75

1088 Kata
Beberapa hari ini, Alisa kembali menyelidiki satu-satunya mahasiswa pindahan yang masuk ke kampus ini sebelum dirinya. Orang itu adalah Ron, mahasiswa kelas 1-Cg. Alisa hampir bisa memastikan bahwa mahasiswa lelaki itu bukanlah penyusup yang sedang mengincar kliennya. Saat ini, Alisa sedang duduk di kursi lorong lantai tiga yang sepi. Alisa telah menyusun skema sedemikian rupa agar Saga dan Ron bisa berpapasan tepat di hadapannya. Alisa ingin mengetahui bagaimana reaksi Ron ketika melihat wajah Saga. Tak seberapa lama, dua lelaki itu muncul di sudut lorong kedua sisi. Memerlukan beberapa detik saja bagi mereka untuk saling berpapasan tepat di depan kursi Alisa. Mereka sudah sangat dekat. Jaraknya kurang dari lima meter. Mereka berpapasan. Ketika bahu mereka saling melewati, Alisa tidak melihat respon apapun dari Ron. Mimik wajah, gerak tubuh, serta tingkah lakunya tidak ada yang berubah. Alisa yang mengamati dari dekat, tidak bisa memungkiri bahwa Ron memang tidak mengenal Saga. Itu artinya, dia bukan penyusupnya. "BA!" Alisa terkaget, dosen filsafat ternyata sudah duduk di sampingnya sambil makan cilok panas dalam plastik. Biasanya, dia akan sadar ketika ada orang yang mendekat. Namun, orang ini berbeda. Alisa sama sekali tidak merasakan auranya. "Orang ini pasti pembunuh bayaran," batin Alisa sembari menatap wajahnya dari samping. "Mau?" Dosen filsafat itu menawari. Alisa menggeleng. "Gak nawarin kamu, kok." Alisa merengut. "Lalu Anda menawari siapa?" "Itu, orang yang duduk di sebelahmu." Alisa menoleh ke samping. "Di sebelah saya tidak ada siapa-siapa." "Memang tidak ada." Alisa menjitak keningnya sendiri. Dia merasa bodoh karena menanggapi orang itu dengan serius. Bersama dosen filsafat yang sedang menikmati cilok panasnya, Alisa merenung sambil bertopang dagu. Dia mulai mempertanyakan keberadaan penyusup yang selama tiga minggu ini tidak pernah menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Di luar kampus pun, kliennya aman-aman saja. "Apa benar di kampus ini ada penyusup? Apa Kapten Robertus tidak berbohong?" Alisa langsung menggelengkan kepalanya untuk membuang jauh pikiran tersebut. "Penyusup itu pasti menunggu aku lengah." Di antara semua mahasiswa, sebenarnya dosen filsafat lah yang paling Alisa curigai sebagai seorang penyusup. Tapi atasannya bilang, penyusupnya adalah seorang mahasiswa. Namun, yang dinamakan penyusup, itu berarti seseorang dari luar yang baru masuk. Kalau orang dalam namanya bukan penyusup, tapi pelaku. "Sepertinya penyusup itu memang bukan mahasiswa kampus ini. Aku harus mengingat semua wajah agar bisa mengetahui mana yang mahasiswa palsu." Alisa membulatkan tekadnya, selaras dengan dosen filsafat yang membulatkan mulutnya untuk melahap cilok panas terakhirnya. Ketika Alisa berdiri untuk kembali mengawasi Saga, dosen filsafat itu tiba-tiba bicara. "Jangan lupa mandi." "Iya, Anda juga." Alisa membalas sekenanya. "Saya gak ngomong sama kamu." Alisa melanjutkan berjalan dengan gusar. * "Eh, kamu tau, gak? Dosen filsafat katanya bisa lihat hantu, loh!" "Iya, dulu waktu dia duduk deket aku, dia nawarin cilok ke orang sebelah aku. Padahal di sana gak ada siapa-siapa." "Serem, ya." "Gak serem, dianya aja yang sarap." "Eh, kamu gak boleh ngomong gitu sama dosen." "Faktanya gitu!" Mahasiswa-mahasiswa gadis berbicara di belakang Alisa, rupanya bukan dia saja yang kena prank cilok dosen filsafat. Entah mengapa hatinya sedikit tenang. Namun, ketika kembali memikirkan penyusup yang masih belum juga ketemu, Alisa merasa gundah. Dia hanya punya waktu sembilan hari lagi untuk menangkap penyusup itu. "Anu." Seorang gadis menepuk pundak Alisa. Alisa menoleh. "Ada perlu apa?" "Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." Gadis itu memainkan jemarinya. "Ya sudah, bilang saja." "Tidak bisa di sini, terlalu banyak orang. Kita ke tempat sepi, yuk." Lagi, Alisa sebenarnya tidak bisa meninggalkan Saga. Namun, mengingat betapa amannya dia selama tiga minggu terakhir, kekhawatiran Alisa jadi sedikit berkurang. Kalau memang ada penyusup, seharusnya gerak-geriknya bisa terlihat olehnya. Alisa percaya diri dengan kemampuan mata-matanya. Karena jam masuk istirahat masih lama, Alisa pun menyanggupi ajakan gadis bernama Vina itu. Alisa dibawa Vina ke kursi panjang sepi tempat dia duduk tadi. "Lah, ke sini lagi." "Eh, kenapa?" "Tidak ada, lanjutkan." Vina terdiam cukup lama sampai akhirnya mulai berbicara. "Alisa, hubungan kamu sama Saga apa?" Pertanyaan sama seperti yang dilontarkan Emi. Akhir-akhir ini Saga memang banyak diincar oleh perempuan. Ada desas-desus yang membicarakan bahwa Saga adalah anak keluarga Harvent. Karena itu beberapa mahasiswi secara diam-diam mulai melakukan pendekatan pada Saga. "Tidak ada apa-apa." "Tapi, tiap hari kamu ngikutin dia ke mana-mana." "Anggap saja aku anjingnya." Vina terlonjak mendengar kata-kata frontal darinya. "Eh? Kamu gak boleh ngomong gitu! Kamu itu cantik, Alisa! Jangan mau dibilang anjing." "Aku emang anjing, kok." Alisa menganggap dirinya sebagai anjing militer yang berarti siap mengikuti dan melakukan apa saja jika atasan memberi perintah. "Enggak, kamu gak anjing. Anjingku yang anjing!" "Baiklah." Percakapan berlanjut. "Sebenarnya, teman dekatku suka sama Saga. Tapi dia gak berani bilang, soalnya kamu deket terus sama dia. Kamu bener gak ada hubungan apa-apa?" Vina menatap serius. "Sebenarnya ada, tapi bukan kegiatan berpacaran. Kalau temanmu ingin mendekati Saga aku tidak akan menolaknya, asalkan aku diajak juga." Lebih banyak orang lebih baik, Alisa memikirkan kemungkinan lain. "Temanmu itu mahasiswa kampus ini atau bukan?" Vina terdiam sejenak. "Mahasiswa kampus ini, kok." "Kalau begitu silakan saja, tidak apa-apa. Aku akan mengawasi kalian dari dekat." Alisa tersenyum. "Benarkah?!" Alisa mengangguk. "Terima kasih, Alisa!" Vina memeluknya dari samping. "Tapi serius, aku masih penasaran. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Saga? Apa kalian saudara jauh?" Alisa menggeleng. "Aku tidak bisa mengatakannya, tetapi sebentar lagi aku akan berhenti mengawasinya." "Begitu, ya sudah deh, hehe." Keesokan harinya, Vina mendekati tempat duduk Saga. Dia mengajaknya berbincang-bincang. Alisa tidak terlalu mendengarkan, tapi kelihatannya Vina sangat menikmati sekali, sedangkan Saga wajahnya terlihat pucat. Dia seperti tidak menikmati pembicaraan itu. Setelah Vina selesai berbincang, Alisa mengikutinya dari belakang. Untuk pertama kalinya, dia mengikuti orang lain yang bukan Saga. Alisa bertanya begitu Vina mendudukkan diri di kursinya. "Jadi, siapa temanmu yang ingin dekat Saga itu?" tanya Alisa. "Temanku? Siapa, ya?" "Bukankah kau baru saja membicarakannya kemarin?" Ekspresi Vina tetiba berubah. "Ah iya, maaf, aku sampai lupa saking senangnya, hahaha. Maaf, sebenarnya yang menyukai dia itu aku, bukan temanku. Aku malu kalau ternyata kalian benar-benar punya hubungan, jadi aku membuat kebohongan dulu. Setelah mengetahui semuanya, aku jadi tidak perlu menutup-nutupinya lagi, hehehe." "Oh, begitu." "Maaf ya Alisa, pembicaraan kita kemarin pasti panjang. Kamu ingin tetap mengawasi kami, kan? Tidak apa-apa, aku tidak keberatan." Alisa menatap Vina dalam-dalam. "Vina, apa menurutmu aku ini seperti anjing?" "Eh? Tentu saja tidak! Kau mengikuti Saga pasti karena ada alasannya, kan? Tidak perlu merasa jadi seperti anjing hanya karena kau melakukan itu. Menurutku itu normal-normal saja." Alisa mengangguk-angguk. "Kalau begitu, siapa dong yang anjing?" "Eh? Siapa, ya? Dosen filsafat mungkin." Alisa tersenyum. "Sepulang kampus kau longgar?" "Tadi aku ngajak Saga nonton bioskop, tapi dia bilang sedang sibuk. Jadi ya, sore nanti aku longgar." "Baguslah, kalau tidak keberatan biar aku saja yang menemanimu ke bioskop."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN