86

1153 Kata
(Flashback) (POV Kazu) Ayano adalah teman masa kecil sekaligus orang yang selalu kucintai semenjak kami saling mengenal dari sekolah dasar. Kami tak terpisahkan, sekolah kami selalu sama, bahkan seolah sudah terikat dengan benang takdir, kelas kami pun tak pernah berbeda. Aku sudah lama menyukai Ayano, tapi aku pun sudah lama tahu bahwa Ayano tak pernah sekalipun memandangku sebagai orang yang akan menjadi pasangannya. Siang ini, saat jam istirahat, ada seorang gadis yang mengajakku untuk berpacaran. Dia adalah Hitomi Ayase, seorang gadis dari kelas sebelah yang populer karena kecantikannya. Aku tidak tahu apa yang membuat gadis secantik dia bisa tertarik padaku. “Kazu, aku menyukaimu, jadilah pacarku,” ucap gadis itu dengan percaya diri. Aku hanya menggaruk belakang kepala. “Kenapa kau menyukaiku?” “Memangnya butuh alasan?” “Iya, aku tidak mengerti kenapa gadis sepopuler dirimu bisa mencintai diriku.” Dia menghela napas. “Kau itu tampan Kazu, dan juga baik hati. Apa kau tidak pernah menyadari hal itu?” “Apa karena itu kau ingin berpacaran denganku? Bukankah masih banyak laki-laki yang seperti itu?” Dia menggeram. “Ah, kau ini memang menyebalkan, kalau tidak mau ya sudah.” Hitomi langsung pergi meninggalkanku sendirian. Ah, aku memang selalu begini. Aku tidak percaya pada diriku sendiri, sehingga setiap kali ada yang menyatakan cinta padaku, aku selalu bertanya-tanya mengapa mereka bisa menyukaiku, dan tanpa kusadari hal itu ternyata membuat mereka merasa tidak nyaman. Tapi, aku tidak menyesal, lagipula aku sudah memiliki orang yang disukai, yaitu Ayano. Seandainya dia yang menyatakan cinta padaku, aku akan menerima dia tanpa pikir panjang. Setelah menolak Hitomi di atap sekolah, aku pun kembali menuruni atap dengan berhati-hati. Aku sedikit tidak enak telah menolak dia, tapi mau bagaimana lagi. Meski dia cantik, aku tidak punya perasaan apa-apa pada dirinya. “Kazu, kamu menolak pernyataan cinta dari gadis lagi, ya?” tanya Ayano di hadapanku. “Kamu tau dari mana?” tanyaku bingung. “Anak-anak bergosip soal itu. Ada yang melihatmu menolak Hitomi-san di atap.” Aku menggaruk belakang kepala. “Ah,  jadi begitu, ya.” Ayano menggembungkan pipi. “Duh, kamu jangan begitu terus, Kazu. Nanti tidak bisa dapat pacar, loh!” “Mau bagaimana lagi, aku memang tidak menyukai dirinya. Jika aku menerima ajakan pacarannya dan membuat dia tidak bahagia, itu jauh lebih buruk, kan?” Ayano mengangguk-angguk. “Benar juga, ya. Ya sudah, terserah kau saja kalau begitu.” Ayano kemudian tersenyum. Senyumannya itu membuat jantungku dipompa lebih cepat. Dari sekian banyak gadis yang pernah tersenyum padaku, senyuman Ayano lah yang paling aku sukai. Senyuman tulus tanpa mengharapkan apa-apa. Senyuman polos yang indah. “Kenapa kau belum berpacaran, sih? Memangnya tidak ada perempuan yang kau sukai?” Aku terbatuk. Kenapa Ayano menanyakan hal seperti itu? “Ti-tidak ada,” jawabku. “Ah, begitu.” “Kau sendiri bagaimana? Kenapa belum berpacaran?” “Aku pun sama. Tidak ada laki-laki yang aku sukai saat ini. Tidak pernah ada yang menyatakan cinta padaku juga. Jadi mana bisa aku berpacaran.” Aku berpikir. Jika aku menyatakan cinta padanya, apa dia mau berpacaran denganku? Aku tidak sepercaya diri itu, karena aku tahu Ayano hanya memandangku sebagai teman. Hubungan ini akan berantakan jika aku tiba-tiba menyatakan cinta padanya. Lagipula, kalau aku pemberani, sejak dulu aku pasti sudah jadian dengan orang ini. “Kazu, kalau ada gadis yang menyatakan cinta padamu. Cobalah untuk berpacaran dengannya. Siapa tau cocok.” Jantungku berdebar kencang lagi. Apa Ayano mau menyatakan cinta padaku? “Kenapa memangnya?” “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kau bahagia. Orang yang punya pasangan, katanya lebih bahagia kan ketimbang yang sendirian?” Aku menghela napas. Dari cara dia mengatakan hal itu, dia rupanya memang hanya iseng mengatakan hal itu. Tidak ada niatan apapun untuk mengajakku berpacaran. “Tidak begitu juga kok, Ayano. Kadang yang sendirian lebih bahagia ketimbang yang berpasangan tapi banyak bertengkar. Kebahagiaan tidak bisa diukur oleh hal tersebut.” “Oh, begitu, ya.” Ayano mengangguk-angguk. “Iya.” “Tapi, pokoknya, kalau ada gadis yang menyatakan cinta padamu, cobalah terima saja. Reputasimu akan memburuk jika orang-orang tahu kau selalu menolak ajakan pacaran dari para perempuan. Pokoknya coba saja.” Aku tersenyum. “Baiklah, kapan-kapan akan kucoba.” Sama seperti diriku yang sering ditembak para gadis, seorang Ayano pun sebenarnya ada banyak yang menyukai. Hanya saja dia tidak tahu. Dan kebanyakan, laki-laki yang hendak menyatakan selalu ciut nyalinya karena Ayano selalu dekat denganku. Sepulang sekolah, salah satu teman sekelas bertanya padaku. “Kazu, apa kau dan Shiraishi berpacaran?” Ah, Shiraishi itu nama keluarga Ayano. Semua orang memanggil Ayano dengan nama Shiraishi di sekolah, kecuali teman dekatnya. “Kenapa memangnya?” “A-aku… aku sebenarnya menyukai Shiraishi. Apa kau tidak keberatan jika aku mengajaknya berpacaran?” Aku berdehem. “Jangan Tadano, Ayano itu incaranku.” Tadano mendelik. “Itu berarti kalian tidak berpacaran, kan?” “Belum berpacaran. Tidak lama lagi kami akan jadi pasangan.” Dia tampak resah. “Ugh, begitu ya. Baiklah, aku mundur saja. Tidak mungkin aku bisa mengalahkan lelaki tampan yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Aku akan mencari gadis lain saja.” “Ya, lebih baik begitu.” Semenjak kelas satu sampai kelas tiga sekarang, aku tak pernah mendengar sekalipun kabar bahwa Ayano ditembak oleh seseorang. Alasannya karena hal tadi itu. Karena aku selalu berada di dekat Ayano sehingga beberapa orang mengira kami sudah berpacaran, dan sebagian orang lagi sudah menyerah duluan karena berpikir tidak akan bisa menang melawanku yang juga mengincarnya. Aku merasa sedikit bersalah karena membuat para lelaki yang menyukai Ayano batal menyatakan perasaan. Aku pun merasa tidak enak pada Ayano karena dibalik layar telah melarang para lelaki untuk mendekatinya. Tapi aku tidak peduli. Ayano itu untukku, tidak boleh ada yang memilikinya selain diriku. Satu minggu berlalu semenjak aku menolak Hitomi dari kelas sebelah. Tidak ada gadis yang menyatakan cinta padaku lagi. Aku tidak peduli, karena kalaupun ada sudah pasti aku tolak. “Kazu, rasanya dinyatakan perasaan oleh perempuan seperti apa?” Ayano bertanya secara tiba-tiba. “Seperti apa? Biasa saja. Kalau yang menyatakannya itu bukan gadis yang aku suka, malah risih jadinya.” “Oh, begitu ya.” “Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu?” Dia menatapku, kemudian menunduk lagi ke bawah. “Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja. Aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai, dan dinyatakan perasaan. Aku menonton film romansa kemarin, dan rasanya aku ingin merasakan hal yang dirasakan oleh si tokoh perempuan dalam film itu.” Aku mengangguk-angguk. “Intinya, kau ingin ditembak, Ayano?” Wajahnya tersipu. “Y-ya…. sedikit.” Aku menelan ludah. “Kalau begitu….” “Kalau begitu?” Saat dia memandangku, tak ada sorot mata jatuh cinta sama sekali. Aku tahu dengan jelas. Tatapannya berbeda dengan para gadis yang memiliki perasan padaku. Nyaliku mendadak ciut. “Tidak apa-apa.” Ayano mencubit tanganku. “Eh, jangan gitu, dong! Lanjutin perkataannya!” “Bukan hal yang penting.” “Huu!!!” Aku belum bisa menyatakan perasaan pada Ayano. Karena kalau kulakukan, aku pasti akan ditolak. Setidaknya untuk saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN