Part 5

1259 Kata
Untuk menenangkan kesedihan dan sakit hatinya terhadap sikap Dave, Titha mendatangi sebuah pantai yang sangat jauh dari keramaian seperti pantai-pantai lainnya. Di pantai Lembeng inilah dia akan membagi kesedihannya. Bukan dengan menjerit atau berteriak dia akan melampiaskan kesedihannya, seperti yang dilakukan tokoh-tokoh dalam novel. Melainkan dia hanya ingin secara leluasa mendengarkan deburan ombak yang memekakan telinga sambil memandangi pancaran air laut yang menyilaukan mata akibat pantulan panasnya sang surya. Titha tersenyum miris ketika pertanyaan Dave yang menyiratkan tuduhan kepada dirinya sebagai wanita jalang terus terngiang-ngiang di indera pendengarannya. Tuduhan tersebut sangat melukai sekaligus menyakiti hatinya. Sebenarnya malam itu Titha meragukan dan menyangsikan ucapan Dave yang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Apalagi dia menyadari Dave hanya menjadikannya sebagai pelarian semata, setelah diputuskan secara sepihak oleh Keisha. Namun, dengan cepat dia tepis keraguannya tersebut mengingat perhatian yang Dave berikan padanya setelah kejadian naas itu. Kini keraguan yang pernah terbesit pada pikirannya, akhirnya menjadi kenyataan menyakitkan. “Dave saja meragukan darah dagingnya sendiri. Apalagi keluarganya, terutama Tante Vanya. Jika tadi Tante Vanya yang mengetahuinya lebih dulu, apakah keadaan akan sama seperti sekarang atau jauh lebih buruk dari ini?” Titha bermonolog. Titha merasa tenggorokannya begitu kering dan perutnya mulai lapar. Dia baru ingat jika dari kemarin sore nafsu makannya menghilang. Setelah mengedarkan pandangannya, dia menemukan sebuah warung kecil yang ternyata terletak di pintu masuk pantai. “Mengapa tadi aku tidak melihat ada warung di sana?” Titha bergumam. Titha membawa motornya menuju warung kecil tersebut. Setelah memarkirkannya dengan baik, dia memanggil pemilik warung tersebut. “Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya pemilik warung yang ternyata wanita paruh baya. “Apakah ibu menjual nasi?” tanya Titha ramah. “Ada, Mbak. Mau nasi campur atau nasi goreng?” pemilik warung tersebut menawarkan menu dagangannya. “Nasi goreng saja ya, Bu. Namun, sebelumnya buatkan dulu saya rujak mangga. Mangganya muda kan, Bu?” tanya Titha saat melihat keberadaan buah mangga. Entah kenapa saat matanya menangkap keberadaan buah mangga, air liurnya terasa berlomba ingin keluar. “Iya, Mbak. Mangganya muda dan baru saja dipetik,” jawab ibu tersebut tak kalah ramah. “Siang-siang begini memang enak makan rujak, apalagi jika rasa kantuk mulai menyerang,” sambung ibu tersebut yang tangannya kini sudah mulai mengupas kulit mangga. Air liur Titha semakin terdesak ingin keluar, oleh karena itu dengan cepat dia mengambil sebotol tanggung air mineral, kemudian meminumnya menghadap ke laut. ”Ada apa dengan diriku? Biasanya aku sangat tidak menyukai rujak, apalagi rujak mangga muda. Dulu membayangkannya saja sudah membuatku merinding karena rasa kecutnya yang menyiksa,” batinnya. Tak perlu menunggu bermenit-menit, rujak pesanan Titha pun sudah jadi dan siap dinikmati. “Mbak, jika rasanya terlalu kecut, bilang saja ya. Nanti biar saya tambahkan gula aren cair,” pinta ibu tersebut saat menyerahkan sepiring rujak mangga kepada Titha. “Iya, Bu.” Titha menerimanya dengan perasaan suka cita. “Tidak terlalu kecut, Bu. Racikan bumbunya sangat pas,” beri tahunya setelah mencicipi sedikit kuah rujaknya. “Syukurlah, jika begitu saya akan membuatkan nasi gorengnya dulu ya,” pamit ibu tersebut. Titha dengan semangat menyantap rujak pesanannya. Dia tidak memedulikan lagi asam lambungnya yang bisa saja kambuh karena kecutnya mangga tersebut. Tak lama berselang, nasi goreng pesanannya juga sudah siap. Titha tidak membiarkan nasi goreng itu terlalu lama menganggur, dengan tak kalah lahap dia menghabiskan nasi goreng tersebut tanpa sisa. “Biasanya di sini ramai, Bu?” Titha bertanya saat pemilik warung ikut duduk tak jauh darinya, setelah memindahkan piring makannya yang sudah bersih. “Jika siang seperti sekarang sepi, Mbak. Nanti sekitar jam empat sore, baru banyak pengunjung yang datang, meski tidak seramai pantai Sanur atau Kuta, Mbak,” pemilik warung menjawab sambil memerhatikan Titha. “Ngomong-ngomong, Mbak, baru pertama kali datang ke pantai ini?” tanya pemilik warung ingin tahu. Titha tersenyum sebelum menjawab. “Iya, Bu. Tadi saya mengunjungi teman di daerah Ketewel. Karena penasaran dengan nama pantainya yang terpasang di depan, jadi saya coba saja ke sini,” Titha berdusta. “Oh begitu. Ngomong-ngomong, Mbak, asli daerah mana? Maaf jika saya lancang. Kenalkan saya, Ibu Desy,” Ibu Desy memperkenalkan dirinya kepada Titha. “Panggil saja saya Titha, Bu. Senang berkenalan dengan Ibu.” Titha menerima uluran tangan Bu Desy. “Saya asli Singaraja, tapi sudah hampir lima tahun di Denpasar,” imbuhnya. “Saya juga asli dari Singaraja, tepatnya di desa Wanagiri. Namun, saya menikah dengan orang Tabanan dan merantau di sini,” jelas Bu Desy sambil terkekeh. Titha ikut terkekeh mendengar keramahan orang yang baru dikenalnya, mereka pun akhirnya terlibat obrolan mengenai suka dukanya berada di tanah rantauan. Tak terasa letak matahari telah bergeser ke barat dan sesuai informasi Bu Desy tadi, pengunjung sudah mulai berdatangan menikmati hangatnya air laut pantai Lembeng. Titha merasa sedikit terhibur dengan keramahan sekaligus keseruannya mengobrol bersama Bu Desy. Dengan berat hati dia pun akhirnya mohon pamit. “Bu, kapan-kapan saya singgah lagi ke sini ya,” ucap Titha setelah membayar semua makanan yang dipesannya. “Iya, Mbak. Jangan pernah sungkan mampir ke sini,” balas ibu Desy. “Hati-hati mengendarai motornya, tidak usah ngebut-ngebut di jalan, Mbak,” pesan ibu Desy. Setelah mengiyakannya, Titha pun segera menyalakan motornya, kemudian mulai menjalankan dengan pelan. Perasaan Titha sedikit lega meskipun masalahnya belum menemui jalan keluar. Namun, sekarang yang terpenting dia harus memikirkan nasibnya sendiri dan calon bayinya. *** Keisha sudah terlihat lebih segar setelah membersikan diri di kamar mandi yang kental beraroma maskulin milik Dave. Dia meminjam baju kaos Dave yang sangat kebesaran di tubuh mungilnya. Keisha keluar kamar mencari keberadaan kekasihnya yang tidak terlihat batang hidungnya sedari dia membuka mata. “Honey, kamu di mana?” panggil Keisha menelusuri dalam rumah Dave. Dari balik jendela, Keisha melihat Dave sedang duduk di gazebo sambil memberi makan ikan-ikan peliharaannya. Dengan semringah Keisha pun melangkah keluar dan ingin menemani Dave melakukan salah satu rutinitas favorit kekasihnya tersebut. Keisha tidak bisa melihat raut melamun Dave karena posisi laki-laki tersebut duduk membelakanginya. “Serius sekali memberi makan para selingkuhanmu itu?” Keisha yang sudah di gazebo langsung memeluk tubuh atletis Dave dari belakang, sehingga membuat Dave terkejut. “Yah! Dia malah diam,” protes Keisha dengan nada merajuk karena Dave tidak menghiraukannya. Seolah tersadar, Dave menaruh toples yang berisi makanan ikan di sampingnya. Dia mengelus tangan mulus kekasihnya dengan lembut. “Maaf, aku terlalu menikmati aksi mereka saling berebut makanan,” kilahnya. Dave kini sedang memikirkan kata-kata pedas yang keluar dari mulut perempuan yang telah sangat dia sakiti, sehingga membuatnya melamun. “Mereka tumbuh dengan sehat di bawah asuhanmu. Aduh!” Keisha mengaduh karena dahinya dipukul pelan oleh Dave. “Kamu kira aku ini bapak mereka? Itu artinya kamu menyamakanku dengan ikan?” Dave mencubit gemas kedua pipi chubby Keisha yang kini sudah duduk di samping kirinya. Keisha tertawa nyaring mendengar perumpamaan kekasihnya. “Sayang, lihatlah itu, anak-anak mereka sangat banyak.” Tunjuk Keisha ketika melihat segerombolan ikan-ikan kecil berenang ikut berebut makanan. “Sepertinya kamu harus membuat satu kolam lagi untuk menampung mereka,” tambahnya menyarankan. “Ide yang bagus. Nanti aku pikirkan di mana tempat yang bagus untuk membuat satu kolam ikan lagi,” Dave menyetujui ide Keisha. “Oh ya, Dave, kamu tidak usah mengantarku pulang. Tadi aku sudah menelepon sopir agar menjemputku ke sini. Mungkin setengah jam lagi akan sampai, karena sopirku masih mengantar Mami ke Sukawati,” beri tahu Keisha. “Kenapa harus dijemput sopir, Sayang? Aku bisa mengantarmu pulang.” Dave bingung mendengar ucapan kekasihnya. Dia takut jika kedatangan Titha tadi disadari Keisha dan pembicaraannya didengar. “Tidak apa-apa, Honey. Lagi pula nanti malam kita juga bertemu. Aku hanya tidak ingin orang tuaku menganggapmu sebagai laki-laki kurang ajar. Mentang-mentang ingin menikahiku, maka aku sudah diajak tidur terlebih dulu olehmu, meskipun kenyataannya memang begitu,” Keisha menjelaskan sambil terkekeh. “Jaga image?” selidik Dave sambil menggelengkan kepala. “Ya, begitulah.” Keisha hanya mengendikkan bahu tak acuh. Dave dan Keisha kembali tertawa. Menertawakan diri mereka sendiri. “Key, jika aku mengatakan yang sebenarnya, masihkah tawamu ini bisa aku dengar?” Dave membatin. ”Aku memang laki-laki kurang ajar, sebab aku telah menghamili sahabatku sendiri. Apakah pernikahan kita akan tetap berlangsung, jika kamu mengetahui yang sebenarnya?” tambahnya. “Tha, aku tidak bermaksud menuduhmu sebagai perempuan murahan. Aku hanya bingung mengapa waktunya sangat tepat saat hari yang aku tunggu-tunggu sebentar lagi tiba,” Dave menyesali pertanyaan dan ucapan yang tadi dia lontarkan kepada Titha. Dia dapat melihat Titha begitu terluka atas pertanyaan sekaligus ucapannya tersebut.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN