Sesuai perkataan Vera kemarin, siang ini Titha diperkenalkan kepada sepupu Vera dan para karyawan di florist. Gea, sepupu Vera menyambutnya dengan ramah. Tidak hanya Gea, para karyawannya pun sangat ramah. Titha bersyukur karena tidak menemui kesulitan mencari pekerjaan lagi setelah berhenti dari salon. Bahkan, kini rekan kerja di tempat barunya pun cukup terbuka menerimanya. Walau tidak menutup kemungkinan jika nanti permasalahan-permasalahan kecil mulai ditemuinya.
Titha meminta kepada Vera agar dia langsung diizinkan bekerja. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja barunya. Karena Vera sudah terlalu baik padanya, maka Titha ingin membalasnya dengan bersungguh-sungguh menjalankan amanat perempuan tersebut.
“Mbak Gea, mohon bimbingannya ya,” pinta Titha saat Gea mengajaknya melihat-lihat para karyawan yang sedang bekerja.
“Santai saja, Tha. Bekerja di sini tidak jauh berbeda dengan di salon. Jika di salon kamu harus merawat dan mempercantik manusia. Namun, di sini kamu harus merawat dan mempercantik tanaman, terutama bunga,” Gea memberikan gambaran yang logis kepada Titha. “Ngomong-ngomong panggil Gea saja, aku merasa tua jika dipanggil Mbak,” candanya yang membuat Titha tertawa.
Titha menanggapinya dengan anggukan kepala.
“Merawat tanaman, terlebih bunga ibarat merawat diri sendiri. Dari hati dan bersungguh-sungguh,” Gea memberikan perumpamaan.
“Setuju, Mbak. Eh maaf, Gea maksudku,” ralat Titha.
“Gee, berarti tugasku nanti selain membuat laporan penjualan, aku juga harus memantau kinerja para karyawan?” Titha memperjelas mengenai tugasnya.
“Benar, Tha. Selain itu kamu juga harus sesekali memenuhi undangan pelanggan tetap di sini. Kamu tidak usah takut, rata-rata pelanggan tetap di sini ramah dan baik,” kata Gea.
“Baiklah, Gee. Semoga aku bisa mengelola tempat ini dan menggantikan tugasmu dengan baik,” cetus Titha.
“Mbak Vera sudah bercerita banyak tentangmu. Kerja kerasmu, disiplinmu, kecepatan daya tangkap, dan praktikmu. Aku yakin kamu juga cepat belajar dan terbiasa dengan pekerjaan di sini,” puji Gea.
“Mbak Vera sepertinya berlebihan menilaiku, Gee,” balas Titha merendah.
“Oh ya, Tha, karena kamu sedang mengandung, jadi jangan mengerjakan pekerjaan yang berat ya. Jangan sampai nanti kamu kelelahan.” Ucapan Gea langsung membuat bibir Titha terkatup rapat.
“Kamu mengetahuinya?” Pertanyaan lirih Titha hanya diangguki dengan rasa bersalah oleh Gea.
“Maaf jika aku lancang, Tha. Namun kamu tenang saja, karena aku sudah memberitahukan kepada para karyawan di sini jika suamimu sedang di luar kota,” jelas Gea.
“Gee, satu kebohongan akan membuat kebohongan yang lain,” lirih Titha.
Gea menatap prihatin Titha. “Tha, bayimu tidak tahu apa-apa, jadi lindungilah dia dari cemoohan orang. Jangan biarkan orang merendahkan bayimu. Walau harus berbohong, setidaknya kamu sudah berupaya dalam melindunginya,” Gea memberikan pengertian kepada Titha.
“Baiklah, apakah kamu tidak risi denganku?” selidik Titha.
“Karena keadaanmu? Tha, aku tidak menilai orang dari luarnya saja, meski penampilan luar yang memang pertama dilihat. Pasti ada sebabnya kamu seperti ini dan memilih tidak menikah padahal sedang mengandung. Aku tidak mempunyai hak menuduhmu ini atau itu, karena aku juga tidak tahu dengan jalan hidupku kelak. Sudahlah, jalani saja seperti air, Tha. Biarkan saja orang berbicara semasih mereka memakai mulutnya sendiri.” Gea terkekeh di akhir kalimat sehingga membuat Titha terharu.
***
Semenjak pertunangannya dengan Keisha, Dave tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap malam dia selalu gelisah. Seperti sekarang ini, yang dia lakukan hanya membolak-balikkan tubuhnya tak jelas di atas ranjang.
Sambil mengumpat Dave duduk, kemudian mengacak rambutnya kasar. Diraihnya ponsel dari nakas di samping kanannya. Dengan tak sabar dia mencari nama pada kontak ponselnya, lalu menghubunginya.
“Anda terhubung dengan voicemail service. Silakan tinggalkan pesan setelah nada ....” Dave kembali mengumpat saat suara operator kembali menjawabnya.
“Dari dua minggu lalu aku terus menghubungimu dan jawabannya pun selalu sama,” kata Dave putus asa pada dirinya sendiri. “Kamu juga tidak pernah terlihat lagi di tempatmu bekerja,” imbuhnya kesal sekaligus frustrasi.
Dave tersentak dan pikiran buruk terus terbesit di benaknya. Dia menyambar kunci motor sport-nya dan bergegas ingin pergi menuju suatu tempat.
“Dave, mau ke mana lagi? Ini sudah tengah malam,” tegur sang ibu yang keluar dari kamarnya.
“Aku ingin mencari angin segar, Ma. Rasanya sangat pengap,” Dave menjawab sambil mengenakan jaket kulit kesayangannya. “Mama mengapa keluar?” tanyanya bingung.
“Tadi Papamu menelepon dan memberitahukan jika penerbangannya pulang besok siang hari,” sahut Vanya.
Dave hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Saat Dave ingin menuju pintu garasi dari dalam rumahnya, sang ibu menahannya. “Dave, daripada kamu ingin mencari angin yang bisa membuatmu sakit, lebih baik temani Mama mengobrol sambil menonton berita malam. Siapa tahu ada informasi yang menarik untuk dibahas.” Tanpa persetujuan Vanya menggiring Dave menuju ruang keluarga.
“Calon pengantin itu sudah biasa gelisah atau suntuk berada di rumah sebelum hari pernikahannya tiba. Itu hal yang wajar, Dave. Kuncinya kamu harus menikmati proses ini karena hanya akan kamu alami sekali seumur hidup,” celoteh Vanya yang mengira kegelisahan putranya karena menjelang pernikahannya.
Pernikahan Dave dengan Keisha akan berlangsung dua minggu lagi, persiapannya pun sudah 90%. Keisha bahkan hampir setiap hari datang mengontrol persiapan pernikahan itu bersama Dave. Dave dan Keisha akan melangsungkan upacara pernikahan serta resepsi di salah satu villa mewah milik keluarga Sakera di daerah Canggu.
Dave percuma menolak keinginan ibunya, mengingat sifat sang ibu yang sangat keras kepala jika sudah seperti ini.
“Kamu mau Mama buatkan teh?” tawar Vanya setelah menyuruh Dave duduk dan menyalakan televisi.
“Boleh, Ma,” Dave menjawab dengan nada malas.
Tak sampai sepuluh menit, kini Vanya dan Dave sudah menikmati teh hangatnya sambil menonton berita malam. Saat Dave ingin memindahkan saluran televisi, dengan cepat Vanya melarangnya sebab berita yang disajikan ternyata menarik perhatian sang ibu.
“Selamat malam, Pemirsa. Saya mengabarkan kejadian terkini yang berhasil dihimpun reporter kami di lapangan.”
“Pukul 20.00 Wita tadi, warga di lingkungan Sesetan—Denpasar Selatan digegerkan oleh seorang perempuan yang sudah tak bernyawa di dalam kamar kontrakannya dan diduga menenggak racun serangga. Diprediksikan juga jika korban nekat mengakhiri hidupnya lantaran hamil dan ayah janin tersebut lari dari tanggung jawab. Dari keterangan para saksi di sekitar tempat tinggal korban, kekasih korban sudah beberapa hari belakangan ini tidak pernah terlihat mengunjungi korban. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, pihak kepolisian akan membawa jenazah korban ke rumah sakit sampai keluarga korban yang telah dihubungi melalui telepon datang. Polisi juga akan memanggil kekasih korban untuk dimintai keterangan.”
“Demikian berita malam hari ini, kami tim yang bertugas undur diri.”
Setelah mendengar berita singkat tersebut gelas yang dipegang Dave menyentuh lantai tanpa diperintah. Vanya yang sangat serius menyimak pemberitaan tersebut sampai menoleh. “Menghayati sekali, Dave? Sampai menjatuhkan gelas.” Vanya menggeleng lalu berdiri berniat membersihkan tumpahan teh tersebut.
Pikiran Dave langsung terarah pada Titha yang sudah dua minggu ini sangat sulit dihubungi. “Titha,” gumamnya.
“Anak muda sekarang, kalau berbuat itu tidak pernah memikirkan dampak yang ditimbulkan ke depannya. Jika tidak mau mempertanggungjawabkan hasil perbuatannya dan mengambil risiko, buat apa melakukan hal yang di luar batas. Yang sudah jelas-jelas akan membuahkan hasil. Jikapun hanya sebatas ingin bersenang-senang atau memenuhi nafsu belaka, kenapa tidak dilakukan dengan aman,” komentar Vanya sambil mengepel.
“Jika sudah seperti ini siapa yang akan bertangung jawab? Penyesalan pun Mama rasa percuma, karena nyawa sudah hilang sia-sia. Bukan hanya satu nyawa, melainkan dua,” Vanya menambahkan dengan nada santai.
“Jangan hanya enaknya saja yang mau dinikmati bersama, tapi pikirkan juga hasil yang akan tumbuh nantinya. Hal tersebut tidak bisa hanya dilakukan oleh salah satu kepala saja, tapi harus keduanya,” Vanya terus saja berkomentar sehingga dia tidak menyadari raut pias anaknya yang mendengar.
Komentar sang ibu begitu menampar telak Dave. Pikiran buruk kembali menyergapnya. ”Bagaimana jika Titha mengambil jalan pintas seperti itu karena tertekan? Besok aku harus segera mengakui dan membicarakannya kepada Keisha, sebelum pernikahan ini terlaksana. Aku harus menerima konsekuensi terburuk dari perbuatanku. Aku tidak mau nyawa salah satu dari mereka hilang gara-garaku,” batinnya.
“Ma, aku sudah ngantuk. Aku tidur lebih dulu.” Dave segera mencium kening Vanya, lalu melesat menuju kamarnya tanpa menghiraukan keterkejutan sang ibu.