“Duh Fina mana sih???” Aku menggerutu sendiri, aku takut kak Vano pergi dan meninggalkanku sendiri.
“Eh kak Vano mau balik ya?” Ucapku basa basi, dan berusaha menahannya agar tidak pergi, sampai Alfina tiba.
“Lu, masih mau nungguin temen lu?” Pertanyaanku enggak di jawab malah balik nanya. “Coba telpon dia” usulnya, tapi sayang usulnya itu sudah aku lakukan jauh sebelum dia ngasih usulan. Aku menghela nafas, “Udah kak, tapi gak di angkat” balasku dengan nada melas.
“Menurut gua nih ya, dia enggak kan balik ke sini lagi, gak mungkin dia ke toilet hampir setengah jam, apalagi dia sendiri, malam pula” jelasnya kepada ku, dalam hati aku membenarkan ucapannya. Tapi, masa iya Fina tega sih ninggalin aku sendiri?
Lalu Kak Vano beranjak dari duduknya, “Kak Vano mau balik ya?” Tanyaku
“Belum, gua mau minta kunci aula sama pak Imron,penjaga sekolah” lalu dia pergi ke arah pintu aula, dia memutar knop pintu dan mengernyit heran saat pintu tersebut seperti dikunci dari luar.
“Kok gak bisa di buka sih?” Ucap Vano, ia mengeraskan rahangnya. Akupun langsung menghampirinya yang sedang berusaha membuka pintu tersebut
“Pintunya kenapa kak?” Tanyaku dengan pikiran sedikit takut, ia menatapku. “Pintunya gak bisa ke buka” jawabnya dengan wajah panik begitu pun dengan ku. Masalahnya itu, ini sudah malam udah hampir jam 9 dan aku belum pulang ke rumah. “Terus gimana dong kak?” Tanyaku dengan nada panik mungkin sebentar lagi aku bakal nangis
“Mau gimana lagi? kita ke jebak” balasnya pasrah, lalu aku mengambil handphone ku di dalam tas berniat untuk memberi tahukan bunda kalau aku kejebak di aula sekaLian aku akan mencoba menelpon Fina lagi
Tapi niat hanya tinggal niat, batrai hp ku sudah habis
ARGGGHHHH
“Gimana ni?” Gerutuku, lalu aku kembali duduk di kursi tempat ku sebelumnya yang di susul kak Vano
“Kak?” Panggil ku memecah keheningan
“Hmmm?” Balasnya
“Gua boleh minjem charger hp gk?” Kataku “Batrai gua abis, gua mau ngasih tau bunda kalau gua kekunci di aula” jelasku. Aku mendengar hembusan nafas kasar dari kak Vano lalu dia menunjukan hp nya di depan wajahku
“Batrai gua juga habis dari tadi dan gua enggak bawa charger makanya gak gua cas” ucapnya. Aku merasa udah ga ada harapan lagi selain tidur di sini sampai pagi, akan tetapi sebuah pemikiran membuatku kembali menggapai harap.
“Oh iya” teriak ku girang karena aku pikir aku mendapat jalan keluar. “Laptop kak Vano kan ada, contact siapa kek ka, kak Vino gitu” usulku dengan semangat 45. Tapi semangat itu cuman tahan gak sampai semenit pasalnya kak Vano gak punya kuota internet dia ngerjain tugas Osis tadi juga pakai Wifi sekolah dan Wifi sekolah udah mati sejak kak Vano berhenti ngerjain tugasnya
Jadi kami harus nerima kenyataan kalau kami harus tidur di aula untuk malam ini,aku harap gak terjadi apapun dalam semalam ini karena jujur perasaan ku gak enak banget
Tlak
“Akkk” pekik ku karena seketika ruangan ini gelap gulita,aku menutup mataku karena takut akan kegelapan,”Kak Vano” lirihku mencari keberadaan laki laki yang terjebak di aula ini bersamaku
“Gua di sini, lu di mana sih?” tanyanya, “Kaka di mana?” Tanyaku lagi
“Julurin tangan kaka, biar aku yang nyari”
“Ya udah” balasnya,”Dapet” ucapnya lagi setelah tangan kami bersentuhan. Aku menggengam tangan kak Vano, tanganya hangat, kini kami berdua tak ada yang berbicara,hanya bunyi detakan jam dinding yang mendomisili di ruangan gelap ini. Sampai akhirnya, kak Vano bersuara.
“Lu gak mau tidur?” Tanyanya kak Vano
“Belum bisa” jawabku, ya iyalah aku belum bisa tidur. Aku baru kenal dia kurang lebih 1,5 jam dan sekarang aku kejebak satu ruangan gelap sama dia.
“Lu kenapa sih?” Tanya nya lagi mungkin karena merasa aku sangat risih. “Gak pa pa kok kak” balasku dengan tersenyum,yang gak mungkin dia bisa liat.
“Hoaammm” ucap ku, karena sekarang aku ngantuk banget, dan lampu masih belum nyala. Aku masih mengenggam tangan kak Vano, tapi sekarang genggamanya sudah mulai lemas dari yang tadi. “Ehemmmm” dia berdehem
“Lina? lu belum tidur? Tidur aja, gua janji gak ngapa-ngapain lu lagian ini juga gelap, gak mungkin keliatan kalau mau ngapa-ngapain lu” ucapnya lalu menarik lengan ku dan lalu kepalaku di letakan di bahu kirinya
Aku cuman ketawa kecil, karenanya, setelah itu kami berdua masuk ke alam mimpi masing-masing selang beberapa saat aku merasa kalau aku di gendong oleh seseorang, tapi kurasa itu hanya sebuah mimpi.
***
Silau matahari dari luar jendela membuat ku terbangun dari tidur ku semalam dan aku melihat di sekelilingku
“ARRGGGGGHHHHH.....” teriak ku frustasi setelah tau bahwa aku ada di atas ranjang,tanpa memakai sehelai benang pun dan aku menangis sejadi-jadinya dan itu berhasil ngebuat kak Vano yang masih tidur di sampingku bangun dengan wajah kaget.
“Kita kok ada di sini?” Tanyanya yang membuat ku naik darah
“HARUSNYA GUE YANG NANYA ITU KE ELO BUKAN ELO”, Jawabku dengan penuh amarah dan masih berbalut selimut. Aku menangis melampiaskan kekesalan ku, yang aku pikirkan cuman bunda dan Revan gimana kalau bunda tau?
Terus gimana kalau aku hamil siapa yang bakal ngejagain Revan kalau aku hamil dan sampai tinggal sama kak Vano?. Aku ngeliat kak Vano beranjak dari tempat tidur, dia hanya memakai celana boxer lalu mengacak rambutnya frustasi, sambil berkacak pinggang dan memandang keluar jendela.
Sedangkan aku masih menangis dan masih berbalutkan selimut
“Kita di jebak Lin” ucapnya yang membuat aku menghentikan tangisan dan mendongakan kepalaku. Lalu dia berbalik dan aku mentapnya meminta penjelasan,
“Iya, kita di jebak,karena gua yakin 100%, kalau gua gak ngap- ngapain lu, gua gak kan pernah ngedeketin hal sehina itu,” ucapnya dengan pd
“Itu menurut elo,” jawab ku kesal dan dia menatapku dalam dan aku mendengar dia menghembuskan nafas kasar. “Gua bakal tanggung jawab kalau lu hamil meskipun gua yakin kita gak melakukannya “ ucapnya
Satu lagi sifat dia yang aku tau dia laki laki yang bertanggung jawab
“Sekarang pakai baju lu” suruhnya dan dia duduk di sebelahku, “Baju nya di sana kak, boleh minta tolong?” Pintaku dengan suara khas abis nangis. Ia kemudian berjalan menuju ia berdiri tadi dan mengambilkan bajuku, lalu memberikan bajunya padaku.
“Nih, sekarang pake” ucapnya sambil nyodorin semua pakaian ku itu “Makasih” ucapku, tapi aku masih bingung
gimana mau make ni baju kalau keadaan aku aja sekarang kayak bayi baru lahir dan ada kak Vano lagi. Ya kali aku harus lilitin nih selimut tebel terus jalan ke kamar mandi?
“Eughhh, ribet” ucapku pelan tapi masih kedengaran sama kak Vano
“Kenapa?” Tanyanya dan setelah melihat ku dia mengernyitkan dahi dan bertanya
“Lu masih belum pake baju?Lin mending lu pake baju lu sekarang, karena gua cowo normal” ucapnya frustasi, “Iya pengenya sih gitu, tapi gimana caranya? kak Vano di sini kalau aku ke kamar mandi ribet nutupinya” balasku
Lalu dia menatapku lagi,dan tiba tiba dia melilit tubuhku dengan selimut udah kayak bayi pakai di pakein bedung dan dia langsung menggendongku kearah kamar mandi
dan kembali ke kasur setelah itu dia kembali lagi dan memberikan bajuku. Aku memakai bajuku dan mencuci muka untuk menghilangkan sedikit kantung mataku yang sembab karena abis nangis.
Setelah aku rasa semuanya selesai aku keluar dari kamar mandi dan mendapati kak Vano juga sudah selesai berpakaian “Mau pulang?” Tanyanya stelah melihatku keluar dari kamar mandi, aku hanya mengangguk karena ntah kenapa aku jadi canggung, tampak ia menghela nafas.
“Ya udah lu naik taxi aja ya” ucapnya sambil memberiku uang untuk ongkos,
“Maksud lu apaan?” Ucapku sambil menahan air mata ntah kenapa hari ini aku bawaannya pengen nangis
“Maksudnya?” Dia balik nanya dengan muka bingung
“Lu pikir gua cewe apaan huh?abis lu tidurin lu bayar gitu?”
“Apaan sih Lin? lu gak percaya kalau gua gak ngapa ngapain lu?” Ucapnya sedikit nyolot sedangakn air mataku udah gak bisa di tahan lagi
“Sumpah demi Allah Lin, kita tu di jebak gua yakin, lagian juga gua udah mau tanggung jawab kalau lu memang hamil” sambungnya, lalu dia berjalan ke arahku yang nangis sambil nundukin kepala, lalu dia memeluku. Aku semakin menangis karena pelukaan hangatnya. Aku kembali mendengar helaan nafasnya.
“Maafin gua, kalau seandainya itu memang terjadi, gua akan tanggung jawab,dan gua janji bakal nemuin orang yang udah ngejebak kita,sekarang lu pulang dulu naik taxi maaf gua gak bisa nganterin ada yang harus gua kerjain” ucapnya melepaskan pelukan kami dan menghapus air mataku, kini kami sudah di halte, dia mengantar ku sampai masuk ke dalam taxi
“Gua udah bayar taxinya, oh iya satu lagi lu jangan pernah cerita ke siapapun termasuk Alfina percaya sama gua”ucapnya yang berdiri di luar taxi dan memasukan setengah kepalanya ke dalam, bisa di bilang posisi dia sekarang nungging.
Aku menganguk dan mengucapkan terimakasih, di perjalanan ada banyak kekhawatirkan yang muncul di benaku aku benar-benar bingung harus ngasih alasan apa ke bunda tentang aku yang gak pulang semalam,apa yang harus aku lakukan.