Selama berada di kampus, Alisa terus membuntuti Saga dari belakang. Ke mana pun dia pergi, Alisa selalu mengikutinya. Bahkan ketika Saga masuk kamar mandi, Alisa rela menunggunya di depan toilet.
"Kapan penyusup itu memulai aksinya? Apa dia tahu aku sedang mengawasi Saga?" Alisa memikirkan penyusup itu. "Aku tidak boleh lengah."
"AAAA!!!"
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari toilet laki-laki. Alisa langsung berlari masuk.
"Ada apa ini?!"
Alisa menatap lelaki di sebelah Saga. Dia tidak melakukan apa-apa, tangannya pun bersih dari senjata. Lelaki itu hanya menunjuk wastafel dengan tubuh yang bergetar.
"Kerannya gak nyala."
Saga ikut memutar kerannya. "Ah, lu bener. Keran ini juga gak nyala."
Alisa bernapas lega. Dia pikir Saga diserang penyusup di toilet itu. Kalau hanya urusan keran mampet, Alisa bisa mengatasinya dengan mudah.
Alisa lantas membuka kotak mekaniknya yang dia simpan di dalam tas. Peralatan ini selalu Alisa bawa saat misi untuk mematikan bom atau mengatasi perangkap-perangkap musuh yang biasa dipasang dalam sebuah ruangan.
Para mahasiswa berdatangan ke toilet laki-laki untuk menonton Alisa yang sedang memperbaiki keran mampet. Setelah beberapa menit, keran itu akhirnya kembali menyala. Air meluncur deras seperti biasa lagi. Para mahasiswa bertepuk tangan untuk Alisa yang sedang menyeka keringatnya.
"Keran ini sudah menyala lagi, sekarang tangan kalian akan terbebas dari bakteri-bakteri yang tidak menguntungkan." Alisa memasukan peralatan mekaniknya ke dalam tas.
"Perbuatan muliamu ini akan selalu kami ingat." Para mahasiswa yang mengantri di depan wastafel mengucap terima kasih.
Setelah mencuci tangan, Alisa menoleh ke tempat Saga berdiri tadi, tapi dirinya sudah tidak ada. Alisa panik, lantas berlari meninggalkan toilet.
"Aku ceroboh, seharusnya aku tidak memalingkan pandanganku." Alisa tidak tahu harus mencari ke mana. Saga tidak ada di kelas. Teman-temannya pun tidak ada yang tahu keberadaan dirinya. Bagi Alisa, kampus yang luas ini bagaikan medan perang mengingat ada satu penyusup yang sedang mengincar kliennya.
"Alisa, tadi kamu benerin keran yang mampet di toilet laki-laki, ya?" tanya teman gadis sekelasnya.
"Iya."
"Wah, hebat banget. Jarang loh ada cewek yang bisa benerin keran mampet."
"Ah, biasa saja."
Seorang dosen masuk di tengah percakapan Alisa dengan teman sekelasnya itu.
"Siapkan secarik kertas, langsung jawab. Nomor satu jelaskan perbedaan otot lurik dan otot polos. Nomor dua...."
"Aduh, santai dikit, Pak!"
"Bapak dosen filsafat, kenapa ngajar jaringan hewan?!"
"Sekarang jam kuliah anatomi, Pak!"
Para mahasiswa yang berseliweran di ruangan kembali ke tempat duduk masing-masing, buru-buru menulis jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan. Tidak ada singkronisasi antara dosen dengan para mahasiswa. Dosen filsafat itu terus melanjutkan pertanyaan seputar jaringan hewan di jam kuliah anatomi. "... nomor dua puluh lima, jelaskan apa itu hidup. Waktu habis, silakan dikumpulkan."
Alisa bahkan belum selesai menjawab pertanyaan soal nomor satu, tapi kertas sudah harus dikumpulkan. Seperti rumor yang beredar, dosen filsafat SMA Rajawali memang sedikit tidak waras.
Para mahasiswa mengeluh, mereka mengumpulkan kertas dengan jawaban seadanya. Namun, di antara para mahasiswa, ternyata ada satu yang berhasil menjawab semua pertanyaan, bahkan seluruhnya benar. Orang itu adalah Argi.
"Semuanya remedial," ucap dosen filsafat.
"Saya mendapat nilai 100, Pak. Kenapa harus remedial?" Argi protes sembari menunjukkan kertas hasilnya.
"Terserah saya dong, saya kan dosennya."
Dosen itu lantas duduk di kursi depan dan membaca sebuah buku. Argi menampar wajahnya sendiri.
Tak seberapa lama, dosen lain masuk. Dia adalah dosen anatomi yang seharusnya mengajar pada jam ini. Dia segera mendekati dosen filsafat itu dan menunduk. Sebuah percakapan terjadi. Dosen filsafat itu mengangguk-angguk dan akhirnya pergi meninggalkan kelas.
"Maaf, tadi Bapak berak di toilet. Mencret-mencret berdarah. Kotorannya—"
"Gak usah diceritain!" Para mahasiswa segera menyela. Mereka tidak peduli dia datang terlambat. Yang penting dosen filsafat gila itu tidak mensabotase kelas mereka.
"Baiklah, siapkan kertas selembar. Nomor satu, sebutkan fungsi limit...."
"Pak!" Para mahasiswa berteriak. Tidak akan lucu lagi jika dosen anatomi ini tiba-tiba memberi soal matematika secara dadakan. Apalagi jika yang mengkoreksi dosen bahasa inggris.
Dosen anatomi itu tertawa. "Ahahaha, bercanda. Hari ini tidak ada ulangan."
Setelah itu, kuliah terus berlanjut sampai bel pulang berbunyi. Saga mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan kelas. Alisa mengikutinya dari belakang.
Ini adalah hari ketiga Alisa berada di kampus UPD. Selain menjaga Saga, Alisa juga mengawasi seorang mahasiswa pindahan yang lebih dulu datang ke kampus ini sebelum dirinya. Jika benar ada penyusup di kampus ini, kemungkinan orang itulah penyusupnya. Namun, dalam pengamatan Alisa selama memata-matai orang itu, gerak-geriknya tidak mencurigakan. Mahasiswa baru itu bahkan tidak pernah berinteraksi dengan Saga.
"Mungkin penyusup itu tidak menghadiri kelas. Dia hanya datang ke kampus ini dan belajar dengan biasa. Ya, bisa saja begitu. Mahasiswa di sini banyak, tidak akan ada yang sadar penyusup itu mahasiswa palsu." Alisa menebak-nebak.
Di depan gerbang, seorang gadis dengan rambut ponytail menghadang Saga. Dia mengajaknya berbicara. Alisa bersembunyi di balik pohon palm, mencoba menguping pembicaraan mereka. Dia sudah menyiapkan pistol air, dan akan langsung menembakkannya jika gadis itu melakukan pergerakan yang mencurigakan.
"Saga, bisa ikut aku ke belakang kampus sekarang?" tanya gadis itu sembari menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Mau apa?"
Gadis itu mengangkat jari telunjuknya. "Rahasia. Pokoknya ikut saj—"
"Jangan bergerak!" Alisa mengarahkan pistol airnya pada gadis itu. "Siapa kau? Apa tujuanmu membawa Saga ke tempat yang sepi?!"
Alisa mendekat ke arahnya dengan hati-hati. Gadis itu mengangkat kedua tangan. "Sa-Saga. Siapa orang ini?"
"Tidak kenal." Saga mengabaikan Alisa, bahkan tidak menatap wajahnya. Dia hanya mempedulikan gadis di depannya. "Ada urusan apa denganku?"
"A-aku ingin memberimu ini." Gadis itu menyodorkan Saga sebuah kotak bekal berwarna merah muda.
"Buka kotak itu sekarang!" Alisa berteriak, khawatir jika kotak bekal itu berisi bom.
Gadis itu hampir menangis karena dibentak dua kali oleh Alisa. Dia pun membuka kotak bekal itu yang ternyata berisi beberapa pai s**u.
"A-aku membuat pai s**u ini dengan sepenuh hati. Coba kamu cicipi sekarang." Gadis itu menyodorkan makanannya.
"Jangan dimakan!" Alisa berteriak lagi. Dia merebut pai s**u itu, lalu mengarahkannya pada mulut si gadis. "Makan sekarang, buktikan kalau makanan ini tidak beracun."
Gadis itu mengucurkan air mata. Dia berlari meninggalkan mereka berdua sembari menjatuhkan kotak bekal berisi pai s**u itu. Alisa menohok, tidak menduga si gadis akan menangis.
Saga memungut pai-pai yang jatuh itu, lalu menyerahkan kotak bekalnya pada Alisa. Dia kemudian pulang tanpa mengatakan apa-apa.
Tanpa merasa bersalah, Alisa kembali membuntuti Saga dari belakang.