Di hitungan pertama, Tada-sensei mendapati jumlah murid di ruangan ada dua puluh lima. Di hitungan kedua menjadi dua puluh tiga, dan dihitungan ketiga menjadi dua puluh satu.
Di hitungan keempat barulah jumlah murid kembali normal yakni dua puluh saja.
Tada-sensei menyadari setiap kali ia menghitung ulang, jumlah murid berambut panjang semakin berkurang.
Tada-sensei tidak ingin menakuti anak-anak karena hal kecil ini. Dia berpikir positif bahwa dirinya mungkin sedang mengantuk hingga sampai salah menghitung.
"Anak-anak, Bapak matiin ya lampunya."
"Tunggu!" Hiragi menghentikan Tada-sensei yang hendak mematikan lampu.
"Kenapa Hiragi?" Tada-sensei beserta murid lain menatap ke arahnya.
"Ada orang lain di ruangan ini," ucapnya.
"Apa?"
"Siapa???!!!"
"Hiragi, jangan nakutin!!!"
Murid-murid tampak kaget, begitu pun dengan Tada-sensei.
"Tadi aku menghitung jumlah murid di ruangan ini, dan hasilnya ada dua puluh satu. Ada orang lain di ruangan ini." Hiragi mengulangi.
"Mungkin kau menghitung Tada-sensei, Hiragi. Jadi jumlahnya dua puluh satu," balas salah satu murid.
"Tidak, aku tidak menghitung Tada-sensei. Sudah kubilang, aku hanya menghitung jumlah murid. Dan aku sangat yakin jumlahnya dua puluh satu, karena aku sudah menghitung ulang sebanyak tiga kali."
Murid-murid semakin ketakutan.
"Jangan percaya Hiragi. Sejak awal hawanya memang suram. Dia pasti mengada-ada." Yoshi berkata frontal.
"Iya, kalian tahu sendiri, Hiragi itu suka mengkhayal."
Hiragi berdecih karena teman sekelasnya tidak ada yang percaya, sementara itu Ayano benar-benar ketakutan khawatir orang tambahan itu ternyata memang ada.
"Shoutaro, coba kau hitung lagi," pinta Mera.
Setelah Shoutaro hitung sebanyak tiga kali, jumlah murid di kelas ternyata memang dua puluh. Tidak kurang tidak lebih.
"Tenang saja, jumlah murid di sini sudah pas, semuanya ada dua puluh."
Murid-murid mulai merasa tenang. Mereka lebih mempercayai Shoutaro si ketua kelas daripada Hiragi yang mSawakoki hawa suram. Di kelas pun Hiragi tidak mSawakoki teman, jadi wajar semua murid lebih percaya pada Shoutaro.
Cuaca di luar masih ekstrim. Tidak ada tanda-tanda badai angin topan akan berhenti.
Tada-sensei mematikan lampu, dan semua murid mulai tertidur.
***
Pagi hari jam 8, badai masih belum berhenti. Murid-murid menatap lewat kaca bersamaan, namun langit malah terlihat semakin gelap. Tidak ada satu pun makhluk hidup di luar. Tidak ada manusia yang cukup bodoh untuk berkeliaran di tengah badai angin topan.
Keluh kesah murid terdengar pagi ini ketika harus menerima fakta bahwa badai belum berhenti dan malah semakin membesar. Mobil sedan yang kemarin terparkir, kini sudah dalam posisi terbalik.
Ayano mulai khawatir dengan perkataan Hiragi yang memprediksi badai ini akan berlangsung selama satu bulan.
"Ayano, kau bawa charger?" tanya Sawako.
"Tidak, aku tidak pernah membawanya ke sekolah."
"Yah, sayang sekali. Aku sudah kehabisan baterai." Sawako tampak kecewa.
Karena tidak sempat pulang ke rumah, murid-murid yang membawa handphone mulai kehabisan baterai. Dari dua puluh murid yang hadir, hanya lima saja yang bawa charger hingga semuanya harus bergantian jika ingin memakai.
"Aduh, bateraiku juga mau habis." Ayano menatap logo baterai yang tersisa 5% saja.
Walau tidak ada sinyal, murid-murid masih bisa menggunakan handphone untuk menghibur diri seperti main game offline atau mendengarkan musik. Keberadaan handphone di saat seperti ini menjadi sangat berharga.
"Bateraimu habis, ya?" tanya Kazu yang sedari tadi berdiri di sebelah Ayano.
"Iya, hehehe."
"Mau pinjam punyaku?" Kazu menunjukkan chargernya.
"Eh, kau juga bawa?"
"Iya, khusus buat Ayano." Kazu tersenyum.
"Ah, terima kasih."
Kazu dan Ayano memang berteman dekat. Mereka selalu satu sekolah sejak SD walau mereka bukan tetangga atau teman masa kecil. Banyak yang mengira mereka berpacaran, padahal sebenarnya mereka berdua hanya teman.
"Yah, colokannya habis." Ayano mendengus setelah melihat terminal yang berisi lima colokan sudah terisi semua.
"Di lab biologi ada colokkan. Ruangan itu tidak dikunci." Kazu memberi saran.
"Ah, begitu, baiklah."
Ayano lantas pergi meninggalkan ruangan, namun tak seberapa lama dia kembali lagi.
"Kazu, temani aku dong."
Kazu menahan tawa. "Kau takut?"
Ayano mengangguk.
"Ya ampun, padahal sekarang masih pagi, dasar."
Ayano hanya nyengir.
Kazu akhirnya menemani Ayano pergi ke lab biologi yang sama-sama ada di lantai tiga. Kazu membuka pintu, dan Ayano mengikutinya dari belakang.
Walau Kazu sudah menyalakan lampu, ruangan itu tetap terlihat menyeramkan bagi Ayano. Patung organ, kerangka manusia, dan cacing-cacing yang di awetkan di toples entah mengapa membuat Ayano merinding. Tempat ini menjadi lebih menyeramkan dibanding hari-hari biasa.
Setelah menemukan colokkan, Ayano langsung menancapkan chargernya nya di sana.
"Ayo kembali ke kelas, kita tinggalkan saja handphoneku di sini."
"Tunggu!"
Kazu menghentikan Ayano yang hendak melangkah keluar.
"Ada apa?" Ayano menoleh ke belakang.
"Bi-bisakah kita tinggal di sini sebentar?" Kazu menaruh jarinya di pipi.
"Ba-baik." Ayano melangkahkan kembali kakinya mendekati Kazu.
Setelah Ayano berdiri di sebelahnya, Kazu mulai berbicara.
"Ayano, kau baik-baik saja?"
"Maksudnya?"
"Kau orang yang sangat penakut. Apa kondisi ini tidak membuatmu khawatir?"
Memerlukan sedikit waktu sampai akhirnya Ayano menjawab.
"Tentu saja aku khawatir. Aku takut jika badai ini tidak berhenti. Aku tidak mau selamanya ada di sini." Ayano menggembungkan pipi.
Kazu terkikik. "Selain itu ada yang kau takuti lagi?"
"A-apa?"
"Hantu misalnya."
"Ka-karena di sini banyak orang, a-aku gak takut, kok!"
Ekspresi lucu Ayano membuat Kazu tertawa kecil.
"Bagaimana denganmu? Apa ada hal yang kau takuti?" Ayano bertanya balik.
"Ada."
"Apa?"
"Kehilangan dirimu."
“Kehilangan diriku? Aku gak ke mana-mana kok.”
Kazu tiba-tiba tertunduk lesu.
"Sudah, ayo ke kantin. Anak-anak sepertinya sudah turun."
Ayano pun mengikutinya dari belakang.
Selesai sarapan pagi di kantin, anak-anak kembali naik ke kelas. Mereka melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang bermain handphone, ada juga yang bermain kartu karena kebetulan ada satu murid yang membawa. Beberapa lagi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kazu berkumpul bersama para lelaki, sementara Ayano berbincang-bincang dengan Mera.
"AAAA!!!" Seorang perempuan tiba-tiba menjerit membuat seluruh perhatian mengarah padanya.
"Ada apa Sawako?" tanya anak-anak setelah mendekatinya.
"I-ini siapa???!!!"
Sawako baru saja memotret Yumiko, Ayase, dan Urara yang minta difoto bertiga.
Namun, anehnya, Sawako juga ada di foto.
"Bagaimana mungkin aku ada di foto sedangkan aku sendiri yang mengambil foto itu?" Sawako tampak keheranan.
"Mungkin tadi kau sedang berselfie?"
"Tidak! Jelas-jelas aku yang mengambil foto mereka. Tanyakan saja!" Sawako menunjuk Yumiko, Ayase, dan Urara.
Anak-anak segera menatap mereka.
"I-iya. Sawako yang mempotret kami."
"Oi Sawako, itu bukan aplikasi kamera, kan?!"
"Hapus saja fotonya!"
Ketiga gadis yang Sawako foto ketakutan karena di belakang foto mereka ada sosok misterius yang menyerupai wajah Sawako.
"Itu bukan Sawako. Itu hantu penyerupa," ucap Hiragi yang sedang berdiri menyender di tembok.
"Apalagi itu?" Yumiko, Ayase, dan Urara menoleh ke arahnya.
"Sudah aku bilang, di sini ada orang lain. Orang itulah yang berubah menjadi Sawako dan ikut berfoto bersama kalian." Hiragi tersenyum penuh kemenangan.
Ketiga gadis itu merasa marah.
"Jangan mengada-ada, deh!"
"Itu pasti kesalahan kamera!"
"Tidak ada yang namanya hantu!"
Hiragi menggeleng-geleng kepala.
"Terserah kalian saja deh." Hiragi meninggalkan ruangan ini sendirian.
Padahal hari masih pagi, namun ketegangan sudah menyelimuti ruangan ini. Sawako segera menghapus foto tersebut karena takut ada hal tidak diinginkan yang terjadi.
'Cekrek!'
"Oi, Kazu! Apa yang kau lakukan?" Sawako menatap Kazu yang tiba-tiba mengambil gambar.
"Sepertinya tadi itu memang kesalahan kamera. Buktinya tidak ada yang aneh dengan foto yang aku ambil." Kazu menunjukkan hasil jepretannya pada teman-teman.
"Kau benar." Sawako tampak lega, begitupun dengan ketiga teman dekatnya.
Setelah itu, murid-murid juga mencoba mengambil gambar secara acak. Tidak ada yang aneh dengan hasil jepretan mereka. Semuanya normal.
Ayano sebenarnya ingin memotret juga, namun handphonenya sedang dicas di lab biologi.
Tada-sensei senang melihat keadaan yang mulai tenang.
"Aku juga coba foto ah."
Tada-sensei mengambil foto keseluruhan ruangan dengan berdiri di depan.
Saat foto itu selesai diambil, Tada-sensei menahan napas melihat hasil foto yang mencengangkan.
Di dalam foto itu ada lima murid tambahan yang ikut bergaya. Semuanya berambut panjang dan memakai seragam perempuan.
Salah satunya mirip dengan Sawako.
"Sudah kuduga, aku memang tidak salah hitung."
Tada-sensei langsung menghapus fotonya karena tidak ingin ada murid yang tahu.
***
Tiga jam berlalu setelah insiden foto aneh Sawako di ruangan kelas.
Ayano meminta Sawako pergi menemaninya ke lab biologi untuk mengambil handphone yang selesai dicas. Sekalian bergantian dengan Sawako yang mulai kehabisan baterai.
Sesampainya di lab, Ayano terkejut karena handphonenya sudah tidak ada.
"Di mana handphoneku?!!!" Ayano setengah panik.
"Kau yakin menaruhnya di sini?" tanya Sawako.
"Iya, lihat saja chargernya masih ada!"
Sawako juga ikut bingung jadinya.
"Ayo kita cari di sekitar sini."
Ayano dan Sawako akhirnya mulai mencari-cari di sekitar laboratorium. Namun, seberapa keras pun mereka mencari, handphone Ayano tidak ditemukan.
"Kau tadi ke sini bareng Kazu, kan?"
"Iya."
"Coba tanyakan, mungkin dia yang mengambilnya."
"Kalau begitu, ayo kembali ke kelas."
Ayano dan Sawako kembali ke kelas untuk menemui Kazu.
"Kazu, apa kau mengambil handphoneku?"
"Hah?"
"Handphoneku hilang!"
"Bukankah kau menaruhnya di lab biologi?"
"Iya, tapi tidak ada di sana."
Kazu hanya menggaruk belakang kepala karena tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi.
"Ayano, handphonemu hilang, ya?" Sawako berjalan mendekat.
"Iya." Ayano menampakan wajah resah.
"Kau tidak usah sedih begitu, handphonemu sudah pasti dicuri."
"Dicuri? Oleh siapa?"
"Siapa lagi, tentu saja Hiragi!" Sawako menatap ke arahnya.
"A-Hiragi?"
"Iya, bukankah sedari tadi Hiragi pergi sendirian ke luar kelas? Kau pikir dia pergi ke mana? Sudah pasti dia mengambil handphonemu yang ada di lab biologi!" Sawako tersenyum yakin.
"Tapi, apa buktinya?"
Sawako menghela napas.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Coba saja kau tanyakan langsung." Sawako pergi meninggalkan Ayano.
Sawako lantas menepuk pundak Ayano. "Ayo kita tanyakan, aku temani."
Ayano dan Sawako segera mendekat pada Hiragi yang mengasingkan diri di kelas ini. Gadis berselendang hitam itu hanya melamun karena cuma dia saja di kelas ini yang tidak membawa handphone.
"Hi-Hiragi... apa kau yang mengambil handphoneku?" tanya Ayano dengan gugup.
"Bukan." Hiragi menjawab singkat.
"Tapi, kata Sawako...."
"Kau ingin dihukum karena melakukan tindakan fitnah, ya?" Hiragi menatapnya tajam.
"Ma-maaf!!!" Ayano langsung membungkuk.
"Setidaknya biarkan kami memeriksa isi tasmu." Sawako tidak ingin mundur.
"Lakukan sesuka kalian." Hiragi melemparkan tas kecilnya.
Setelah Ayano dan Sawako periksa, ternyata di sana memang tidak ada handphone milik Ayano.
"Kau sembunyikan di mana handphonenya?" Sawako kembali bertanya.
"Sudah kubilang, bukan aku pencurinya."
"Jangan bohong!"
Hiragi menghela napas. "Untuk apa aku mencuri handphone murah yang bahkan layarnya sudah sedikit pecah? Main game online saja tidak kuat. Handphone itu tidak ada harganya sama sekali."
"Oi kau! Tarik kembali perkataanmu! Kau sudah menyakiti Ayano!" Sawako tidak terima dengan perkataannya.
"Menyakiti Ayano? Yang benar saja. Yang aku hina itu handphonenya, bukan orangnya. Untuk apa Ayano sakit hati? Jangan lebay, deh." Hiragi tersenyum sinis.
Sawako naik darah, namun Ayano segera menenangkannya.
"Baiklah kalau memang bukan kau pencurinya. Maaf telah menuduhmu." Ayano membungkuk minta maaf, kemudian pergi meninggalkan Hiragi bersama Sawako.
Setelah itu, semua tas murid digeledah untuk mencari keberadaan handphone Ayano. Tas Ayano sendiri juga digeledah barang kali ada orang iseng yang menaruhnya di sana.
Hasilnya berakhir tidak memuaskan.
"Ya sudah, tidak apa-apa, kok. Terima kasih teman-teman sudah membantuku." Ayano membungkuk minta maaf.
Setelah itu, ia kembali ke lab biologi bersama Sawako untuk mengambil charger milik Kazu.
Begitu sampai di lab, Ayano dan Sawako terkejut karena handphone Ayano ada di sana. Mereka segera berlari dan melihat layar handphone dengan simbol baterai sudah mencapai 99%.
"Ke-kenapa handphonemu ada di sini? Tadi kan tidak ada...." Sawako menggaruk belakang kepalanya.
"Syukurlah handphoneku ternyata ada." Rasa syukur Ayano melebihi rasa anehnya dengan kejadian ini.
"Oi Ayano! Kau tidak heran mengapa handphonemu tiba-tiba hilang dan tiba-tiba ada lagi?" Sawako tidak terima dengan Ayano yang begitu tenang.
"Mungkin teman kita sedang menjahili." Ayano menebak.
Sawako menghela napas. Hanya itu memang satu-satunya penjelasan yang masuk akal.
"Tapi siapa yang tega menjahili makhluk selemah dirimu?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku bersyukur handphoneku masih ada." Ayano tersenyum bahagia.
"Terserah, deh."
Ayano dan Sawako kembali ke kelas sambil membawa charger milik Kazu. Sawako tidak mau mengisi daya handphonenya di sini karena takut kejadian seperti ini terulang kembali. Ia lebih memilih mengantri di kelas daripada harus was-was takut kehilangan.
"Oi, Ayano, tumben sekali kau memakai fotomu sendiri sebagai wallpaper." Sawako sedikit menahan tawa melihat wallpaper handphone Ayano yang bergambar dirinya sedang manyun.
"Enggak kok, wallpaperku... loh?" Ayano baru sadar bahwa wallpaper handphonenya telah berubah. Wallpaper sebelumnya adalah gambar anak kucing yang sedang tersenyum. "Iya, sekali-sekali gapapa, hehehe."
Ayano tidak ingin memperpanjang masalah, jadi langsung mengiyakan.
Ayano berpikir positif bahwa yang mengganti wallpaper handphonenya adalah orang yang menjahilinya. Namun, yang Ayano bingung, mengapa orang itu bisa mengetahui password handphonenya tersebut.