71

1177 Kata
Di sebuah ruangan khusus, seorang gadis muda berpakaian militer berdiri tegak menghadap atasannya yang duduk berpangku tangan di atas meja. Tubuh gadis itu bergetar, jarang sekali dia mendapat panggilan khusus dari lelaki tua tersebut. "Kopral Alisa, berapa umurmu sekarang?" "Sembilan belas tahun, tiga bulan, dua belas hari," jawab gadis itu dengan rinci. "Kalau begitu, pas sekali." Lelaki tua itu mengeluarkan sebuah foto dari sakunya, tampak seorang lelaki berambut acak-acakan yang sedang mengenakan baju kuliah. "Pemuda ini bernama Saga Harvent, anak kerabat dekatku. Dari luar anak ini memang terlihat biasa, tapi sebenarnya dia menyimpan sebuah kekuatan khusus yang tidak banyak orang ketahui." Lelaki tua itu memicingkan matanya. "Kekuatan khusus?" "Ya, dia bisa membuat sepuluh ramalan setiap bulannya. Ramalan keberuntungan, ramalan cinta, ramalan bencana, ramalan kematian, ramalan kesehatan, ramalan bisnis, ramalan karir, ramalan pendidikan, ramalan pertandingan, dan yang terakhir... ramalan judi. Dari sepuluh ramalan yang dia buat, lima di antaranya selalu terjadi." Lelaki tua itu menutup matanya, menunjukkan kekaguman sekaligus kekhawatiran. "Lalu, apa maksud Anda menunjukkan foto ini pada saya?" Lelaki tua itu membuka matanya, lantas kembali menatap Alisa. "Kopral Alisa, aku ingin kau menyamar jadi mahasiswa untuk menjaga keselamatan anak ini. Dia sedang diincar oleh seseorang yang menyusup ke kampusnya sebagai mahasiswa. Aku memberimu waktu satu bulan untuk menangkap penyusup itu." "Siap, laksanakan. Kapan saya harus memulai misi ini?" Lelaki tua itu menyunggingkan senyum. "Baguslah, aku senang kau tidak banyak bertanya. Minggu depan kau harus meninggalkan markas dan tinggal di Bandung untuk sementara waktu. Aku yang akan mengurus kepindahanmu, tidak usah khawatir." "Siap." "Karena kau menyamar jadi mahasiswa, jangan sampai kau membawa senjata-senjatamu ke lingkungan kampus. Simpan semua senjatamu di apartemen untuk kondisi darurat. Kau harus menangkap penyusup itu dengan tangan kosong. Apa kau sanggup?" "Siap, saya akan berusaha." "Ini misi yang benar-benar penting, aku tidak ingin mengecewakan kerabat dekatku. Jika misi ini sampai gagal...." Lelaki tua itu melotot pada Alisa, "kau tidak boleh memegang senjata lagi untuk selamanya." Alisa mengucurkan keringat, bibirnya bergetar. "Siap, laksanakan!" Satu minggu berlalu, Alisa telah pindah ke sebuah apartemen kecil yang berada di dekat kampus UPD. Dia memulai paginya dengan memasukan beberapa pistol ke dalam tas untuk penyergapan. Sebuah pisau tajam MK3 juga dia sisipkan di tempat rahasia. "... seragam anti-peluru, bom asap, granat, gas air mata, semua lengkap. Aku siap berperang." Alisa melangkahkan kaki menuju kampus setelah memasukan semua perlengkapan itu ke dalam tasnya. Selama melakukan penyamaran ini, Alisa mengubah sedikit penampilannya. Rambut panjangnya yang lurus, dia kepang menjadi dua. Dia juga memakai kacamata agar terlihat seperti mahasiswa yang rajin. Di kampus UPD, Alisa akan menempati Kelas 1-E. Kelas paling tidak favorit dibanding kelas-kelas lainnya, yaitu kelas Saga. Alisa yang tidak berniat belajar tentunya tidak ambil pusing dengan penempatan ini. Dia tidak peduli ada di kelas mana, yang penting dia berada di ruangan yang sama dengan Saga. "Ada kabar baik hari ini, kita kedatangan mahasiswa pindahan." Dokter Riris menunjuk Alisa yang telah berdiri sembari menggendong sebuah tas militer. "Ayo, kenalan dulu." Alisa mengangguk. "Namaku Alisa Nara, salam kenal." Alisa tidak khawatir menggunakan nama aslinya, karena di kota ini tidak ada yang mengenal dirinya. "Ehm... perkenalan yang sangat singkat, ya. Kenapa kamu pindah ke sini?" Guru muda itu bertanya. "Rahasia." Alisa menjawab singkat. Selama di militer, Alisa selalu menyembunyikan informasi penting dari orang asing. Terutama ketika sedang menjalankan misi. Dia selalu menutup mulut, bahkan ketika disiksa oleh bos musuh saat konflik di Kanada tahun kemarin. "Cita-citamu apa?" Mahasiswa lain bertanya. "Rahasia." "Apa kamu punya hewan peliharaan?" "Rahasia." "Apa kamu benar-benar perempuan?" Alisa terdiam sejenak. "... Rahasia." Mahasiswa-mahasiswa tertunduk lesu, termasuk Dokter Riris yang berdiri di sebelahnya. "Haduh, datang lagi mahasiswa aneh. Anak-anak kelas ini memang aneh semua. Ya sudah, silakan kau duduk di tempat yang kosong itu." Dokter Riris menunjuk kursi paling belakang dekat pintu keluar. Tempat itu berada paling jauh dari kursi Saga yang berada paling depan dekat jendela. Alisa merengut. Dia tidak bisa duduk sejauh itu dari Saga. Jika tiba-tiba penyusup itu menyergap lewat jendela, nantinya dia tidak bisa segera bertindak. Alisa tidak ingin misi ini sampai gagal karena status keanggotaannya dipertaruhkan. Alisa lantas menodongkan pistolnya pada lelaki yang duduk di sebelah Saga. "Pindah sekarang." Lelaki itu refleks mengangkat tangan. "Kenapa kamu bawa pistol mainan?" "Ini pistol sungguhan." Mahasiswa-mahasiswa menatap Alisa secara serempak. "Maaf, kebiasaan. Ini memang pistol mainan." Alisa berkeringat dingin, dia seharusnya tidak membawa senjata berbahaya ini ke kampus. Dia lupa peringatan atasannya. Lelaki itu pun tertawa. "Ahahaha, ya sudah. Karena kamu manis, dengan senang hati aku berikan tempat duduk ini untukmu. Selamat tinggal, Saga." Lelaki itu mendadahi Saga yang duduk di sebelahnya, dan berpindah ke bangku kosong yang berada di belakang. Alisa memasukan kembali pistolnya, lalu duduk. Dia segera menatap ke arah Saga untuk memastikan bahwa dia tidak mengawasi orang yang salah. Saga yang ditatap seperti itu merasa tidak nyaman. "Baiklah, buka buku kalian. Tulis verb 2 dan 3 dari masing-masing kata yang ibu ucapkan." Dokter Riris memberi instruksi, mahasiswa-mahasiswa mulai membuka catatan masing-masing. Alisa membenturkan kepalanya ke atas meja karena lupa membawa buku. Mahasiswa-mahasiswa mulai mencatat, sementara Alisa hanya berpangku tangan. Dokter Riris menatap ke arahnya. "Alisa, mana buku catatanmu?" "Ketinggalan di markas," jawabnya singkat. "Markas? Lantas apa yang kau bawa?" Alisa tersenyum canggung. Dokter Riris segera memeriksa isi tas Alisa. "Bom asap, borgol, granat, gas air mata, ransum, pistol, pistol, pistol. Kamu mau belajar atau perang?!" Alisa berkeringat dingin. "Maaf, saya terbiasa membawa mereka ke mana-mana." "Terbiasa?!" "Lupakan saja, ini semua cuma mainan." Alisa memasukan kembali senjata-senjata sungguhan itu. Dokter Riris menghela napas, lalu menatap Saga yang duduk di sebelahnya. "Saga, bisa kamu pinjemin buku catatanmu?" Tanpa bicara apa-apa, Saga pun meminjamkan buku catatan pada Alisa. "Terima kasih." Alisa menundukkan kepalanya. Mata kuliah bahasa Inggris dilanjutkan, Alisa mulai menulis perkataan-perkataan yang disampaikan oleh Dokter Riris. "Alisa, ayo berdiri dan terjemahkan tulisan ini ke dalam bahasa Inggris." Dokter Riris menunjuk power point. Alisa berdiri dari tempat duduknya. "I ate my lunch at school when my father worked in the office." "Wah, cara pengucapanmu bagus. Kamu suka bahasa inggris, ya?" "Saya sering bertamasya ke luar negeri, jadi sudah terbiasa dengan bahasa inggris. Saya juga punya rekan yang berasal dari Inggris." Dokter Riris terkagum mendengarnya. "Apa saja yang kamu lakukan selama bertamasya ke luar negeri? Jalan-jalan, belajar, mengunjungi kerabat?" Alisa menggeleng. "Saya membunuh banyak lalat." Alisa lagi-lagi mengeluarkan pernyataan yang ambigu. "Kamu pergi ke Inggris hanya untuk membunuh lalat?" "Bukan sekedar lalat, tapi lalat yang bisa menggunakan senjata. Mereka menculik manusia, memperjual belikan barang ilegal, serta berencana membuat kerusuhan di suatu negara. Saya menumpas banyak lalat yang seperti itu." Alisa berkata dengan serius. "Waah, lalat di Inggris ternyata bisa jualan." "Astaga, aku baru tahu fakta mencengangkan ini." Mahasiswa-mahasiswa bergumam dari belakang. Dokter Riris tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi, sedari tadi Alisa selalu berekspresi serius. Tidak menunjukkan raut wajah yang sedang bercanda. Tapi kata-katanya tidak ada yang masuk akal. "Ya sudah, kapan-kapan ajak Ibu ke Inggris, ya." "Iya, kalau ada waktu, saya akan mengawal Ibu selama pergi ke sana." "Ah, terserah." Di hari pertama, Alisa sudah dicap sebagai gadis yang aneh. Namun, dia tidak memperdulikannya. Prioritasnya hanya menjaga keselamatan Saga dari penyusup yang berada di kampus ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN