Part 7.
Hari minggu Clara datang ke toko pizza. Ya, di pagi hingga siang ia akan mengantar pesanan pizza.
Ada 20 kotak pizza di box yang berada di jok belakang.
“Antarkan sesuai jarak tempat tinggal!” titah pelayan kasir padanya.
“Siap Kak!” jawab Clara.
Gadis itu memulai hari ini dengan penuh semangat. Rencananya gaji dari mengantar pizza akan digunakan untuk melunasi hutangnya. Kemudian, ia mulai bisa menabung kembali.
Clara naik sepeda motornya. Tak lupa memakai helm. Kemudian, ia mulai mengemudikan ke pemesan. Sepanjang perjalanan ia mulai bersenandung, menyemangati dirinya sendiri.
Kemudian, ia menghentikan motornya di depan sebuah rumah uang ternyata memesan sebanyak 18 kotak pizza.
“Woow!” gumam Clara pelan, karena pekerjaan hari ini ternyata sangat berpihak padanya.
Tangan Clara terulur menekan bel.
Ting.
Tong.
Seseorang keluar dari dalam rumah.
“Permisi Bu, Ini pizza nya!” sapa Clara.
“Baik Mbak!” jawab si pemesan. Membuka pintu gerbang, mengambil pizza lalu membayarnya.
“Terima kasih!”
“Sama-sama!”
Clara kembali melihat alamat pemesan selanjutnya. Ternyata seseorang yang tinggal di apartemen mewah.
Gadis itu kembali menjalankan motornya untuk mengantar pesanan kedua, sekaligus yang terakhir.
Motor Clara berhenti di sebuah area parkir, apartemen mewah.
Kemudian, ia melangkah masuk menemui bagian keamanan. Memberikan ID, sesuai ketentuan.
Setelahnya, Clara berjalan menuju pintu lift. Bersama beberapa orang yang lain ia masuk ke dalam alat transportasi di dalam gedung itu.
Pintu lift terbuka, sesuai dengan unit apartemen si pemesan.
Clara melangkah keluar, lalu bergerak mendekat ke arah pintu 1206. Sesuai alamat pemesan.
Pintunya dalam keadaan sedikit terbuka. Namun, Clara tetap menekan bel beberapa kali.
Tetap tidak ada sahutan.
Tanpa berpikir panjang, Clara menelefon nomor pemesan yang tertera di daftar.
Ternyata nomornya tidak aktif, karena penasaran Clara menerobos masuk. Ia melangkah ke depan, yakin jika penghuni apartemen ada di dalam.
Satu yang meragukannya, tidak ada sahutan sama sekali.
“Aaaa...,” teriak Clara karena melihat seorang wanita tak sadarkan diri dengan busa yang keluar dari mulutnya.
Seluruh tubuh Clara terasa lemas, jantungnya berdegup kencang, dan kotak pizza terlepas dari tangannya.
“Toloong!” teriak Clara memacu kakinya untuk keluar. Ia meminta tolong. Berlari menuju pintu lift dan menekan tombol darurat yang berada di pintu masuk lift.
Clara terduduk dengan gemetar. Ia bersandar dan menangis karena ketakutan. Kejadian sembilan tahun silam, ketika kedua orang tuanya bunuh diri kembali terlintas di kepalanya.
Lima menit berlalu, dua orang petugas keamanan keluar.
“Ada apa?” tanya seorang pria pada Clara.
“Ada yang meninggal!” ucap Clara dengan telunjuk mengarah ke dalam unit apartemen.
**❤**
Korban meninggal = Alluna Azalea.
Hasil autopsi penyebab kematian = keracunan atau sengaja meminum racun.
Waktu kematian = 10/11 jam sebelum ditemukan.
Kabar mengenai meninggalnya Alluna Azalea sudah menyebar. Hasil autopsi mengenai penyebab dan waktu kematian juga sudah keluar.
Polisi masih memeriksa tempat kejadian perkara (TKP), sementara Clara masih berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan. Bagaimana pun, dia lah saksi kunci, orang pertama yang menemukan korban.
“Jam berapa Mbak Clara tiba di TKP?” tanya seorang penyidik kepolisian bernama Pak Andra.
“Sekitar setengah delapan!” jawab Clara.
“Bisa ceritakan dengan detail bagaimana kejadiannya?” pinta Pak Andra.
Clara menceritakan dengan detail dan rinci, tidak ada satu yang ia lewatkan dari mulai ia datang ke apartemen. Masuk ke unit korban, menemukan korban, hingga ia berlari keluar untuk meminta tolong.
“Bagaimana keadaan TKP?” tanya sang polisi.
“Pintu dalam keadaan terbuka, tidak terkunci, membuka meski sedikit, dan saya memberanikan diri masuk, ruangan rapi dan tidak ada orang lain selain korban!” jawabnya.
“Baiklah, terima kasih infonya, kami akan menghubungi Anda lagi jika di butuhkan,” ucap Pak Andra.
“Sebentar Pak!” cegah Clara.
“Iya, bagaimana?” tanya Pak Andra lagi.
“Aku rasa Alluna tidak bunuh diri Pak, tidak mungkin kan orang yang akan bunuh diri memesan pizza!” ungkap Clara mengutarakan kejanggalan dalam hatinya.
“Untuk hal itu kami yang akan menyelidiki, setiap kemungkinan bisa saja terjadi,” ucap sang polisi lalu tersenyum pada Clara.
Gadis itu beranjak dari duduknya. Melangkah keluar dari ruang penyidik. Kabar mengenai kematian sang artis ternyata sudah menyebar. Pun begitu dengan cerita bahwa kurir pizza yang pertama kali menemukannya.
Tepat saat keluar dari pintu depan beberapa orang wartawan menyerbunya.
Mbak apa benar Alluna bunuh diri?
Jam berapa Anda tiba di apartemen Alluna?
Apa tidak ada orang lain selain Anda di TKP?
“Maaf teman-teman,” ucap Clara memilih melewati tanpa menjawab apa pun.
Ia kemudian kembali menuju kosnya. Kejadian itu juga membuat Clara merasa takut, butuh waktu untuk menenangkan diri.
**❤**
Reyn masih tertidur nyenyak di atas kasur empuk di dalam kamarnya. Cahaya matahari yang masuk lewat celah kamar, tidak mampu membuatnya terjaga.
Pun begitu dengan belasan telefon dari sang mama.
Hingga pukul sepuluh pagi, Faris yang seharusnya libur. Datang ke apartemen Reyn atas suruhan dari Nyonya Reyna.
Pria itu menerobos masuk, segera menuju kamar Reyn.
Pintu kamar terbuka.
“Tuan Reyn!”
“Tuan Reyn! Bangunlah!”
“Ada apa?” tanya Reyn masih enggan membuka mata. “Ini hari minggu dan materi untuk hari senin aku sudah mempelajarinya!” sahutnya.
“Nyonya meminta Anda untuk segera pulang, ada kabar buruk Tuan!” ucap Faris.
“Ada apa?” Reyn beranjak dan membalas tatapan Faris.
“Calon tunangan Anda ditemukan meninggal di kamarnya Tuan!” ungkap Faris dengan menundukkan kepala.
“Apa?” Reyn menggelengkan kepala. Ia tidak yakin jika Alluna sudah meninggal dunia. “Tidak ... tidak mungkin.”
“Pagi ini seorang pengantar pizza menemukan Nona Alluna meninggal di apartemennya. Dugaan sementara beliau bunuh diri karena meminum racun!” ucap Faris.
“Tidak, tidak mungkin." Reyn masih belum percaya jika Alluna meninggal dunia.
"Kenapa tidak mungkin Tuan?" selidik Faris.
"Alluna, semalam dia masih bernegosiasi denganku, bukan cuma itu, waktu aku mengantarnya ia juga sempat bercerita ingin kembali membintangi film Hollywood menjelang akhir tahun. Tidak mungkin kan dia bunuh diri!" Meski tidak memiliki perasaan pada Alluna, kabar mengenai kematian sang artis secara mendadak membuat Reyn merasa kaget dan tidak percaya.
"Anda bisa memberi kesaksian ke tim penyidik Tuan," ucap Faris. "Lebih baik Anda segera bersiap untuk pulang, Nyonya Reyna dan Tuan Wisnu sudah menunggu Anda," pintw Faris.
Reyn beranjak. Ia akan segera pulang bersama Faris.
.
.
.
To be Continue .
Tebak-tebak yuk...
Siapa pelakunya...