Malam ini hujan turun dengan deras. Martin menatap santai jendela luar, memperhatikan butiran air yang berjatuhan. Kopi pahit dan laptop menjadi teman begadangnya malam ini untuk menyelesaikan game petualangan di kamar kosan yang sederhana.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Terpampang nama ibunya di layar. Martin malas mengangkat karena tahu apa yang akan dibicarakan olehnya. Dia akhirnya membiarkan ponsel itu terus berdering tanpa menyentuhnya sedikit pun.
TININININIT
TININININIT
TININININIT
Ponselnya terus berbunyi. Martin mulai risih mendengarnya. Dia akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Ibu, ada apa?"
"Bagaimana skripsimu, Martin? Kapan kau akan diwisuda?"
Martin menghela napas. Sudah dia duga pasti itu yang dibicarakan oleh ibunya.
"Ini sedang aku kerjakan. Tidak lama lagi aku akan lulus dan dapat pekerjaan. Ibu tenang saja."
"Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong Martin, berapa sisa uang di dompetmu?"
"Dua ratus ribu."
"... apa itu cukup untuk satu bulan?"
"Hahaha, Ibu bercanda, ya."
Ibu Martin terdiam sejenak, lalu berbicara panjang lebar.
"Martin, Ibu ingin mengatakan sesuatu yang penting. Usaha Ayahmu sekarang sudah bangkrut. Dia tidak punya penghasilan apa-apa lagi. Kami tinggal di rumah hanya mengandalkan sisa tabungan saja. Ayah sudah sakit-sakitan karena kelelahan mencari pekerjaan. Gaji Ibu di toko swalayan juga tidak begitu banyak. Adikmu saja sampai harus mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Mohon pengertiannya ya, Martin. Mulai bulan depan, Ibu tidak bisa mengirimimu uang bekal ataupun uang pembayaran kos lagi. Kamu harus mencari penghasilan sendiri."
Martin benar-benar terkejut mendengarnya, tapi dia mencoba tetap tenang.
"Oh, begitu. Iya, Bu. Tenang saja. Aku mengerti. Aku punya kenalan yang bisa mempekerjakanku di tempat bosnya. Ibu tidak perlu khawatir, aku bisa mencari uang sendiri. Semoga Ayah cepat sembuh."
"Baguslah kalau begitu. Umurmu sudah dua empat, Martin. Sudah seharusnya kamu hidup mandiri. Ibu doakan yang terbaik untukmu."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Setelah panggilan itu selesai, Martin membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menatap langit-langit sambil menghela napas berat.
"Gawat... bulan depan aku makan apa?"
Martin berbohong tentang skripsinya. Dia bilang akan segera selesai, padahal belum dikerjakan sama sekali. Martin terlalu bersantai sampai akhirnya waktu berlalu tanpa terasa.
Dia terlalu berleha-leha. Menunda-nunda skripsi untuk melakukan hobi utamanya, yaitu bermain game. Empat semester terakhir, hidup Martin hanya diisi oleh game dan nongkrong bersama teman-teman kampus. Skripsinya tidak tersentuh sama sekali.
Masa studi Martin sudah terlewat jauh. Dia sudah berada di semester 12. Jika dalam dua semester ke depan skripsinya belum selesai, Martin akan di DO oleh kampus.
Karena dia tidak akan dikirimi lagi uang bulanan oleh ibunya, maka dia harus membayar uang kos sendiri untuk bulan depan. Menghasilkan dua juta dalam sebulan bukanlah perkara mudah bagi pemuda tak berpengalaman seperti Martin.
Martin juga berbohong tentang temannya yang bisa mempekerjakannya di tempat bosnya. Dia sama sekali tidak punya koneksi.
Martin lantas menatap dompetnya yang hanya tersisa dua ratus ribu.
"Mana mungkin uang ini cukup untuk satu bulan.”
Martin benar-benar pusing. Dia tidak tahu akan seperti apa nasibnya dalam satu bulan ke depan.
Pada akhirnya, dia memilih untuk tidur agar bisa melupakan kepahitan ini dalam sejenak.
***
Saat terbangun, Martin mendapat sebuah pesan dari seorang gadis bernama Vanna. Vanna mungkin satu-satunya sumber kebahagiaan yang bisa membuat Martin terus melanjutkan hidup. Vanna adalah pacar Martin sejak mereka mulai kuliah.
Akan tetapi, senyuman itu berubah menjadi raut kesedihan. Isi pesan itu sangat panjang, mengungkapkan keinginan Vanna untuk berpisah dengannya. Kalimat terakhirnya membuat Martin sangat terpukul.
'Aku sudah lelah. Kau tidak bisa diandalkan. Sejak dulu tidak berubah. Kau menjanjikan lulus bersama-sama, tapi kau masih berjalan di tempat yang sama. Aku sudah dapat pekerjaan, tapi kau masih saja bermalas-malasan. Maaf, Martin. Kau tidak pantas untukku. Aku punya pacar baru sekarang. Aku sudah mengandung anaknya.'
Martin hampir saja membanting ponselnya. Jika orang tuanya masih kaya, dia pasti sudah melakukannya.
Sambil menggigit bibir, Martin akhirnya membalas.
'Terima kasih atas segalanya. Semoga kau bahagia bersamanya.'
Setelah itu, Martin mematikan data seluler, dan kembali berbaring di ranjangnya.
Hati Martin benar-benar hancur. Setelah kehilangan pemasukan dari orang tua, dia juga harus rela kehilangan pujaan hatinya. Cinta pertamanya sekaligus pacar satu-satunya.
Sekarang Martin tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk diperjuangkan selain keluarganya sendiri.
"Aku harus bangkit."
Martin yang sudah berhenti meratapi nasib, mulai mengambil laptop dan mengerjakan skripsi. Dia melupakan segala permasalahan dunia, dan hanya fokus pada penyusunan proposal skripsi saja.
Ketika waktu menjelang siang, Martin beristirahat dan keluar untuk mencari makanan. Dia sekalian berpenampilan rapi, karena berniat mencari pekerjaan.
Seharian itu, setelah makan siang. Martin berkeliling di sekitar kota mengunjungi restoran-restoran yang sedang buka. Walau malu, Martin tetap bertanya pada mereka apakah mereka sedang membutuhkan karyawan atau tidak. Namun, semua restoran yang Martin kunjungi menolak lamaran pekerjaannya.
Saat malam, Martin juga mengunjungi kafe-kafe kopi untuk menawarkan diri menjadi pekerja sambilan. Sayangnya, hasilnya sama-sama nihil. Martin pun pulang dengan kondisi kelelahan tanpa mendapatkan satu pun pekerjaan.
Selama satu minggu, Martin melakukan aktivitas rutin mencari pekerjaan. Dia tidak memilih-milih, apapun jenis pekerjaannya, dia bersedia. Meski begitu, dia selalu saja ditolak. Alasannya karena Martin tidak memiliki pengalaman dalam bidang pekerjaan tersebut. Mereka tidak mau Martin mengacaukan bisnis dan usaha mereka.
Martin mulai frustasi dengan hidupnya. Dia sudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan pekerjaan, tapi tidak ada yang mau menerimanya. Selalu saja ada alasan yang membuat Martin tidak diterima di setiap tempat yang ia lamar.
Uang Martin sudah sangat menipis, tinggal tersisa tujuh ribu lagi. Dia tidak tahu harus bertindak bagaimana sekarang.
Pada akhirnya, Martin pergi keluar lagi untuk mencari pekerjaan. Ini mungkin akan menjadi kesempatan terakhir, karena besok dia sudah tidak bisa makan lagi.
"Maaf, Nak. Tempat ini sudah penuh." Pemilik kafe itu menolak lamaran dari Martin untuk yang kesekian kalinya.
"Baiklah kalau begitu."
Hujan semakin deras saat Martin keluar dari kafe malam ini. Dia segera berlari menuju halte sambil melindungi kepalanya. Dia lantas memainkan ponsel, menyalakan internet yang kuotanya hanya tinggal sedikit.
“Sudah tidak ada harapan lagi.”
Begitu hujan reda, Martin berjalan menuju taman dengan pikiran penuh dengan putus asa. Dia duduk di sana memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya dengan hidupnya.
Proposal skripsi ditolak, uang habis, ayah sakit-sakitan, usaha keluarga bangkrut, diputuskan pacar, tidak punya pekerjaan. Kai merasa tidak punya harapan lagi di dunia.
Jika dia pulang dari sini tanpa mendapatkan pekerjaan, Kai akan kembali ke kosan hanya untuk berbaring di ranjang. Dia sudah tidak punya biaya lagi untuk hidup.
“Kak Martin?” Saga yang sedang berjalan-jalan di sana menyapa.
“Kamu…. siapa?” tanya Martin.
“Ah, Kakak pasti lupa, ya. Aku Saga, salah satu mahasiswa baru. Dulu aku mampir di stand-nya Kakak waktu orientasi pengenalan kampus di Lembang. Kakak dari organisasi Great Bird, kan?”
Saga sangat hapal dengan wajah Martin, karena saat itu Martin yang pertama menolong Saga saat kakinya terkilir. Saga beruntung karena Martin tahu cara mengatasinya. Jika tidak, Saga mungkin tidak bisa melanjutkan orientasi mahasiswanya saat itu.
“Ah, maaf, aku lupa. Kamu yang mananya, ya?”
“Aku yang dibantuin sama Kakak waktu kakiku terkilir.”
Ingatan itu mulai muncul di kepala Martin. “Ah, yang di kelompoknya ada cewek Jepang, ya?”
“Iya, betul.”
“Ah, iya, iya, aku inget.”
Saga pun mulai duduk di sebelahnya.
“Kakak ada masalah apa? Aku lihat dari tadi wajah Kakak kelihatan murung.”
Saga sedang berjalan-jalan sendirian di taman karena ingin mencari udara segar. Motornya dia simpan di parkiran. Saat melihat Martin, Saga ingin menyapa, tapi dia melihat Martin begitu depresi, jadi Saga sedikit ragu untuk menyapa.
Namun, karena ada niatan untuk membantu, Saga pun memaksakan menyapa.
“Kak Martin, apa Kakak sedang ada masalah?”
“Ka-kamu tau dari mana?”
“Kelihatan dari wajah Kakak.”
Martin menghela napas. “Kamu mau denger ceritaku, gak?”
“Boleh.”
Martin mulai bercerita tentang kesengsaraan yang dia alami dalam waktu dekat ini. Mulai dari kondisi finansialnya yang parah sampai pacarnya yang sudah dihamili laki-laki lain.
Mendengar hal itu, Saga hampir menangis. Tidak disangka orang yang pernah menolongnya bisa berakhir seperti ini.
“Ada yang bisa saya bantu, Kak?”
Martin agak berat saat ingin mengatakannya.
“Saga… apa aku boleh pinjam uang lima juta?”
Saga tersenyum. Dia ingin memberi lebih, tapi tidak mau melukai harga diri seniornya. Seandainya dia butuh lagi, Saga tinggal memberinya saja.
“Boleh, tunggu di sini ya, Kak.”
Martin terkaget karena Saga mau menyanggupi permintaannya.“Eh, seriusan?”
“Iya.”
Dengan cepat, Saga pun menaiki motornya dan mengambil uang di ATM.
Martin sempat tidak percaya Saga akan kembali lagi, namun Saga ternyata memegang kata-katanya. Saga kembali dengan membawa uang lima juta rupiah.
“Ini Kak.”
Martin hampir menangis saat melihat uang sebanyak itu.
“Terima kasih, Saga! Uang ini akan aku kembalikan secepatnya!”
Saga menggeleng. “Tidak perlu, Kakak ambil saja uangnya. Tidak perlu diganti.”
“Tapi….”
“Kalau kurang bilang saja.” Saga tersenyum.
Martin langsung memeluk Saga. “Terima kasih, terima kasih!”
Martin bersyukur dulu pernah membantu Saga saat kakinya terkilir. Dia tidak menyangka perbuatan baiknya itu akan mendapatkan balasan yang berlebih.
“Ini nomor WA-ku, Kak. Kalau kakak butuh sesuatu bilang saja.” Saga menunjukkan nomor handphonenya.
Martin dengan cepat langsung menyimpannya di handphone.
“Sekali lagi, terima kasih, Saga!”
Setelah berbincang sebentar, Saga pun mengantar Martin pulang dengan motornya.