Chika membekap mulutnya karena saking terkejutnya mendengar ucapan Titha yang tidak terpikirkan olehnya.
“Dia telah memerkosaku! Dulu Dave bilang akan bertangung jawab, tapi saat perbuatannya kini sudah membuahkan hasil, dia malah meragukan benih ini,” Titha melanjutkan dengan nada getir dan pandangan nanar.
Chika bisa mengerti apa yang dirasakan Titha. Chika kembali membawa Titha ke pelukannya, tanpa mengatakan apa-apa karena dia sendiri masih terlalu shock mendengar kenyataan ini.
Setelah hampir satu jam keheningan menyelimuti mereka, Chika kembali memberanikan diri bertanya, “Apakah karena keadaanmu sekarang, belakangan ini kamu jarang bekerja?”
Titha melepaskan pelukan yang Chika berikan dan mengangguk. “Kurang tahu juga, Kak. Tapi dari kemarin lusa, aku selalu mual jika mencium wewangian yang ada di salon. Entah itu cream, masker wajah, dan lainnya,” akunya jujur.
“Mungkin saat ini kamu sedang mengalami fase ngidam, Tha. Saran Kakak, sebaiknya kamu mengambil cuti saja dulu dari salon. Takutnya nanti terjadi hal buruk pada kesehatan kandunganmu,” Chika memberikan sarannya.
“Aku berniat resign, Kak. Besok jika kondisiku sudah lebih baik, aku akan berbicara langsung pada Mbak Vera dan menyampaikan niatku ini,” balas Titha. “Apakah Kakak mau membantuku mencari pekerjaan di tempat lain, setelah aku berhenti dari salon?” tanyanya penuh harap.
“Tenang, Tha. Nanti Kakak bantu kamu mencari pekerjaan yang cocok dengan kondisimu,” balas Chika. “Tha, apakah kamu tidak mau memeriksakan kandunganmu? Maksud Kakak, apakah kamu tidak mau mengetahui usia kandunganmu dan perkembangan janinmu?” tanya Chika hati-hati.
Melihat ekspresi wajah Titha yang seperti takut bercampur kebingungan, Chika kembali menambahkan, “Tenang, Tha. Kakak akan menemanimu. Setidaknya kamu masih bisa bersyukur, karena sekarang tinggal di tempat yang hampir menjadi kota metropolitan, seperti Jakarta. Jika kamu tinggal di kampung halaman dengan keadaan seperti sekarang, sangat sulit dibayangkan beban mental yang harus kamu pikul.”
“Terima kasih, Kak. Kakak mau mengerti keadaanku dan tidak menyudutkanku meski aku belum menceritakan secara jelas kronologi kejadiannya,” ungkap Titha atas rasa syukurnya karena mempunyai sahabat seperti Chika.
“Kita sama-sama perempuan, jadi tidak baik untuk Kakak menghakimimu. Apalagi Kakak belum tahu pasti penyebabnya,” jelas Chika lembut. “Tha, sekarang kamu harus makan, nanti sore Kakak antar kamu periksa,” ujarnya.
Titha menahan tangan Chika yang hendak beranjak dari ranjangnya. “Kak, semenjak kemarin aku selalu mual jika melihat nasi,” cicitnya malu.
Chika tersenyum. “Lalu sekarang kamu mau makan apa? Biar Kakak belikan.” Chika menyelipkan anak rambut Titha yang berantakan
“Bubur ayam yang dicampur daun salam, tapi tidak berisi daun seledri,” ucap Titha sambil beberapa kali menelan salivanya saat membayangkan makanan itu masuk ke dalam perutnya.
Chika tertawa mendengarnya. “Jika begitu harus buat sendiri, Tha. Baiklah, kalau begitu Kakak akan membuatkannya untukmu. Kamu punya daun salam? Kebutuhan dapur Kakak kebetulan sedang kosong.” Chika menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena lupa membeli kebutuhan dapur.
“Ada, Kak. Di kulkas. Baru seminggu yang lalu aku membeli kebutuhan dapur.” Setelah mendengar jawabannya, Chika dengan cepat melesat menuju dapur.
Titha merasa tidak enak telah merepotkan sahabatnya. Dengan gemetar, tangannya mengelus lembut perutnya yang masih datar. “Nak, jangan menyusahkan banyak orang. Sehatlah selalu di dalam sana, agar Mama bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu kelak,” ucapnya dengan nada sayang.
***
Dave dan Keisha sangat bahagia, mereka terlihat cocok bersanding. Apalagi pakaian yang melekat pada tubuh keduanya sangat serasi. Ucapan selamat dari keluarga dan para sahabat terus saja mereka terima atas pertunangannya yang berlangsung lancar setengah jam lalu. Cincin pertunangan telah melingkar pada jari manis sebelah kiri keduanya. Setelah acara tukar cincin tadi, kini mereka dan para keluarga serta kerabat sedang menikmati hidangan yang tersedia.
Senyum manis Keisha selalu merekah menghiasi bibirnya yang berlapis lipstick berwarna peach, tapi tidak dengan Dave yang entah kenapa dari tadi perasaannya sangat gelisah. Seperti ada yang mengganjal, tapi dia tidak tahu hal apa. Semenjak dia diusir oleh Titha, mereka tidak berkomunikasi lagi. Dave sadar dirinya sudah berlaku kejam kepada Titha, tapi dia juga tidak mau melepaskan Keisha begitu saja. Terlebih saat mengingat perjuangan panjangnya untuk mempertahankan hubungannya dengan Keisha.
“Seharusnya pada acaraku yang berbahagia ini, kamu datang dan memberiku ucapan selamat, Tha,” gumam Dave sambil memerhatikan sekitarnya.
“Apa, Sayang? Tadi kamu berbicara apa? Maaf, aku tidak begitu mendengarnya,” Keisha menanyakan kembali gumaman yang sempat didengarnya.
Dave terperanjat karena melupakan jika saat ini dirinya masih berdiri sambil memeluk pinggang Keisha. “Ah tidak, Sayang. Aku tadi hanya memuji kecantikanmu malam ini,” kilahnya sambil memperkuat rengkuhannya pada pinggang Keisha. ”Maafkan aku, Key. Aku belum bisa mengatakannya secara jujur padamu, apalagi hari yang kita nanti-nanti sudah di depan mata,” tambahnya dalam hati.
Dave kembali menyadari dirinya sangat egois dan tega menyakiti dua perasaan perempuan yang begitu dekat dengannya, selain ibunya. Namun, Dave belum bisa memutuskan untuk memilih salah satu di antara keduanya.
Untuk mengacaukan pikirannya yang sudah kacau, Dave membawa Keisha menuju tempat para sahabatnya berkumpul. ”Mungkin dengan berbaur dan berbincang bersama mereka bisa mengalihkan sedikit pikiranku dari rasa bersalah kepada Titha dan Key,” batinnya.
***
Titha gugup berada di ruang tunggu dokter kandungan, meski ada Chika yang menemaninya dan beberapa kali menenangkannya. Untungnya pengunjung yang datang memeriksakan kandungannya tidak terlalu banyak, sehingga membuat Titha merasa sedikit lega. Dia tidak perlu repot mengarang jawaban jika ada yang bertanya padanya seputar kehamilannya.
“Mengapa menghela napas begitu?” selidik Chika yang duduk di sebelah Titha.
“Aku lega karena pasien yang periksa tidak terlalu banyak. Aku hanya malas jika nanti ada yang bertanya, datang dengan siapa? Sudah berapa bulan usia kandungannya?” Titha menirukan gaya bicara ibu-ibu biasanya.
Chika tertawa geli mendengar suara Titha yang dibuat-buat. “Wajar kali, Tha. Namanya juga antusiasme calon ibu. Biasanya tidak ditanya pun mereka akan memberitahukan dengan sendirinya,” sahut Chika. “Oh ya, Kakak perhatikan belakangan ini kamu sedikit berbeda,” sambungnya dengan nada menggoda dan memerhatikan Titha secara saksama.
“Berbeda bagaimana maksud Kakak?” Titha kurang mengerti.
“Kamu terlihat lebih cerewet, tapi semakin cantik,” jawab Chika jujur.
“Jangan meledekku, Kak. Kalau cerewet, aku juga merasakan demikian. Namun jika cantik, tidak kayaknya,” Titha menilai dirinya sendiri.
“Sepertinya sekarang giliranmu, Tha,” sela Chika saat melihat seorang suster bersiap memanggil nama pasien selanjutnya.
Dan benar saja, nama Titha pun disebutnya. “Kak, temani aku ke dalam,” ajak Titha yang sudah berdiri.
***
Tidak banyak yang dikatakan dokter perempuan yang memeriksa keadaan Titha. Setelah melakukan pengecekan tekanan darah dan memeriksa kondisi perut Titha, dokter yang bernama Imelda menyuruhnya duduk pada kursi di depan meja kerjanya.
“Kondisi ibu dan janinnya sejauh ini sehat. Seperti ibu hamil pada umumnya, ibu harus tetap menjaga asupan gizi dan mengurangi aktivitas berat yang membahayakan kondisi ibu sendiri serta janin,” jelas Imelda kepada Titha.
“Oh ya, Dok, berapa usia kandungan saya?” tanya Titha malu-malu.
“Kandungan ibu usianya sudah masuk di minggu keenam. Apakah ibu mengalami keluhan morning sickness? Karena tidak semua ibu hamil mengalami hal tersebut,” ujar Imelda. “Contohnya seperti mual atau pening,” jelasnya.
“Saya sering mual jika melihat nasi dan mencium wangi yang terlalu menyengat, Dok. Apalagi jika mencium wewangian yang berasal dari cream atau shampoo yang ada di salon, pasti bawaannya mual dan kepala jadi pusing,” Titha menjelaskan keluhan yang dialaminya belakangan ini.
Imelda dan Chika tersenyum mendengar penjabaran Titha mengenai keluhannya. “Hal tersebut wajar, Bu. Ibu hamil penciumannya cenderung sensitif dan ibu sepertinya sudah mengalami fase ngidam. Nanti saya berikan resep untuk mengurangi rasa mual yang ibu rasakan,” ujar Imelda.
“Dok, padahal saya sedang hamil, tapi kenapa saya mengeluarkan darah?” tanya Titha waspada dan tentunya malu.
Raut Chika berubah serius mendengar pertanyaan Titha yang tiba-tiba, tapi tidak dengan Imelda. “Ibu tenang saja, itu namanya flek, Bu. Sekarang masih seperti itu?” Pertanyaan Imelda dijawab gelengan kepala oleh Titha.
“Jika nanti ada apa-apa, datang saja ke sini atau ibu bisa langsung mendatangi klinik ini. Kebetulan saya juga membuka praktik di sana, cuma waktunya dari jam enam sore sampai jam sepuluh malam.” Imelda menyerahkan kartu nama miliknya.
Titha pun merasa lega dan menerima kartu nama itu dengan antusias. “Kalau begitu saya permisi dulu, Dok,” pamit Titha dan Chika.
“Iya, hati-hati dan tetap jaga kesehatannya, Bu,” Imelda berpesan sebelum Titha meninggalkan ruangannya.
“Calon ibu muda. Biasanya ibu muda sepertinya pasti datang bersama suaminya, mengingat mereka masih pengantin baru. Namun, berbeda dengan ibu muda yang satu ini,” Imelda berkomentar selepas punggung Titha dan Chika tak terlihat.