(POV Ayano)
Akhir-akhir ini, aku selalu merasa sedang diperhatikan. Ketika aku membaca buku di kelas, aku merasa ada orang yang sedang memperhatikanku. Awalnya, aku mencoba tidak memperdulikan. Namun, lama kelamaan perasaanku jadi tidak enak. Aku tahu, orang yang memperhatikanku adalah Aldi.
Saat sedang baca buku di kelas, aku pernah iseng menoleh ke arah Aldi. Bangkunya Aldi berada dua jajar di sebelah kiri bangku milikku. Bangkunya Jenni berada di antara kita berdua. Saat itu, aku pun menoleh ke bangkunya Aldi.
Ternyata memang benar. Aldi sedang memperhatikanku, mata kami bertemu. Aldi bereaksi biasa saja, tetep so cool, padahal dia ketahuan olehku. Dia mengalihkan pandangannya dengan santai dan pura-pura tidak melihat. Kejadian ini, tidak hanya berlangsung sekali. Aku cukup sering menangkap basah Aldi yang sedang memperhatikanku. Tapi, aku membiarkan-nya saja, itu adalah hak dia untuk memperhatikan seseorang.
Hubunganku dengan Aldi terbilang biasa saja. Aku dan Aldi tidak begitu akrab. Kami jarang mengobrol. Satu-satunya hubunganku dengan Aldi hanyalah saat aku menanyakan mata kuliah histologi kepadanya. Histologinya Aldi sangat luar biasa, dia jauh lebih pintar daripada aku. Aku tidak mengerti, satu-satunya mata kuliah yang Aldi kuasai hanyalah histologi.
Suatu hari, aku dibuat bingung lagi oleh mata kuliah Histologi. Aku pun bergegas mendatangi bangkunya Aldi.
"Aldi, bisa kau bantu aku? Bagian ini apa sih namanya? Cara periksanya gimana?" tanyaku pada Aldi.
“Oh, caranya begini….” Aldi menjelaskan secara cepat.
Seperti biasa, Aldi tidak pernah menatap wajahku secara langsung. Dia pasti merasa malu.
Setelah itu, aku mengambil kursiku dan duduk berhadapan bersama Aldi di bangkunya.
Aku ini orangnya gak pernah merasa canggung. Meski aku tahu Aldi menyukaiku, aku tidak merasa terganggu. Aku bersikap biasa saja, aku hanya fokus pada Aldi yang sedang mengajariku. Aldi pun demikian, dia bersikap biasa saja, padahal dia sering ketahuan memperhatikanku dari jauh.
"Makasih ya Aldi. Aku merasa sangat terbantu," kataku pada Aldi.
"Siip," ucap Aldi biasa saja.
***
Suatu sore, ada seseorang yang memberiku surat cinta. Tidak kusangka di zaman serba canggih seperti ini masih saja ada yang memberi surat. Mungkin biar lebih romantis kali, ya?
"Anu... kamu teman sekelasnya Aldi, kan?" Seorang cewek di depanku terlihat gugup.
"Iya, kenapa?" tanyaku.
"Bi-bisakah kamu memberikan surat ini kepada Aldi!" ucap dia sambil memberikan suratnya. Dia masih terlihat gugup.
Aku menerima surat darinya.
"Iya bisa kok," kataku tersenyum. "Ngomong-ngomong namamu siapa?" tanyaku lagi.
"Aku Nina. Aku dari Kelas 1-B. Tolong kasihkan suratnya ke Aldi, ya. Makasih!" ucap Nina. Dia tersenyum malu-malu.
Astaga, aku tidak menyangka ada anak kelas sebelah yang menyukai Aldi. Yaa, Aldi emang lumayan keren sih. Rambutnya yang acak-acakan dan pembawaan-nya yang serius tapi santai mungkin jadi daya tariknya.
Besoknya, aku kasihkan surat itu ke Aldi. Aku memberi surat itu pada Aldi saat sore hari. Aldi orangnya sangat tertutup, orang yang dekat dengan Aldi cuma Faisal dan Raya. Aku harus bisa menjaga privasinya.
Sebelumnya, aku sudah minta Aldi untuk tidak pulang dulu saat pulang kampus. Aku bilang padanya mau memberi sesuatu. Saat di kelas cuma ada kita berdua, aku bergegas memberi surat itu kepada Aldi.
"Aldi. Ini ada surat untukmu," ucapku seraya memberi surat itu.
Aldi bisa saja mengira kalau surat itu dariku. Soalnya, aku gak bilang surat itu dari siapa. Aku ingin tahu, reaksi Aldi seperti apa ketika dia menerima surat dari orang yang disukainya.
"Oh, iya. Makasih" kata Aldi datar.
Astaga. Lelaki ini gak bisa blushing sama sekali. Padahal aku sudah bertingkah seolah surat itu pemberian dariku. Ternyata emang susah bikin Aldi blushing.
"Surat itu pemberian dari Nina. Anak kelas 1-A," kataku
"Oh, Nina. Kalau surat cinta, pasti akan aku tolak," ucap Aldi. Ucapan-nya seolah sengaja ingin memberitahuku. "Aku sengaja memberitahumu. Aku takut kamu salah paham dan menyebarkan gosip pada anak-anak." Aldi melanjutkan.
"Tenang saja. Tidak akan, kok,” balasku..
Sebelum aku pergi meninggalkannya, dia bertanya sesuatu kepadaku.
"Ayano. Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Aldi serius.
"Apa?"
Aldi terlihat gugup. “Ga-gak jadi, deh.”
Dia lalu pergi meninggalkanku.
Memang selalu begitu Aldi padaku.
***
Jiwa stalking Aldi semakin hari semakin parah. Sore ini, dia sedang mengikutiku dari belakang. Aku sedang berjalan pulang ke parkiran. Aku sadar banget, Aldi sedang mengikutiku dari belakang. Waktu aku mampir ke toko swalayan pun, dia masih saja mengikuti. Tapi, aku membiarkan-nya saja. Kalau aku memarahinya, aku takut Aldi tidak mau mengajariku histologi lagi.
Ketika sedang berjalan, aku dihadang tiga orang berandalan. Aku kaget karena mereka datang secara tiba-tiba. Aku sedikit ketakutan, jalanan di sini sepi. Aku langsung berbalik arah dan berlari.
Namun, salah satu berandalan itu mencengkram tanganku. Aku tidak bisa bergerak.
"Tenang saja nona. Kami tidak akan menyakitimu. Serahkan saja semua uangmu," kata salah satu berandalan.
“Asik, cewek Jepang nih, bos.”
“Bisa main-main dulu, nih.”
Aku semakin ketakutan. Salah satu berandalan itu, membuka tasku dan mencari-cari dompetku. Aku pasrah saja. Tapi, sebelum dompetku diambil, Aldi menyelamatkanku.
Aldi berlari dari belakang dan memukul orang yang menggeledah tasku.
Bruk!!!
Bersamaan dengan itu, tanganku juga terlepas dari berandalan tadi. Sekarang aku sudah bebas.
"Ayano cepat lari!" teriak Aldi.
Aku ingin berlari, tapi tidak bisa. Aku tidak bisa berpikir jernih. Kalau aku lari, bagaimana dengan nasib Aldi?
Akhirnya, aku diam mematung dan melihat Aldi dipukuli. Aldi juga dimintai uangnya, tapi Aldi menolak. Aldi memberontak dan berantem melawan berandalan itu sebisanya.
Naas. Aldi babak belur. Wajahnya bonyok, tangannya berdarah, kakinya lecet. Ketiga berandalan itu terlalu tangguh, Aldi tidak berkutik melawan mereka. Tasnya sekarang digeledahi. Aku masih terdiam mematung. Tidak tahu harus berbuat apa. Yang pasti, aku tidak boleh lari meninggalkan Aldi sendirian.
Sebelum dompet Aldi diambil, ada seseorang yang menyelamatkan kita berdua.
"Woy!! Sialan!!" Orang itu berteriak, ternyata dia adalah Argi, teman dekatnya Saga.
Argi berlari mendekati para berandalan itu dan berantem melawan mereka bertiga sekaligus.
bukk. dakk. dikk. dukk. serr. prengg. gukk. aww. brakk. brukk. woww. ahh. meong.
Dalam sekejap ketiga berandalan itu bonyok oleh Argi. Argi benar-benar marah dan mengahabisi para berandalan itu tanpa ampun. Padahal ketiga berandalan itu lebih kekar dan tinggi daripada Argi, tapi malah Argi yang menang.
Aku baru pertama kali melihat Argi berantem secara langsung, dia sangat menyeramkan. Kupikir dia gak bisa kelahi karena dia ikut ekskul catur. Syukurlah, aku kenal sama dia.
Setelah bonyok oleh Argi, ketiga berandalan itu kabur.
"Ayano. Kamu pulang duluan saja. Aku akan membawa Aldi ke kontrakanku," kata Argi sambil menggendong Aldi. “Aldi ini temenku di ekskul catur.”
Ah, aku baru tau.
"Kita obati di rumah temenku saja. Kebetulan deket sini," kataku yang sudah berhenti gemetaran.
"Baiklah." kata Argi.
Kami pun berjalan bersama menuju rumah temanku.
Aku menelponnya secara mendadak dan beruntung dia mengangkatnya, dan berkata aku boleh membawa Aldi ke rumahnya.
Setelah aku mengobati Aldi, Argi pulang duluan. Katanya dia ada urusan.
Sekarang, tinggal ada aku, Aldi, dan temanku yang punya rumah ini. Dia tidak sekelas denganku, jadi Aldi tidak kenal.
"Aldi, makasih sudah menolongku. Kalau tadi tidak ada kamu, uangku pasti sudah dirampok," kataku pada Aldi.
Aldi masih meringis kesakitan.
"Sama-sama. Aku pulang dulu," kata Aldi sambil berdiri.
"Eh, langsung pulang? Kamu istirahat di sini saja dulu. Gapapa kan, Ancy?" Aku menatap temanku.
“Iya, gapapa.”
"Tidak usah." Aldi menyerobot.
Aku terdiam.
"Yaudah, pokoknya makasih banyak Aldi. Maaf sudah merepotkanmu," kataku dengan nada khawatir.
Aldi hanya tersenyum. Kemudian dia pulang.
Aku jadi galau. Aldi terlalu baik padaku. Dia sering membantuku belajar histologi, dia juga sering membantuku diam-diam. Hari ini dia bahkan rela bonyok hanya untuk menolongku. Aku banyak sekali dibantu oleh Aldi. Sedangkan aku, tidak pernah menolongnya sekalipun. Aldi terlihat sangat mandiri, aku tidak tahu harus menolong Aldi dalam hal apa.
Makasih banyak Aldi, meskipun kamu tidak setangguh Argi, hari ini kamu terlihat sangat keren!
Tapi, maaf, yang aku sukai hanyalah Saga.