Titha kelelahan setelah mengalami hari yang berat. Sepulangnya dari pantai Lembeng, dia langsung meng-creambath rambut Chika. Titha memang sering disuruh meng-creambath, facial, manicure, pedicure, merapikan alis, mewarnai rambut, dan nail art oleh tetangga kontrakannya yang semuanya perempuan lajang. Mengingat mereka mengetahui Titha bekerja di salah satu salon yang cukup dikenal oleh banyak orang.
Awalnya Titha melakukannya secara cuma-cuma, tapi lama-kelamaan para tetangganya tidak enak hati. Oleh karena itu, Titha pun mendapat upah dari jasa yang diberikannya, walau tidak sama dengan biaya perawatan di salon tempatnya bekerja. Selain itu, produk juga telah disediakan oleh para tetangganya yang menggunakan jasanya. Titha mensyukurinya karena dia mendapat pemasukan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tetangganya hampir semua heran dengan Titha, sebab penampilannya yang tidak mencerminkan layaknya pegawai salon. Titha hanya menggunakan make up sederhana jika bekerja, malah jika berada di rumah wajahnya terbebas dari riasan. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh salah satu tetangga kontrakannya yang pernah melakukan perawatan di salon tempat Titha bekerja.
Titha membuka matanya karena rasa lapar yang dirasakannya, tangan kirinya meraba jam beker yang ada di sampingnya. “Ternyata sudah malam.” Titha menaruh kembali jam tersebut.
Titha mengusap melingkar perutnya yang segera ingin diisi makanan. Air liurnya terasa keluar saat membayangkan lezatnya siomay yang dijual di jalan Padma–di wilayah Tonja. Tidak mau tersiksa akibat desakan air liurnya, dengan cepat Titha ke kamar mandi membasuh wajah, mulut, dan berganti pakaian.
“Apakah ini yang dikatakan fase ngidam? Yang biasa dialami ibu hamil?” gumam Titha setelah siap berangkat memenuhi keinginannya.
***
Titha membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit untuk sampai di tempat tujuan, karena kontrakannya sendiri terletak di jalan Gunung Agung. Setelah memarkir motornya, Titha mencari stand siomay Bandung di antara jajaran penjual makanan. Saat matanya menangkap stand yang dikerumuni pembeli, Titha pun mempercepat langkahnya. Ternyata memang stand tersebut yang dia cari sejauh ini.
Cukup lama mengantri, akhirnya Titha mendapat giliran mengutarakan keinginannya,” Mas, siomay satu. Dibungkus dan bumbunya tolong dipisah.”
Tak perlu menunggu lama setelah membayar, Titha kembali pulang ke kontrakannya melalui jalan Nangka Utara. Saat mendekati pertigaan sebelum memasuki jalan Nangka, Titha berpapasan dengan sebuah motor sport berwarna hitam yang melaju dari arah berlawanan. Titha tidak menyadari pengendara motor tersebut, karena dia sedang menepi untuk mengangkat ponselnya yang berdering.
Pengendara motor sport tersebut juga menepikan motornya saat melihat sosok yang tadi siang disakitinya. Dia mengernyit bingung dengan keberadaan sosok tersebut, apalagi saat sudah malam seperti sekarang. ”Apa yang dia cari ke tempat ini saat sudah mendekati jam sepuluh malam?” pikirnya.
Dave—pengendara motor sport tersebut pun memutuskan berbalik dan menghampiri Titha yang masih serius menerima telepon.
“Tha, kamu dari mana?” Dave bertanya setelah melihat Titha memasukkan ponselnya.
Titha menoleh pada pemilik suara, tapi tidak menjawab pertanyaannya. Seolah tidak ada siapa pun di sampingnya, Titha pun kembali menjalankan motornya. Titha meninggalkan Dave begitu saja dan menambah kecepatannya karena jalanan cukup sepi. Dave tidak terima dengan perubahan sikap Titha, tanpa kompromi dia pun mengejar perempuan tersebut yang tetap mengendarai motornya cukup kencang.
Saat di traffic lights—perempatan jalan utama, Titha mengecoh Dave dengan mengambil haluan ke kanan setelah lampu hijau menyala. Dia sengaja mengambil rute yang lebih jauh menuju kontrakannya, hanya untuk menghindari Dave.
45 menit Titha menghabiskan waktu agar sampai di kontrakannya, sebab dia sengaja mengendarai motornya dengan kecepatan pelan. ”Pasti dia mengurungkan niatnya untuk tetap mengikutiku,” batin Titha saat melihat tidak ada siapa-siapa di depan pintu pagarnya. Dulu Dave selalu menunggunya di depan pagar, jika mereka hendak pergi karena dia malas berbasa-basi dengan para tetangganya.
***
Jantung Titha berdetak tak menentu saat melihat sosok yang dia hindari duduk di atas motor sambil mengobrol dengan Chika. Titha merasakan jika dirinya ditatap tajam oleh Dave, meski laki-laki tersebut masih tetap menanggapi pembicaraan Chika saat dirinya menaruh motor di tempat biasa.
“Tha, dari mana saja? Dave sudah menunggumu dari tadi?” tanya Chika saat melihat Titha menghampirinya.
“Tadi aku keluar membeli ini.” Titha memperlihatkan bungkusan yang dibawanya pada Chika. Dia memasang wajah sebiasa mungkin, agar Chika tidak menaruh curiga padanya.
“Memangnya kamu tidak masak?” tanya Chika dan Titha menjawabnya dengan gelengan kepala. “Karena kamu sudah datang, maka Kakak kembali masuk dulu ya. Kamu tidak mau bilang terima kasih karena Kakak sudah menemani sahabatmu yang tampan ini mengobrol?” imbuhnya bercanda dan Titha hanya membalasnya dengan senyum terpaksa.
“Thanks, Ka, sudah meluangkan waktumu sehingga aku tidak jadi patung di sini,” ucap Dave ramah sebelum Chika kembali ke tempatnya.
“Pulanglah! Kamu sudah tidak ada urusan lagi denganku,” usir Titha datar setelah memastikan Chika tidak terlihat.
Dave turun dari motornya. “Tha ....”
“Aku lelah dan ingin segera beristirahat,” sela Titha sebelum Dave menuntaskan kalimatnya.
Titha langsung menuju kamar kontrakannya tanpa memedulikan Dave yang masih bergeming di tempat dan memerhatikannya. Dave tidak kehilangan akal, saat Titha membuka pintu, dengan cepat dia menerobos ke dalam sehingga membuat perempuan tersebut tersentak.
“Kita harus bicara, Tha. Masalah ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Cepat atau lambat perutmu akan membesar dan orang-orang akan menanyakannya,” Dave kembali bersuara lebih dulu sebelum Titha mengusirnya.
“Lalu penyelesaian seperti apa yang akan kamu lakukan? Bukankah kamu tidak mau bertangung jawab?” Tatapan Titha sangat menusuk.
“Tha ....” Dave kalah cepat, sehingga Titha kembali menyelanya.
“Dengan menikahi perempuan jalang sepertiku? Atau kamu berencana menyuruhku menggugurkan janin ini? Jika penyelesaian yang kamu inginkan jatuh pada pilihan terakhir, maaf saja. Aku rela dianggap perempuan jalang dan dijauhi semua orang daripada menjadi seorang ibu yang tega membunuh darah dagingnya sendiri hanya untuk menutupi aib!” ujar Titha dengan lantang dan tegas.
“Tha, tapi semua itu tidak semudah yang kamu katakan. Kamu nanti akan dihina oleh orang ....”
“Tidak usah menunggu nanti, karena sekarang pun aku sudah terhina. Tidak perlu menunggu orang lain untuk menghinaku, karena aku sudah lebih dulu dihina olehmu secara tersirat. Sekarang pulanglah!” Titha kembali memotong kalimat Dave.
“Tha ….”
“Kumohon pergilah, Dave! Aku sangat lelah hari ini,” pinta Titha sambil mendorong paksa tubuh Dave yang lebih tinggi darinya beberapa sentimeter.