CHAPTER 3

3175 Kata
“Neng, udah nyampe” kata pak supir “Iya pak, makasih” ucapku sambil membuka pintu dan keluar dari taxi Aku menatap rumah kayu sederhana itu. Ya, itu adalah kediaman ku, tempat aku di besarkan oleh bunda,dan mendiang ayah. Kali ini suasana hati atau perasaan ku sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kali ini aku sangat-sangat ragu untuk masuk atau bahkan mengetuk pintu rumah itu padahal hanya semalam aku tidak pulang kerumah. Tapi, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu, saat aku akan mengangkat tanganku, tiba-tiba ada seseorang yang menarikku ke samping rumah dan menutup mulutku dengan tanganya, aku membelalakan mataku saat tau yang menarikku itu adalah Alfina “Ssthhhhh” desisnya, ketika aku akan berbicara “Lu dari mana aja sih?” Tanya Fina dengan kesal, aku menatapnya tak kalah kesal, harusnyakan aku yang nanya “Ehh, harusnya gua yang nanya kek gitu sama lu monyong!!” balasku”Emang lu kemana sih, bunda sampai nyariin lu bego?” Tanya ulang Fina “Lu gak inget, kalau gua nunggu lu semaleman di aula?” Ucapku kesal, “Nu-nunggu gua semalem-an?”, aku menatapnya heran. Lah kenapa ni anak, jadi gagap begitu?? “Iye, gua nunggu lu, lu nya malah gak dateng dateng, gedeg gua tau gak?” Yang aku omelin malah asik dengan pikiranya sendiri “Ta-ta pi, kak Vino bilang lu udh balik” “Terus, pas gua ke aula buat ngambil tas juga aulanya udah di tutup dan gua pikir emang lu udah balik, makanya gua sekarang gak sekolah, gara gara tas gua masih di aula” Jelasnya yang jelas aja ngebuat aku bingung, apa semua ini ada kaitanya sama kak Vino?? Tapi gak mungkin kan kak Vino ngejebak saudaranya sendiri..erghhhh tau ah pala gua puyeng. “Lu kekunci di aula sendiri?” Ujar Fina yang sontak negebuat aku bingung harus ngejawab apa, kak Vano bilang jangan kasih tau siapapun termasuk Fina, duh...gimana ni... “Woy, gua nanya?” “Eh,mmmm,,,anu gua berdua kak va......nnnn,vaaa.....nnnnn” kenapa gua jadi gagu? “Gua berdua sama kak Vano” jawabku cepat karena Fina menepuk pundak ku dan aku langsung menutup mulutku dengan tangan, sedangkan Fina malah cengo gara gara jawabanku “Ayok kekamar lu” ajaknya sambil narik narik aku kayak kebo udah kebiasaan dia itu mah maklumin aja “Tapi gua takut fin,gua takut bunda marah” lirih ku “Heh, lu pikir kenapa gua ada di sini?” Ujarnya yang emang kebiasaan ngebuat aku bingung atau emang aku yang lola? Ngak deh kayaknya. Aku lalu mengendikan bahuku, dan menatapnya meminta penjelasan, “Tadi malam bunda nelpon gua, nanyain anak perawannya kenapa belum pulang, ada sama gua atau gak?” Oceh Fina dengan menekankan kata anak perawanya, dan good job Fina lu buat gua nginget kak Vano. “Terus lu bilang apa?” Jawabku khawatir kalau kalau Fina salah ngomong bisa mati aku, “Gua bilang kalau lu pergi beli makan, dan lu nginep di rumah gua karena semalem ujan deres” jelas Fina yang ngebuat gua leganya bukan main “Udah ayok masuk” ajak nya, yang aku balas dengan anggukan dan berjalan di belakangnya “Asaalamualaikum,bunda?” Salam Fina sambil memasuki rumah ku, lalu duduk di sofa ruang tengah, sedangkan aku langsung memasuki kamar ku yang berada di lantai 2 dan langsung mandi dan berpakaian dengan baju sehari hari di rumah karena hari ini aku gak sekolah. Setelah itu aku langsung turun dan duduk di sebelah Fina “Bunda mana?” Tanyaku pada Fina “Didapur mungkin” jawabnya dan aku jawab dengan anggukan kecil Beberapa saat kemudian bunda datang, duduk diantara kami dan biasalah orang tua kalau anaknya gak pulang semaleman pasti nanya nanya tapi semua udah di atur sama Fina, jadi Alhamdulillah gak ketahuan. Aku menatap bunda, maafin Lina ya bun, untuk kali ini Lina bohong. Kami mengobrol cukup lama, sampai sampai lupa waktu kalau hari sudah malam.Tak berapa lama aku mendengar alunan music ”Nothing's gonna change my love for you (by: westlife) Aku yakin itu dari hp ku,aku beranjak dari sofa tempat kami berada dan langsung menaiki tangga dan menuju kamarku 3 panggilan tak terjawab (new number) “Siapa?” Ujarku sendri. Hp ku berbunyi lagi dan aku angkat dengan ragu “Halo, ini Ralina kan? ini gua Vano” ucap orang di seberang telpon “Iya kenapa?” Tanyaku tanpa embel embel kak,karena aku gak mau Fina nanya “Gak kok gua cuman mau ngingetin lagi jangan ngasih tau siapa pun” ucapnya lagi “Iya inget kok udah dulu ya, bye” aku menutup telpon sepihak Tapi tunggu, dari mana dia dapat nomor hp gua? 0821******** “Kok lu matiin sih??” Ralina.A “Ada Fina di sini kak, makanya gua matiin maaf ya, bukan maksud gak sopan tapi ntar dia nanya nanya gua repot” 0821******** “Sekarang manggilnya pake embel embel kk, tadi pas nelpon kaga” “Ngeselin banget sumpah, udah di bilang ada Fina di sini” ucapku sendiri Ralina.A “Kan tadi udah gua bilang, ada Alfina di sini, oh iya kak Vano tau nomor gua dari mana???” 0821******** “Ooo, ya udah kalau gitu” “Dari daftar anggota Osis” Ralina.A “Oo y udah deh” Setelah selesai smsan sama kak Vano, aku langsung ke sofa tempat aku, Fina dan bunda duduk tapi mereka gak ada. Lalu aku melihat bunda berjalan dari luar “Fina mana bun?” Tanyaku “Nih bunda baru aja nganter Fina ke mobilnya katanya ada urusan mendadak makanya gak sempat pamit sama kamu” jawab bunda yang aku balas dengan anggukan paham, Hari berganti malam, dan kini hari sudah menunjukan pukul 21.32 aku sudah sangat mengantuk, dan karena besok sekolah aku pun memilih untuk segera tidur agar besok gak kesiangan “Bunda hari ini Lina tidur sama bunda ya??” Rengekku “Ya udah ayok” aku tidur bersama bunda dan Revan, Revan ada di antara aku dan bunda *** Stelah sekitar seminggu lamanya setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengan kak Vano atau lebih tepatnya menghindarinya ALLAHHU AKBAR ALLAAAAAAAAHU AKBAR Suara adzan subuh menginterupsi mimpi indahku,aku bangun dan duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawaku. Ku lihat aku hanya tidur dengan Revan sepertinya bunda sudah bangun karena ku dengar suara air dari kamar mandi. “Kamu udh bangun sayang?” Tanya bunda selesainya keluar dari kamar mandi, “Ambil wudhu gih, kita solat bareng” ucapnya yang aku balas dengan anggukan Aku langsung mengambil wudhu dan segera menunaikan solat subuh bersama bunda. Setelah solat aku membantu bunda untuk menyiapkan dagangan yang harus aku antar ke setiap warung langganan bunda. Setelah di tinggal pergi untuk selamanya oleh ayah,kami tidak mempunyai tulang punggung lagi, jadi kami hidup seadanya dengan tunjangan pegawai dari kantor ayah dulu itupun hanya setahun dan separuh dari gaji ayah. Oleh sebab itu aku dan ibu menggunakan uang itu untuk modal usaha berjualan gorengan, kami sudah berjualan gorengan hampir 8 bulan, selama itu juga lah kami ditinggal oleh Ayah. “Kak,ini ada 40 antar ke warung bu Idah ya jangan lupa minta duit yang kemaren” perintah bunda sambil memberikan ku sebuah wadah yang berisi bermacam macam gorengan “Ya udah sekarang kamu berangkat gih, nanti telat yang lain biar bunda aja yang nganter” tambahnya “Bener ga apa-apa bunda yang nganter sendiri?” Tanyaku dan di balas dengan anggukan dan senyuman dari bunda, “Yaudah kalau gitu Lina berangkat ya bun” ucapku lalu menyalami tangan bunda “Assalamualaikum” salamku, lalu aku pergi meninggalkan rumah dengan bejalan kaki karena sekolah dengan rumah tidak terlalu jauh dan warung bu Idah ada di belakang sekolah,karena letaknya ada di belakang sekolah, jadi warung bu Idah biasa di jadiin tempat nongkrong anak cowok sekolah ku. Sesampainya di sana sudah ada beberapa murid cowok yang duduk dan merokok di warung bu Idah. Padahal hari masih pagi,ku lihat di sana ada kak Bimo dkk,kalau gak salah mereka temen temenya The twins. “Assalamualaikum bu Idah” sapaku sambil tersenyum pada bu Idah, “Waalaikum salam,eh aya neng Lina” “Iya bu, biasa saya mau nganter goreng” ucapku “Iya neng taro di situ aja, dan ini uangnya yang kemaren alhamadulillah semuanya abis” tutur bu Idah “Ya udah kalau gitu bu,tempat goreng yang kemaren Lina titip di sini aja ya bu? pulang sekolah Lina ambil”ucapku lalu di jawab dengan anggukan oleh bu Idah. “Kalau gitu,Lina sekolah dulu ya bu assalamualaikum” tambah ku lagi,aku pergi berjalan meninggalkan warung bu Idah, sebelum aku benar benar meninggalkan warung bu Idah, aku melihat ada 2 motor yang datang, dan tebak siapa? Itu kak Vano dan kak Vino. Aku melihatnya membuka helm dan pandangan kamipun bertemu. Seketika itu juga,kejadian seminggu lalu yang berusaha aku lupakan terulang kembali. Cukup lama kami berpandangan sampai akhirnya salah satu temennya kak Vano, ku dengar berdehem. Aku langsung memalingkan wajahku dan langsung meninggalkan warung bu Idah menuju sekolah. Sesampainya di sekolah aku langsung menuju kelasku dan duduk di sebelah Fina. Jam pelajaran pertama kami di isi demgan pelajaran MTK, ketika  pelajaran sedang berlangsung notifikasi hp-nya Alfina berbunyi. “Makanya hp tu di silent” ucapku ketus karena sekarang perhatian ada pada meja kami. “Lupa gua” balasnya cengengesan dan langsung membalas ntah dari siapa chat itu. “Anterin gua ke toilet bentar yu Lin, kebelet” ajaknya “Gak ah males gua sendiri aja udah. Ga ada yang bakal gangguin lu juga” ucapku enteng alhasil mungkin Fina sekarang ngambek dan pergi sendiri. Udah 10 menit Fina ijin dan belum balik lagi ke kelas,apa dia sekarang jadi penjaga toilet? Tak berapa lama aku melihatnya memasuki kelas lalu duduk kembali di sebelah ku dan mengikuti kembali pelajaran sampai akhirnya bel tanda istirahatpum berbunyi Kring.... Kring.... “Kantin yu Lin gua laper banget ni sumpah dah” ajak Alfina padaku yang aku balas dengan anggukan. Ntah kenapa hari ini aku sangat malas untuk berinteraksi dengan siapapun termasuk pada Fina. Di sepanjang koridor menuju kantin aku merasa semua orang sedang memandang dan berbisik tentang aku kah? Tapi masa iya? Apa ada yang aneh? Apa aku salah kostum? Ah masa iya kan hari ini aku pakai batik Fina juga, jadi gak mungkin aku salah,terus kenapa dong? “Fin? Lu liat mata gua dah, ada beleknya ga ?” Tanyaku sambil membelalakan mataku pada Fina “Ngak” ucapnya singkat setelah memperhatikan wajahku. Tapi aku masih saja ragu, karena mereka sepertinya memang sedang memperhatikan kemana aku berjalan. Dan aku merasa sangat risih karenanya, “Fin? lu liat gua deh dari atas sampai bawah” lalu dia memperhatikanku seperti yang aku suruh. Ia mengernyitkan dahinya heran, “Ada yang aneh ya?” Tambahku “Ngak...ih lu kenapa sih, kayaknya risih banget??” Tanyanya sedikit kesal karena aku nanya mulu “Ga papa gua cuman ngerasa aneh aja, gua ngerasa tu manusia pada ngeliatin gua” jelasku berbisik,ia menatap ke sekitar dan menatapku sembari tersenyum ejek. “Mantep kali lu?” ejeknya “Pengen banget emang di perhatiin? Dasar jomblo” Ejeknya lagi, aku memutar bola mataku dengan malas “Gua serius nyong” jawabku dengan sedikit manyun dan dia hanya terkekeh kecil. Gak jelas banget kan? Aku lagi marah dianya pasti kayak gitu Kami masih terus berjalan tapi aku masih sangat risih, dan aku pun memutuskan untuk bertanya lagi ke Fina. Terserah dia mau marah atau kesal, yang jelas aku tau kenapa orang itu seperti memperhatikanku, apa memang ada yang aneh padaku atau memang ada hotnews yang belum ku ketahui. “Fin?” Ucapku lagi “apalagi Sihhhh” jawabnya kesal “Sekali lagi gua nanya, janji sekali ini lagi. Kalau di gigi gua ada cabenya ga?”  Tanya ku sambil nyengir memperlihatkan semua gigiku dan dia hanya menggelengkan kepalanya. Belum sempat aku mengembalikan wajahku seperti biasa, maksudku setelah aku nyengir ke Fina tadi ada sebuah tangan besar nan kokoh dan sepertinya aku pernah menyentuhnya, menarikku ke arah yang berlawanan dengan arah tujuan awalku, jangan tanya reaksi Fina gimana. Tu anak dari dulu emang selalu diem kalau aku dapat masalah dan alasanya selalu saja” gua tu takut Lin kalau kena masalah, gua takut kalau gua ga bisa ngatasinya” Contoh waktu kelas 5 sd kami baru aja pulang sekolah kayak biasa kami pulang lewat belakang sekolah, dan seperti biasa juga kami selalu tergoda sama jambu air milik pak mardi yang ada di pekaranganya. Tapi kami takut buat minta soalnya pak mardi itu orangnya galak banget dan akhirnya suatu hari Fina kepengen banget tu jambu, aku bilang ntar aja nyampe rumah minta beli sama papa kamu. Dan dia tetep ngerengek minta jambu itu, kami pun memasuki perkarangan rumah pak mardi, saat aku ingin minta jambunya Fina bilang ga usah minta, ntar ga di kasih karena pak Mardi galak apa hubunganya coba galak sama gak mau ngasih? Biasanya kan yang ga ngasih itu orang pelit. Aku pun mengikuti rencananya untuk diam diam mengambil jambu itu,apa itu namanya mencuri?. Aku tau Fina tidak bisa memanjat pohon, dan kaLian taulah siapa yang akhirnya memanjat. Setelah sampai di atas pohon aku mengambil jambunya dan melemparkan kebawah yang di tangkap oleh Fina. Sudah cukup lama aku di atas pohon itu aku mendengar ada seseorang yang berteriak padaku”HEY NGAPAIN KAMU DI SITU?MALING JAMBU SAYA YA??” tanya murka bapak itu yang kuyakini 100% itu pak Mardi Dan mau tau apa yang di lakuin Fina? dia lari pulang ninggalin aku yang masih nyangsang di pohon. Gedeg ga kalau punya temen kayak gitu?. Kadang aku juga pengen bilang ke dia kamu tu temen apa bukan sih?. Tapi selalu aja ntah kenapa aku ga pernah tega buat ngomong itu langsung ke dia Okey,back to story Aku masih ga tau siapa yang menariku karena dia membelakangiku “Ish siapa sih lo narik narik? lo pikir gua kebo apa?” ucapku sambil menghempaskan tangannya lalu dia berbalik badan dan aku tau siapa dia, dia adalah salah satu the twins Akupun langsung melihat nametagnya dan tertara nama KeVano Ardiansyah, sekarang aku sudah tau dia siapa. “Ikut gua bentar” ucap kak Vano Dia pun langsung menariku lagi ke taman belakang sekolah, tempat ini memang sepi bahkan bisa di bilang sunyi karena gak ada yang ngerawat dan itu jadi alesan orang malas ke taman ini. Setelah sampai dia ngelepasin tangan ku “Ada apaan sih? gua mau ke kantin juga” tanya sekaligus gerutuku Dia menatap ku dengan intens “Lu ga pernah ngasih tau tentang kejadian kita seminggu lalu ke siapapun termasuk Fina kan?” Aku membalas menatapnya dengan tatapan bertanya “Ya ngak lah,” jawabku sambil mengernyitkan dahi “Yakin?” Tanyanya lagi “Ya yakin lah, emang ada masalah apa sih ?” Tanyaku yang kini mulai panik, karena ini tidak hanya menyangkut harga diriku tapi keluarga dan sekolah ku juga terancam. “Lu mau tau kenapa orang-orang pada ngeliatin lu?” Aku menegang saat kak Vano mengatakan itu, pasalnya apa yang dari tadi aku rasakan memang benar, mereka ternyata memang memperhatikanku, dan kak Vano tau itu? “Emang ke-kenapa kak?” Tanya ku gugup Lalu dia memberiku sesuatu yang membuatku lupa caranya bernafas, jantungku sudah melewati batas kecepatanya, dan air mataku udah gak bisa di tahan lagi. “Apa apaan ini” hanya kalimat itu yang bisa aku keluarkan sekarang **** Vano pov Setelah kami semua menyelesaikan tugas dari guru dan jam istirahat pun datang “Eh kantin yok” ajak Indra teman sebangkuku,yang di setujui dengan anggukan gua,Bimo dan Geo. fyi - kami selalu ber 5 sejak masuk sma ini,tapi kami bukan genk atau semacamnya. Kami semua pergi kekantin tanpa Vino karena dia tadi ijin sama pak hendra ke toilet tapi ga balik ke kelas lagi sampai sekarang, sesampainya di kantin kami memesan makanan untuk mengganjal perut kami yang sudah minta diisi. “Adek lu mana dah?” Tanya Bimo padaku yang asik dengan makananku sendiri, aku hanya mengendikan bahuku acuh, untuk apa aku mengurusnya, dia sudah besar bukan? Kami pun melanjutkan makan, tapi belum sampai selesai aku memakan makanan ku tiba tiba Vino datang sambil ngos ngosan. “Huhhh haaaahh huffttt ahhhh huffttt ahhh” Vino masih mengatur napasnya kami semua menghentikan maka kami dan melihat kearahnya. “Woee anjir minum gua tu bangke” gerutu geo saat Vino langsung menyambar minuman yang ada di atas meja. “Duduk dulu ngapa? lu kenapa sih?? Kek di kejar macan ae” ucap indra “Vano jelasin ke gua sejelas jelasnya” ucap Vino sambil menyodorkan beberapa lembar foto kearahku dan teman teman ku juga ikut melihatnya,meraka semua melihat ku dengan pandangan tak percaya dan seakan ngomong “ini gak mungkin lo kan?” “Lu dapet ini dari mana hah?” Tanyaku sambil mengambil seluruh foto itu. Foto itu adalah foto tentang kejadian seminggu lalu di hotel bareng Lina “Di mading” jawabnya Gua bener-bener ga habis pikir siapa yang ngejebak kami, apa salah kami sampai orang itu tega nyebar ini, bahkan sampai di sekolah?, tapi dibalik itu semua gua ngerasa sedikit lega, karena dengan adanya foro ini, membuktikan kalau kami berdua dijebak. Aku bangkit dari tempat dudukku, “Van, lu harus cerita kekita”  ucap Geo, sambil menahan tangan ku. “Ok, gua bakal cerita tapi ga sekarang,” ucapku sambil berlalu meninggalkan meja tersebut, setelah pergi dari kantin aku berencana untuk pergi ke ruang osis dan menanyakan siapa petugas mading hari ini. Tapi ku urungkan niat ku karena melihat Ralina yang berjalan berlawanan arah denganku, “Apa dia belum tau?”, tapi kok dia risih gitu? apaan coba ni orang pada bisik bisik?”  Batinku menerka nerka, sambil melirik para siswa yang sedang berada di sepanjang koridor “Jangan jangan semuanya udah tau , makanya dia risih karena di peratiin?” Pikiran ku sangat kacau, aku melihatnya menunjukan semua giginya pada Fina sahabatnya itu, ntah untuk apa aku pun tidak tau, lalu aku langsung menarik tangannya tanpa ijin dari empunya tangan. Aku tau pasti sia kebingungan, “Ish siapa sih lo narik narik? lo pikir gua kebo apa?” ucapnya sambil menghempaskan tanganku lalu aku berbalik badan. Dia membelalakan mata dan bersiap untuk pergi dari ku tapi aku lebih cepat darinya dan langsung menariknya lagi. “Ikut gua bentar” ucapku sambil menariknya ke taman belakang sekolah,karena aku rasa ini tempat paling aman”Ada apaan sih? gua mau ke kantin juga” gerutunya. Aku menatapnya dengan intens, “Lu ga pernah ngasih tau tentang kejadian kita seminggu lalu ke siapapun termasuk Fina kan?”. Tanyaku  dan bisa ku lihat dari raut wajahnya yang kini kebingungan dengan pertanyaan ku “Ya ngak lah,” jawabnya dan  membalas menatapku sambil mengernyitkan dahi “Yakin?” Tanyaku lagi, “Ya yakin lah, emang ada masalah apa sih?” Tanyanya yang  dengan nada panik dan ingin tau. Aku masih menatapnya intens Apa anak anak tadi udah pada tau?. Apa yang lagi mereka bisikin itu masalah ini? “Lu udah tau tentang ini?” lalu aku menunjukan foto yang ku dapat dari Vino tadi, terlihat dari wajahnya rasa tidak percaya dan ku lihat matanya berkaca-kaca. “Apa apaan ini”kalimat itu yang aku dengar dari mulutnya dan kini di berlinang air mata.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN