“Tha, kamu di mana?” gumam Dave yang masih setia menunggu Titha di bawah pohon sawo di halaman samping kontrakan Titha. Dia sengaja menunggu Titha di sana untuk mengelabui sahabatnya itu. Mengingat letak pohon sawo berada di samping pintu gerbang. Jadi saat Titha datang, sahabatnya tersebut tidak langsung mengetahuinya sedang berkunjung.
“Untung saja Chika sudah berangkat kerja saat aku tiba di sini. Jika tidak, pasti dia akan memberi tahu Titha bahwa aku datang,” Dave kembali bergumam. Sambil menunggu kedatangan Titha, Dave sibuk memainkan ponselnya.
“Titha belum datang juga?” Terdengar suara perempuan menginterupsi kesibukan Dave.
“Eh, belum. Biasanya dia pulang jam berapa ya?” Dave mencoba menggali informasi mengenai Titha dari tetangga kontrakannya.
“Hm, sepertinya sebentar lagi juga datang.” Setelah melihat jam tangannya, Mia—tetangga Titha memberi tahu.
“Baiklah, akan aku menunggunya sebentar lagi. Oh ya, mau berangkat kerja?” Dave berbasa-basi ramah dengan Mia.
“Iya. Aku berangkat dulu ya.” Dave hanya mengangguk saat Mia berpamitan.
Selang lima belas menit Mia berlalu, Dave mendengar suara motor berhenti di depan gerbang dan tak lama terdengar pintu yang terbuat dari besi tersebut bergeser. Dengan waspada Dave menanti siapa yang tengah membuka pintu tersebut. Jantungnya semakin bertalu-talu saat melihat perempuan yang dinantinya masuk dan menutup kembali pintu tersebut. Seperti dugaannya, perempuan itu tidak menyadari keberadaannya yang setia mengamati setiap gerakan Titha.
Dave tetap tidak beranjak meski perempuan yang dicarinya selama ini sudah memarkirkan motornya. Bahkan sudah memasuki rumah kontrakannya. Setelah meyakinkan diri dan bersiap menerima pengusiran Titha kembali, Dave akhirnya bergegas menyambangi Titha.
Dengan ragu-ragu Dave mengetuk pintu kontrakan Titha. Setelah mendengar sahutan dari dalam, Dave menghentikan ketukannya. Dia begitu gelisah membayangkan reaksi Titha saat melihat kedatangannya.
“Tha, tunggu!” Dave cepat menahan tangan Titha yang ingin kembali menutup pintu setelah melihatnya.
“Mau apa kamu datang ke sini, hah?! Tidak adakah tempat lain yang kamu pilih untuk didatangi?” Titha menarik kasar tangannya yang dipegang Dave.
“Tha, kita harus membahas mengenai kehamilanmu.” Pandangan Dave tertuju pada perut Titha.
Seolah mengikuti instingnya, Titha spontan memeluk perutnya posesif. Dia takut Dave berniat menggugurkan anaknya yang tidak tahu apa-apa. Dengan nyalang Titha menatap laki-laki di depannya. “Tidak ada yang perlu dibahas lagi mengenai kehamilanku ini. Lagi pula aku tidak akan menuntut pertanggungjawaban darimu. Oh ya, bukankah dulu sudah pernah aku katakan jika aku tidak akan menggugurkan anakku. Jadi, lupakan jika kamulah menyumbang benih di dalam rahimku ini.”
Dave tidak menyangka jika sahabatnya berkata seperti itu. “Tha, masalah ini tidak semudah yang kamu ucapkan. Apa tanggapan orang-orang nanti mengenaimu? Orang-orang pasti akan menggunjingkanmu. Tha, jangan egois. Kita harus berbicara setidaknya agar anak ini terlahir mempunyai ayah.” Dave memegang pundak Titha.
“Digunjingkan, dicemooh, dihina, dan sebagainya sudah menjadi konsekuensi yang harus aku terima. Kamu tidak usah merisaukan itu, semasih aku mampu menutup mata dan telinga, hal itu bukan masalah untukku,” Titha mencoba membentengi dirinya agar Dave cepat pergi.
“Jangan keras kepala, Tha! Pikirkan masa depan anak itu nanti!” bentak Dave.
Emosi Titha tersulut mendengar bentakan Dave. Dia tersenyum sinis menatap Dave. “Apakah kedatanganmu kali ini untuk menawarkan sebuah tanggung jawab? Tapi bukankah saat aku mendatangimu dan meminta tanggung jawabmu, kamu malah meragukan benih ini?”
“Tha, jangan mempersulit keadaan!” ucap Dave yang mulai frustrasi.
“Siapa yang mempersulit keadaan? Jangan asal main tuduh!” hardik Titha.
Dave mengacak kasar rambutnya. “Kamu yang mempersulit keadaan. Aku mendatangimu baik-baik ingin bertanggung jawab. Bukannya bersyukur anak itu tidak menjadi anak haram, tapi kamu malah menolak tawaran yang aku ajukan. Jangan menjadi wanita munafik, Tha.”
Secepat kilat tangan Titha melayang ke arah pipi Dave. ”Jaga mulut bajinganmu, Davendra! Baik. Aku mau menerima pertanggungjawabanmu, tapi batalkan pernikahanmu dengan Keisha! Apa kamu bisa melakukannya? Aku rasa kamu tidak bisa. Mau tahu karena apa? Karena Keisha segalanya bagimu dan semua yang keluar dari mulutmu aku anggap hanya omong kosong belaka! Sekarang pergilah dari tempat wanita munafik ini!” Titha mendorong tubuh Dave dan segera menutup serta mengunci pintunya.
Tidak mau emosinya semakin berkobar dan memancingnya bertindak di luar kontrol, Dave menuju motor sport-nya kemudian bergegas meninggalkan kontrakan Titha.
Sedangkan di dalam kamarnya tubuh Titha yang bersandar pada daun pintu meluruh. Rasa lelahnya sekarang berlipat-lipat setelah pertengkarannya dengan Dave. Semasa persahabatannya dengan Dave, baru kali ini mereka bertengkar sesengit ini.
“Nak, maafkan Mama. Meskipun nanti kita hanya hidup berdua, Mama janji akan selalu melindungimu dari apa pun,” ujar Titha sambil mengelus perutnya. Tidak ada air mata yang menetes, melainkan rasa sesak yang sangat menyengat rongga dadanya.
***
Dave memasuki rumahnya dengan wajah memerah, menahan emosi. Bahkan, tadi dia membentak Bi Rani yang baru kembali dari kampung halamannya—pembantu paruh baya di rumahnya, karena sedikit lambat membukakannya pintu gerbang.
“Dave,” tegur Vanya dengan suara dingin.
“Jika Mama menanyakan permasalahanku? Aku beri tahukan bahwa permasalahanku sudah selesai. Sesuai rencana, pernikahanku dengan Keisha akan tetap berlangsung,” ujar Dave tak kalah dingin.
“Secepat itu?” Nada yang keluar dari mulut Vanya terkesan meremehkan. “Nasib Titha dan benihmu di dalam rahimnya bagaimana? Keisha mau menerimamu meski dia tahu calon suaminya telah menghamili perempuan lain?” cecar Vanya.
“Ma, perempuan munafik itu tidak mau menerima tanggung jawabku. Dia menyuruhku agar tidak usah merisaukan keadaannya dan masa depan anaknya kelak, jadi buat apa aku harus repot memikirkannya lagi,” balas Dave dengan suara tinggi.
“Perempuan munafik? Jadi sekarang Titha menjadi perempuan munafik. Tadi saat di hadapan Keisha, Mama menyebutnya murahan, kamu marah besar. Apa jangan-jangan anak yang sedang dikandung Titha bukan anakmu?” selidik Vanya dengan sinis.
“Ma! Titha mengandung benihku. Bahkan, saat aku menidurinya, dia masih tersegel. Aku berani memastikan jika anak itu adalah darah dagingku sendiri!” jawab Dave yakin dan menggebu-gebu.
“Jika begitu mengapa kamu tidak berusaha memperjuangkannya agar dia mau menerima tanggung jawabmu? Jangan jadi pengecut karena sebuah penolakan, Davendra! Aku tidak pernah mendidikmu menjadi laki-laki lemah dan b******n seperti ini!” Vanya membalas ucapan anaknya dengan nada mengintimidasi.
“Jangan membiarkan masalah beranak-pinak karena sikap pengecutmu, Dave! Karena ini masalah serius dan menyangkut nama baik kedua keluarga, maka aku putuskan untuk mengundang keluarga Keisha besok malam.” Setelah mengatakan itu Vanya melangkah keluar, meninggalkan putranya yang terlihat masih mencerna perkataannya.