76

1489 Kata
Alisa telah membawa Vina ke apartemen miliknya dan mengikat tubuhnya dengan tali tambang. Mulutnya disumpal dengan lakban sehingga dia tidak bisa berbicara. Vina meronta-ronta meminta untuk dibebaskan. Dia begitu ketakutan ketika melihat banyak senjata berbahaya di sini, tapi Alisa segera menenangkannya. CEKREK Alisa memotret Vina, kemudian mengirimkan gambar itu pada atasannya. Tak seberapa lama, sebuah panggilan masuk ke ponsel milik Alisa. "Jadi, dia adalah penyusupnya?" "Benar." "Apa bukti yang bisa kau berikan? Apakah gadis itu berusaha menyerang klien kita?" "Tidak." "Lalu?" "Kapten, sebelumnya saya ingin memastikan satu hal. Penyusup yang Anda bicarakan itu, sebenarnya... tidak ada, kan?" "Apa maksudmu dengan tidak ada? Lantas siapa gadis yang sedang kau bawa itu?" "Dia memang penyusup, tapi dia tidak berniat melukai klien kita. Dia hanya seorang gadis yang sedang jatuh cinta." "Lalu kenapa kau menangkapnya?" "Kapten tidak pernah bilang bahwa penyusup itu akan membunuh atau menculik Saga Harvent, Kapten hanya bilang ada penyusup yang sedang mengincar dirinya. Mahasiswa bernama Vina Anastasia ini adalah seorang penyusup, dia bukan mahasiswi asli kampus UPD. Dia juga sedang mengincar Saga untuk diajak berkegiatan pacaran. Dengan begitu, bisa dipastikan dialah si penyusup itu." Kalau deduksi Alisa benar, di kampus UPD memang tidak ada seorang mahasiswa pun yang berniat mencelakai Saga. Alisa sudah mengintai setiap orang dalam setiap situasi sambil mengawasi kliennya tersebut. Alisa bahkan sampai meretas CCTV kampus agar dia bisa memantaunya di layar ponsel sendiri. Selama pengintaian dalam kurun waktu tiga minggu itu, Alisa tidak menemukan kejanggalan apapun. Terdengar suara tawa dari telpon. "Kau benar. Di kampus itu memang tidak ada penyusup. Aku hanya mengarang saja untuk menguji kemampuan mata-matamu. Aku ingin tahu bagaimana cara kau menangkap seseorang yang bahkan sebenarnya tidak ada. Aku kaget kau bisa menangkap penyusup yang tidak disangka-sangka itu. Kenapa kau bisa mengetahuinya? Apa dia bertingkah mencurigakan?" Alisa lantas menjelaskan semuanya, atasannya tersebut merasa puas mendengarnya. "Bagus, aku senang mendengar kemampuan detektifmu yang semakin membaik. Misi berhasil. Minggu depan kau boleh kembali ke markas. Habiskan sisa satu minggumu untuk berlibur di sana." "Baik, terima kasih, Kapten." "Iya, jangan lupa untuk melepaskan gadis itu, dia sama sekali tidak bersalah." "Siap." Panggilan pun berakhir. Alisa segera membuka lakban serta tali tambang yang dia ikat kuat di tubuh Vina. Dia melakukan ini hanya agar bisa memotretnya. Vina yang sudah dilepaskan, merasa malu pada Alisa. "Kenapa kamu tahu aku bukan Vina yang asli?" tanya seorang gadis yang merupakan kembaran Vina. "Setelah seminggu masuk, aku curiga karena sikapmu sering berubah. Tapi karena kau tidak terlihat membahayakan Saga, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku sempat berpikir kau memiliki kepribadian ganda, tapi rupanya bukan. Kau bertukar tempat dengan Vina dalam beberapa hari sekali." Alisa menyampaikan pengamatannya. "Ba-bagaimana kau bisa tahu?! Aku sering melakukannya dengan Vina, tapi teman-teman sekelas tidak ada yang menyadari. Meski namaku Vini, aku sudah terbiasa dipanggil Vina. Jadi aku langsung menoleh ketika ada yang memanggil. Aku juga bisa mengikuti pembicaraanku dengan orang lain karena Vina selalu memberitahuku dengan siapa saja dia mengobrol hari kemarin. Normalnya orang tidak akan sadar, kenapa kau bisa sadar?" tanya Vini keheranan. "Karena aku buka orang normal," jawabnya. "Ah iya, jadi kau ini benar-benar anggota militer, ya? Astaga, kupikir itu cuma candaan." Vini menatap ngeri pada Alisa. "Jadi, kenapa kau bisa tahu aku ini bukan Vina?" "Mimik wajah, gestur tubuh, dan jawaban yang kau berikan tentang anjing itu. Kau memberikan jawaban yang berbeda dengan Vina." Kemarin, saat Alisa bertanya 'siapa yang anjing?' Vina menjawab anjing miliknya yang anjing. Tapi hari ini, Vini menjawab berbeda. Vini menjawab anjingnya itu dosen filsafat. Alisa tentu saja curiga, umumnya orang akan menjawab hal yang sama ketika diberi pertanyaan yang sama. Namun, karena dia merespon dengan jawaban yang berbeda, Alisa curiga kalau dia bukan Vina yang asli. Vini terkejut mendengarnya. "Ah, soal itu, ya. Vina tidak menceritakannya padaku kemarin. Dia terlalu bahagia memberi kabar bahwa ternyata kamu dan Saga tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku pun langsung bertukar tempat dengannya hari ini untuk segera mendekati Saga. Tapi tetap saja, kamu sangat hebat bisa menyadarinya. Orang normal tidak akan berpikir sejauh itu." Vini lalu bercerita, bahwa dia adalah mahasiswa kampus sebelah. Dia sebenarnya ingin masuk kampus UPD juga, tapi gagal diterima karena seleksi kampus itu sangat sulit. Vina berhasil lolos karena dia memang lebih pintar dibanding kembarannya ini. Vini awalnya hanya iseng-iseng ingin mencoba belajar di kampus yang favorit ini. Namun, karena suatu kejadian, Vini jatuh cinta pada teman sekelasnya, yaitu Argi. Akan tetapi, semenjak mendengar desas-desus bahwa Saga adalah anak keluarga Harvent, rasa suka Vini beralih pada Saga. Sejak saat itu, Vini sering meminta bertukar tempat agar bisa pedekate dengan Saga. “Kau tau kan, Saga itu sedang menyukai gadis asal Jepang?” Selama membuntuti Saga, Alisa sering melihat dia berdekatan dengan Ayano. “Iya, aku tau.” “Lalu kenapa kau tetap mengejarnya?” “Soalnya, katanya Saga itu anak keluarga Harvent! Pengen banget dong aku jadi pasangan orang kaya. Coba-coba aja siapa tau dapat.” “Kau tau dari mana kalau Saga anak keluarga Harvent?” “Dari Kakakku.” “Kakakmu tau dari siapa?” “Tidak tau.” Alisa menatapnya serius. “Tolong, jangan sebarkan rumor itu lagi. Aku beritahu kau, Saga memang anak keluarga Harvent, tapi dia sedang menyembunyikan identitasnya, oleh karena itu namanya jadi Saga Rezaludin. Sekali lagi, tolong jangan sebarkan berita itu. Kau akan tahu akibatnya jika berani macam-macam.” Tatapan Alisa membuat Vini merinding. "Maaf telah berbuat kasar padamu. Aku tidak menganggap perbuatanmu itu sebuah tindak kejahatan, kau bisa terus melakukannya, aku tidak akan melarang. Mulai sekarang, aku juga akan berhenti mengawasi Saga, kau bisa mendekati dirinya tanpa perlu memikirkanku." Alisa menundukkan kepalanya. "Sebagai permintaan maaf, aku ingin memberimu ini." Alisa memberi sebuah benda berbentuk bulat. Vini menerimanya. "Apa ini?" "Ini bom kilat, kau bisa menggunakannya untuk...." Vini tersenyum aneh melihat antusiasme Alisa dengan benda yang tidak umum ini. Alisa ternyata memang bukan orang biasa, tapi dia tahu kalau Alisa adalah orang yang baik. * Satu minggu berlalu, Alisa mengumumkan pada teman-teman sekelasnya bahwa dia akan pindah lagi hari ini. Rahasia bahwa dirinya adalah seorang militer hanya diketahui oleh Darma dan Vini saja. Alisa meminta mereka untuk merahasiakan tentang ini. "Jadi, begitulah. Terima kasih telah menjadi temanku selama ini." Alisa berpamitan sebelum pulang ke Surabaya besok pagi. Mahasiswa-mahasiswa tampak bersedih, terutama Darma yang sangat menghormati sosok Alisa. "Sebelum pergi, apa kau mau datang ke rumahku? Kita adakan pesta pernikahan! eh maksudnya perpisahan." Mahasiswa paling kaya kedua di Kelas 1-E menawarkan diri, orang itu adalah Tito. Mahasiswa-mahasiswa lain tampak antusias, setuju ingin mengadakan pesta perpisahan untuk Alisa. Vini menggenggam tangan Alisa. "Ikut, ya?" Alisa menggaruk belakang kepala, merasa tidak enak jika menolak karena teman-temannya terlihat begitu berharap. "Baiklah, aku ikut." Teman-temannya bersorak kegirangan. Mereka pun langsung pergi ke rumah Tito berombong-rombong. Membawa banyak makanan untuk melakukan pesta barbecue. Baru kali ini Alisa menghadiri pesta semacam ini, biasanya dia hanya makan bersama para anggota militer yang lebih tua darinya. Berkumpul dengan teman-teman seumuran membuat Alisa merasa mendapat teman yang baru. Pesta selesai jam delapan malam, Alisa diminta teman-temannya untuk melakukan pidato perpisahan. Alisa pun segera melakukannya. "Terima kasih telah menyambutku selama satu bulan ini, rasanya menyenangkan. Walau begitu singkat, aku tidak akan melupakan kenangan berharga ini bersama kalian. Sayonara." Alisa mengakhiri pidatonya, Darma menangis sesenggukan. "Kopral Alisa, jangan lupakan aku! Aku akan sering menghubungimu!" Darma menyeka air matanya. "Kami pasti rindu melihatmu memperbaiki keran wastafel lagi, semoga perairan kampus FKH tetap lancar." Salah satu dosen berbicara. "Tenang saja, kapan-kapan aku akan mampir kalau sempat." Perkataan Alisa membuat semuanya kembali bersedih. Walau dicap aneh, faktanya Alisa seorang mahasiswa yang menyenangkan. Bukan hanya di kalangan mahasiswa, tapi di kalangan para dosen. Dosen filsafat sepertinya akan merindukannya juga. Pesta selesai, Alisa segera pulang untuk menyiapkan kepulangannya besok. Apartemennya sudah kosong. Senjata-senjata miliknya telah dia kirim kembali ke Surabaya kemarin lusa. Yang tersisa sekarang hanya pisau MK3 kesayangannya. Alisa mematikan lampu kemudian tidur, dia siap memulai petualangan barunya esok hari. * Keesokan paginya ketika Alisa baru bangun, dia mendapat panggilan dari seorang Sersan yang merupakan bawahan Kaptennya. "Kopral Alisa, maaf, kepulanganmu harus ditunda. Kapten Robertus memberimu misi lain. Kau tahu kan, soal kekuatan khusus milik Saga? Itu sebenarnya hanya sebuah kebohongan. Saga tidak punya kekuatan spesial apa-apa.” “Iya, aku tahu, lalu apa misi lainnya?” “Kau harus menjadikan Saga sebagai pacarmu!” “Apa?!” Alisa terkaget. “Itu artinya, kau harus kembali ke kampus itu dan berusaha mendapatkannya. Kapten bilang kau tidak boleh pulang sebelum menjadikan Saga sebagai pacarmu. Selamat bertugas!” Alisa mengucurkan keringat. Kemarin dia sudah melakukan pesta perpisahan beramai-ramai. Teman-teman serta para dosen juga sudah menangis bersedih merelakan kepulangannya. Namun, ternyata, Alisa tidak jadi pindah. Sekarang dia merasa malu untuk kembali ke kelas itu. "Demi misi, apapun akan kulakukan." Pagi itu, seperti biasa Alisa mandi dan menyantap sarapan. Dia berjalan kaki menuju kampusnya, membuka pintu Kelas 1-E dan melangkah masuk sambil menahan rasa malu. Teman-teman sekelas terkaget melihat kedatangan Alisa yang tidak disangka-sangka. "Loh, Alisa kenapa datang ke sini lagi?" Wajah Alisa memerah, mulutnya bergetar. "Aku tidak jadi pindah."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN