Di dalam ruangan bergaya modern telah duduk dua perempuan saling berhadapan. Salah seorang menatap intens lawannya, sedangkan yang ditatap hanya menundukkan kepala sambil menautkan jari-jemarinya satu sama lain, karena rasa gugup mulai menderanya.
“Tha, beri tahu Mbak apa alasanmu ingin berhenti dari salon ini? Apakah kamu ada perseteruan dengan salah satu karyawan di sini?” Vera—pemilik salon tempat Titha bekerja langsung menanyakan alasan Titha ingin resign.
“Tidak, Mbak. Aku tidak sedang berseteru dengan teman-teman di sini,” sangkal Titha cepat sehingga kini mereka saling menatap.
“Lalu apa? Gajimu kurang?” selidik Vera serius.
Sekali lagi Titha menyangkal atasannya, “Bukan, Mbak. Bukan itu penyebabnya.”
Vera mengerutkan kening semakin dalam setelah mendengar ucapan Titha. Dia heran karena secara tiba-tiba salah seorang karyawan yang menjadi orang kepercayaannya ingin mengundurkan diri dari salonnya.
“Apakah aku harus berterus terang pada Mbak Vera? Tapi apakah dia bisa mengerti keadaanku dan tidak memojokkanku?” batin Titha menimang.
“Jika kamu tidak memberikan alasan yang jelas dan masuk akal, dengan tegas Mbak menolak surat pengunduran dirimu. Hanya kamu orang kepercayaan Mbak di sini. Hanya kamu juga orang yang Mbak percayai untuk meng-handle salon ini ketika Mbak ke luar kota,” tegas Vera.
Mendengar penolakan secara terus-terang Vera membuat Titha tak bisa berkutik.
“Tha,” panggil Vera saat melihat Titha hanya bergeming, seolah tidak menanggapi ucapannya. “Apa alasanmu yang sebenarnya?” desak Vera yang kini telah berdiri dari kursi putarnya dan menepuk lembut bahu Titha.
“Mbak, aku selalu mual dan pusing jika menghirup wewangian. Entah itu dari cream, masker atau cat rambut yang ada di salon ini,” cicit Titha. Dia tidak tahu harus memberi tahu Vera dari mana.
Vera mengernyit mendengar cicitan Titha yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Titha sudah bekerja padanya saat salon yang sekarang cukup dikenal ini masih dirintis, jadi kenapa baru sekarang perempuan di hadapannya tersebut mempermasalahkan hal itu. “Mbak kurang paham dan menangkap ke mana arah pembicaraanmu, Tha. Bisa kamu katakan secara gamblang agar Mbak paham dan tidak bertele-tele?” suruhnya.
Titha menatap intens Vera yang tampak kebingungan. “Mbak, aku hamil dan sedang mengalami fase ngidam.” Akhirnya terlontar juga pengakuan akan kenyataan keadaan dirinya yang sedang berbadan dua, yang berhasil membuat Vera terhuyung.
Dengan sigap Titha memegang lengan Vera yang hampir saja limbung akibat pemberitahuan tak terduga darinya. “Mbak, tidak apa-apa?” tanya Titha cemas.
Pandangan Vera tak fokus menatap perempuan di depannya yang sedang memegangi tangannya. “Tha, kamu jangan bercanda dan mengada-ada,” komentarnya setelah dia berhasil memperoleh sedikit kesadarannya.
“Aku tidak bercanda, Mbak. Memang kenyataannya sekarang aku tengah hamil.” Titha sudah tidak mempunyai alasan untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.
Titha sudah tidak ambil pusing tentang pemikiran orang terhadap dirinya. Dia tidak memedulikan lagi pandangan orang yang menganggapnya perempuan liar, jalang, murahan, atau apa. Hanya dia dan Tuhan yang mengetahui kebenaran kisahnya. Dia sudah berdosa dengan keadaannya yang hamil di luar tali pernikahan. Sekarang dia akan menebusnya dengan merawat dan menjaga titipan yang Tuhan berikan.
“Apakah kamu akan menikah?” Pertanyaan Vera langsung ditanggapi gelengan kepala oleh Titha.
Seolah mengerti, Vera tidak bertanya lebih jauh lagi. Dia menghormati privasi karyawan kepercayaannya ini. “Jika kamu ke luar dari sini, di mana kamu akan bekerja? Kamu juga harus memikirkan kehidupan anakmu kelak. Tanggung jawabmu dari segi materi akan lebih besar ke depannya, Tha.”
“Tentunya aku akan mulai mencari pekerjaan lain, Mbak. Andaikan tidak mual dan pusing saat melayani pengunjung, pasti aku akan tetap bekerja di sini. Tempat ini bagaikan rumah keduaku, apalagi Mbak dan yang lainnya sudah seperti keluargaku sendiri,” tutur Titha.
Vera mendengarkan penuturan Titha sambil berpikir. “Tha, bagaimana jika kamu bekerja di tempat usaha Mbak yang lain?” tawar Vera setelah menemukan ide.
“Maksudnya?” Setahu Titha, Vera hanya mempunyai usaha yang bergerak di bidang kecantikan.
“Mbak sebenarnya mempunyai usaha lain. Florist tepatnya. Hanya saja yang Mbak berikan tanggung jawab untuk meng-handle di sana adalah sepupu. Mbak hanya memberikan modalnya saja pada florist tersebut. Akan tetapi, karena sepupu Mbak akan menikah dan ikut suaminya ke luar kota, jadi Mbak berencana menjual kembali florist tersebut. Saat ini Mbak belum bisa mengurus dua jenis bidang usaha yang berbeda. Apalagi Mbak sedang mengurus cabang baru untuk salon ini,” jelasnya.
Titha belum memberikan tanggapannya. Dia hanya mendengarkan sekaligus mencerna dengan serius penjelasan yang disampaikan Vera.
“Jika Mbak tutup, Mbak kasihan pada para karyawan di sana, Tha. Apalagi sekarang ini sangat susah mencari pekerjaan tanpa memiliki keahlian khusus. Hanya berbekal dan mengandalkan ijasah SMP atau SMA saja tidak cukup,” Vera menambahkan.
Titha manggut-manggut. “Di mana alamatnya, Mbak?” tanyanya tiba-tiba.
“Di jalan Hayam Wuruk, Tha. Jika kamu mau, kamu bisa menggantikan posisi sepupu Mbak untuk meng-handle usaha itu. Kamu hanya tinggal memberikan laporan penjualan kepada Mbak sebulan sekali. Bagaimana?” Vera menawarkan.
“Full time atau sistem shift kerjanya, Mbak?” Titha tertarik dengan pekerjaan yang ditawarkan atasannya ini.
“Sama seperti di sini, Tha. Sistem shift. Apabila kamu tertarik, kamu tidak perlu mengikuti jadwal mereka. Kamu cukup datang pagi dan pulangnya bebas. Pokoknya jam berapa pun kamu pulang itu terserah. Yang penting satu hari itu kamu dapat datang. Ibaratnya, anggaplah usaha itu milikmu sendiri,” Vera menyampaikan kebijakan khususnya kepada Titha.
“Bagaimana jika ada karyawan lain yang memprotesnya, Mbak? Takutnya mereka memusuhiku karena tidak mengikuti aturan yang berlaku,” Titha menanyakan masalah-masalah umum yang biasa terjadi di dunia kerja antar karyawan.
“Kamu tenang saja. Nanti Mbak yang akan mengenalkan kamu kepada mereka. Kamu mau menerima penawaran Mbak?” Vera menatap Titha penuh harap.
“Baiklah, Mbak, aku menerimanya,” putus Titha pada akhirnya. “Terima kasih karena Mbak selalu membantuku selama aku berada di kota ini,” ucapnya tulus.
“Sama-sama, Tha. Kamu juga sangat berjasa dan banyak membantu Mbak, sehingga usaha Mbak menjadi seperti sekarang ini,” balas Vera.
Sebelum salon Vera cukup dikenal seperti sekarang, dulu hanyalah salon rumahan dan pegawainya pun hanya Titha. Jatuh bangun serta kalah bersaing sudah sering dihadapi Vera dan Titha dalam perjalanan salonnya. Oleh karena itu, Vera sangat menghargai jasa Titha dan sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.
Titha sendiri sangat bersyukur. Selain mempunyai Chika, dia juga memiliki Vera yang begitu menyayangi dan memedulikannya.
***