Semester dua telah berlalu selama satu bulan lebih. Banyak hal yang terjadi selama waktu itu berlangsung. Dimulai dari Argi yang secara resmi berpacaran dengan Ranti, sampai kedatangan seorang anggota militer bernama Alisa.
Sejak awal kedatangannya ke kampus secara tiba-tiba, Saga memang sudah curiga. Orang lain mungkin menganggap Alisa anggota militer pura-pura, tapi Saga tahu bahwa Alisa memang anggota militer sungguhan. Saga bisa memastikan setelah atasan Alisa memberitahunya secara langsung lewat chat.
Pak Robertus mengirim pesan pada Saga agar dia menjaga Alisa selama dia berada di sana. Saga memang sudah kenal dengan Pak Robertus, karena dulu sering main ke rumah untuk bertemu ayahnya. Tapi dia benar-benar tidak menyangka atasannya itu akan mengirimkan salah satu prajuritnya untuk mengerjai Saga.
“Sag, lihat tuh, si Alisa liatin lu terus.” Argi berbisik pada Saga.
“Iya, gua tau, jelas banget itu.”
“Dia kayaknya suka sama lu.”
“Gak mungkin.” Saga menyanggah.
Pak Robertus bilang Saga harus menjaga Alisa selama dia ada di sini, tapi Saga berpikir untuk apa menjaga seorang anggota militer terlatih seperti Alisa? Justru seharusnya Alisa lah yang menjaga Saga selama berada di sini.
“Kalau beneran suka gimana?”
“Ya gua tolaklah, gua kan ada Ayano.”
Argi tersenyum. “Kapan kalo gitu ditembaknya? Malah gua duluan yang pacaran sama Ranti.”
“Entahlah bro, gua gak berpikir untuk pacaran atau semacamnya. Kan lu sendiri yang bilang, Ayano datang ke sini buat belajar bukan buat pacaran. Menurut gua udah bener yang diomongin lu. Lagian, gak perlu pacaran juga kok buat bisa tetep deket sama Ayano.”
Argi merasa terharu mendengarnya. “Good job, lah. Lu emang laki-laki sejati. Lu gak usah ngikut gua, ya. Gua pacaran pun nilai gua tetep tinggi, gak kayak lu, hahaha.”
Saga tentu merasa sebal. “Iya, gua tau, sialan emang lu ini, untung lu temen gua.”
Argi hanya tertawa.
“Btw, gua belum sempet tanya ya, kenapa lu mau sama Ranti? Apa karena dia mirip Gaida?” Saga sadar, penampilan Ranti dan Gaida memang cukup mirip. Sama-sama berkacamata dan berambut pendek.
Argi berdehem. “Bukan karena itu, sih. Kebetulan aja penampilan mereka mirip. Kalau ditanya kenapa gua mau sama Ranti, gua juga gak tau. Gua gak berdebar-debar kayak yang lu rasain sewaktu deket Ayano. Gua juga gak suka ke Ranti seperti saat gua suka ke Gaida dulu. Rasa suka gua ke Ranti bisa dibilang biasa aja. Tapi, gua gak bisa pisah aja sama dia. Waktu denger lu jalan berdua sama Ranti ke event anime pun entah mengapa gua merasa cemburu. Puncaknya, pas gua suruh Ranti berhenti jadi pacar pura-pura gua, dia malah nangis, dan bilang dia udah suka beneran sama gua. Pada saat itulah, gua sadar kalau selama ini gua ternyata sangat peduli sama Ranti. Itulah mengapa gua selalu gak bisa nolak tiap kali dia punya permintaan.”
Saga berkeringat dingin. Ternyata Argi sudah tau kalau dia pernah jalan berdua dengan Ranti. Itu tidak termasuk perselingkuhan karena Ranti bukan pacar Argi sungguhan, tapi tetap saja Saga merasa tidak enak.
“Lu tau dari siapa gua sama Ranti pernah ke event anime?”
“Dari Gaida,” jawab Argi.
“Gaida? Jangan-jangan dia... cerita juga soal itu?”
Argi mengangguk.
“Sorry, gua….”
“Gapapa, gua gak marah, kok. Itu gak diitung selingkuh, soalnya dia bukan pacar gua. Seandainya udah jadi pacar gua pun gak masalah, kok. Gua percaya sama lu.” Argi menepuk pundaknya. “Tapi, soal yang satu lagi, gua kaget. Ternyata Gaida sukanya sama lu. Agak sakit hati sih, tapi gapapa. Gara-gara hal itu gua jadi jadian sama Ranti, jadi gak ada masalah.”
“Syukurlah kalau gitu.” Saga tersenyum.
“Itu menjadi bukti Sag, kalau wajah tuh bukan segalanya. Kepintaran, kepopuleran, itu bukan segalanya. Buktinya, Gaida sukanya sama lu, bukan sama gua. Dan juga, lu bisa tuh naklukin hati Ayano tanpa duit. Lu beneran hebat, Sag.”
“Jangan muji gitu lah anjir.”
“Ahahaha.” Argi tertawa.
Saat menoleh ke bawah, ternyata di sana ada Alisa yang sedang berjongkok di sebelah bangku Saga. Sungguh, dia sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Seandainya Alisa seorang pembunuh, nyawa Saga pasti sudah melayang.
“Alisa, kamu ngapain diem di sana?” tanya Saga.
“Mengumpulkan informasi,” jawabnya.
“Sejak kapan ada di sana?”
“Sejak Argi bercerita soal Ranti.”
Saga dan Argi tercengang. Itu berarti Alisa sudah lama menguping di bawah sana. Sungguh, kehadirannya sama sekali tidak tersadari.
“Ya sudah, mau apa kau ke sini?” tanya Saga.
“Aku mau mengajakmu berkegiatan berpacaran.”
Saga mengerutkan kening. “Kegiatan berpacaran?”
“Iya, saya ingin berpacaran dengan Saga.”
“Emangnya kamu suka sama aku?”
“Enggak.” Dengan cepat Alisa menjawab. “Tapi aku tetap ingin berpacaran dengan Saga. Aku hanya menjalankan misi.”
“Misi?”
“Maaf, lupakan saja.”
Saga menghela napas.
“Alisa, aku kenal dekat dengan atasanmu. Pak Robertus, kan? Dia itu orangnya suka jahil. Jangan-jangan dia menyuruhmu untuk berpacaran denganku, ya?”
Alisa berkeringat dingin. “Rahasia.”
“Percuma Alisa, apapun yang kau lakukan, aku tidak akan mau berpacaran denganmu.” Saga dengan tegas menolak.
“Kalau begini gimana? Apa masih tidak mau berpacaran denganku?” Alisa menodongkan pisau pada leher Saga. “Kamu harus berkegiatan pacaran denganku, kalau tidak kepalamu akan putus.”
Satu kelas merinding melihat Alisa yang menodongkan pisau pada leher Saga. Sadar akan hal ini, Alisa pun memasukkan kembali pisaunya ke dalam saku.
“Sepulang kuliah kita harus berkegiatan pacaran. Aku tunggu kamu di belakang kampus.”
Setelah mengatakan itu, Alisa pergi meninggalkan Saga.
Argi menatapnya. “Hayoo, gimana? Lu bakal mati loh kalo nolak cintanya Alisa. Dia beneran kayak cewek Yandere, hahaha.”
“Yandere?”
“Yandere itu cewek yang suka banget sama cowoknya sampe-sampe gak rela kalo cowoknya jalan sama cewek lain. Kalo cowoknya selingkuh, si cewek bakal bunuh si cowok atau si cewek yang dia selingkuhin.”
Setelah menonton anime, Argi jadi tahu tentang tipikal cewek Yandere ini.
“Tapi dia gak suka sama gua.”
Argi bertopang dagu. “Bener juga, sih. Terus gimana nolaknya?”
“Gampang.”
Selesai kuliah, Saga menepati janjinya pada Alisa untuk menemuinya di belakang parkiran kampus. Alisa sudah berdiri tegak menatap lurus padanya. Saga bisa menebak Alisa sedang menyembunyikan pisaunya.
“Kalau dilihat-lihat, kamu cantik juga, ya. Enggak deng, kamu emang beneran cantik.” Saga menyapa.
Alisa sedikit tersipu. “Cantik? Kamu bilang a-aku cantik?!”
“Iya, banyak juga kan yang bilang gitu?”
“Tidak pernah ada!” jawab Alisa, wajahnya memerah.
Sebenarnya memang banyak yang menyadari kalau Alisa itu memang cantik, tapi tak ada satupun yang sengaja mengucapkannya di depan Alisa. Ini pertama kalinya ada yang berbicara seperti itu padanya.
“Sejujurnya, kamu itu lumayan tipeku, jika tidak ada si dia, aku mungkin mau-mau aja pacaran sama kamu.”
Alisa mulai menatap tidak suka, tapi masih dalam keadaan tersipu. “Jadi, kamu tidak mau?”
“Kamu juga aslinya tidak mau, kan?”
“I-itu….” Alisa tidak bisa menjawab.
“Biar aku hubungi atasanmu.”
Saga membuka handphonenya kemudian menelpon Pak Robertus secara langsung.
“Halo, Pak Robertus. Mohon maaf, saya sudah suka sama gadis lain, namanya Shiraishi Ayano, saya tidak bisa pacaran sama Alisa prajurit andalan Bapak. Menurut saya dia cantik sih, tapi saya sudah terpincut gadis lain. Jadi, maaf ya Pak, tidak bisa, batalkan saja misinya, kasihan Alisa.”
Terdengar suara balasan di handphone. Sengaja Saga keraskan agar Alisa bisa mendengar.
“Ah, begitu, sayang sekali, padahal aku ingin melihat kalian berdua jadi pasangan agar aku bisa besanan sama bapakmu, hahaha. Ya udah kalau gitu, makasih ya Saga udah jagain Alisa.”
“Saya sama sekali gak jagain Alisa, malah Alisa yang jagain saya. Pengen sih punya bodyguard kayak Alisa, tapi saya takut Ayano cemburu, jadi tidak dulu deh. Alisanya suruh pulang aja, di sini dia gak bisa ngikutin kuliah.”
“Ahahaha, iya iya, siap bos Saga!”
Setelah mendengar percakapan itu, Alisa langsung ditelpon oleh atasannya.
“Alisa, misi dibatalkan, kamu boleh pulang ke Surabaya sekarang.”
Mendengar hal itu, Alisa langsung tersenyum. Dia memang kurang nyaman di sini, dan ingin segera pulang ke Surabaya. Alisa pun mengucap terima kasih pada Saga karena sudah membantunya membatalkan misnya.
“Aku ucapkan terima kasih padamu.”
“Iya, sama-sama.”
“Sebagai hadiahnya, aku beri ini.”
Cup.
Alisa mencium pipi Saga.
Wajah Saga langsung kemerahan.
“Ka-kamu ngapain?!”
“Kata Vini kalau aku ingin berterima kasih sama cowok yang aku ingin nikahi, caranya begitu.”
Saga masih tersipu. “Petuah apaan itu, sesat sekali! Jangan lakuin itu, itu bukan tanda berterima kasih! Cukup bilang makasih aja!”
Saga jadi kepikiran saat Alisa bilang Saga adalah laki-laki yang ingin dia nikahi.
“Tapi kata Vini….”
“Bohong! Itu bohong!”
“Oke deh, terima kasih ya, Saga!”
Mereka pun berpisah di parkiran itu.
Saga pulang ke kosan menaiki motor kopling, sedangkan Alisa pulang ke apartemen untuk persiapan pulang ke Surabaya.
Keesokan harinya, Alisa sudah tidak ada lagi di kampus.