Niat Hiragi dan Kazu untuk bertemu dengan Ayano akhirnya berbuah manis.
Sore hari sepulang dari kuliah, mereka berdua akhirnya bisa berjumpa kembali dengan teman SMA-nya yang sudah lama tidak mereka jumpai. Mereka sedang berbincang-bincang di kafe kopi dekat kampus.
“Ayano! Akhirnya bertemu lagi!” Hiragi tampak begitu senang, dia sampai tidak mau melepaskan tangan Ayano.
“Hiragi, kenapa kamu jadi begini? Seingatku dulu kamu tidak bisa menunjukkan ekspresi.” Ayano menahan senyum.
“Ini semua gara-gara kamu!” Hiragi mencubit pipinya.
Saat SMA, Hiragi memang dikenal sebagai anak pendiam dan misterius. Dia dijauhi oleh banyak orang karena sering mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Dia dicap aneh dan dikucilkan oleh teman-teman sekelas.
Hal itu terus berlangsung sampai akhirnya dia bertemu dengan Ayano di kelas tiga. Ayano menjadi satu-satunya orang yang mau berteman dengan Hiragi. Dia bahkan mengajak Kazu untuk berteman dengannya juga hingga akhirnya mereka bertiga bisa menjadi akrab.
“Bagaimana kabarmu di sini, Ayano?” tanya Kazu.
Ayano tersenyum. “Aku baik-baik saja. Di sini banyak orang yang ramah, jadi aku sangat betah.”
“Begitu ya, bagus lah.” Kazu lega bisa mendengarnya secara langsung.
“Ayano, kenapa kamu kuliah di sini, sih? Kenapa jauh-jauh ke Indonesia? Di Jepang kan juga ada jurusan dokter hewan.” Hiragi bertanya-tanya.
Ayano memang belum pernah bercerita mengenai hal ini, bahkan pada Kazu yang merupakan teman dekatnya.
“Iya, kenapa kau pindah ke sini? Apa jangan-jangan karena orang tuamu?” Kazu menebak.
Ayano tersenyum. “Kazu memang hebat bisa menebak dengan tepat.”
Hiragi kebingungan. “Orang tua? Memangnya ada apa dengan orang tuamu?”
Kazu belum bercerita soal ini pada Hiragi. Dia ingin Ayano yang menceritakannya sendiri secara langsung.
Ayano pun bercerita. “Orang tuaku yang sekarang bukanlah orang tua kandung. Ibuku meninggal ketika aku baru masuk SMP, setelah itu Ayah menikah lagi dengan perempuan lain. Dua tahun kemudian, giliran Ayahku yang berpulang, meninggalkan diriku bersama istri barunya serta adik tiriku yang baru berusia satu tahun. Setelah itu, ibu tiriku menikah lagi dengan seorang duda dua anak. Aku mendapat dua orang adik, satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Rumahku jadi semakin ramai, tapi aku malah semakin kesepian.”
Kazu sudah tahu karena Ayano pernah bercerita. Tetapi ini hal yang baru diketahui oleh Hiragi. Mereka berdua tetap fokus mendengarkan.
“Pada awalnya aku senang dengan pernikahan mereka. Namun, lama kelamaan, aku jadi merasa terasingkan. Di rumah milik orang tuaku itu, aku seperti orang asing. Ibu dan ayahku dua-duanya tidak ada hubungan darah denganku. Dua adik baruku benar-benar menyebalkan, terutama adik laki-laki yang sering mengintipku di kamar mandi. Perhatian ibu terfokus pada adik tiriku, dan dua anak dari suami barunya, sedang perhatian Ayah terfokus pada semuanya, kecuali diriku yang memang tidak ada hubungan apa-apa dengan ibu tiriku. Tidak ada masalah berarti, aku hanya merasa seperti orang asing saja di rumah itu.”
Hiragi mengangguk-angguk. “Mereka tidak melakukan tindak kekerasan, kan?”
Ayano menggeleng. “Tidak. Mereka berbuat baik padaku, dan mengatakan akan menanggung biaya kuliahku sampai lulus. Tapi, saat mengetahui bahwa perekonomian mereka sedang tidak baik-baik saja, aku langsung menyerah. Lebih baik aku kuliah dengan biaya sendiri saja. Uang yang mereka punya biar untuk mengurus anak-anak mereka.”
“Lalu kenapa kau memilih datang ke Indonesia? Bukannya banyak universitas Jepang yang menawarkan beasiswa?” tanya Kazu, dia sangat penasaran karena Ayano tidak pernah mau menjawabnya.
“Itu karena aku… ingin meninggalkan Jepang selamanya. Aku tidak mau bertemu mereka lagi. Mereka telah merebut rumahku. Jika tahu akan begini jadinya, aku lebih senang jika Ayah tidak menikah lagi saja setelah kematian ibu, agar rumah itu tetap jadi milikku sendirian. Agar aku tetap bisa mengingat ayah dan ibu.”
Kazu dan Hiragi masih menyimak.
“Selama ada mereka, aku tidak bisa menganggap tempat itu adalah rumahku. Aku tahu, hak milik rumah itu telah dipegang oleh ayah baruku. Jadi, aku tidak bisa mengusir mereka dari rumah. Secara tidak sadar, aku memang sudah menjadi orang asing di sana. Mereka hanya menganggapku sebagai beban.”
Hiragi membalas. “Lantas, kenapa kau memilih Indonesia di antara banyaknya negara?”
“Aku dengar Indonesia adalah negara paling ramah di dunia, jadi aku memilih negara ini saja. Dan kebetulan, aku juga menemukan program beasiswa mahasiswa asing untuk jurusan kedokteran hewan. Jadi, aku memilih kampusku sekarang tanpa berpikir dua kali.”
“Lalu, bagaimana? Apa orang-orang di sini memang ramah?” tanya Kazu.
Ayano tersenyum. “Iya, memang benar. Orang-orang di sini sangat ramah. Mereka sering menolongku meski aku adalah orang asing. Mereka sering menyapa, menawarkan makanan, menawarkan untuk mampir, mengajakku berjalan-jalan, dan yang terpenting mereka menganggap keberadaanku. Aku merasa sangat dihargai saat berada di sini. Teman-teman kuliahku juga sangat baik.”
Hiragi tersenyum mendengarnya, merasa lega Ayano terlihat begitu nyaman.
“Bukan berarti semua orang di sini baik, ada juga orang jahat yang hampir melukai diriku, tapi itu tidak masalah. Banyak orang yang bisa melindungiku di sini, dan juga ada seseorang yang benar-benar sangat berarti bagiku. Tanpa dia, aku mungkin tidak akan senyaman ini tinggal di Indonesia.”
Ayano memikirkan Saga saat mengatakan hal itu. Pertemuan pertama mereka di tengah lapangan benar-benar berarti bagi Ayano. Ayano bersyukur Saga lah mahasiswa pertama yang dia temui, karena berkat dirinya, Ayano bisa lebih lancar berbahasa Indonesia.
Saga memang payah dalam pelajaran. Ayano pun tahu Saga itu tidak bisa berbahasa Inggris. Namun, saat Saga mengajari Ayano bahasa Indonesia, itu adalah hal yang membuat Ayano bersemangat. Itu karena Saga mengajari dengan setulus hati, tidak meminta imbalan apa-apa.
“Ayano, kau tidak serius kan saat bilang akan pergi selamanya dari Jepang?” tanya Hiragi.
“Aku serius.”
“Ayano….”
“Tapi, jika orang pentingku itu ingin melihat bagaimana tempat kelahiranku, aku pasti akan mengantarnya berkeliling.”
Kazu dan Hiragi saling menatap, lalu tersenyum.
“Hei, siapa orang pentingmu itu? Laki-laki atau perempuan?”
“Ceritakan pada kami Ayano.”
Wajah Ayano memerah. “I-itu tidak penting! Bagaimana dengan hubungan kalian sendiri?”
Kazu dan Hiragi mulai berpacaran saat Ayano sedang berada di Indonesia.
Hiragi yang menyatakan cinta, dan Kazu menerimanya.
Pada awalnya Hiragi ragu-ragu karena berpikir bahwa Kazu dan Ayano memiliki hubungan yang spesial. Namun, Kazu mengatakan bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman semasa kecil.
Kazu bilang ‘Jika hubungan kami spesial, dia tidak akan pergi jauh meninggalkanku.’
Kazu mengakui bahwa dirinya selama ini memang menyukai Ayano, tapi dia sadar Ayano tidak pernah memiliki perasaan yang sama. Setelah Kazu menceritakan semua itu, perasaan Hiragi tetap tidak berubah. Dia tetap ingin berpacaran dengan Kazu.
Setelah Hiragi mengutarakan cintanya, Kazu pun menerimanya.
“Kami berdua baik-baik saja, bahkan semakin mesra. Iya, kan?” Hiragi memeluk Kazu dari samping.
“Iya.”
Ayano tersenyum pada mereka berdua.
“Kalian mesra sekali, ya. Aku iri deh.”
Hiragi berhenti memeluk Kazu.
“Sekarang ceritakan tentang orang pentingmu itu, Ayano.”