Mendung di siang hari sedikit pun tidak berpengaruh pada panasnya pikiran dan hati Keisha. Dia menatap nanar laki-laki yang kurang lebih dua minggu lagi akan menjadi suaminya. Laki-laki yang sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam, seperti ingin tenggelam pada jernihnya air kolam ikan. Sekuat tenaga Keisha melonggarkan impitan yang tak kasatmata di bagian dadanya. Kepalan tangannya terlalu kencang, sehingga membuat buku-bukunya memutih.
“Jangan kira setelah kamu berkata jujur padaku, aku akan membatalkan begitu saja pernikahan yang sudah jauh-jauh hari kita susun dan nantikan.” Akhirnya Keisha mampu mengeluarkan suaranya setelah keterkejutannya berhasil dia redakan. Dia tidak peduli jika suaranya terdengar tajam dan menggeram.
Dave yang tadinya tertunduk, secara spontan mengangkat kepalanya setelah pada akhirnya mendengar suara Keisha.
“Apakah orang tuamu mengetahuinya, terutama Mama?” Keisha kembali bersuara saat pandangannya dengan Dave beradu.
Bagaikan anak kecil, Dave menggeleng polos. “Tidak. Baru kamu yang aku beri tahu.”
“Bawa aku menemui perempuan yang tengah mengandung anakmu. Aku ingin berbicara dengannya.” Mata Dave membesar mendengar permintaan tak terduga Keisha yang diucapkan dengan nada datar.
“Menemuinya? Buat apa?” Dave belum bisa menangkap maksud dan tujuan Keisha yang ingin menemui Titha.
Keisha tertawa hambar kemudian mendengkus. “Buat apa tanyamu? Yang pasti ingin segera menyelesaikannya sebelum hari pernikahan kita tiba.”
“Mama!” pekik Keisha. Dia terpaku saat melihat Vanya sudah berdiri di sampingnya sambil membawa nampan. Wajah Vanya terlihat datar ketika Keisha menoleh.
Mendengar pekikan Keisha langsung membuat Dave ikut menolehkan kepalanya dan tertampanglah sorot mata sang ibu yang seakan mengulitinya. “Ma ... ma,” ucapnya terbata.
“Perempuan mana yang kamu hamili, Davendra?!” geram Vanya sambil membanting nampan berisi dua gelas orange juice yang dibawanya.
“Ma, tenanglah. Aku ....”
“Jawab pertanyaanku, Davendra!” hardik Vanya sehingga membuat Keisha dan Dave tersentak. “Apa jangan-jangan, kamu meniduri seorang jalang dan kini mencoba menuntut atau mengemis pertanggungjawaban darimu?” tebaknya penuh amarah.
Mendengar kalimat tajam ibunya seketika membuat Dave balik menatap nyalang wanita yang sangat diseganinya. Dia tidak terima Titha disamakan dengan perempuan jalang atau murahan. “Ma! Titha bukan jalang. Dia juga tidak mengemis pertanggungjawabanku! Bahkan, kini dia sangat susah dihubungi, apalagi ditemui!” bentak Dave pada akhirnya.
“Titha? Maksudmu, Titha sahabatmu?” Vanya terhuyung setelah Dave mengangguk tanpa sedikit pun keraguan.
Keisha dengan cepat memegangi lengan calon ibu mertuanya agar tidak limbung. Keisha menatap Dave dengan tatapan terluka setelah mengetahui identitas perempuan yang kini tengah menampung benih calon suaminya. Menurut Keisha, perkataan Dave tersebut terkesan membela perempuan penghancur rencana pernikahannya.
“Sudah umur berapa kehamilannya?” Dengan nada dingin dan tatapan menusuk Vanya yang kembali menguasai diri menghampiri anak laki-laki kebanggaannya.
“Pastinya aku tidak tahu, Ma. Namun, aku memerkosa Titha saat Keisha memutuskan secara sepihak hubungan kami,” Dave menjawab dengan kepala tertunduk.
Keisha menutup mulutnya saat mendengar Dave melontarkan kata memerkosa dengan santainya. Perasaannya kini menjadi semakin sangat kacau. Di satu sisi dia marah mengetahui pengakuan Dave, tapi di sisi lain dirinya juga kasihan pada Titha.
Tanpa aba-aba, Vanya menampar pipi Dave untuk pertama kalinya dengan garang. “Dave! Aku tidak pernah membesarkan atau mendidikmu untuk menjadi b******n! Perbuatanmu ini sungguh-sungguh melukaiku sebagai wanita yang telah melahirkanmu!”
Keisha yang tidak kuasa mengetahui kenyataan pun, lebih memilih menyingkir. Entah kenyataan apalagi yang akan dia dengar atau ketahui jika masih bergeming di posisinya. Dia meninggalkan begitu saja seorang ibu yang sedang meluapkan kekecewaan dan amarah kepada anaknya yang telah melakukan kesalahan besar.
Mengetahui Keisha pulang tanpa pamit, baik Dave maupun Vanya tidak mencegah atau mengejarnya. Mereka tengah larut dalam pemikiran masing-masing yang tengah berkecamuk.
“Selesaikan masalahmu dengan Titha sebelum hari pernikahanmu dan Keisha tiba!” Setelah mengatakan itu Vanya meninggalkan Dave sendirian.
“s**t! Aku harus menemukan Titha hari ini juga,” geram Dave sambil meremas kasar rambutnya sendiri.
***
Setelah pintu gerbangnya dibuka, Keisha menancap pedal gas mobilnya dengan kencang dan memberhentikannya secara mendadak sehingga membuat Angga—tukang kebun yang bekerja di rumahnya heran.
“Tadi saat keluar rumah, Nona sangat bahagia, tapi sekarang kenapa seperti orang kesetanan?” gumam Angga.
Dengan kasar Keisha membanting pintu mobilnya dan berlari memasuki rumah.
“Anak orang kaya di mana-mana sama. Kalau ada masalah pasti barang yang dijadikan pelampiasan, mentang-mentang jika rusak bisa membelinya kembali,” Angga kembali mengomentari tindakan anak majikannya.
***
Keisha cepat mengempaskan tubuhnya pada ranjang saat sudah berada di kamar tidurnya. Dia menumpahkan air matanya setelah mengetahui kenyataan yang sangat meremas hatinya. Terlebih pelakunya adalah calon suaminya sendiri. Pikirannya kembali teringat saat detik-detik Dave membuat pengakuan.
Seperti biasa Keisha ingin makan siang bersama calon suami dan mertuanya. Setelah sampai, dia membantu menyiapkan menu makan siang. Keisha sudah menganggap rumah Dave seperti rumahnya sendiri. Saat makanan sudah siap disantap, mereka pun memulai acara makan siang. Jam makan siang usai, Dave dan Keisha menghabiskan waktu di dekat kolam ikan.
Sesuai yang diucapkan Dave kemarin malam, dia akan memberi tahu sebuah kenyataan pahit kepada calon istrinya. Dave sudah siap jika Keisha membatalkan pernikahan mereka.
“Sayang, katanya tadi ingin mengatakan sesuatu. Ayo katakanlah.” Keisha bergelayut manja pada lengan Dave yang pandangannya fokus mengamati aktivitas ikan di dalam kolam.
“Key, mungkin setelah aku mengatakan ini sikapmu akan sangat berubah padaku. Bahkan, berubah menjadi sangat membenciku,” Dave berkata tanpa mengalihkan perhatiannya.
Keisha mengernyit mendengar perkataan Dave yang dianggapnya aneh. “Katakan saja, Sayang. Mana mungkin aku bisa marah pada calon suamiku yang sangat penyabar ini.”
Dave mengembuskan napas sebelum meluluskan niatnya kemarin malam. “Key, sebelumnya aku minta maaf. Sebenarnya aku telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan sulit dimaafkan,” Dave menghentikan kalimatnya saat Keisha menatapnya tak mengerti. “Key, aku telah menghamili seorang perempuan,” sambungnya.
Tubuh Keisha seketika menegang mendengar kabar tanpa basa-basi dari mulut Dave. Dia merasa seluruh anggota tubuhnya terlepas berkeping-keping. “Kamu ....”
“Iya. Ada perempuan yang sedang mengandung anakku,” aku Dave jujur.
Sebuah tamparan bersarang pada pipi Dave. Keisha segera beranjak dan menjauh dari samping Dave.
***
Titha sudah merapikan barang bawaannya, dia tengah bersiap pulang. Ramainya pengunjung yang datang ke florist tempat kerja barunya membuat tubuhnya kelelahan. Setelah memberi tahu pegawainya bahwa dirinya pulang lebih dulu dan kemungkinan malam nanti akan berkunjung lagi, dia segera mengambil tas selempangnya. Para pegawainya sendiri menyarankan agar Titha tidak usah datang lagi saat florist hendak tutup dan menyuruhnya untuk beristirahat saja.
“Aku pulang duluan. Jika ada apa-apa hubungi saja aku,” pamit Titha kepada para pegawainya.
“Hati-hati, Mbak. Pelan-pelan saja bawa motornya,” komentar Runa, salah satu pegawainya.
“Iya, terima kasih,” balas Titha kemudian menuju motor bebeknya.
***