83

1251 Kata
(Kansai International Airport, 10:00 PM) Malam di bandara begitu ramai. Banyak orang berlalu lalang. Hiragi dan Kazu sedang menarik koper besar ditemani kedua orang tua Hiragi yang ikut mengantar. "Sudah, sampai sini saja. Pesawatnya akan berangkat." Hiragi berbalik badan, menatap wajah kedua orang tuanya. "Kalau sudah sampai Jakarta, langsung pergi ke rumah Om Reza, ya." Ayah mengelus-elus kepala Hiragi. "Jangan pergi ke mana-mana sebelum sampai di rumah Om Reza." Ibunya ikut mengelus-elus. "Iya, tenang saja. Aku bukan anak nakal, kok." Mereka bertiga lantas berpelukan sebagai tanda perpisahan. Kazu hanya tersenyum melihat mereka yang begitu akrab. "Hati-hati ya, Mina." "Jangan sering makan es, ya!" Mereka pun berpisah. Hiragi dan Kazu berjalan meninggalkan mereka sambil menarik koper dan melambaikan tangan. Sesampainya di pesawat, Hiragi langsung duduk di sebelah Kazu. Mereka mendapat kursi di bagian paling tengah. Begitu pesawat lepas landas, Hiragi berpamitan pada langit Tokyo untuk yang terakhir kalinya. Dia menempelkan wajahnya di jendela, mengusik Kazu yang duduk di sebelahnya. Hiragi lantas berbisik dengan pelan. "Selamat tinggal Jepang." Membutuhkan waktu sepuluh jam untuk sampai di Indonesia. Pasti akan membosankan jika hanya duduk menunggu sampai pesawat ini mendarat. Hiragi lantas membuka buku, dan mulai membacanya. Kazu yang duduk di sebelahnya sudah tertidur. “Permisi sebentar, ini makan malamnya.” Seorang pramugari menaruh dua cup spaghetti carbonara di meja kursinya. Begitu pramugari itu pergi, Hiragi langsung melanjutkan membaca. Spaghetti itu Hiragi simpan untuk nanti. Dua jam berlalu tanpa terasa, Hiragi benar-benar terhipnotis oleh buku yang dia baca. Meski sedang berada di pesawat, rasanya Hiragi seperti tersedot ke dalam negeri dongeng. Novel yang menarik memang selalu berhasil menghiburnya. Setelah matanya lelah, Hiragi pun tertidur.                                                (Soekarno-Hatta International Airport, 06:10 AM) Tak terasa pesawat telah mendarat di bandara. Pagi yang indah di langit Jakarta ini menyambut kedatangan mereka berdua. Kazu sudah terbangun saat Hiragi membuka matanya. Mereka berdua turun dari pesawat dengan disambut mentari yang hendak terbit. Waktu di handphone mereka sudah otomatis berubah menjadi zona waktu Indonesia. Tujuan mereka datang ke Indonesia adalah karena ingin bertemu dengan Ayano. Gadis asal Jepang itu tidak pulang kampung saat liburan kuliah kemarin, membuat mereka berdua khawatir. Kebetulan kuliah Hiragi dan Kazu sedang libur dua minggu karena ada acara kampus, jadi mereka berdua memanfaatkan waktu itu untuk mengunjungi sahabat baiknya yang sedang berada di Indonesia. Hiragi memberi pesan pada Om Reza bahwa dia telah sampai di bandara bersama Kazu. Hiragi kenal dekat dengan Om Reza karena lelaki itu sering bermain ke rumahnya yang berada di Jepang. Istri Om Reza adalah teman dekat ibunya. “Mina!” Seorang lelaki berkacamata mendadahi Hiragi dan Kazu dari tempat kepulangan penumpang. Anak lelaki itu bernama Haru, anak kandung dari Om Reza dan Bibi Yumi. Haru kenal dengan Hiragi karena mereka pernah satu sekolah saat SMP. “Waah, anak Bibi udah sampe!” Bibi Yumi memeluk Hiragi dengan erat. Dia juga memeluk Kazu meski baru pertama kali bertemu. Bibi Yumi benar-benar menyukai Hiragi. Dia ingin menjodohkannya dengan Haru. Namun, sayangnya baik Haru maupun Hiragi keduanya sama-sama tidak saling menyukai. Haru sudah punya pacar di Indonesia, begitupun dengan Hiragi yang sudah punya pacar di Jepang. Hiragi dan Haru sama-sama tidak ambil pusing. Mereka berdua berteman seperti biasa saja. Tidak pernah memikirkan apa yang dikatakan oleh Bibi Yumi. “Selamat datang di Indonesia, Mina dan….” Haru lupa nama pacar Hiragi. “Kazu.” Kazu melambaikan tangan. “Ah iya, aku Haru.” “Salam kenal, Haru.” Bibi Yumi ikut dalam pembicaraan. “Kita sarapan dulu, yuk.” *** Setelah mampir di restoran untuk sarapan, Hiragi dan keluarga Haru meluncur pulang dengan menggunakan mobil. Hiragi dan Kazu duduk di belakang bersama Bibi Yumi, sementara Haru dan Paman Reza berada di depan. “Mina, udaranya panas ya di luar?” tanya Paman Reza sambil menyetir. “Iya.” Meski masih jam delapan, tapi udaranya sudah lumayan panas. “Kamu harus membiasakan diri ya, hahaha,” lanjutnya. Selama di mobil, Hiragi terus dipeluk oleh Bibi Yumi. Dia juga melontarinya banyak pertanyaan. Bibi Yumi dulunya adalah teman sekelas Ibu Hiragi saat masih SMA. Dia juga orang Jepang. Karena menikah dengan Paman Reza yang orang Indonesia, dia akhirnya tinggal di sini. Mereka sempat tinggal di Jepang beberapa tahun, jadi Hiragi bisa kenal dengan Haru. Tak terasa, perjalanan pun usai. Mereka telah sampai di depan rumah sederhana dengan cat berwarna putih. Ada kolam ikan dan taman rumput di belakang pagar hitam. Tipe rumahnya sangat berbeda dengan yang dimiliki orang-orang Jepang. Setelah Paman Reza memasukan mobil ke garasi, Haru turun dan mengangkat koper Hiragi yang ada di bagasi. Dia menariknya masuk ke dalam rumah. Hiragi dan Kazu mengikutinya dari belakang. Tidak ada siapa-siapa di rumah. Haru adalah satu-satunya anak Paman Reza dan Bibi Yumi. Mereka tinggal bertiga saja di sini. Kehadiran Hiragi dan Kazu mungkin akan membuat rumah ini jadi sesak. “Aku akan mengantar kalian ke kamar.” “Iya, tolong.” Hiragi dan Kazu mengikutinya dari belakang. Sementara Kazu menunggu di bawah, Haru menaiki tangga sambil mengangkat koper Hiragi yang besar. Dia terlihat sedikit kesulitan. Hiragi ingin membantu, tapi sadar tenaganya mungkin tidak cukup kuat. Di lantai ini Hiragi melihat ada empat ruangan yang memiliki pintu. Tiga ruangan berpintu kayu, sedangkan satu lagi berpintu plastik. Tiga ruangan berpintu kayu pastinya adalah kamar, sedangkan pintu berbahan plastik mungkin kamar mandi. Haru lantas membuka pintu salah satu kamar, lalu menarik koper Hiragi ke dalam. “Ini kamarmu, maaf kalau terlalu sempit.” Haru ngos-ngosan. “Tidak kok, ini sudah pas. Makasih ya, Haru!” Tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil. Kamar ini pas untuk Hiragi yang hanya akan tinggal kurang dari sepuluh hari. Di kamar ini ada satu spring bed berukuran sedang, meja belajar, lemari, serta perabotan-perabotan lain yang Hiragi butuhkan. Ini benar-benar kamar yang ideal. Seperti sudah disiapkan untuk kamar seorang gadis. “Aku turun dulu, ya. Mau anterin Kazu. Kalau butuh bantuan bilang saja.” Haru melangkah pergi. “Iya, terima kasih, Haru.” Kepalanya kembali muncul setelah pergi meninggalkan kamar. “Ah iya, satu lagi.” “Apa?” tanya Hiragi. “Anggap saja rumah sendiri.” Hiragi mengangguk. “Yosh, sekarang saatnya beres-beres!” *** Setelah makan malam usai, Hiragi menawarkan diri untuk cuci piring. Dia membantu Bibi Yumi di dapur sementara Haru dan Kazu sedang mengobrol untuk mengakrabkan diri. Haru fasih berbahasa Jepang, jadi bisa mengobrol dengan Kazu. “Terima kasih ya, Hiragi. Senang sekali ada yang membantu.” Wanita itu tersenyum. “Hanya ini yang bisa saya lakukan,” balasnya. Selesai mencuci piring, Hiragi langsung naik ke kamar. Dia merasa sangat lelah hari ini. Mungkin karena baru saja terbang dari Jepang ke Indonesia. Malam kemarin di jam ini Hiragi masih ada di Tokyo, sekarang dia sudah berada di tempat yang jauh dari sana. Jauh dari ayah dan juga ibunya. Kamar Hiragi tiba-tiba diketok, dia segera bangkit dan membuka pintunya. Ternyata itu Haru, dia membawakan cemilan. “Ini, simpan di kamar. Kau akan membutuhkannya ketika tengah malam.” Hiragi memandangi bungkus plastik yang dipegang olehnya. “Apa ini?” “Ini kripik pisang. Aku yakin kau akan suka.” Dia pun menerima cemilannya itu. “Arigatou, Haru.” Selama berada di rumah, mereka memang menggunakan bahasa Jepang untuk berkomunikasi. Paman Reza yang asli Indonesia juga berbicara menggunakan bahasa Jepang. “Jadi, temenmu itu namanya Ayano, ya?” tanya Haru. “Iya, satu kampus sama kamu. Dia jurusan dokter hewan.” Haru dan Ayano sama-sama mahasiswa kampus UPD, tapi mereka beda jurusan. Ayano jurusan dokter hewan, sedangkan Haru jurusan sastra Jepang. “Nanti anterin ke sana, ya. Aku sama Kazu mau ketemu.” “Iya, siap!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN