82

1740 Kata
Uang sebesar lima juta rupiah pemberian dari Saga menjadi bantuan besar bagi Martin. Dia menggunakan uang itu untuk melunasi pembayaran kosnya yang menunggak. Sisa uangnya yang tinggal satu juta, dia gunakan untuk menyambung hidup selama satu bulan ke depan. Siang ini, Martin sedang berada di kafe kopi tempat dia ditolak saat melamar pekerjaan. Sudah lama dia tidak memesan kopi di tempat ini. Dia ingin menjernihkan pikirannya sebelum mulai mencari pekerjaan besok. Sambil menikmati kopi, Martin membaca novel Virtual World Online yang dia beli menggunakan uang pemberian dari Saga. Martin sebenarnya agak sayang membelikan uangnya untuk novel, tapi novel ini sudah lama ingin dia baca. Martin bersumpah akan berhenti bermain game dan menyelesaikan skripsinya setelah membaca novel ini sampai tamat. Dia membaca semuanya dari awal. 'Virtual World Online. Dunia yang memiliki luas sebesar gurun Sahara. Hanya terhampar satu daratan luas yang dikelilingi lautan. Daratan itu bernama Royal Continent. Di Royal Continent terdapat lima kawasan besar, yaitu kota utama, desa gurun, perkampungan es, wilayah setan, serta hutan kematian. Para pemain hanya bisa tinggal di kota utama. Empat wilayah lainnya menjadi tempat tinggal NPC (Non-Playable Character), monster-monster, serta tempat untuk pengambilan misi.’ Martin tampak menikmati saat membaca novelnya itu. Rasanya seperti sedang masuk ke dalam novel tersebut. Martin sering memainkan game MMORPG melalui laptopnya. Sekarang, dia mencoba membaca novelnya dengan genre yang sama. Ketika menyeruput kopinya, Martin terkejut karena Vanna masuk bersama pacar barunya. Mereka berdua sedang bergandengan tangan. Sangat menyakitkan bagi Martin melihat Vanna berdekatan dengan lelaki lain. Bagaimanapun, Martin dan Vanna telah berpacaran selama tujuh tahun. Banyak kenangan manis yang telah terjadi dalam hidup mereka. Namun, hari ini Vanna malah tersenyum-senyum bersama lelaki lain. Dia bahkan mengatakan telah mengandung anaknya. "Martin?!" Vanna terlihat kaget ketika dia menyadari bahwa mejanya bersebelahan dengan Martin. "Halo." Martin mendadahinya. "Oh, jadi ini yang namanya, Martin. Namaku Robert, salam kenal." Robert mengajak Martin bersalaman. Martin pun membalas salamannya. "Kamu kerja apa, Martin? Berapa penghasilanmu? Gajiku kalah deh kayaknya, hahaha." Robert tertawa-tawa. Martin tahu dia sedang mengejeknya. "Aku masih kuliah, belum lulus. Belum dapat kerjaan." Robert pura-pura kaget. "Eh? Seriusan? Astaga, padahal kita seangkatan, loh. Kamu ngapain aja selama ini?" Martin sangat malas untuk menjawab. "Aku santai aja, masih ingin menikmati kehidupan kampus, hahaha." Robert bedecak sambil geleng-geleng kepala. "Eh, jangan gitu, Martin. Kasihan orang tuamu. Kamu harus cepet-cepet lulus dan dapat pekerjaan. Kalau bisa sih yang gajinya gede kayak aku. Tiga bulan aja udah bisa beli mobil. Enak banget deh pokoknya kerjanya. Kamu jangan males-malesan terus, Martin. Coba cari pekerjaan. Kalau bisa kayak aku, kerjanya di Harvent Corporation!" "Iya, makasih sarannya." Martin memaksakan senyum. Vanna tahu Martin sakit mendengar ucapan tersebut dari pacarnya. Dia lantas menyikut Robert untuk segera minta maaf, tapi Robert tidak mau melakukannya. Akhirnya, Vanna mengajak Martin untuk bicara berdua di tempat yang jauh dari pacarnya. "Maaf ya, Martin. Robert itu sebenarnya baik, tapi dia memang sedikit sombong. Tolong jangan benci dia." Vanna meminta maaf. "Iya, gapapa." "Maaf karena aku ngajak kamu putus. Aku ingin bertahan lebih lama lagi, tapi aku udah gak kuat. Salah kamu sendiri gak mau berubah. Aku akhirnya diambil sama Robert. Kamu jangan sedih terus, ya. Kalau ada masalah, kamu boleh cerita ke aku. Jangan anggap aku orang asing, kita pernah deket banget selama tujuh tahun. Sejujurnya, aku senang pernah jadi pacar kamu." Martin sebenarnya ingin meledak siang ini, tapi dia terus menahannya. Dia tahu, akan terlihat bodoh jika dia sampai marah-marah. "Sejujurnya, aku ingin berterima kasih karena kau telah memutuskanku. Aku sangat bersyukur. Dengan begitu, aku bisa mencari perempuan yang lebih baik lagi darimu. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih." Mendengar ucapan tersebut, Vanna merasa sakit hati. Dia merasa sakit karena Martin ternyata tidak sesedih yang dia pikirkan. "Yaudah, ayo balik lagi." Ketika kembali ke meja masing-masing, Robert ternyata sedang membuka novel Virtual World Online milik Martin. Robert tertawa-tawa saat membacanya. "Apaan ini? Conjurer, Fighter, Sneaker, Shielder? Astaga, udah gede masih baca novel kayak gini. Pantesan gak lulus-lulus, hahaha. Gak guna banget hidup kamu." Kali ini, Martin tidak bisa menahan emosinya lagi. Robert sudah menginjak area terlarang dengan menghina hobi yang telah digelutinya dari sejak kecil. Satu-satunya hal yang bisa dibanggakan dalam hidup Martin. Martin ingin memukulnya, tapi tidak jadi. Dia masih bisa menahan diri. Robert kembali menasihat Martin, tepat di depan mantan pacarnya. “Martin, kamu itu udah gede, udah bukan anak SMA lagi. Kurangi main gamenya, kurangi bacaan gak gunanya, kurangi malas-malasannya, kamu itu anak mahasiswa UPD, kan? Jangan malu-maluin kampus kita, dong! Kalo kamu di DO, yang rugi bukan cuma kamu doang, tapi kampusnya juga. Sadar Martin, sadar!” Robert lalu melempar novel Virtual World Online milik Martin yang dia beli menggunakan uang Saga. Sungguh, hati Martin sangat terpukul. Dia ingin sekali menghajar Robert. Tapi kesabarannya masih bisa membuatnya menahan diri. Martin pun memungut kembali novelnya tersebut. “Bagimu novel ini mungkin tidak berharga. Tapi bagiku, ini adalah sumber kebahagiaan. Kau tidak akan pernah mengerti.” Robert berdecih. “Iya, aku emang gak akan pernah ngerti pikiran bocil kayak kamu. Madesu emang.” Di tengah perbincangan mereka, Saga datang bersama Argi dari pintu masuk. Mereka ingin mencoba kafe kopi yang belum pernah mereka kunjungi ini. Saat melihat wajah Martin, Saga menyunggingkan senyum. Tidak menduga bisa bertemu lagi setelah kemarin lusa bertemu di taman saat malam hari. “Kak Martin!” Saga menyapa. “Eh, Saga.” Martin membalas, masih dalam keadaan berdiri karena baru saja mengobrol dengan Robert. Dia menaruh novelnya di atas meja. “Lagi ngapain di sini?” “Ya ngopi lah Sag, masa makan padang.” Saga tertawa. “Ahahaha, bener juga.” Argi tertarik saat melihat novel Virtual World Online di meja Martin. “Kak Martin baca novel ini?!” tanya Argi. “I-iya.” “Waah, boleh pinjem bentar, gak? Aku tiap mau beli suka kehabisan.” Argi mengeluh. “Oh, iya, silakan.” Argi pun sibuk sendiri dengan novel Virtual World Online yang dia pinjam dari Martin. Robert langsung menoleh pada Saga. “Dek, Kakak ini seniormu, ya?” “Iya, kenapa emang?” Saga balik bertanya. Robert langsung menepuk pundak Saga. “Kamu jangan deketin senior kayak dia. Orangnya madesu. Udah semester akhir gak lulus-lulus. Kerjaannya cuma main doang. Nanti kamu bisa jadi kayak dia kalau deket-deket terus. Hati-hati, ya.” Martin hanya diam saja, karena perkataan Robert memang ada benarnya. Saga merasa sakit hati senior yang telah menolongnya dihina seperti itu. “Kakak tau apa soal Kak Martin?” “Tau banyak lah, soalnya kan cewek ini mantannya Martin. Dia yang ceritain semuanya sama aku.” Saga semakin teriris saat mengetahui bahwa gadis yang sedang bersamanya itu adalah pacar Martin yang diambil oleh Robert. Emosi Saga semakin naik. “Apa yang membuat Kakak berpikir kalau Kakak lebih hebat dari Kak Martin?” Robert pun menjawab. “Simpel aja. Martin itu pengangguran, belum lulus kuliah, jomblo. Sedangkan aku, punya pacar cantik, gelar S2, terus kerja di Harvent Corporation Bandung. Kamu tau kan perusahaan Harvent itu? Gede banget loh gajinya. Jadi, ya jelas, lebih hebat aku dari si bodoh Martin itu.” Saga tersenyum pedas. “Kakak sombong banget, ya. Aku pecat dari Harvent Corporation mau?” Robert langsung tertawa. “Dipecat Harvent Corporation? Hahaha! Kamu pikir kamu siapa bocil? Emangnya perusahaan itu punya Bapakmu!” Saga tidak memperdulikan perkataan Robert. “Namamu Robert apa? Kerja di bagian apa?” Robert langsung menyombongkan diri. “Robert Wardhana. Kerja bagian administrasi.” “Oke.” Saga langsung menelpon ayahnya. “Halo Pah, aku mau minta sesuatu. Di Harvent Corporation cabang Bandung ada pegawai yang namanya Robert Wardhana, kan? Kerja di bagian administrasi? Bisa tolong pecatin, gak? Dia barusan nyakitin aku. Pasti gampang kan lah ya cari penggantinya. Orangnya ecek-ecek gitu.” Hal merepotkan seperti itu sebenarnya sulit untuk dilakukan. Namun, karena ayah Saga terlalu memanjakannya, dia pun langsung menyetujuinya. Ayah Saga selalu menuruti permintaan Saga seaneh apapun permintaannya. Ayah Saga pun langsung meminta bagian kepala administrasi untuk langsung menghubungi Robert. “Oi, lu telpon siapa? Lu anak keluarga Harvent emang? Orang gila!” Saga mengangguk-angguk. “Iya, gua emang anak keluarga Harvent. Nih, kalau mau lihat.” Saga menunjukkan KTP-nya. Terpampang nama ‘Saga Harvent’ sekaligus alamat lahirnya yang berada di Surabaya, tempat tinggal keluarga Harvent. Martin terkaget, dia langsung mempercayainya karena merasa Saga tidak mungkin berkata bohong. Apalagi dia sudah memberinya uang lima juta rupiah kemarin. Sementara itu, Robert masih tidak percaya. “Ah, KTP palsu itu pasti!” Saga hanya tersenyum. “Tunggu aja, sebentar lagi lu pasti ada yang manggil.” Tepat seperti perkataannya, handphone Robert tiba-tiba berdering. Ada panggilan dari bosnya yang mengatakan dia akan dipecat jika tidak meminta maaf pada Saga. Robert berkeringat dingin. Ternyata, orang di hadapannya benar-benar anggota keluarga Harvent. Sikap Robert pada Saga pun berubah seratus delapan puluh derajat. Dia tidak mau dipecat begitu saja di perusahaan yang selama ini sudah dia impi-impikan. Akan sulit mendapatkan pekerjaan dengan gaji setinggi itu lagi. Robert pun langsung tersenyum pada Saga. “Ma-maaf ya, Tuan Saga. Saya tidak tahu kalau Tuan Saga itu anak bos besar Harvent Corporation. Sekali lagi, maaf ya.” Robert menundukkan kepalanya. “Jangan minta maaf sama gua. Minta maafnya sama Kak Martin. Sujud sana!” Robert merasa berat kalau harus bersujud di depan laki-laki yang baru saja dia hina. “Gua itung sampe lima, kalau enggak sujud juga, gua gak bakal maafin lu, dan lu bakalan bener di pecat. lima… empat… tiga….” Robert pun langsung bersujud di hadapan Martin dan meneriakkan kata-kata maafnya dengan lantang. Saga tersenyum puas melihatnya. Sedangkan Martin jadi merasa tidak enak. “Iya, iya, gua maafin, kok.” Robert pun berdiri. “Sudah?” “Iya, iya.” Saga mengangguk. Dia lalu menelpon ayahnya lagi untuk membatalkan pemecatan pegawai bernama Robert Wardhana. Martin tercengang melihatnya. Sangat mudah sekali bagi Saga untuk menentukan nasib seseorang. “Kak Martin, Kakak harus lulus S1, ya. Nanti Kakak lamar kerja di Harvent Corporation. Aku bakal merekomendasikan Kakak agar bisa diterima.” Mendengar hal itu, Martin tersenyum lebar. “Iya, iya, oke Saga!” Martin mengangguk. Robert dapat panggilan lagi, dia menangis terharu karena bosnya tidak jadi memecatnya. Dia menyesal telah berbuat macam-macam pada seniornya Saga. Karena sudah tidak enak, Robert dan Vanna pun mengucap pamitan. “Kami pulang dulu.” “Cepat lulus ya, Martin.” Vanna mendadahinya. Begitu mereka berdua pergi, Martin menghela napas. Dia menatap Saga, kemudian mengajaknya bersalaman. “Kamu emang penyelamatku Saga. Terima kasih banyak, ya.” Saga tersenyum dan balas menyalaminya. “Iya, sama-sama!” Setelah itu, mereka pun berbincang-bincang di kafe kopi tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN