Part 4

971 Kata
Mendekati kawasan perumahan elite Teras Ayung, Titha menepikan motornya di sebuah mini market. Tangannya gemetar dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Meski pusing kembali mendera kepalanya, dia memaksakan diri memasuki mini market tersebut. Dia ingin membeli minuman untuk mendinginkan pikiran dan tubuhnya sementara. Setelah meneguk sebotol tanggung air mineral dingin sambil beristirahat sejenak, Titha kembali menaiki motornya dan menjalankannya pelan menuju tempat tujuan. “Ayo, Tha, kamu harus yakin dan berani. Jangan pedulikan makian yang akan kamu terima nanti,” Titha kembali memberi semangat pada dirinya sendiri. *** Dave memandangi Keisha yang tengah pulas di atas ranjangnya. Dia menyelimuti Keisha setelah mengatur temperatur AC di dalam kamarnya supaya terasa sejuk, sehingga membuat tubuh perempuan itu semakin nyaman beristirahat. Baru saja Dave menutup pintu kamarnya dengan pelan, dentingan bel rumahnya terdengar beberapa kali. Tanpa mempercepat langkahnya, dengan santai dia menuju pintu untuk membukanya. Melihat seorang perempuan yang membelakanginya, Dave mengernyit bingung karena tidak mengenali tubuh semampai di hadapannya. “Maaf, mau mencari siapa ya?” tanya Dave ketika perempuan di hadapannya tak kunjung berbalik saat pintu sudah dia buka. “Mbak, Anda mencari siapa ya?” Dave memberanikan diri menepuk pelan bahu perempuan yang sedang bertamu. Titha seketika tersentak setelah tersadar dari lamunannya. Dia pun langsung menoleh saat bahunya ditepuk. Dia mendapati Dave menatapnya tak kalah terkejut. “Dave, kamu ada di rumah?” Titha terbata karena tidak menyangka Dave yang membukakan pintu. “Titha? Ada keperluan apa kamu datang kemari?” tanya Dave bingung dan penuh selidik. Karena rasa gugup yang kembali menderanya, sehingga membuat Titha meremas-remas tangannya dengan kuat. “Dave, mumpung kamu ada di sini, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu. Bisakah aku duduk dulu sebelum mengatakan sesuatu yang penting itu?” Titha memberanikan diri meminta tempat duduk kepada Dave, sebab kini kepalanya tiba-tiba kembali berdenyut. “Ikuti aku.” Dave mendahului Titha berjalan menuju gazebo yang dibangun di atas kolam ikan miliknya—di samping rumah. Dengan patuh Titha mengekori Dave. Dia semakin meremas tangannya karena kini perasaannya campur aduk. “Katakanlah, Tha. Apa yang ingin kamu sampaikan?” Dave menatap Titha penuh selidik ketika mereka sudah duduk pada gazebo yang sangat menyejukkan, karena angin berembus pelan dari semua arah. “Dave, aku ....” Lidah Titha kelu saat ingin melanjutkan kalimatnya. “Apa, Tha? Yang jelas kalau bicara. Kamu sedang ada masalah? Atau ada yang menyakitimu?” cecar Dave. “Kamu sakit?” Dave baru menyadari jika wajah Titha sangat pucat dan matanya pun memerah—seperti menahan air mata. Dengan susah payah Titha menelan ludahnya sebelum berani mengatakan kenyataan yang akan menimbulkan kekacauan untuk mereka ke depannya. “Dave, aku hamil,” beri tahunya dengan nada memelan—hampir tak terdengar. “Apa, Tha? Kamu mengatakan apa?” Dave memastikan pendengarannya. Namun, tubuhnya sudah menegang karena samar-samar menangkap perkataan Titha dari gerakan bibir perempuan tersebut. “Aku hamil, Dave. Aku mengandung anakmu. Hasil perbuatanmu waktu itu.” Hancur sudah pertahanan Titha. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi saat mengungkapkan keadaannya sekarang. “Hamil? Kamu mengandung anakku?” Dave membeo memastikan informasi dari Titha. Titha menjawabnya dengan anggukan kepala. “Aku tahu kamu akan melangsungkan pertunangan. Bahkan, pernikahan dengan kekasihmu. Namun seperti katamu waktu itu, bahwa kamu akan bertangung jawab jika terjadi sesuatu padaku atas perbuatanmu. Kini aku meminta pertanggungjawabanmu atas benih yang telah tumbuh ini, Dave,” ucapnya di tengah isak tangisnya. Seperti dijatuhi plafon gazebo yang terpasang di atasnya, tubuh Dave mencelos lunglai. Terik matahari terasa membakar tubuhnya yang hanya berbalut singlet hijau. Dave menatap intens netra perempuan di depannya yang kini telah bercucuran air mata. Mulut Titha pun tetap menahan suara tangisan agar tidak lolos. Tidak tahu harus berbuat apa, dengan cepat dia mengalihkan obyek pandangnya. Dave menatap lurus tanaman pucuk merah yang begitu elok diterpa sinar matahari yang memancarkan panasnya dengan sesuka hati. “Apakah kamu yakin anak tersebut merupakan hasil dari perbuatanku waktu itu?” tanyanya dengan nada datar. Pertanyaan yang Dave lontarkan tiba-tiba begitu merendahkan harga diri Titha dan menyayat perasaannya. Secara tidak langsung Dave sudah menuduhnya telah melakukan hubungan tak pantas dengan laki-laki lain. Dengan mengumpulkan puing-puing perasaannya yang remuk redam, Titha kembali bersuara dengan nada penuh kesakitan, “Jadi, kamu tidak mau bertangung jawab dengan keadaanku kini? Kamu meragukan benih ini? Kamu ingin mengingkari ucapanmu sendiri waktu itu? Dari pertanyaanmu tadi, kamu telah menuduhku melemparkan tubuh kepada laki-laki lain dan menjadikanmu sasaran untuk mendapat pengakuan atas benih ini?” Dave menatap Titha yang mencecarnya dengan suara tercekat. “Apakah aku salah jika ingin memastikannya lebih dulu, Tha?” Dave menyuarakan keganjalan di hatinya. Titha beranjak dari duduknya dengan kasar. Dia menatap Dave dengan sorot terluka dan penuh amarah. “Dave, walaupun aku miskin, aku tidak akan merendahkan diriku serendah itu hanya untuk mendapatkan uang. Meskipun pada kenyataannya kini aku sudah terlihat sangat rendah di matamu. Lagi pula masih banyak pekerjaan kasar di luar sana yang bisa aku lakukan untuk sekadar bertahan dan menyambung hidup. Tidak perlu dengan cara menjajakan diri pada laki-laki ataupun merayu mereka untuk membawaku menaiki ranjangnya.” Titha menghirup napas dengan kasar karena merasa pasokan oksigen ke paru-parunya kian menipis. “Tapi sayangnya, kini dirikulah yang telah direndahkan oleh laki-laki yang sudah aku tolong. Laki-laki yang membalas pertolonganku dengan cara memerkosaku. Naasnya lagi, laki-laki itu tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya yang kini telah menuai hasil. Berengseknya lagi, laki-laki itu tidak lain adalah sahabatku sendiri yang ternyata tidak tahu terima kasih. Sialnya kini dia hanya membungkam mulutnya di hadapanku setelah mendengar ada hasil dari perbuatan bejatnya dulu!” Titha mengabaikan lelehan cairan yang terus mengucur dari kedua mata sembapnya. Tidak ingin membuang waktunya lebih banyak, Titha langsung meninggalkan Dave yang tercengang mendengar perkatannya. Tanpa menoleh, Titha membuka pintu pagar dan menghampiri motornya yang terparkir di luar. Untung saja dia langsung memakai masker mulutnya, ketika ada tetangga Dave yang menyapanya dengan senyuman. Sedikit memaksakan, dia pun hanya membalasnya dengan anggukan kepala pelan. Meskipun tergolong kawasan perumahan elite, keramahan antar penghuninya tetap terjalin dengan baik. Setelah memastikan orang yang menyapanya tidak ada, Titha mulai memacu motornya. Walaupun bukan berasal dari golongan orang kaya apalagi terpandang, tapi Titha selalu menjaga sopan santunnya. Saat tadi berbicara dengan Dave saja dia tetap menjaga nadanya senormal mungkin, meski intonasinya di luar dari kata normal. Sebenarnya sangat wajar untuknya berteriak atau menjerit di hadapan Dave karena rasa sakit hatinya atas perkataan sekaligus tuduhan laki-laki tersebut.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN