandara menjemput Papa. Tadi Papa mengatakan besok baru sampai di Bali, karena masih ada urusan di Jakarta. Apa jangan-jangan menemui Titha? Tapi Mama tidak tahu tempat tinggal Titha,” Dave bertanya-tanya dirinya sendiri.
***
Titha sudah sampai di florist, dia datang membawa beberapa bungkus gorengan yang akan dinikmati bersama pegawainya. Dia melihat pengunjung tidak seramai tadi, hal itu terlihat dari aktivitas pegawainya yang bekerja sambil mengobrol satu sama lain.
“Mbak Titha kenapa datang lagi?” tanya Runa saat melihat atasannya berjalan sambil membawa bungkusan.
“Di rumah bosan, jadi lebih baik di sini berkumpul bersama kalian. Ini ada camilan sedikit, silakan dibagikan dan dinikmati.” Titha menyerahkan bungkusan kepada Runa agar dibagikan.
“Wah, terima kasih banyak. Mbak tahu saja kami lapar dan butuh camilan,” ujar Dian yang telah menghampiri Runa.
“Sama-sama,” balas Titha.
“Mbak tinggal sendirian di sini?” tanya Runa saat membawakan bagian camilan untuk Titha ke ruangannya.
“Iya,” jawab Titha yang mulai menikmati bubur ayamnya. “Mengapa camilannya dibawa ke sini lagi, Run?” Titha mengernyit saat melihat Runa meletakkan camilan di atas meja kerjanya.
“Ini bagian Mbak. Masa yang beli tidak dapat bagian?” jawab Runa dengan nada bercanda. “Oh ya, Mbak tidak makan nasi?” Runa kembali bertanya saat dilihatnya Titha dari pagi hanya makan bubur ayam.
Titha menjawabnya dengan cengiran, “Tidak. Setiap melihat nasi perutku langsung mual, jadi bagaimana bisa aku memakannya? Mungkin efek ngidam.”
Runa tertawa mendengarnya. “Orang ngidam itu aneh-aneh ya, Mbak. Bahkan, ada juga yang ngidam suaminya dan itu sangat lucu menurutku.”
Titha tersenyum kecut mendengar istilah suami dan itu langsung membuat nafsu makannya menguap seketika. Bubur ayam yang dari tadi sudah membuat air liurnya menetes, kini menjadi tidak menarik lagi. Untuk menyamarkan reaksinya, dia hanya mengaduk-aduk malas bubur ayam tersebut.
“Run, Mbak Vivian sudah datang. Di mana kamu taruh pesanannya?” seru Dian dari luar ruangan Titha.
“Mbak, aku izin keluar dulu ya. Katanya Mbak Vivian sudah datang, aku mau mengambilkan pesanannya dulu.” Runa beranjak dari duduknya setelah mendengar seruan Dian. “Oh ya, Mbak, Mbak Vivian itu salah satu pelanggan tetap kita di sini,” beri tahu Runa karena Titha patut mengetahui pelanggannya.
“Oh ya? Kalau begitu aku ikut keluar menemuinya,” balas Titha memanfaatkan keadaan. Dia ikut beranjak dan segera menutup bubur ayamnya dengan sebuah piring.
***
“Selamat malam, Mbak,” sapa Runa dan Titha ramah kepada salah seorang pelanggan tetapnya.
“Oh, jadi ini pengelola florist yang baru sekaligus pengganti Gea?” Perempuan yang bernama Vivian memastikan sambil memberikan senyum ramahnya.
“Iya, Mbak. Saya yang kini mengelola tempat ini sekaligus menggantikan Mbak Gea,” jawab Titha sopan.
“Kenalkan, saya Vivian.” Vivian mengulurkan tangannya.
“Saya Titha.” Titha mengenalkan dirinya dan menerima uluran tangan Vivian.
“Mbak, ini pesanan Anda.” Runa memberikan pesanan Vivian.
“Cantik,” Vivian berkomentar. “Run, rangkaikan satu lagi, tapi pakai Lavender saja,” tambahnya yang langsung disanggupi Runa.
“Silakan duduk dulu sambil menunggu pesanannya selesai, Mbak,” ajak Titha.
Baru saja Vivian hendak menerima ajakan Titha, sebuah suara menginterupsi mereka, “Sudah selesai, Vi?”
Vivian menoleh, begitu juga Titha. Betapa terkejutnya Titha saat melihat pemilik suara itu. Wanita yang sedang menggandeng tangan anak kecil perempuan kini berjalan ke arahnya. Ternyata tidak hanya Titha yang terkejut, wanita tersebut juga. Bahkan, wanita tersebut tidak menyangka akan bertemu Titha di sini.
“Titha?” Vanya bertanya memastikan penglihatannya.
“Tante Vanya?” tanya Titha dengan gugup.
“Kalian sudah saling kenal?” Vivian yang sudah menggendong putrinya ikut bertanya.
“Dia yang Tante ceritakan tadi, Vi,” beri tahu Vanya tanpa basa-basi.
“Jadi, ini selingkuhan Dave?” Pertanyaan Vivian begitu mengoyak d**a Titha. Untung saja suara Vivian pelan. Bahkan, hampir berbisik karena terkejut mendengar penjelasan Vanya, sehingga tidak menarik perhatian pegawai Titha.
“Maaf, Mbak, saya bukan selingkuhan siapa-siapa,” Titha membela diri dengan nada lirih.
“Kalau bukan selingkuhan, mengapa kamu sampai mengandung anak Dave? Padahal sebentar lagi dia akan menikah dengan kekasihnya.” Nada bicara Vivian terdengar mencemooh di telinga Titha. Sikap ramah yang tadi Vivian tampilkan, kini langsung berubah menjadi ketus dan tak bersahabat.
“Kamu bekerja di sini?” Vanya memutus pembicaraan Vivian dan Titha.
“Dia yang menggantikan Gea, Tante,” Vivian menjawab sebelum Titha mengeluarkan suara.
Vanya hanya mengangguk. “Boleh kita bicara sebentar?” Vanya menatap lekat wajah Titha yang memucat. “Vi, jangan berbicara di luar urusan dan batasanmu!” Vanya mengingatkan keponakannya dengan tegas.
“Silakan ikut saya, Tante.” Titha mendahului Vanya menuju ruangannya. Dia berusaha berjalan normal, walau kini kakinya mulai terasa lemas.
Vivian menatap punggung dua wanita berbeda karakter itu dengan tatapan datar, terlebih kepada Titha.
***