Firman sedang duduk berdua dengan Ranti di sofa rumahnya. Firman meminta saran pada kakaknya tersebut tentang hubungannya dengan Gina yang dipaksakan oleh orang tuanya.
“Gimana ini, Kak? Aku gak mau pacaran sama Kak Gina. Aku gak mau selingkuh dari istri-istri dua dimensiku.”
Ranti menghela napas. “Gayanya gak pengen selingkuh, istri dua dimensi kamu kan lebih dari satu, itu kan namanya selingkuh juga.”
“Kakak juga suami dua dimensinya kan banyak juga!”
Ranti kesulitan menjawab. “Suami dua dimensi kakak cuma satu, Satoru Gojo aja. Sisanya cuma main-main, jadi kakak gak selingkuh.”
“Kakak selingkuh. Sekarang kakak punya pacar beneran, kan?”
Ranti menatap adik laki-lakinya. “Itu beda lagi. Jangan samakan dunia fiksi dengan dunia nyata. Gojo ya Gojo, Argi ya Argi. Argi gak keberatan kok Kakak masih bermesraan dengan Gojo.”
“Ah, selingkuh mah selingkuh aja.” Firman memalingkan pandangan.
Ranti berdecak. “Astaga, kenapa sih kamu jadi maniak karakter dua dimensi gini? Siapa sih yang ngajarin?”
“Kan Kakak sendiri!” Firman sedikit berteriak.
“Bener juga.” Ranti garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia lalu memegani kedua bahu adik laki-lakinya. “Gini, Firman, kamu gak dianggap selingkuh meski kamu pacaran sama Gina, itu karena Gina dan istri dua dimensimu beda alam. Jadi gak dianggap selingkuh. Percaya deh sama Kakak.”
“Gak mau.” Firman memalingkan pandangan.
Ranti jadi kesal dengan sikap adiknya yang susah diatur. Dia sekarang menyesal telah memperkenalkan anime pada adiknya sehingga adiknya jadi seperti ini.
“Coba lihat fotonya Gina. Ada gak?”
Firman langsung menunjukkan foto mereka saat berfoto bareng berdua di atap.
Ranti terkaget.
“Anjir, cantik banget! Kamu kenapa gak mau?!”
“Bukan cuma cantik Kak, dia juga kaya dan pinter. Dan yang lebih istimewa, dia yang suka ke aku, bukan aku yang suka ke dia. Kak Gina suka banget sama aku, aku suruh ngapain aja mau.”
Ranti tidak berhenti takjub. “Kamu pernah nyuruh apa aja ke Gina?”
“Aku suruh dia buat gak hubungi aku dulu selama satu minggu.”
Ranti langsung menampar wajahnya sendiri. Kurang lebih Ranti paham bahwa saat ini Firman sedang dijodohkan dengan Gina. Ranti yang mulai waras merasa tidak enak pada Gina karena sikap adik laki-lakinya yang keterlaluan.
“Firman, adikku yang paling kusayangi, kamu gak boleh bersikap gitu ke Gina. Gimana kalau Gina tiba-tiba marah dan gak mau sama kamu lagi?”
“Memang itu tujuanku, Kak!”
Ranti hampir memukul Firman saking kesalnya.
“Firman, Kakak ngomong dengan serius, nih. Kamu Firmans terima cinta Gina, kamu gak boleh abaikan dia seperti itu. Gina itu cantik, pinter, kaya lagi, kamu beruntung banget dia mau dijodohin sama kamu. Ini menyangkut pekerjaan ayah juga, ayah bakal dipecat kalau kamu gak mau dijodohin sama anaknya. Ayo Firman, telpon Gina sekarang, minta maaf sama dia!”
“Kalau aku gak mau gimana?”
“Kamu bakal Kakak coret dari kartu keluarga!”
Firman panik, dia mulai melunak. “Oke, oke, aku telpon dia sekarang, deh.”
Firman lalu menelpon Gina tepat di hadapan Ranti.
“Sayang, maaf ya sudah mengabaikanmu selama ini, mulai sekarang kita jadi pasangan yang mesra, ya.”
Ranti tidak menduga Firman akan berbicara seperti itu. Apa sebenarnya Firman punya bakat untuk menjadi seorang playboy.
“A-aku dipanggil sayang?! Kyaaa!!! I-iya! Tidak apa-apa! Iya, ayo jadi lebih mesra sekarang!”
Terdengar suara balasan dari Gina. Firman sengaja mengeraskan suaranya agar Ranti dapat mendengar secara langsung.
“Makasih, sampai jumpa di sekolah, sayang.”
“Sa-sampai jumpa!”
Firman pun menutup telponnya.
Dia lalu menatap kakak perempuannya dengan ekspresi bangga.
“Tuh, udah denger sendiri, kan? Kakak puas?”
Ranti tersenyum. “Iya, bagus. Tapi Kakak ingetin satu hal, ya. Jangan sampe bikin Gina nangis!”
“Kenapa emang?”
“Dia itu anak bos ayah, Firman! Kamu mau ayah tiba-tiba pecat?!”
Firman menghela napas. “Tenang aja, Kak. Aku tau betul gimana sifat Kak Gina. Aku gak bakal bikin dia nangis, kok.”
“Janji?”
“Iya.”
Ranti tersenyum lega. “Bagus deh.”
***
Sore hari, saat Ranti sedang berjalan-jalan, dia tidak sengaja bertemu dengan Gina—pacar dari adiknya. Gadis itu tersenyum dan langsung menyapa dirinya.
“Selamat sore Kak Ranti.”
Ranti tentu terkaget, dari mana dia tahu namanya? Padahal ini adalah pertemuan pertama mereka berdua.
“Gina, ya? Kamu kok tau aku?”
“Semua soal Firman, aku tau, termasuk kakak perempuannya, hehe.”
Entah Firmans senang atau ngeri, Ranti tidak tahu, tapi Gina ini terlihat begitu cantik saat bertemu secara langsung, dia sendiri sampai minder.
“Kenapa dia mau sama Firman, ya?” batin Ranti.
Ranti tahu, adik laki-lakinya itu memang terbilang anak yang cerdas. Tapi hanya itu saja nilai lebihnya, sisanya dia benar-benar laki-laki biasa yang bahkan dicap aneh karena lebih menyukai karakter dua dimensi. Apa benar Ranti menyukai adiknya?
“Gina, mau mampir di kafe dulu, gak? Kakak mau ngobrol-ngobrol sama kamu.”
Gina tampak senang. “Wah, mau Kak, boleh!”
Mereka pun masuk ke sebuah kafe kopi. Sebagai yang lebih tua, Ranti menawarkan traktiran pada Gina, dan Gina pun menerimanya meski dia sebenarnya jauh lebih kaya dari Ranti. Ini sebagai bentuk penghormatan.
“Kamu bilang tadi tahu semua soal Firman, ya?” tanya Ranti setelah menyeruput ice cofee miliknya.
“Iya.”
“Tahu tentang aku juga?”
“Iya.”
Ranti tertarik. Dia penasaran sejauh apa Ranti mengetahui dirinya.
“Bisa ceritakan yang kau tau tentang aku?”
Gina menyeruput s**u stroberi miliknya, kemudian mulai bercerita.
“Kak Ranti kuliah di kampus UPD jurusan dokter hewan. Seorang mahasiswi yang menyukai karakter dua dimensi, dan membenci laki-laki dunia nyata. Setelah itu, Kak Ranti kenal dengan Argi dan berpura-pura pacaran dengannya dengan imbalan uang 20 juta rupiah. Tapi uang itu belum kakak pakai, masih ada di ATM kakak. Pada awalnya, Kak Ranti hanya iseng saja berpura-pura pacaran dengan Argi, hanya ingin mendapatkan uang saja, tapi ternyata Kak Ranti malah jatuh cinta beneran. Sekarang Kak Ranti udah berpacaran sama Kak Argi gara-gara Kak Argi nyium Kak Ranti di depan wanita yang dia sukai. Apa segitu sudah cukup?”
Ranti terkaget-kaget. Ini terlalu luar biasa. Bagaimana mungkin orang yang baru dia kenal bisa mengetahui seluruh tentang dirinya saat pertama kali bertemu. Dia bahkan bisa tahu banyak hal yang bahkan Firman dan kedua orang tuanya tidak tahu. Apa Gina ini seorang mata-mata?
“Kenapa kamu bisa tahu semua itu? Bukan Firman yang ceritain, kan?”
Gina menggeleng. “Bukan. Kakak kan gak ngasih tau Firman soal itu.”
“Benar juga,” jawabnya. “Lalu kamu tau dari mana?”
“Aku sama seperti Kakak. Kakak punya kekuatan untuk mengetahui laki-laki mana yang m***m dan tidak m***m, kan? Aku pun sama. Aku punya kekuatan untuk mengetahui segala hal tentang orang yang berhubungan dengan orang yang aku sukai. Karena Kakak kakaknya Firman, jadi aku tahu semua soal Kakak.”
Ranti terbelalak. Rupanya dia juga memiliki kekuatan aneh. Sedikit tidak disangka. Dia pikir cuma dia saja yang memiliki kekuatan aneh.
“Kalau begitu, kau tahu segala hal tentang Firman?”
Gina mengangguk. “Tapi ini karena murni aku sering menguntit dirinya, bukan karena kekuatan aneh. Jadi, kalau dibilang tahu semuanya, aku tidak benar-benar tahu semuanya. Hanya tahu yang kau pernah cari tahu saja.”
Ranti mengangguk. Rupanya kekuatan Gina tidak berfungsi pada orang yang disukainya.
“Kamu bilang…. sering menguntit Firman? Kamu stalker?”
Gina mengangguk. “Iya.”
Tidak ada perasaan malu atau bersalah, Gina benar-benar datar saat mengatakannya.
“Kenapa kamu suka sama Firman? Apa alasannya?”
Gina pun mulai bercerita.
“Aku memang tidak pernah sekelas dengan Firman, tapi aku tahu orangnya. Dia orang yang sering menyendiri di perpustakaan ketika jam istirahat. Aku tidak tahu dia punya teman atau tidak, tapi setahuku, yang selalu berjalan di samping dirinya hanyalah seorang perempuan bernama Tuti. Seorang perempuan yang sebenarnya cukup populer di kalangan laki-laki.
“Aku yakin Firman pasti sudah lupa tentang kejadian ini. Sewaktu masih SMP, aku pernah ditolong olehnya. Saat itu, kucingku naik ke atas pohon nangka dan tidak bisa turun. Aku tidak bisa menolongnya karena tidak pandai memanjat. Aku punya trauma saat naik pohon.
“Sore itu, Firman tiba-tiba datang entah dari mana. Dia melihatku sedang kesulitan bersama Maya—kucing betinaku. Setelah itu, Firman langsung menolongku.”
"Kucingmu tidak bisa turun?" tanya Ranti.
Gina mengangguk.
“Waktu itu Firman mengeluarkan sebuah makanan kucing dari dalam tasnya. Dia menaruhnya di telapak tangan, kemudian menunjukkannya pada Maya. Dia bilang ‘Ayo, ayo turun, ambillah makanan ini’ sambil menyodorkan telapak tangannya yang berisi makanan kucing yang basah.
“Tanpa diduga, Maya yang tidak bisa turun, tiba-tiba meloncat dari dahan pohon yang tinggi. Firman menangkap Maya dengan sempurna, lantas membiarkan Maya menyantap makanan basah yang ada di telapak tangannya. Aku tidak bisa berkata-kata saat itu, hanya merasa kagum saja padanya.”
Ranti mengedip-ngedipkan matanya.
“Cuma karena itu doang kamu suka sama Firman?”
.
“Itu adalah satu-satunya kejadian dimana aku berinteraksi dengan Firman. Sejak saat itu, sampai dua tahun kemudian, yakni masa sekarang, aku tidak pernah berinteraksi dengannya lagi. Aku hanya melihatnya dari jauh, tidak berani mendekat, karena merasa malu.”
“Cuma karena itu doang kamu suka sama Firman?” Ranti mengulang pertanyaannya.
Gina mengangguk. “Iya, soalnya Maya itu kucing kesayanganku. Satu-satunya temanku yang paling berharga saat SMP. Waktu SMP aku pemalu, jadi temanku tidak banyak. Maya lah satu-satunya temanku, dan Firman udah menyelamatkan nyawanya. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta sama Firman? Sejak saat itulah aku mulai terobsesi pada Firman dan sering mengikutinya dari belakang. Setelah tahu Firman lebih jauh, aku jadi semakin suka.”
Mendengar cerita tersebut, Ranti tidak bisa menilai lagi apakah Gina gadis baik-baik atau seorang maniak yang senang mengejar Firman.
“Gina, tapi kamu tau kan Firman itu sukanya cewek dua dimensi? Emangnya kamu gak risih? Kamu gak keberatan Firman suka yang begituan? Dia bisa lebih memilih istri dua dimensinya loh dibanding kamu.”
Gina tersenyum kecil. “Tidak masalah, itu justru bagus. Itu berarti Firman gak akan pernah selingkuh, kan? Soalnya Firman kan lebih suka karakter dua dimensi.”
“Tapi, kalau kamu diabaikan terus gimana?”
“Tenang, aku bakal sabar, kok. Aku bakal buktiin pada Firman kalau cewek beneran lebih menyenangkan. Aku bakal berusaha agar Firman jadi lebih merhatiin aku ketimbang karakter dua dimensinya. Aku yakin bakal bisa, kok. Tinggal menunggu waktu saja.”
Ranti salut mendengar ucapan penuh semangat dari Gina. Gadis ini sepertinya tipe yang tidak mudah menyerah. Menurut Ranti, itu bagus untuk Firman yang kurang ambisi meskipun memiliki otak yang cerdas.
“Tapi susah loh buat Firman berubah.”
“Tenang aja, bisa kok. Kakak sendiri juga udah berubah, kan?”
Ranti menggaruk-garuk kepalanya.
“Bener juga sih, hehe. Yaudah, Kakak dukung kamu pokoknya. Taklukin Firman ya, jangan nyerah!”
“Siap Kakak!”
Sore itu, hubungan Ranti dan Gina jadi semakin akrab. Gina senang karena Ranti mendukung hubungannya dengan Firman. Ranti pun senang karena Gina benar-benar menyukai Firman dan mau menerima apa adanya.
Firman yang sedang menguping di kursi sebelah merasa malu. Sepertinya tak lama lagi dia akan bercerai dengan istri-istri dua dimensinya dan beralih pada gadis sungguhan.