"Kepada saudari Alisa Nara, dimohon untuk turun ke toilet laki-laki di lantai satu. Keran wastafel mampet lagi."
Terdengar panggilan untuknya di sebuah pengeras suara. Alisa yang sedang memperhatikan kuliah hanya bisa berdecih. Ini sudah yang kesekian kalinya.
"Alisa, ayo turun. Tugas negara sudah menanti." Dosen anatomi membukakan pintu keluar untuk Alisa.
Alisa sebenarnya khawatir meninggalkan Saga barang satu detik. Namun, karena ini perintah dari kampus, dia tidak bisa menolaknya. Terlebih, Alisa juga sudah menyiapkan perangkap khusus apabila penyusup itu menyerang Saga lewat kaca jendela.
Sesampainya di toilet laki-laki lantai satu, dua petugas kebersihan segera menyambutnya. Dia beruntung tidak menemukan dosen filsafat gila di ruangan ini. Dia curiga orang itulah yang membuat keran-keran di kampus ini menjadi mampat.
"Waktu dan tempat, kami persilakan."
Mereka mundur, membiarkan mekanik kebanggaan mereka mengatasi masalah ini. Dengan segera, Alisa mengeluarkan kotak ajaibnya untuk mengobrak-abrik keran-keran yang selalu mampat secara misterius itu.
"Sudah selesai." Alisa menyeka keringatnya dengan kain lap berwarna putih. Para petugas kebersihan mencoba menyalakan keran itu, dan ternyata sudah kembali berfungsi.
"Terima kasih, Kopral Alisa."
"Kau memang bisa diandalkan."
Alisa memasukan kembali peralatan mekaniknya. "Omong-omong, kenapa selalu aku yang diminta memperbaiki keran-keran yang rusak ini? Memangnya kampus ini tidak punya biaya untuk menyewa tukang reparasi, ya?"
Salah satu petugas kebersihan menjawab dengan bijak. "Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?"
"Yang penting hepi." Petugas satunya menambahkan.
Alisa menghela napas. Dia tidak mengerti mengapa nasibnya menjadi seperti ini.
*
Saat jam istirahat, perut Alisa tiba-tiba mules. Ini mungkin efek samping pai s**u minggu lalu yang baru dia makan tadi pagi. Alisa juga mungkin terkena karma gara-gara membuat gadis si pembuat pai s**u menangis sakit hati.
"Aduh, bagaimana ini? Aku harus mengawasi Saga," gumamnya sembari memegangi perut. Tidak kehabisan akal, dia pun meminta salah satu temannya untuk mengawasi kliennya. "Tolong awasi anak itu. Jika ada bahaya mengancam, tekan tombol ini." Alisa menyerahkan sebuah alat pemanggil rahasia. Walkie talkie buatan Korea Selatan.
Lelaki itu memasang gaya hormat. "Siap, Kopral Alisa!"
Alisa tersenyum, sekarang dia bisa tenang untuk pergi ke kamar mandi. Dia masuk ke bilik toilet dan segera menyelesaikan urusannya.
DOR DOR DOR
"Kopral Alisa, keran wastafel perempuan di lantai satu macet lagi!" Baru duduk sebentar, pintu toilet Alisa sudah diketuk seseorang. Dia bingung mengapa gadis itu bisa tahu dia ada di sini. "Kopral Alisa, ini darurat! Para mahasiswa bisa terinfeksi bakteri!"
Gadis itu tidak mengerti bahwa saat ini, Alisa lah yang sedang berada dalam kondisi darurat. Panggilan alam tidak bisa diberontak. Dia pun membiarkan gadis tidak dikenal itu menggedor-gedor pintu sepuasnya. Alisa tetap bisa fokus karena terbiasa buang air di medan perang.
Tak seberapa lama, Alisa keluar dari bilik nikmatnya. Gadis yang menggedor-gedor pintunya sudah menghilang. Merasa bertanggung jawab dengan macetnya keran wastafel yang baru saja dia perbaiki, Alisa akhirnya pergi untuk memeriksanya kembali.
CESSS
Air menyala deras dari toilet perempuan di lantai satu. Tidak ada yang salah dengan kerannya. Keran satu, dua, dan tiga, semuanya bekerja dengan normal. Alisa mulai memikirkan gadis tak dikenal yang telah menipunya tadi.
"Ja-jangan-jangan, gadis itu anaknya dosen filsafat?!"
Tidak memusingkan hal ini, Alisa langsung memencet tombol merah di walkie talkie-nya. "Bagaimana keadaan di sana? Apakah dia aman?"
Terdengar suara balasan dari alat komunikasi itu.
"Zzz... tidak aman... zzz... aku sedang dikejar musuh... zzz... mayday mayday!...."
"Aku tidak peduli denganmu, di mana Saga sekarang?!"
"Zzz... dia sedang mengejarku... zzz... dia lah musuhnya!"
"Apa?! Di mana kalian sekarang?!"
"Zzz... lantai empat... zzz... cepat ke sini, aku tidak mau mati! zzz..."
Alisa merapat cepat ke lantai empat dengan mulut rapat-rapat. Di tempat lain, lelaki kepercayaan Alisa dikejar-kejar Saga karena telah memotretnya diam-diam. Saga tidak suka jika fotonya diambil oleh orang lain. Itu karena Saga adalah anak keluarga Harvent. Dia takut ada yang macam-macam terhadapnya.
"Kembalikan fotoku!!!" Saga berteriak sambil mengejarnya.
"Ampuni aku!!!" Lelaki itu menangis ketakutan.
Di ujung lorong, lelaki itu bertabrakan dengan Alisa. Dia terpental, sementara Alisa masih berdiri dengan kokoh. Tubuh kuat Alisa membuatnya sulit dijatuhkan.
"Tertangkap kau, Darmawan! Berikan handphonemu!" Saga merebut smartphone-nya dengan paksa. Ponsel tanpa kata sandi itu dibuka untuk segera dibombardir isi galerinya.
Alisa tersenyum lega melihat Saga baik-baik saja.
"Kenapa lu ngelakuin tindak kekejaman ini?! Apa masalah lu?!" Saga menatap tajam pada lelaki yang sedang tergeletak di lantai itu.
"Gu-gua diminta seorang gadis buat ngambil gambarmu dari dekat. Dia bilang, dia mau jadi pacar gua kalau gua bantu dia." Darma menjawab setengah takut.
Saga berdecih. "Dasar bodoh, mana ada cewek yang mau jadi pacar cowok yang diminta buat motretin gambar cowok lain. Lu punya otak gak, sih? Yaudah, lupain saja. Siapa cewek yang nyuruh lu ngambilin foto gua?"
"Chintya."
"Chintya? Siapa itu?" Saga mengerutkan kening.
"Lu gak kenal? Astaga! Gua tau lu sukanya sama Ayano doang, tapi harusnya lu kenal cewek yang bernama Chintya Cantika. Dia bidadari kelas 1-A!" Darma menekankan perkataannya.
Saga menarik kerah baju Darma dan menatapnya tajam. "Jaga ucapan lu Darmawan, jangan bilang-bilang gua ini suka Ayano. Itu rahasia gua." Saga tidak suka jika dia dibicarakan di depan umum.
"I-iya, maafin gua."
Saga pun melepaskan tarikan bajunya dari Darma. Dia segera berdiri dan meninggalkan mereka berdua tanpa mengatakan apa-apa.
"Kerja bagus, Darma. Sekarang kembalikan alat rahasia itu." Alisa menagih walkie talkie yang dia pinjamkan padanya.
"Maaf tidak bisa menjalankan tugas ini dengan lancar, Kopral Alisa." Darma sedikit bersedih.
"Tidak, kau sudah berjuang dengan baik. Kapan-kapan aku akan mengajakmu bekerja sama lagi."
Darma menatap Alisa sambil bercucuran air mata. "Terima kasih, Kopral Alisa!"
Darma pernah diselamatkan oleh Alisa ketika dia diserang sekelompok begal di tengah malam. Para begal berbadan besar itu, takluk di tangan Alisa yang tidak bersenjatakan apa-apa. Sejak saat itu, Darma merasa berhutang budi pada Alisa. Dia berjanji akan menjadi rekan kepercayaan Alisa selama menjalankan tugas ini.
Setelah itu, Alisa berlari untuk mengejar Saga.
*
Di tengah ulangan harian anatomi, dengungan speaker terdengar di sudut ruangan. Alisa berfirasat namanya akan disebut lagi untuk memperbaiki keran wastafel yang rusak entah di belahan toilet yang mana.
"Srtt... kepada saudari Amanda...."
Alisa bernapas lega. Dia bersyukur firasatnya kali ini melenceng.
"Maaf, maksud kami kepada saudari Alisa...."
Alisa berdiri menjinjing perlengkapan mekaniknya. Dokter Anton memberi hormat kepada Alisa yang melangkah keluar. "Selamat bertugas, pahlawan negara. Jangan kau khawatirkan nilai anatomimu. Oksigen akan tetap ada meski nilai anatomimu rendah."
Alisa berjalan dengan malas menuju toilet laki-laki di lantai satu. Dia sudah bosan dengan pekerjaannya yang satu ini. Tidak digaji, tidak diberi penghargaan, Alisa merasa telah menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang tidak penting baginya.
Ketika sampai di toilet, Alisa dibuat terkejut.
"Surprise!"
Beberapa dosen dan seorang dekan berkumpul di sana. Sebuah petasan kejutan bergema di ruangan berbau kamper itu.
"A-ada apa ini?" Alisa merapikan rambutnya dari properti plastik yang menghujaninya.
"Terima kasih karena telah membuat perairan FKH mengalir dengan deras. Tanpa adanya dirimu, kami tidak akan terbebas dari serangan bakteri-bakteri jahanam." Orang-orang yang berada di ruangan itu bertepuk tangan untuk Alisa.
"Tradisi ini sebenarnya tidak ada, tapi kami terinspirasi dengan kerja kerasmu yang tidak menuntut balasan. Terimalah piagam penghargaan dari kami. Benda murah ini akan menjadi bukti bahwa kau adalah mahasiswa yang berharga di kampus ini." Dekan menyerahkan piagam berbahan marmer itu.
Alisa sedikit terharu, dia menerima piagam itu dengan senang hati.
"Terima kasih, semuanya. Benda ini mungkin murah, tapi aku melihat ketulusan yang sangat mahal dari kalian. Sekali lagi terima kasih." Alisa membalas dengan perkataan yang bijak.
Alisa tersenyum saat melihat tulisan di piagam itu.
'Terkhusus kepada Kopral Alisa Nara. Terima kasih atas kerja kerasnya. Anda mendapat predikat sebagai MAHASISWA PALING BERMANFAAT.'