78

1242 Kata
Saga dan Ayano sedang duduk berdua menunggu bioskop yang akan mereka tonton dimulai. Waktunya kurang lebih sekitar satu jam lagi. Daripada hanya menunggu dengan bermain handphone, Ayano pun mempunyai inisiatif untuk menceritakan pengalaman seramnya. “Gimana? Saga mau dengar cerita seram dari saya, gak? Ini kenyataan loh, bukan fiksi.” “Mau, mau.” “Yakin nih? Saga gak bakal takut?” “Enggak.” “Tapi di cerita ini ada laki-laki di kelas saya yang lagi suka sama saya. Saga gak bakal cemburu?” “Enggak, ayo ceritain.” Ayano tertawa. “Hahaha, oke deh.” Beginilah ceritanya: (SMA Subarashii Jepang, Pukul 4 Sore) Di luar sedang terjadi badai angin topan saat Ayano terbangun dari tidurnya. Dia segera menyusut air liurnya yang menetes sampai ke meja. "Waah, kamu sudah bangun." Lelaki yang duduk di sebelahnya menyapa. "Kazu? Aku di mana?" Ayano masih setengah sadar. "Kelas." "Kelas? Kenapa aku ada di sini?" "Kau ketiduran setelah ujian selesai. Kau lupa, ya?" "Ujian? Ujian apa?" "Ujian perbaikan matematika." Setelah nyawanya terkumpul cukup, barulah Ayano sadar. "Ah, iya, tadi ada ujian perbaikan, ya. Aku benar-benar mengantuk." Ayano menguap lagi sambil menutup mulutnya dengan tangan. Musim panas sedang berlangsung di Jepang. Semua sekolah diliburkan tak terkecuali SMA Subarashii. Ayano dan teman sekelasnya menjadi pengecualian karena mereka tidak lulus saat ujian akhir matematika. Karena itu, mereka terpaksa harus mengikuti ujian perbaikan di tengah liburan musim panas ini. Ayano lantas bangkit dan menatap ke luar jendela. Langit begitu gelap padahal waktu masih menunjukkan pukul empat sore. Di luar badai angin topan benar-benar terlihat mengerikan. "Kita tidak bisa pulang," ucap Hiragi yang berdiri di sebelah Ayano. Mereka berdua menatap keluar lewat jendela kelas yang berada di lantai tiga. "Kenapa begitu? Kita bisa pulang setelah angin ributnya selesai, kan?" Ayano menatapnya. "Ayano, berapa lama kau tidur?" Hiragi balik bertanya. Ayano sempat melihat jam sebelum kesadarannya hilang. "Kira-kira empat jam." "Bagus, badai ini sudah berlangsung selama tiga jam. Kita semua terjebak di sini." Ayano tidak ingat sama sekali. Sebelum ia tertidur, langit di luar masih cerah. Hiragi dan Ayano lantas menatap ke seluruh ruangan. Di kelas ini semua murid yang berjumlah dua puluh sedang duduk pasrah di tempat duduknya masing-masing karena tidak bisa pulang. "Tenang saja, badai ini pasti berlalu, kok." Ayano menghibur Hiragi yang tampak suram. "Aku tidak yakin. Firasatku mengatakan badai ini akan berlangsung sangat lama. Bisa sampai satu bulan." Hiragi lalu meninggalkan Ayano sendirian. Ayano kembali menatap luar jendela. Tidak ada tanda-tanda badai angin topan akan berakhir. Malah terlihat semakin membesar. Satu mobil sedan yang terparkir sampai terangkat-angkat seperti akan terbawa terbang. Ayano ingin memberi kabar pada orang tuanya, namun saat melihat handphonenya yang tidak mendeteksi sinyal, Ayano pun hanya menghela napas. *** Tiga jam berlalu. Badai masih belum berhenti. Tada-sensei selaku wali kelas berdiri di depan mengumumkan sesuatu. "Anak-anak, sepertinya kita akan menginap malam ini." Murid-murid seketika ribut kegirangan. Menginap di sekolah? Kapan lagi hal menyenangkan seperti ini bisa dilakukan! Semuanya menyambut dengan antusias. Ayano juga tersenyum. Sepanjang hidupnya, baru kali ini dia mencoba menginap di sekolah. "Apa handphone kalian ada sinyal?" tanya Shoutaro, murid yang menjabat sebagai ketua kelas. "Masih tidak ada." Semua menjawab kompak. "Waah, kalau begitu akan sulit. Kita tidak bisa mengabari orang tua." Shoutaro menghela napas. "Tidak apa-apa, Shoutaro. Selama kita tidak meninggalkan sekolah, orang tua kita tidak akan khawatir." Mera mencoba menenangkan. "Kau benar." Shoutaro tersenyum. Karena akan menginap, Ayano dan teman-temannya mulai menata bangku agar ruangan kelas menjadi lebih luas. Semua murid kompak menumpuk meja dan kursi di belakang agar bagian tengah ruangan bisa digunakan untuk duduk lesehan. "Sensei, apa kita akan tidur bersama di ruangan ini?" tanya Yoshi pada Tada-sensei. "Bodoh! Mana mungkin cowok sama cewek tidur satu ruangan!" Mera mengetok kepala Yoshi. Tada-sensei segera menjawab. "Iya, murid perempuan akan tidur di sini. Murid lelaki akan tidur di kelas sebelah. Semuanya, ayo kita rapikan juga kelas sebelah." Tada-sensei meminta semua lelaki untuk meninggalkan ruangan. Setelah semuanya pergi, kelas hanya menyisakan sembilan murid perempuan saja. Sebelas murid lelaki ditambah Tada-sensei akan tidur di sebelah. Tak lama, para murid lelaki kembali ke kelas dengan raut wajah yang kusut. "Kelas sebelah dikunci. Ruangan lain juga dikunci. Kita terpaksa harus berbagi ruangan." Tada-sensei menggaruk belakang kepalanya. Para murid lelaki tampak senang sementara murid-murid perempuan tampak risih. "Tenang saja, kami tidak akan macam-macam." Kazu coba meyakinkan para murid perempuan. "Iya, palingan cuma ngintip kalian tidur." Shoutaro menambahkan. Perkataan Kazu dan Shoutaro membuat para gadis tersenyum. "Awas saja ya, kalau berani macam-macam!" Mera mengarahkan tinjunya pada para anak lelaki. Dia adalah murid terkuat di kelas ini meskipun seorang perempuan. Para murid lelaki langsung bercucuran keringat. Mereka semua pernah berkelahi melawan Mera, namun tidak ada satupun yang berhasil menang. Murid-murid perempuan semakin bernapas lega. "Bapak ingat di gudang penyimpanan ada alas karpet yang cukup besar. Ada yang mau membantu Bapak membawanya ke sini?" Tiga orang lelaki mengangkat tangan. "Biar kami saja, sensei." "Ah, baiklah. Di sana ada dua karpet yang besar. Kalian bawa dua-duanya, ya." Karena jumlahnya kurang, seorang lelaki lain menawarkan diri untuk mengambil karpet besar di gudang. Mereka berempat akhirnya pergi bersama-sama ke gudang penyimpanan yang berada di lantai satu. Gudang itu tidak dikunci karena sering digunakan oleh para murid maupun civitas akademik. Tada-sensei juga pergi meninggalkan kelas untuk mencari-cari barang seperti bantal, selimut, atau perlengkapan tidur lainnya yang bisa digunakan. Namun, pada akhirnya, dia tidak menemukan apa-apa. Empat orang lelaki telah kembali sampai di kelas. Mereka menaruh dan memasang karpet di tengah ruangan. Tempat ini jadi lebih nyaman dari sebelumnya. Murid-murid bisa duduk selonjoran dan tiduran di sana. Tada-sensei merasa lapar. Sejak siang tadi dia belum makan karena tidak bisa pergi meninggalkan gedung. Dia lihat para murid juga tampak kelaparan. "Ada yang bawa makanan?" tanya Tada-sensei. Semuanya menggeleng. "Kalau begitu kita masak makanan di kantin saja. Siapa yang mau bantu Bapak masak?" Tiga orang mengangkat tangan. Ayano, Mera, dan Tsugi. "Baiklah, kalian bertiga ikut Bapak." Tada-sensei, Ayano, Mera, dan Tsugi meninggalkan ruang kelas. Semua lampu di lorong menyala dengan terang. Ayano sedikit antusias karena jarang sekali berkeliaran di gedung sekolah malam-malam. Kalau sendirian, dia pasti takut, namun karena bersama-sama, dia jadi berani. Sesampainya di kantin, pintu dapurnya ternyata terkunci. "Aduh, kalau begini kita tidak bisa makan." Tada-sensei mengeluh. Dia segera menatap Mera. "Mera, bantu Bapak dobrak pintu ini." "Eh, seriusan?" "Iya, nanti Bapak yang tanggung jawab." "Baiklah." Tada-sensei dan Mera langsung berancang-ancang. Mereka menubruk pintu bersama-sama sekuat tenaga sampai akhirnya pintu itu terbuka. Ayano dan Tsugi kagum dengan tenaga besar mereka berdua. Di dapur ini banyak sekali bahan makanan yang ditaruh di dalam karung-karung dan juga kulkas besar. Kalau Tada-sensei perhitungkan, bahan makanan ini akan cukup untuk satu bulan jika diberikan pada dua puluh murid setiap harinya. Tapi, untuk apa berpikir jauh-jauh, Tada-sensei tidak berniat tinggal selama itu di dalam sekolah. Setelah badai reda, dia dan para muridnya akan kembali pulang. Setelah masakan selesai, para murid yang berada di atas segera turun untuk makan bersama-sama. Ayano duduk bersama teman-teman dekatnya yaitu Mera dan Sawako. Ayano benar-benar menikmati sensasi baru dalam hidupnya ini. Jam menunjukkan pukul sembilan saat semua anak selesai makan malam dan juga mencuci piring. Semuanya kembali ke kelas untuk segera tidur. Walau di kelas tidak ada selimut, bantal, dan sebagainya, mereka masih tetap bisa tidur. Tas mereka dijadikan bantal, sedangkan untuk selimut mereka tidak perlu khawatir karena di ruangan ini ada penghangat ruangan. Sebelum mereka tidur, Tada-sensei menghitung jumlah murid untuk memastikan tidak ada yang tertinggal di kantin. Namun, setelah menghitungnya, Tada-sensei merasa keheranan. "Kenapa ada dua puluh lima?"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN