Banyak hal yang terjadi selama Ayano terjebak di sekolah. Dimulai dari munculnya foto hantu di handphone anak-anak sampai handphone Ayano yang dibajak seseorang.
Sudah dua hari badai berlangsung, Ayano mulai khawatir perkataan Hiragi akan menjadi kenyataan.
Bagaimana jika badai ini berlangsung selama satu bulan?
Sekarang adalah hari ketiga anak-anak terjebak di gedung sekolah. Sampai hari ini masih tidak ada bantuan apapun yang datang ke sekolah. Anak-anak masih bersikap dengan tenang karena persediaan makanan masih banyak.
"Ayano, kamu gapapa?" Kazu bertanya saat mereka berdua sedang duduk bersama.
"Gapapa, kenapa sih nanya itu terus?"
Kazu tertawa. "Kamu kan orangnya penakut. Jadi, aku harus memastikan kamu baik-baik saja."
"Aku emang penakut, tapi kan di sini banyak orang. Jadi gak masalah." Ayano membalas.
"Oh, begitu, baguslah." Kazu tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara piano yang dimainkan dengan merdu. Meski ruang musik ada di lantai dua, tapi suaranya masih bisa terdengar sampai kelas mereka.
"Indah banget ya suaranya, siapa yang main?" tanya anak-anak.
"Entahlah, emangnya di kelas kita ada yang jago main piano, ya?"
Hiragi tiba-tiba berjalan ke arah anak-anak itu.
"Yang sedang memainkan piano adalah hantu, bukan teman sekelas kita."
Mereka langsung menatap tidak percaya.
"Tahu dari mana kamu?!"
"Pasti ngarang lagi!"
Hiragi berdecak. "Kalian semua memang bodoh, ya. Kalian pikir suara piano di lantai dua dapat terdengar ke lantai tiga seperti ini? Apalagi ruangan itu kedap suara, dan di luar sedang terjadi badai yang berisik. Bagaimana caranya suara piano itu bisa sampai ke tempat ini?"
Mereka terdiam.
"Aku tidak tau, aku tidak peduli."
Hiragi tidak suka mendengar jawaban mereka. "Kalian tahu? Ruang musik itu dikunci, aku sudah memeriksanya kemarin. Bagaimana caranya orang bisa masuk ke ruangan itu? Sudah jelas itu hantu yang main piano. Kalau tidak percaya, ayo ikut aku."
Mereka semua berkeringat dingin. Tidak bisa menjawab lagi.
Ayano tiba-tiba bergabung dalam pembicaraan.
"Benarkah di sana ada hantunya?"
Hiragi menoleh. "Iya, benar."
"Kalau begitu, aku ingin melihatnya."
"Kau serius?"
Ayano mengangguk.
Kazu menahan tangan Ayano. "Ayano, jangan bertindak gegabah. Bukankah kau takut hantu?"
"Iya, aku memang takut hantu, tapi aku gak mau selamanya seperti ini. Aku harus menghadapi ketakutanku sendiri. Setelah melihat hantu secara langsung, ketakutanku mungkin akan segera hilang."
Kazu terpana saat mendengar Ayano berkata seperti itu.
"Kau sudah berubah, ya."
"Berubah seperti apa?"
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, ayo kita lihat hantunya secara langsung."
Ayano, Kazu, dan Hiragi pun langsung berjalan menuruni lantai dua untuk pergi ke ruang piano.
Semakin dekat mereka ke ruangan itu, semakin keras pula suaranya.
Mereka sekarang tinggal beberapa meter lagi untuk sampai di ruang piano. Ayano yang awalnya berani sekarang menjadi semakin gugup. Kazu yang sadar akan hal itu, langsung menggenggam tangannya.
Hiragi yang berdiri paling depan mencoba membuka pintunya, dia sama sekali tidak terlihat ketakutan.
"Sayang sekali, pintunya memang terkunci." Hiragi menoleh ke belakang.
"Oh, begitu, ya."
"Tenang saja, kita masih bisa mengintip lewat jendela jika kau ingin melihat hantunya." Hiragi berinisiatif.
"I-iya." Niat Ayano mendadak jadi setengah-setengah.
"Ayano, lihat ke sini!" Hiragi menoleh pada Ayano setelah mendapatkan spot mengintip yang bagus.
Ayano melangkah dengan gugup. Menarik lengan Kazu agar ikut mengintip bersama dirinya.
Detik itu mungkin akan menjadi saat-saat yang paling mendebarkan dalam hidup Ayano. Dia mungkin akan melihat hantu untuk yang pertama kalinya.
Namun, saat dia sudah memberanikan diri mengintip lewat jendela, ternyata Ayano tidak melihat hantunya sama sekali.
Pianonya memang bermain dengan sendirinya, tapi itu tidak cukup untuk membuat Ayano ketakutan.
"Hantunya gak ada, ya?" keluh Ayano.
"Itu hantunya sedang main piano, Ayano. Kau pikir siapa lagi selain mereka yang memainkan piano itu?"
"Tapi hantunya tidak kelihatan."
Hiragi berdehem. "Ya, mau bagaimana lagi. Tidak semua hantu bisa menampakkan diri."
"Begitu, ya." Ayano mengeluh.
"Kalau kau mau melihat hantu yang menampakkan diri, aku bisa menunjukkannya padamu," ucap Hiragi.
Jantung Ayano berdebar dengan kencang lagi. Dia yang sudah kecewa jadi mendadak tegang lagi karena akan bertemu hantu yang sesungguhnya.
"Di-di mana aku bisa melihat hantu yang sesungguhnya?" tanya Ayano.
"Ikut aku."
Ayano menggeret Kazu lagi, tidak mau ketakutan sendirian. Teman dekatnya sedari kecil itu memang sering dijadikan tameng untuk menghilangkan ketakutan Ayano.
Mereka bertiga pergi ke pojokkan lantai empat. Tidak ada apapun di sana, hanya pojokkan ruang yang kosong.
"Kita tidak dapat melihat hantunya kalau listrik dalam keadaan menyala. Jadi aku akan mematikan saklarnya." Hiragi mematikan lampunya.
Ayano mulai panik, dia mencubit keras-keras kulit Kazu sampai berdarah.
"Aw!"
"Maaf, maaf."
Hiragi menyalakan senter yang dia bawa. "Tenang, selama ada ini kita masih bisa melihat."
"Lalu, di mana hantunya?" tanya Ayano.
"Aku akan memanggilnya."
"Me-memanggilnya?!" Ayano terkaget.
Mereka bertiga lalu duduk di lantai bersama-sama. Hiragi mulai menyanyikan lagu pemanggil hantu.
"Hantu~ datanglah ke sini~ datanglah ke sini~ aku punya onigiri~ ayo kita makan bersama~"
Hiragi menyanyikan suara itu dengan merdu.
"Hiragi kau tau dari mana nyanyian pemanggil hantu itu?" tanya Ayano.
"Ah, lagu itu ciptaanku sendiri."
"Ciptaan sendiri?!"
"Iya, dan selalu efektif untuk memanggil mereka."
Tak seberapa lama, hawa di ruangan itu tiba-tiba jadi dingin. Ayano sampai menggigil.
"Kenapa tiba-tiba dingin, ya."
"Dia sudah datang," ucap Hiragi.
"Dia siapa?!"
"Hantunya. Kau ingin lihat?"
Ayano tergugup. "Eh, eh, iya deh!" Sambil mencubit kulit Kazu yang tadi berdarah.
Hiragi tersenyum. "Baiklah."
Hiragi langsung mengarahkan senternya ke arah depan.
Dan di sana, untuk pertama kalinya, Ayano melihat sesosok mahkluk dengan wajah hancur serta rambut panjang yang dibalut kain berwarna putih.
"Ha-hantu!!!"
Ayano benar-benar ketakutan sampai akhirnya dia pingsan di tempat.
Beberapa jam kemudian, dia terbangun kembali di ruangan kelas. Badai di luar sudah reda. Ruang kelas itu sudah berada pada kondisi semula lagi, kursi dan meja sudah tertata rapi.
"Selamat sore, Ayano." Kazu yang menyapa.
"Ah, selamat sore. Badainya sudah selesai, ya?"
"Iya." Kazu tersenyum.
Hiragi tiba-tiba menarik lengan Ayano.
"Ayano, ayo kita pulang. Keluarga kita sudah menunggu di luar."
Ayano pun bangkit dan menarik lengan Kazu. "Ayo kita pulang."
"Aku.... di sini dulu, masih ada urusan. Kau pulang duluan saja."
"Baiklah."
"Ayo cepat Ayano!" Hiragi memburu-buru.
"Iya."
Mereka pun pergi menuruni tangga sampai akhirnya sampai di lantai satu.
Hiragi langsung membuka pintu sekolah yang sengaja dikunci agar angin ribut tidak masuk ke dalam bangunan.
Saat Hiragi buka, di sana sudah ada beberapa orang yang ingin menjemputnya. Begitupun dengan Ayano.
"Kamu baik-baik saja Mina?!" tanya ibu Hiragi.
"Iya, aku baik-baik saja."
"Syukurlah!" Ibu Hiragi langsung memeluknya.
Wajar saja, badai angin topan yang berlangsung selama tiga hari itu benar-benar membuat khawatir semua orang.
"Ayano!!! Kau baik-baik saja?!" Seorang lelaki tiba-tiba menghampirinya dari luar. Orang itu adalah Kazu.
Ayano terkaget. Mengapa Kazu bisa ada di luar?
"Kazu, bukannya kau ada di atas? Sedang ada urusan?"
Kazu terlihat bingung. "Bicara apa kau ini? Selama tiga hari aku mengkhawatirkanmu di rumah. Pesanku memangnya tidak sampai, ya?!"
Handphone Ayano bergetar. Terdapat banyak pesan masuk yang dikirim oleh Kazu dan juga anggota keluarganya.
"Kalau kau Kazu, berarti orang yang di atas...."
Hiragi menggenggam tangan Ayano.
"Ayano, semua murid yang kita temui adalah hantu. Hanya kau dan aku saja yang manusia."
Ayano tentu bingung. "Hah? Ta-tapi.... bukankah tiga hari yang lalu kita sedang melakukan ujian perbaikan? Bagaimana dengan Tada-sensei? Apa dia juga bukan manusia?"
Hiragi menghela napas.
"Ayano, kau sepertinya sudah melupakan kejadian yang sebenarnya. Tiga hari yang lalu, sebenarnya yang mengikuti ujian perbaikan hanya kau dan aku saja. Saat itu, kau tertidur setelah mengerjakan ujian perbaikan, dan Tada-sensei izin pulang duluan. Aku sebenarnya ingin pulang juga, tapi tidak tega membiarkanmu sendirian. Akhirnya aku diam, dan terjadilah badai angin. Badainya tidak terlalu besar, tapi tetap saja sangat membahayakan. Jadi kita terjebak di sekolah berdua. Setelah itu, hantu-hantu penyerupa mulai bermunculan dan benar-benar terlihat seperti manusia. Saat itulah kau terbangun." Hiragi bercerita panjang lebar.
Ayano masih terlihat tidak percaya.
"Kalau kau tidak percaya, ayo kita naik ke lantai atas. Apakah orang-orang itu masih ada."
Mereka berdua lalu pergi naik ke lantai atas, ke tempat mereka berdua menghabiskan waktu bersama-sama
Sesampainya di sana, ternyata tidak ada siapa-siapa. Padahal sebelumnya kelas itu masih ramai oleh murid.
Ayano pun langsung memeluk Hiragi karena ketakutan.
"Terima kasih, Hiragi! Terima kasih sudah menemaniku di sekolah ini!"
Ayano tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika Hiragi pulang terlebih dahulu. Ayano mungkin akan sendirian bersama hantu-hantu itu.
"Iya sama-sama."
Semenjak kejadian itu, Ayano dan Hiragi pun mulai berteman dekat.
Meski banyak orang yang tidak suka pada Hiragi, Ayano tetap berteman dengannya.
Semenjak kejadian itu, Ayano sudah tidak takut lagi pada hantu.
[Cerita selesai]
***
"Bagaimana ceritanya, serem gak?" Ayano tampak percaya diri setelah menceritakan semuanya pada Saga.
Saga mengangguk-angguk. “Kamu deket banget ya sama cowok yang namanya Kazu itu.”
Ayano tertawa kecil. “Tuh kan, kamu cemburu.”
“Eh, enggak, enggak. Cuma nanya aja, hahaha.” Saga kewalahan.
“Heeee.” Ayano menatap curiga. “Saga jangan cemburu, Kazu itu bukan siapa-siapa, saya.”
“Enggak, Ayano, aku gak cemburu. Seriusan.”
Saga mendekatkan wajahnya. “Tapi kok Saga kayak mau nangis?”
“Apaan, ngarang aja! Mana mungkin aku menangis!”
Ayano tertawa-tawa. “Iya, iya, hahaha. Tapi seriusan Saga, saya dan Kazu itu cuma teman masa kecil. Saya gak ada perasaan apa-apa sama dia. Gak pernah berdebar-debar waktu deket juga. Lagian, Kazu sudah jadian sama Hiragi sekarang. Jadi Saga gak usah khawatir.”
“Kalau Kazu putus sama Hiragi dan ngajak kamu pacaran gimana?” Saga khawatir, karena dibandingkan dirinya, Kazu lebih lama mengenal Ayano.
Ayano langsung menggenggam kedua tangan Saga. “Tenang saja, saya gak akan pernah ninggalin Saga. Cinta saya cuma untuk Saga. Jadi Saga gak usah khawatir, saya ini perempuan paling setia di dunia, loh!”
Saga hanya tersenyum. “Seriusan?”
“Tapi bohong.”
“Tuh kan!”
“Ahahahaha. Gantian. Biasanya Saga yang ngerjain saya, sekarang saya yang ngerjain Saga!”
Saga hanya cemberut.
Ayano lalu berbisik di telinga Saga. “Saya suka banget sama Saga, lebih dari Kazu yang sudah saya kenal sejak lama. Jangan pernah tinggalin saya, ya.”
Setelah itu, terdengar suara pengumuman dimulainya film horror yang akan Saga dan Ayano tonton. Keduanya pun beranjak dari tempat duduknya.
“Pasti bohong,” ucap Saga.
Ayano tersentak. “Seriusan!”
“Bohong.”
“Seriusan! Saga harus percaya!”
Meski tidak berpacaran, tapi Saga dan Ayano saling menyayangi satu sama lain. Keduanya sepakat untuk tidak berpacaran sampai mereka berdua lulus.