Setelah memastikan Saga pulang dengan selamat, Alisa berbalik arah menuju tempat lain. Dia berencana untuk meminta maaf pada gadis yang dia buat menangis dua minggu lalu. Memang sangat terlambat, tapi Alisa tidak ingin ada warga sipil yang membenci dirinya. Terlebih, dia takut terkena karma untuk yang kedua kalinya.
Alisa telah menyelidiki rumah gadis pembuat pai s**u itu, kini dia sudah berada di depan rumahnya. Tanpa ragu dia segera menekan bel.
TING TONG
Orangnya sendiri yang membuka pintu. Wajahnya muram begitu mengetahui siapa yang menekan bel. Gadis itu sangat takut pada Alisa. Saat berpapasan di kampus pun gadis itu selalu menghindari kontak mata.
"Aku ingin minta maaf. Tolong bukakan gerbangnya." Alisa kali ini bisa mengontrol diri, tidak melakukan tindakan bodoh seperti menodongkan pistol air untuk memaksa dimaafkan.
Gadis itu berjalan secara perlahan menuju pintu gerbang. Masih terlihat ekspresi ketakutan pada wajahnya, seperti kucing yang sedang mendekati seekor singa. Setelah gadis itu membukakan gerbangnya, Alisa membungkukkan badan sembilan puluh derajat. Karena lama di Jepang, cara minta maafnya jadi seperti ini.
"Maafkan aku atas kejadian kemarin, aku menyesal telah mencurigaimu. Ini semua gara-gara ketidak-kompetenanku. Sekali lagi, aku minta maaf yang sebesar-besarnya."
Gadis itu tidak tahu harus bereaksi bagaimana, salah langkah dia bisa dibentak lagi. "I-iya, sudah tidak apa-apa."
"Kalau begitu, terimalah ini sebagai permintaan maaf dariku." Alisa menyodorkan sebuah benda asing padanya. Gadis itu menerimanya.
"A-apa ini?"
"Itu bom kilat, kau bisa menggunakannya ketika sedang dikejar orang jahat. Cahaya yang keluar dari benda ini menyilaukan, efektif untuk menghambat pergerakan mereka selama beberapa detik. Begini cara menggunakannya." Alisa mengajari gadis itu cara menggunakan benda asing yang diberikan olehnya. Gadis itu malah tertawa-tawa dibuatnya.
"Kamu lucu sekali. Tingkahmu seolah-olah kamu ini prajurit sungguhan, ahahaha." Gadis itu menutup tawa dengan lengan.
"Aku memang prajurit sungguhan."
"Eh, benarkah?"
"Tidak, hanya bercanda. Kalau begitu, aku pulang dulu, ya."
Ketika Alisa berbalik, gadis itu menarik lengannya dari belakang. "Alisa, mampir ke rumahku sebentar, ya? Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan."
Alisa menatap gadis itu. "Ya, baiklah."
Gadis itu memperkenalkan dirinya ketika berjalan memasuki rumah, namanya ternyata Emi, mahasiswa dari kelas 1-D. Alisa hampir tidak pernah melihatnya di kampus sebelum kejadian penodongan itu. Gadis itu pun mengonfirmasi bahwa sebelum kejadian itu, dia memang belum masuk kampus karena sakit.
"Wah, siapa itu Emi?" tanya seorang wanita yang sedang mengecat kuku di sofa.
"Ini teman baruku Ma, namanya Alisa."
Alisa segera menunduk pada wanita yang terlihat masih muda itu. "Maaf merepotkan."
"Jangan sungkan, bersantailah di kamar. Aku akan membuatkan teh untuk kalian." Emili tersenyum.
Mereka berdua akhirnya naik ke atas, segera masuk ke kamar Emi. Alisa dibuat terkejut ketika melihat dekorasi kamar yang semuanya serba pastel. Gordennya bermotif bunga, alas kasurnya berwarna merah muda, koleksi boneka berjajar di atasnya. Ruangan ini kaya akan bau parfum, berbeda dengan kamar Alisa yang bau bubuk mesiu.
"Jadi ini ya kamar perempuan." Netra Alisa berbinar.
"Bukannya kamu sendiri perempuan?"
"Kamarku tidak seperti ini."
"Memang seperti apa kamarmu?" Emi menatapnya dari samping.
Alisa tersenyum canggung, kamar apartemennya lebih mirip markas teroris dibanding kamar perempuan. Walaupun di sana ada boneka, tapi boneka itu sebenarnya bom yang bisa meledak kapan saja.
"Suatu saat kamu akan mengetahuinya," balas Alisa.
Setelah dua cangkir teh dan sepiring pai apel diantarkan ibunda Emi, keduanya mulai berbincang-bincang sambil menyender di pinggiran kasur.
"Jadi, kamu dan Saga berpacaran?" tanya Emi sembari memeluk boneka beruangnya.
"Pacaran? Kegiatan apa itu?"
"Eh?" Emi terkejut atas ketidak tahuan Alisa. "Pacaran ya pacaran. Seorang lelaki dan perempuan yang saling menyukai menjalin suatu hubungan yang spesial. Mereka berkomitmen untuk saling menjaga satu sama lain." Wajah Emi memerah saat membayangkan dirinya berpacaran dengan Saga.
"Bukankah itu namanya menikah?" Alisa menatapnya bingung.
Emi menggaruk kepalanya. "Ya, memang benar, sih. Tapi ini setingkat di bawah itu. Menikah hanya untuk orang yang sudah dewasa. Anak yang masih kuliah seperti kita biasanya belum menikah, kan? Oleh karena itu, dibuatlah kegiatan pacaran, agar dua insan yang saling menyukai bisa saling membahagiakan."
"Siapa yang membuat kegiatan pacaran?"
Emi menggembungkan pipi. "Duh! Kamu ini anak pedalaman, ya?! Pacaran ya pacaran! Aku tidak tahu siapa penemu kegiatan pacaran ini. Yang pasti, pacaran sudah berlangsung beratus-ratus tahun dan masih menjadi budaya yang ramai di kalangan remaja!"
Alisa tersenyum tidak enak. "Ma-maaf, aku dibesarkan di lingkungan yang tidak aman. Sejak lahir sampai sekarang, aku tidak banyak tahu tentang budaya remaja yang kau sampaikan barusan. Masa remajaku dihabiskan di medan perang."
Emi tidak tahu Alisa berkata jujur atau tidak, tapi perkataan tersebut membuat dirinya tersentuh. Dia meneguk air tehnya, lalu kembali berbicara.
"Tidak, aku yang salah. Aku seharusnya mengerti setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda. Tidak usah khawatir, kamu akan mengerti tentang budaya penuh kebodohan ini suatu saat nanti." Emi menepuk pundak Alisa.
"Kalau sudah tiba waktunya, maukah kau mengajariku kegiatan berpacaran ini?"
Emi menyeka air matanya yang sedikit keluar. "Baik."
Setelah melakukan percakapan ini, Emi jadi mengerti bahwa tidak ada hubungan spesial antara Alisa dengan Saga. Berpacaran saja tidak tahu, mana mungkin keduanya punya hubungan yang lebih dari itu. Emi jadi paham bahwa Alisa sedikit berbeda dari kebanyakan mahasiswa yang ada di dunia.
"Kalau begitu, berarti kamu tidak pernah jatuh cinta, ya? atau jangan-jangan kamu seperti Violet Evergarden yang tidak tahu makna i love you?" Emi menatap ke arahnya.
"Aku tahu kok. Ayahku selalu mengatakan itu pada Ibuku. Aku tahu, itu adalah pengungkapan cinta. Tapi aku tidak punya seseorang untuk aku ucapkan kata-kata tersebut. Apakah mengagumi seseorang karena kehebatannya bisa disebut jatuh cinta?" Alisa membayangkan senior-senior militernya yang lebih tangguh dibanding dirinya.
"Tidak, itu berbeda. Kagum adalah respon atas ketertarikan kita terhadap kelebihan seseorang. Ketika kita sudah tidak memandangnya hebat lagi, rasa kagum itu akan hilang. Sedangkan jatuh cinta, bagaimana pun kondisi orang tersebut, perasaanmu tidak akan berubah." Emi membayangkan Saga ketika dirinya diselamatkan dari bola bisbol nyasar yang hendak mengenai wajahnya.
"Kau tahu banyak, ya." Alisa tersenyum.
"Ba-bagaimana perasaanmu pada Saga? Apa kamu kagum atau jatuh cinta?" Emi sedikit gugup saat menanyakannya.
Alisa bertopang dagu, dan memejamkan mata. Mencoba membayangkan Saga di dalam benaknya.
"Tidak merasakan apa-apa."
Emi tersungkur jatuh.
"Lalu kenapa kamu terus berada di dekatnya?! Kamu seperti gadis posesif yang tidak ingin Saga didekati oleh siapapun! Kalau bukan kagum dan jatuh cinta, lantas apa?!" Emi mendekatkan wajahnya.
Alisa menelan ludah, dia tidak bisa membocorkan rahasia bahwa di kampus itu ada seorang penyusup yang sedang mengincar Saga. Warga biasa seperti Emi pasti panik jika sampai mengetahui kebenarannya.
"Ma-maaf, aku tidak bisa memberitahumu. Yang pasti, untuk sementara waktu, aku harus mengawasi Saga. Hanya itu saja yang ingin kulakukan." Alisa berharap Emi mau mengerti.
Emi pun menghela napas. "Ya sudah deh kalau begitu."
Untuk sementara waktu, Emi akan membiarkan Alisa berdekatan dengan Saga. Tapi bukan berarti dia sudah menyerah. Meskipun dia tahu, lawan terberat dirinya adalah seorang gadis asal Jepang bernama Ayano.