Part 7

1090 Kata
Suasana rumah besar di kawasan Nangka Utara masih sangat sibuk. Meskipun acara pertunangan yang dilakukan sore nanti hanya dihadiri anggota keluarga kedua belah pihak dan sahabat dekat saja, tapi persiapannya tetap menggunakan jasa dekorasi. Sesuai kesepakatan kedua belah pihak, acara pertunangan dilakukan di kediaman keluarga Jacinda. Keisha sedari tadi sangat gugup dan gelisah menanti acara pertunangannya yang tinggal hitungan jam. “Mi, apakah persiapannya sudah selesai?” Keisha langsung bertanya saat Karina–ibunda Keisha menghampirinya. “Belum, Sayang, tinggal sedikit lagi. Kamu tidak usah gugup dan gelisah seperti itu, Sayang.” Karina menarik tangan anaknya dan mengajaknya duduk di tepi ranjang. “Aku takut mengecewakan keluarga Dave, Mi. Mami tahu sendiri bagaimana Tante Vanya ingin semuanya terlihat sempurna. Apalagi Mami menolak jasa dekorasi yang direkomendasikan oleh beliau. Aku hanya takut beliau tidak menyukai dekorasi yang sesuai selera kita, Mi,” ujar Keisha sambil merajuk. Karina hanya tersenyum mendengar rajukan putri semata wayangnya. “Tenang saja, Sayang. Mami yakin Dave dan keluarganya akan puas dengan dekorasi pertunangan kalian. Kamu lupa jika Dave yang membantu Mami memilih jasa dekorasi ini?” Keisha menepuk dahinya karena baru mengingat campur tangan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya tersebut. “Mi, kenapa aku bisa melupakan campur tangan Dave?” Keisha menyengir sehingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Makanya kamu harus santai, jangan tegang.” Karina membawa Keisha ke dalam pelukannya. “Saat kamu menikah nanti, Mami pasti akan sangat merindukanmu, Sayang,” lanjutnya. “Jangan mulai, Mi. Aku pasti akan sering mengunjungi kalian. Apalagi aku menikah masih di kota yang sama dengan kalian,” Keisha menenangkan ibunya yang sangat menyayanginya. “Bila perlu nanti aku suruh Dave membeli rumah di sekitar sini,” sambungnya. “Hush! Jangan berbicara seperti itu, nanti kamu dikira memanfaatkan Dave oleh ibunya. Meskipun Mami dan Vanya berteman akrab, tapi Mami tetap menjaga batasan dengannya. Beliau orangnya sangat perhitungan dan tentunya sedikit arogan,” Karina menjelaskan sedikit sifat yang diketahuinya tentang calon mertua sang anak. “Untung Dave tidak menuruni sifat Tante Vanya, Mi. Dave tidak pernah perhitungan jika mengajakku belanja atau membelikanku sesuatu,” balas Keisha. “Satu hal yang harus kamu tahu dari Vanya. Dia akan sangat membenci orang yang membohonginya habis-habisan. Dia akan berlaku sebaliknya jika ada seseorang yang menghormatinya,” beri tahu Karina. “Mami harap kamu bisa menjadi menantu kesayangannya kelak,” sambungnya. “Siap, Mami. Aku akan mengurus rumah tanggaku dengan baik, agar Tante Vanya tidak kecewa menjadikanku menantunya,” Keisha mengiyakan. *** Titha sangat susah membuka matanya, padahal ini sudah tengah hari. Jika saja ketukan pada pintu kontrakannya tidak terus terdengar, mungkin dia sudah kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dengan bermalas-malasan Titha beranjak dari ranjang dan mencari sumber suara yang sangat mengganggu tidurnya. “Tha, kamu baru bangun?” Chika mengernyit saat melihat Titha membuka pintu sambil menyuguhkan muka bantalnya. “Hm. Ada apa, Kak?” Titha sesekali menguap karena matanya masih sangat berat. “Kamu absen lagi?” Chika merasa heran karena tidak biasanya Titha malas bekerja. Belum juga Titha menjawabnya, Chika kembali bertanya saat memerhatikan wajah Titha yang kembali pucat. “Kamu sakit lagi, Tha? Tapi badanmu tidak demam?” ujarnya setelah memeriksa kening Titha. “Masuk dulu, Kak. Kepalaku pusing jika kelamaan berdiri,” pinta Titha yang sedang memegangi kepalanya. Chika mengekori Titha yang mendahuluinya masuk. Belum sampai Chika duduk pada kursi di ruang makan, dia terkesiap saat melihat Titha berlari sambil membekap mulutnya ke arah kamar tidur. Tanpa disuruh pun akhirnya dia ikut berlari menyusul Titha yang ternyata menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. “Tha, kamu kenapa? Jika asam lambungmu kambuh lagi, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit. Kakak bersedia mengantarmu, jangan menyepelekan penyakit, Tha,” Chika menawarkan bantuan. Dengan sebelah tangannya dia mengurut tengkuk leher Titha yang masih memuntahkan isi perutnya. “Tidak usah, Kak. Mungkin aku hanya perlu istirahat,” tolak Titha setelah membasuh mulutnya dengan air keran. “Kamu yakin keadaanmu baik-baik saja?” Tatapan mata Chika begitu menyelidik, meski Titha menjawabnya dengan anggukan lemah. Namun, saat Chika ingin menarik lipatan handuk kecil pada rak dinding yang memang dibuat Titha untuk menaruh kebutuhan kamar mandinya, ada benda terjatuh dari sana. Alangkah terkejutnya Chika saat mengambil benda itu dan memperlihatkannya pada Titha. Dengan nada bergetar Chika pun bertanya, “Tha, milik siapa benda ini?” “Benda apa, Kak?” Titha memaksakan membuka mata yang tadi dia pejamkan untuk menghalau rasa pusingnya. Setelah melihat benda itu tepat di depan wajahnya, keringat dingin langsung mengucur pada dahi Titha dan membuat wajahnya semakin memucat. “Kak ....” Air mata Titha kembali menetes karena kini aibnya diketahui orang lain dan posisinya pun tidak bisa mengelak lagi. “Tha, apakah ini milikmu?” Chika bertanya sekali lagi dengan nada mencicit sekaligus memastikan. Titha meluruh karena diingatkan pada kenyataan yang kini terpampang di depan matanya. “Itu memang punyaku, Kak,” akunya jujur sambil mulai terisak. Kaki Chika terasa melayang mendengar pengakuan perempuan yang telah dianggapnya seperti adik kandung tersebut. Chika menghela napasnya sebelum membantu Titha berdiri. Meski bukan adik kandungnya dan terkesan ikut campur, tapi Chika akan tetap menanyakan penyebabnya. Entah kenapa ada suatu hal besar yang disembunyikan oleh sahabatnya ini. “Sebaiknya kita keluar, Tha. Jika kamu ingin bercerita, Kakak siap mendengarkan meski tidak yakin bisa memberikan solusi. Jujur Kakak juga masih sangat terkejut dengan pengakuanmu,” ucap Chika pelan. Mata basah Titha menatap Chika dengan tatapan malu, karena kini dirinya telah kotor dan hina. Titha tidak menolak saat Chika membantu tubuhnya berdiri dan memapahnya menuju ranjang. “Tunggu sebentar, Kakak ambilkan air hangat.” Setelah membantu Titha bersandar pada kepala ranjang, Chika melesat keluar menuju dapur Titha yang sederhana. Namun, isinya lengkap. *** Chika menatap sedih ke arah Titha yang pikirannya terlihat menerawang jauh. “Tha,” panggilnya sambil menyentuh tangan Titha yang masih memegang gelas. Chika mengambil gelas tersebut, kemudian menaruhnya pada nakas kecil di sebelah ranjang Titha. “Tha,” panggil Chika kembali karena Titha tetap bergeming. “Kak,” ucap Titha yang suaranya hampir tak terdengar. Chika langsung memeluk tubuh Titha yang rapuh. Dia berharap pelukannya bisa sedikit memberikan ketenangan untuk Titha. “Sudah, Tha, jika kamu belum siap menceritakannya, tidak apa-apa. Kakak tidak akan memaksa, karena mungkin itu yang terbaik buatmu,” ujarnya lembut sembari mengusap punggung Titha. Titha menggelengkan kepalanya dan mempererat pelukannya pada tubuh Chika. “Aku sudah tidak bisa mengelak lagi, Kak,” ujarnya dengan suara lemah dan serak. Chika mengurai pelukannya supaya dia bisa menatap Titha saat bercerita. “Sudah berapa bulan usianya, Tha?” Chika spontan memerhatikan perut Titha yang masih rata. Titha menjawabnya dengan gelengan kepala sehingga membuat Chika mengernyit bingung. “Aku belum dapat memeriksakannya ke dokter, Kak,” ujarnya lirih. “Seharusnya kamu memeriksakannya, Tha, agar keadaannya diketahui,” Chika menyarankan seraya mengusap lembut lengan Titha. Setelah hening beberapa saat, tanpa disadarinya Chika kembali melontarkan pertanyaan yang menurutnya sendiri lancang, “Siapa ayahnya, Tha?” Mendengar pertanyaan Chika, ekspresi Titha langsung berubah. Jelas terlihat oleh Chika, jika ada amarah dan luka pada sorot mata Titha. “Dave,” jawabnya sendu. “Sahabatku sendiri,” tambahnya menegaskan. Jantung Chika seperti kehilangan detaknya saat mendengar jawaban Titha dan mengetahui kenyataan bahwa Dave yang dia kenal telah menghamili sahabatnya sendiri. Chika menelusuri sorot mata Titha untuk mencari kejujuran dan kepastian dengan ucapnya. “Dia memerkosaku,” Titha kembali bersuara nelangsa.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN