85

1185 Kata
Ayano mulai bercerita tentang Saga setelah Hiragi dan Kazu terus mendesaknya. Ayano pun sebenarnya memang ingin menceritakan Saga pada mereka, karena saat di kampus dia menyembunyikan hubungan mereka. “Aku dan Saga tidak pacaran, tapi kami sama-sama saling menyukai. Aku suka dengan sifat Saga yang tulus.” Ayano bercerita secara singkat. “Hanya karena dia tulus saja?” tanya Hiragi, penasaran. “Tentu saja bukan. Banyak sifat Saga yang aku sukai. Dia ramah, tidak egois, mudah berbaur dengan orang lain. Saga memiliki banyak sifat bagus yang tidak aku miliki. Kalau bersama Saga, rasanya sangat nyaman dan menyenangkan. Saga bukan tipe orang yang membuat jantungku berdegup kencang karena ketampanannya. Saga adalah tipe orang yang akan selalu ada di saat aku membutuhkannya. Tidak selalu tentang menolong, ini tentang dirinya yang selalu ada untuk sekedar mendengarkan keluh kesahku.” Baru kali ini Kazu melihat Ayano begitu antusias membicarakan seorang laki-laki. Wajahnya pun sering tersipu saat membicarakan lelaki tersebut. Kazu benar-benar kalah telak. “Kau yakin tidak berpacaran dengannya? Apa kau tidak takut dia pacaran dengan gadis lain?” tanya Kazu. Ayano menggeleng. “Saga sangat menyukai saya. Tidak mungkin dia berpaling pada gadis lain.” Ayano berkata dengan sangat percaya diri. “Eh, kau yakin? Perasaan seseorang bisa mudah berubah, loh. Apalagi kalian baru mengenal selama enam bulan.” Kazu masih mengingatkan. “Kazu benar. Apa tidak sebaiknya kalian pacaran saja? Soalnya, kalau sudah pacaran, kalian bisa merasakan ikatan yang lebih dekat. Kalian juga bebas melakukan apa saja.” Hiragi menambahkan. Ayano menggeleng lagi. “Tidak, aku dan Saga bukan tipe pasangan yang seperti itu. Kami sudah berjanji tidak akan berpacaran sampai kami berdua lulus. Selama waktu itu, kami akan bersikap sebagai teman saja. Ta-tapi… tentu saja teman yang spesial.” Mendengar hal itu secara langsung, Kazu dan Hiragi pun tersenyum. Kalau Ayano sampai bicara seserius itu, itu artinya tidak perlu ada yang dikhawatirkan. “Ayano, apa aku boleh bertemu dengan orang yang bernama Saga itu?” tanya Kazu. Hiragi tertarik. “Iya, aku juga ingin bertemu!” Wajah Ayano memerah. “Eh??? Baiklah kalau kalian mau. Aku hubungi dulu Saga nya.” Dengan cepat, Ayano mengirim pesan pada Saga. Ayano: Saga, sedang sibuk tidak? Saga: Kenapa emangnya? Ayano: Saya ingin bermain ke kontrakan Saga. Ayano: Apa Saga ada di sana? Saga: Ah, iya, aku ada di sini, kok. Saga: Main aja. Ayano: Bagus kalau begitu. Ayano: Hiragi dan Kazu mau bertemu kamu. Mereka sedang berada di sini sekarang. Ayano: Saga ingat mereka berdua, kan? Saga: Hiragi dan Kazu?! Orang yang kamu ceritain dulu itu?! Saga: Yang kejadian menyeramkan? Ayano: Iya. Ayano: Syukurlah kamu masih ingat. Ayano: Mereka ingin bertemu denganmu. Boleh tidak? Saga: Ah iya, boleh-boleh! Saga: Ke sini saja! Ayano: Oke deh kalau begitu. Ayano: Otw. Ayano lalu mengabari Kazu dan Hiragi bahwa Saga memperbolehkan mereka untuk bermain ke kontrakannya. Ayano bilang, dia pernah bercerita tentang Kazu dan Hiragi pada Saga. Jadi, dia sudah mengetahui tentang mereka. “Baguslah kalau begitu, ayo berangkat!” Mereka bertiga lantas pergi menuju mobil yang sedang ada di parkiran. Di sana ada Haru yang sedang merokok sambil bersantai. Hari ini dia yang menjadi supir antar jemput bagi Hiragi dan Kazu. “Haru, perkenalkan ini Ayano.” Hiragi yang memperkenalkan. Ayano langsung mengulurkan tangan. “Ayano.” “Haru.” Haru membalasnya. “Ayano beneran kuliah di sini?” Haru bertanya menggunakan bahasa Indonesia. “Iya, saya jurusan dokter hewan.” Haru tertawa. Dia mematikan rokoknya. “Wah, hebat lah, bahasa Indonesiamu lancar sekali.” “Terima kasih, hehe.” “Ya sudah, kita berangkat sekarang. Mana alamatnya?” Haru meminta. Ayano menoleh pada Hiragi. “Hiragi, tolong kirim ke nomor Haru share lock dari saya.” “Oke.” Setelah didapat, mereka pun mulai pergi meninggalkan parkiran. Jarak kafe tersebut dengan kontrakan Saga tidak terlalu jauh, sehingga hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di depan kontrakan Saga. Mereka semua langsung turun kecuali Haru. “Haru, ayo ikut turun juga,” ajak Ayano. “Ah, tidak usah, aku tidak mau mengganggu.” “Tidak apa-apa, ikut saja, ayo!” Ayano sedikit memaksa. Karena ditatap serius, Haru pun ikut turun. “Baiklah.” Ayano langsung menekan bel setelah sampai di depan pintu kontrakan Saga. Baru kali ini dia datang ke sini bersama teman-temannya. Si penghuni kontrakan keluar. Saga tetap terkaget saat melihat dua orang asal Jepang meski sebelumnya sudah diberitahu oleh Ayano. Apalagi ternyata ada satu orang tambahan yang tidak diceritakan oleh Ayano. “Ayo, masuk saja semuanya.” Saga membukakkan pintu lebar-lebar. Semuanya pun masuk setelah Ayano menerjemahkan. Saga merasa sedikit canggung. Tidak pernah sebelumnya dia menerima tamu dari luar negeri. Terlebih orang-orang itu adalah teman-teman Ayano. Mereka duduk di sofa dan mulai berkenalan. “Saga, ini Kazu dan Hiragi, yang dulu saya ceritakan itu.” Saga terpana saat melihat keduanya. Hiragi berambut panjang seperti Ayano, memiliki style yang sangat Jepang. Sedangkan Kazu, dia memiliki postur yang cukup tinggi dengan kulit putih bersih. Dia lebih tampan dari yang Saga duga. Tidak menyangka Ayano lebih memilih dirinya ketimbang teman masa kecilnya sendiri. “Saga.” “Hiragi.” “Saga.” “Kazu.” Mereka saling bersalaman. “Saga.” “Gua Haru. Kalau ngobrol sama gua pake bahasa Indo aja.” Saga terkaget. Dia pikir orang yang terakhir ini sama-sama orang Jepang. “Lah, lu bukan orang Jepang?” “Ibu gua orang Jepang, bapak gua asli sini. Gua keturunan, hehe.” “Oalah.” Tak lama, Argi muncul dari balik pintu setelah pergi keluar sebentar. Dia terkaget saat melihat sudah banyak orang di dalam. Tapi, lebih kaget lagi setelah melihat sosok Haru di sana. “Lah, Argi? Lu ngapain di sini?” tanya Haru saat melihat Argi masuk. “Lah, ini kan kontrakan gua. Lu yang ngapain ada di sini?” Argi balik bertanya. “Gua lagi nganterin Hiragi sama Kazu yang pengen ketemu Saga dan Ayano. Gua temen mereka berdua.” Haru menunjuk Kazu dan Hiragi. Keduanya langsung mendadahi Argi bersamaan. Argi pun membalasnya. “Haru, keluar yuk. Biarin mereka di sini aja.” “Eh? Mau ke mana?” “Catur, lah! Di pos ronda ada bapak-bapak yang jago. Gua gak pernah menang lawan dia. Ayo kita tantang.” “Wah, kalau lu gak bisa ngalahin berarti dia jago banget. Yaudah, ayo gua ikut!” Haru adalah teman Argi di organisasi catur kampus. Mereka tidak menduga akan bertemu di sini. Mereka pun pergi keluar meninggalkan Saga bersama Ayano dan kedua temannya. Mereka pun berbincang-bincang seperti biasa. Saga agak canggung awalnya karena beda bahasa dengan Kazu maupun Hiragi. Namun, lama kelamaan bisa lebih menyesuaikan. Ayano yang menjadi penerjemah tampak menikmatinya. Kazu berbisik pada Ayano. “Ayano, aku ingin ngobrol berdua sama Saga.” “Eh, emangnya kamu bisa bahasa Indonesia?” “Ada gugel translate. Sedikit-sedikit, aku bisa mengerti.” “Oke deh.” Ayano lalu menarik lengan Hiragi. “Hiragi, bantu saya bikin makan malam.” Ayano lalu berganti menatap Saga. “Kamu belum makan malam, kan?” “I-iya, belum.” Ayano tersenyum. “Bagus deh, ayo Hiragi kita bikin makanan yang enak!” “Ah, i-iya.” Saga pun ditinggal berdua dengan Kazu di sofa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN