** 8 . Terlibat.

1103 Kata
Part 8 Kematian sang artis Alluna Azalea masih menjadi misteri. Meski sudah menjelang sore hari, pihak kepolisian belum merilis mengenai apa motif, hingga korban mengakhiri hidupnya dengan meminum racun. Pihak kepolisian mulai melihat rekaman CCTV apartemen untuk mengetahui kronologi yang sebenarnya. Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Reyn Hartanto, menjadi salah satu orang yang ditemui sang model sebelum bunuh diri. Ya di CCTV terlihat pukul 21.00 WIB di hari sabtu Reyn masuk ke dalam apartemen sang model. Tak sampai dua menit, pewaris Hartanto Group itu keluar dan kembali berjalan menuju lift. “Apa kita perlu menemuinya dan meminta keterangan?” tanya salah seorang pria yang duduk di samping Andra. “Tentu, mungkin bisa menjadi petunjuk korban meninggal karena bunuh diri atau di bunuh!” jawab pria itu. “Baiklah, kita akan ke sana sekarang!” imbuhnya. **❤** Di kediaman keluarga Hartanto. Wisnu, Reyna, dan Reyn tengah duduk di ruang tengah. Mereka menunduk, merasa sedih. Turut berduka atas meninggalnya calon tunangan Reyn. Mereka baru saja pulang dari rumah duka. Sepanjang hari, terus berada di sana, menemani keluarga inti hingga selesainya prosesi pemakaman. “Reyn,” panggil sang papa. Ia masih menunduk dengan perasaan tidak karuan. Rasa sedih terlalu mend0minasi. “Iya, Pa,” jawab Reyn. Menoleh, melihat ke arah kedua orang tuanya bergantian. “Apa yang kamu dan Alluna bicarakan saat makan malam?” tanya Pak Wisnu. Bukan hanya Reyn, semua orang yang kenal Alluna yakin betul jika perempuan itu tidak mungkin bunuh diri. “Tidak banyak Pa, masih seputar tentang hubungan pertunanganku dengannya!” jawab Reyn. Di sini, Reyn merasa bimbang. Antara ingin jujur atau berbohong saja. “Bisa kamu ceritakan lebih detail?” desak sang papa. “Iya, mama jadi ingat semalam mama lupa mau telefon kamu! Ceritakan semuanya Reyn, papa dan mama juga ingin tahu, rasanya mama belum percaya kalau Alluna sudah tiada!” ungkap Nyonya Reyna. Mengamati wajah putranya dengan saksama. Reyn masih bimbang untuk bercerita semuanya. “Begini Ma, Reyn mau bercerita asal Mama dan Papa janji untuk tidak marah?” jelas Reyn. Ia hanya berani membalas tatapan mata sang mama. Tidak sekali pun berani melirik ke arah sang papa yang sejak tadi mengamatinya. “Iya, mama tidak akan marah!” jawab wanita yang masih sangat kalut. Kemudian, ia menepuk tangan sang suami, agar segera menyahut. “Papa juga tidak akan marah!” Meski ragu, Wisnu Hartanto menjawab seperti yang diucapkan istrinya. Hening. Bibir Reyn masih terkunci. Sementara kedua orang tuanya masih sabar menunggu cerita dari putranya. “Sebenarnya! Malam itu, aku dan Alluna memutuskan untuk membuat kesepakatan, Ma!” jelas Reyn. Sumpah! Pria itu masih takut untuk menceritakan pembicaraannya dengan Alluna ketika makan bersama. Takut akan reaksi kedua orang tuanya. “Jadi, apa yang kalian bicarakan!” desak sang papa. “Aku dan Alluna memutuskan untuk berpura-pura tunangan Pa, dia menginginkan resort di Bali sebagai gantinya. Rencananya setelah rapat pemegang saham, aku dan dia akan mengakhiri hubungan pertunangan, karena aku rasa dia juga memiliki kekasih!” jelas Reyn. “Hmm... Kalian berdua!” ucap Wisnu Hartanto. Menahan diri agar tidak mengumpat. “Apa kamu tahu kekasihnya?” selidik papanya. “Tidak Pa, hanya saja aku merasa kalau Alluna bunuh diri rasanya janggal. Bukan hanya menginginkan resort dia juga beberapa kali ingin kembali ingin bermain film di Hollywood!” ungkap Reyn. Pak Wisnu dan istrinya mendengarkan penjelasan Reyn. Rasanya memang tidak mungkin orang yang mau bunuh diri merencanakan sesuatu untuk masa depannya. Seorang pelayan datang. “Tuan, Nyonya, di luar ada polisi!” ucapnya. “Baik, aku akan menemuinya,” sahut Wisnu Hartanto. Ia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju teras depan. Di sana sudah ada dua orang berpakaian polisi. “Selamat sore, apa benar ini kediaman Reyn Hartanto?” tanya polisi yang memakai baju warna hitam. “Iya, Pak benar, itu anak saya!” jawab Wisnu Hartanto. “Kami mengantarkan surat undangan, agar Reyn Hartanto bisa datang ke kantor polisi besok pagi untuk memberikan keterangan mengenai kematian Alluna Azalea!” ucap polisi itu seraya mengulurkan sebuah amplop berwarna coklat. Berisi surat pemanggilan saksi. “Ya, Pak!” sahut Pak Wisnu. Kemudian, kedua polisi itu pamit pulang. Sementara Pak Wisnu kembali masuk ke dalam. Ia duduk di hadapan Reyn yang sendiri di ruang tengah. “Kamu di panggil menjadi saksi, apa papa perlu menyewa pengacara untukmu?” tawar Wisnu Hartanto. “Tidak perlu Pa, aku hanya minta untuk acara besok, di tunda sampai kasus ini selesai, aku mendapat firasat buruk!” jawab Reyn. “Baik, Papa akan menunda selama satu bulan, semoga kasus ini segera berakhir!” kata Pak Wisnu mengutarakan pendapatnya. “Iya, Pa!” jawabnya. “Papa istirahat, Reyn juga mau istirahat!” pinta Reyn. “Ya, istirahatlah!” sahut sang papa. **❤** Pukul 19.00 WIB. Clara tengah duduk di kasir. Menjalani rutinitasnya. Karena malam minggu pengunjung lebih ramai dari biasanya. Sebenarnya hari ini, Clara ingin izin. Kejadian tadi pagi masih menyisakan trauma dalam hatinya. Namun, ia tidak bisa diam saja tanpa melakukan apa pun. Clara tengah berdiri, di depan meja kasir. Menghitung dan memberi kembalian. Kemudian, dari para pengunjung ada seorang pria yang menarik perhatian. “Berapa?” tanya pria itu. Satu bungkus rokok ada di tangganya. Pria itu memberikan selembar lima puluh ribuan. Clara yang mengamati wajah pria itu mengingat satu hal, tato di lehernya. Lantas pandangannya bergerak ke tangan ada tiga bekas cakaran di sana. Tangan Clara terulur menerima uang dari si pembeli rokok. Sementara pria itu beranjak pergi, tanpa meminta kembalian. Pikiran Clara bergerak cepat, mengambil uang kembalian dan mengejar pria itu untuk memastikan wajahnya. “Pak ini kembaliannya!” ucap Clara. “Tidak perlu!” jawab pria itu. Masuk ke dalam mobil dan berlalu begitu saja. Kemudian, ia kembali ke meja kasir untuk melanjutkan pekerjaannya. **❤** Reyn tengah duduk di ruang kamarnya. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Apa yang terjadi hari ini membuatnya sangat lelah. Hanya saja, ia masih bisa terlelap. Ingin sekali menghubungi Clara, memastikan gadis itu besok malam sudah tidak bekerja lagi di mini market, melainkan di apartemennya. Namun, dia merasa sedang kacau. Akan menghubungi Clara esok pagi saja seusai dari kantor polisi. Tangan Reyn terulur, meraih ponsel, lalu membuka aplikasi Youtube. Mulai memutar video, mengenai pemberitaan kematian Alluna yang sudah menyebar luas. Reyn, memutar kembali video berdurasi satu menit dengan judul. ‘Seorang kurir pizza, menjadi saksi pertama yang menemukan korban di tempat kejadian.’ Manik mata Reyn lebih fokus, mengamati video seorang wanita berbaju merah tengah keluar dari kantor polisi. “Clara!” lirih Reyn. Ia menutup ponsel. Reyn yang awalnya menghindari Clara, ingin menemui gadis itu sekarang juga! Tidak ingin hal buruk terjadi. To be Continue. Di tunggu komentarnya... kakak-kakak... Salam cinta dari dreams_dejavu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN